Orkes Gambus, dari Hadramaut ke Dangdut

Perpaduan musik Arab dengan unsur Melayu yang liriknya berisi dakwah keagamaan Islam. Menghalalkan penyanyi wanita dan sedikit goyangan.

Bila Izrail datang memanggil
Jasad terbujur di pembaringan
Sekujur tubuh akan menggigil
Sekujur badan akan kedinginan

Meski lagu Selimut Putih itu kini jarang terdengar, bagi sebagian warga Sumatera Utara, syair lagu yang dibawakan Orkes Gambus El-Suraya, Medan, itu masih meninggalkan kesan. Lirik lagu karya Ahmad Baqi (1922-1999) itu dikenal menyentuh hati dan mampu mengundang air mata bagi yang menyimaknya. Pada era 1970-an, Selimut Putih sempat melesat bersamaan dengan kejayaan kelompok musik religius itu. Pada masa itu, grup musik beraliran irama padang pasir tersebut bahkan terkenal hingga ke Malaysia dan Brunei Darussalam.

Pengakuan dari negara jiran secara resmi diberan Datuk Asri, Menteri Besar Malaysia, dengan menganugerahkan gelar profesor honoris causa di bidang musik kepada Ahmad Baqi pada 1995. Ketika usianya menginjak 75 tahun, pada 1997, pendiri El-Suraya kelahiran 17 Juli 1922 itu juga mendapat gelar Ahli Setia Darjah Kota Kinabalu dari Kerajaan Sabah, Malaysia. Sedangkan dari Pemerintah Indonesia, Ahmad Baqi menerima anugerah sebagai Pembina Seni dan Budaya Sumatera Utara dari Gubernur Sumatera Utara, Raja Inal Siregar, satu tahun sebelum ia wafat, pada 1998.

El-Suraya didirikan pada 1964 atas anjuran teman-teman Ahmad Baqi di Pesantren Darul Ulum, Tapanuli Tengah. Pada masa itu, kasidah gambus mulai berkembang seiring dengan kasidah rebana di Medan. Musiknya beraliran Timur Tengah. Bedanya, El-Suraya memadukan musik Arab dengan unsur Melayu berupa grenek atau cengkok dalam menyanyi.

Dibandingkan dengan orkes musik lainnya, El-Suraya juga memiliki ciri khas tersendiri. Yakni adanya hawa Al-Quran dalam pembawaan lagu-lagunya, seperti sika, soba, rast, bayyati, nahwan, zaharka, atau hijaz. Karena itu, lagu-lagu El-Suraya tidak mudah dinyanyikan karena harus mengerti napas Al-Quran terlebih dahulu.

Kelebihan lainnya, El-Suraya menggunakan alat musik gannun, yang terdiri dari 78 senar. Kabarnya, alat musik khas Mesir itu diberikan oleh Universitas Al-Azhar, Mesir. Di perguruan tertua itu, Ahmad Baqi belajar memetik gannun dalam waktu singkat, yakni satu tahun.

Sedangkan alat musik utama orkesnya adalah gambus, yakni alat musik petik berleher pendek berbentuk seperti rumah kura-kura yang terdiri dari tiga hingga selusin senar nilon. Gambus berasal dari Yaman dan tersebar di Semenanjung Arab. Imigran Yaman kemudian membawa pula gambus ke Asia Tenggara.

Selain gambus, orkes irama padang pasir itu juga dilengkapi dengan instrumen biola, seruling, gendang, dan tabla. Mulanya, orkes gambus hanya membawakan lagu dengan syair bahasa Arab. Syair itu berisi ajakan beriman dan bertakwa kepada Allah dan mengikuti teladan Rasulullah. Dalam perjalanannya, gambus berkembang menjadi sarana hiburan.

Tiga dekade sebelum kejayaan El-Suraya, orkes gambus telah dikembangkan seorang seniman keturunan Hadramaut (Yaman Selatan) kelahiran Surabaya (1908-1947), yakni Syech bin Abdullah Albar. Di Surabaya dan sekitarnya, orkes gambus digemari, mengingat populasi keturunan Arab yang mencapai 1,6% ketika itu.

Sekitar era 1940-an, ayah penyanyi rock Ahmad Albar itu mengubah kiblat orkes gambus dari Arab ke Mesir. Ketika itu, Bioskop Alhamra di Sawah Besar banyak memutar film Mesir. Setidaknya ada 16 lagu dari film-film itu yang kemudian sering diputar di RRI pada masa itu. Lagu-lagu yang dibawakan Umi Kalsoum, Abdul Wahab, dan Farid Alatras itu kemudian ditiru oleh orkes gambus.

Popularitas Syech Albar pada saat itu melebihi biduan-biduan gambus sebelumnya. Namanya melambung bersamaan dengan kemajuan peredaran piringan hitam di Tanah Air. Pada saat yang sama, stasiun-stasiun penyiaran radio juga gencar dibangun di Indonesia. Dalam buku Saudara Baghdad dari Betawi, Alwi Shahab menulis, pada 1931, keindahan suara Syech Albar telah direkam pada piringan hitam “His Mater’s Voice”. Lalu, pada 1935, suaranya mengangkasa lewat Studio Nirom (kini RRI) Stasiun Surabaya. Lagu-lagu Syech Albar sering diputar setiap pekan sebelum salat Jumat. Bukan itu saja. Piringan hitam rekamannya juga tersebar luas di Malaysia dan Jazirah Arab. Namun seniman berbakat itu wafat di usia muda pada 30 Oktober 1947 di Surabaya.

Sepeninggal Syech Albar, sampai era 1950-an orkes gambus makin terkenal. Setiap malam Jumat, orkes gambus mengisi siaran di RRI. Dua grup yang selalu tampil adalah Orkes Gambus Al-Wardah pimpinan Muchtar Lutfie dan Orkes Gambus Al-Wathan pimpinan Hasan Alaydrus. Namun pada 1960-an pamornya menurun akibat politik Demokrasi Terpimpin yang melarang kesenian yang berbau asing.

Selain Syech Albar, pada 1940-an sejarah orkes gambus juga mencatat nama S.M. Alaydrus. Pada 1950, S.M. Alaydrus berhasil mengembangkan orkes harmonium menjadi orkes Melayu. Orkes Melayu inilah yang kemudian melahirkan irama dangdut yang masih dikenal hingga kini.

Meski hampir tergerus oleh perkembangan musik modern, ahli waris pimpinan orkes gambus, seperti Ahmad Syauqi, putra Ahmad Baqi, tetap berusaha menghidupkan orkes gambus. Sungguhpun begitu, El-Suraya telah banyak berubah. “Dangdut sudah mulai dimainkan,” kata Ummi Kalsum, penyanyi El-Suraya, kepada Gatra. Mereka pun tidak mengharamkan goyangan. “Tapi goyang yang masih beretika,” tutur Ummi.

Rita Triana Budiarti, Sutan Saleh, dan Averos Lubis (Medan)

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Orkes Gambus, dari Hadramaut ke Dangdut

  1. jeehan berkata:

    jaya terus Fathia El Surayya. moga apa yang telah didakwahkan menjadi amal jariyah. amien

  2. sulaiman berkata:

    zaman boleh saja brubah tp Fatiah EL-SURAYA tetap ja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s