Bereskan Korupsi, Baru Program Lain!

Oleh Averos Lubis

Berbicara mengenai 100 hari menuju pemerintahan indonesia bersatu jilid 2 banyak hal perubahan harus dilakukan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono tersebut. Terlebih mengenai korupsi dan korupsi lagi. Kenapa demikian? hal ini merupakan hal akut yang belum satu pun dapat diselesaikan. Paling mendasar yang dapat menyebabkan semua unsur hancur berantakan.

Laiknya kisah dalam suatu keluarga dalam rumah tangga seperti ini. Ada seorang bapak yang menyuruh anaknya agar membelikan sebungkus rokok. Sang anak pun manggut-manggut menjawab iya. Lalu, sang bapak memberikan uang untuk membelikan rokoknya, dengan memberikan uang Rp. 50.000. Kebetulan kala itu tak ada uang pas dimilikinya. Sang anakpun langsung bergegas meluncur membelikan rokok bapaknya.

Dibelilah rokok oleh sang anak. Kemudian ia pun membayar roko tersebut dengan uang Rp. 50.000. Sebut saja harga rokok yang dibeli seharga Rp. 10.000. Pastilah kembalian uang rokok akan berjumlah Rp. 40.0000. Seusai membelikan rokok untuk ayahanda tercinta sang anak kembali lagi ke rumah untuk memberikan rokok pesanan sang ayah tadi.

Dalam perjalanan pulang sang anak berpapasan dengan temannya, kebetulan temannya tersebut sedang membeli mainan pistol-pistolan. Tak berapa lama kemudian. Si anak ikut juga membeli mainan pistol-pistolan tersebut. Lantas, uang kembalian sebanyak Rp. 40.000 tadi ia gunakan. Dan kebetulan harga mainan pistol itu sebesar Rp. 20.000. dibayarlah mainan itu ke tukang penjualan mainan. Jadi uang yang semestinya berjumlah Rp. 40.000, tentu berkurang jumlahnya, sehingga menjadi Rp.20.000.

Sesudah membeli mainan tersebut sang anak pun pulang ke rumah. Sesampai di rumah dikembalikanlah uang hasil pembelian rokok sebanyak Rp. 20.000. Sang bapak kaget, lalu berkata,”Kok hanya segini kembaliannya, kan dikasih uangnya Rp.50.000. Mana sisanya lagi?” Tanya sang bapak kepada anak.

Lebih lanjut, si anak menjawab, “Tadi aku beli mainan pistol-pistolan sebesar Rp. 20.000 pak.” Jawab si anak. Lalu si bapak menjawab, “Owh begitu.” Usai sudah Tanya-jawab uang pembelian rokok.

Kejadian di atas dapat kita katakan korupsi. Karena sang anak mengambil uang bapaknya. Padahal, jelas-jelas sang bapak tercinta tak pernah menyuruh anaknya untuk membeli yang lain, selain hanya membeli rokok. Namun, si anak tadi tetap membeli sebuah mainan ketika berpapasan dengan temannya yang sedang membeli mainan pistol-pistolan. Jelas terjadi tindak korupsi. Lantas, hal seperti demikain, tak ada orang tua yang tegas memberikan peringatan kepada anaknya. Bahwa hal yang dilakukan oleh anaknya seperti disebutkan di atas adalah sebuah tindak korupsi. Memang tak besar. Namun budaya korupsi sejak kecil, tak ada baik dan bagus dilakukan. Harus diubah dengan kebiasan jujur.

Arti Korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok). Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus|politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka (Wikipedia).

Jadi, ketika berbicara mengenai program menuju 100 hari kabinet pemerintahan Indonesia bersatu jilid 2. Lebih diutamakan menghapus korupsi. Karena bila budaya korupsi masih ada. Amat berat berbicara program pemerintahan lainnya. Terlalu muluk-muluk sekali. Dalam keluarga saja budaya korupsi berlangsung. Konon dalam pemerintahan yang penuh akan kekuasaan serta uang.

Untuk itu KPK jangan di kebiri. Biarkan lembaga tersebut bekerja memangsa koruptor-koruptor. Kalau bisa koruptor ataupun dikatakan para bedebah itu diberantas sampai tuntas. Lalu dalam berbicara masalah hukum di Indonesai harus dipertegas. Jangan hanya tegas kepada rakyat kecil yang mencuri kakao serta semangka saja. Itu pun lantaran untuk perut yang sedang lapar saja. Sedangkan koruptor yang makan enak, tinggal di singgasana nyaman, kemudian mengambil uang rakyat sekedar untuk memperkaya diri dilanjutkan pelesiran keliling dunia bersama sanak-keluarga, hanya dibiarkan saja. Bahkan sang penjerat hukum kita. Tak mau melihat, tak mau mendengar, tak mau berbicara untuk segera meringkus mereka.

Seperti dalam Ediorial Koran Tempo (7/11), berjudul Musim Mengurus Nama Baik, pada paragraf pertamanya: Tak dinyana, seratus hari pertama pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono ternyata merupakan hari-hari yang gegap-gempita. Lebih dari 30 hari misalnya, dihabiskan, untuk menyelesaikan urusan “cicak versus buaya”, dengan ending yang juga tak cantik-cantik amat. Dalam proses itu, berbagai unjuk rasa, seminar diskusi, talk show. Dan entah apa lagi hibuk menyemarakan suasana.

Memang makin tinggi pohon makin kencang angin berembus. Ditambah ini adalah masa pemerintahan ke- 2 Susilo Bambang Yudhoyono. Sehingga alangkah eloknya bila SBY serta wakilnya Boediono membereskan urusan korupsi. Urusan klise yang belum satu pun dapat menyelesaikannya. Dan semoga dalam pemerintahan ke- 2 ini pemerintahan serta rakyat dapat gayung bersambut dalam menyokong pemerintahan SBY, yang terkenal dengan slogannya, Lanjutkan!!!!!!

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s