Jurnalis Pongah

Oleh: Averos Lubis

Suasana dingin nan sejuk kala itu, di salah satu Cafe Hotel berbintang lima di Medan. Ditambah dengan alunan musik rocknroll dan blues terus menggema, sehingga menghipnotis orang-orang dalam cafe asyik bergoyang dan bernyanyi mengikuit alunan nada serak basah mendayu dari sang vokalis dalam menikmati suasana malam.

Kebetulan ada live performance dari salah satu band rocknroll terkenal Jakarta beberapa bulan silam itu. Tiba-tiba peristiwa terjadi, “Bukan begitu cara ambil fotonya, begini,” Ucap salah seorang fotografer. Sebelumnya ia mencoba mengotak-atik fitur kamera penulis dahulu. Penulis kesal seraya berkata, “Sorry namanya juga pemula, maklumlah. Tapi jangan ambil kamera orang sembarangan dong. Konyol namanya itu. Lagian kita punya angel berbeda untuk liputan foto ini.”

“Bukan, memang begini caranya,” ujarnya penuh arogan, sembari menunjukkan hasil jepretan fotonya yang katanya elok kepada penulis. Lalu, penulis hanya diam seribu bahasa. Karena memang lebih seru langsung “digulung” saja orang ini.

Syukur, langsung diingatkan oleh kawan penulis, “Sudahlah lagi ‘tinggi’ doi, baru belajar minum.” Amarah yang hampir memuncak mau meletus, seketika turun. Lalu, penulis tertawa lepas. Kemudian bergumam dalam hati, “Iya ya, lihat gaya si kawan ini aja, anak kemarin sore buat apa awak marah.”

Kisah ini merupakan pengalaman penulis. Namun, amat disayangkan sang pengganggu di atas dikenal oleh penulis, karena kebetulan satu tempat pula menimba ilmu jurnalistik.

Kendatipun, ulah dia tak sampai masuk ke dalam hati paling dalam. Namun, penulis ketawa geli sekali akan kejadian ini. Mengapa? Karena si kawan itu pantang tak hebat sekali dia. Sekonyong-konyong, lantaran sudah terjun ke lapangan. Ia laiknya fotografer sekaliber Ed Zoulverdi ataupun Arbain Rambey. Yakni, fotografer handal yang juga lihai dalam menulis.

Padahal, penulis berharap apabila bertemu dengan kawan-kawan yang sama dalam menimba ilmu jurnalistik baik itu sama-sama masuk satu angkatan baikpun sudah menjadi senior duluan, janganlah menjadi orang pantang tak hebat. Lantaran tak ada gunanya bersifat seperti itu. Meskipun sah-sah saja untuk dilakukan. Asalkan memang sudah mempunyai kualitas kaliber tinggi.

Tapi, kalau masih ‘ecek-ecek’ dan masih itu-itu saja mempunyai kualitas dalam kegiatan jurnalistiknya. Apalah yang mau dibanggakan? Bisa dikatakan ‘gila hormat’ nantinya. Ujung-ujungnya, siapa lo siapa gue bermain!

Lantas, ya sudahlah hal itu semua sudah berlalu di akhir tahun Desember 2009 ini. kita pun akan memasuki tahun baru 2010. Yang semestinya harus dapat berubah dari tahun sebelumnya. Baik bersikap maupun melakukan suatu hal lebih positif. Saling menghargai di antara sesama, terlebih bila satu tempat pula dalam menimba ilmu Jurnalistik. Alih-alih, terciptalah jurnalis hebat budiman, bukan jurnalis pongah tak menentu.

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Jurnalis Pongah

  1. averoslubis berkata:

    hoy orang2 pongah tobatlah,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s