HIV/AIDS dan STIGMANYA

Oleh: Averos Lubis

Bertepatan tanggal 1 Desember kemarin, kita memperingati hari HIV/AIDS sedunia. Hari solidaritas dalam memberikan semangat kepada penderita penyakit yang belum ada obatnya ini, sekaligus tetap mewaspadai akan penyakit berbahaya ini. Karena belum ada satu pun dokter hingga ilmuwan dapat menemukan untuk mengobati penyakit HIV/AIDS ini.

Berbicara mengenai HIV/AIDS jelas akan membicarakan stigmanya juga. Mengapa? Masih amat banyak orang salah mempersepsikan penyakit ini. Orang sudah terlebih dahulu menghakimi para pengidapnya sekaligus berpikiran negarif dan terpengaruh oleh isu-isu tak bertanggung-jawab untuk penyakit HIV/AIDS. Tanpa bertanya langsung kepada ahli penyakit HIV/AIDS. Sedangkan HIV/AIDS sendiri dapat mengenai siapa saja tanpa pandang bulu. Baik dari segi usia dan status sosial dimiliki tiap individu.

Dalam fenomena yang terjadi di dalam masyarakat. Orang pengidap penyakit HIV/AIDS akan dikucilkan, dihina, serta diusir dari kawasan tempat ia tinggal. Laiknya Berkat, bocah yang terjangkit virus HIV/AIDS dari Sipaholon, Tapanuli Utara beberapa bulan lalu. Sudah hidupnya tak jelas menentu, diusir pula dari kampung halamannya oleh masyarakat tempat ia tinggal. Lantaran ia tertular dari ibunya yang menikah dengan ayahnya bekerja sebagai supir truk antarkota.

Lantas, bagaimana sikap kita terhadap saudara-saudara kita yang terkena penyakit HIV/AIDS ini? Penulis teringat akan LSM Galatea. LSM yang bekerja sama dengan Rumah Sakit H. Adam Malik dalam memberikan konseling dan mendampingi korban penderita HIV/AIDS. Mereka amat ikhlas dan berempati dengan para korban tersebut.

“Meskipun adanya obat antiretroviral yang dikonsumsi pengidap HIV/AIDS agar mempertahankan kualitas hidupnya. Namun, akan sia-sia saja bila masyarakat tak memberikan perhatian dan dukungan kepada mereka.” Ucap salah satu anggota Galatea. Jadi kalaupun jasmani mereka kelihatan segar, namun hatinya bermuram durja, jelas ia akan segera mungkin meninggalkan dunia ini. Sebab, secara psikologi, bila hati senang maka jiwa-raga akan tampak segar. Lalu, kebalikan dari hati yang bermuram durja. Jiwa-raga pun tampak lusuh malas tak berseri. Oleh karena itu, marilah kita hilangkan stigma pengidap HIV/AIDS bahwa mereka adalah orang berperilaku seks menyimpang dan bukan orang baik-baik. Mari kita berikan dukungan kepada mereka. Ternyata hal itulah yang juga mereka butuhkan dalam menjalankan sisa hidupnya.

Kemudian, penulis pun mendapatkan informasi sebagaimana terpampang di baliho klinik VCT RSUP H. Adam Malik, dijelaskan bahwa penyakit HIV/AIDS dapat menular melalui penggunaan jarum suntik bergantian dan hubungan seks berganti pasangan. Pun ketika sang Ibu melalui proses, hamil, menyusui serta melahirkan. Namun, tidak menular melalui gigitan nyamuk/serangga, bersalaman, pelukan/ciuman, berenang bersama, dan memakai toilet bersama.

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s