Petuah Film, Yang Baik Ko Kalah

Oleh Averos Lubis

Ya, SMA Negeri 3 Denpasar adalah sebuah lembaga pendidikan yang berdiri sejak tahun 1977. Pada waktu itu SMA ini memiliki sebuah larangan menggunakan sepeda motor ke sekolah bagi siswanya. Namun ketika larangan itu menginjak 30 tahun, dengan terpaksa larangan tersebut dihapuskan. Namun dibalik runtuhnya tradisi bersepeda itu, masih ada seorang siswi yang masih menggoes sepeda.

Itulah secuil Film berjudul Yang Baik Ko Kalah diputar oleh Jakarta Internasional Film Festival di Auditorium Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sumatera Utara, Medan, Sabtu (8/5) lalu. Walau screen tak sehebat di bioskop mainstream nan kapitalis umumnya. Namun isi cerita dalam tiap film diputar tak kalah seru.

Sontak, melihat isi film yang dibuat nun jauh di Denpasar itu. Respect bahkan apreciate untuk sang sutradara Putu Harum Bahwa. Film yang bersifat pendidikan namun tak harus satire dalam membahas fenomena siswa dalam menggunakan kendaraan. Khususnya sepeda motor. Bilamana melihat kejadian sekarang jelas menggunakan sepeda motor bagi anak-anak sekolah bukanlah hal mewah. Sudah biasa saja. lumrah nan tak ada masalah. Apalagi di sekolah-sekolah yang cukup “berada” sekolahnya.

Tiba-tiba muncul pertanyaan dalam film pendek tersebut. Apa iya ini semua karena alasan era globalisasi? Ada mengungkapkan dengan opini berbeda-beda: ini sudah zaman modern, jadi Nggak salah kalau kita tak menggenjot sepeda lagi. Nggak asyik saja jalan kaki, apalagi bersepeda. Bukan lebih enak naik kendaraan. Seru salah seorang narasumber lainnya.

Dalam film berdurasi 12.04 menit itu tampak Nyoman Alit Kuntayoni, sang pemeran utama masih muda dan ia pun masih bersemangat ketika menggoes sepeda. Walau masih dibalut busana putih biru-biru. Secara perlahan-lahan menceritakan mengapa masih gandrung mengendarai sepeda tua milik ayahanda tercinta. Ia menjawab, “Saya masuk ke SMA negeri 3 Denpasar, Karena seru melihat siswa yang bersekolah di sini dapat menggoes sepeda.” Betapa lugu alasanya.

Ia tak menyadari bahwa zaman sekarang ini, ialah siswa yang paling sadar akan tugas dari seorang siswa. Yakni, belajar dengan tekun supaya nilai bagus. Dan moga-moga dapat menjawab soal ataupun UAN. Lalu lulus dengan nilai memuaskan. Bukan sibuk foya-foya diikuti mengikuti budaya hedonisme.

Lain hal mahasiswa hanya bisa tawuran berpacaran ria. Sedikit yang berprestasi seperti Tim Olimpiade Fisika Internasional di Spanyol, Andika Putra (SMU Sutomo 1 Medan), Ali Sucipto (SMU Xaverius 1 Palembang), Purnawirman (SMUN 1 Pekanbaru), Michael Adrian (SMU Regina Pacis Bogor) dan Ario Prabowo (SMU Taruna Nusantara Magelang)

Lantas, seiring melihat sang anak yang sudah kalah oleh teman-teman di sekolah bersepeda motor ria. Ketut Sudana, sang ayah Alit, mulai membujuk sang anak Alit mau dibelikan sebuah sepeda motor. Alhasil, jawab sang anak selalu menolak dengan halus. Alit pun selalu berkata, “Alit masih suka menggoes sepeda, sekalian melihat pemandangan di jalan,” ucapnya.

Penulis pun teringat akan petuah budayawan Theodoor Willem Geldorp, lahir di Lumajang, 9 Mei 1922 silam. Ia pun biasa dipanggil Dick Hartoko. Dalam tulisannya berjudul Modern (Buku Berjudul Dari Maliho O Borok Samapai Seni Sono Pilihan Tanda-Tanda Zaman, pada halaman 65). Tertera dalam tulisan tersebut wajah masyarakat Indonesia turut diwarnai oleh puluhan merk sepeda motor yang dengan kecepatan tinggi sambar-menyambar di tengah-tengah lalu-lintas di jalan-jalan raya, memenuhi udara dengan suara mendesing dan menusuk hidung kita:dengan bau bensin.

Memang, sepeda motor merupakan sebuah nilai bagi kita. Namun nilai seperti apakah? Ada pemuda-pemudi yang minta dari orang tuanya untuk membeli sebuah sepeda motor, tetapi tak pernah minta uang untuk membeli buku-buku. Keluhan bahwa harga buku-buku terlalu mahal dapat dikembalikan kepada masalah mengenai nilai-nilai. Mengapa kita rela mengeluarkan puluhan juta untuk membeli sebuah Yamaha ataupun Honda, namun jarang menguras dompet untuk membeli buku-buku pelajaran. Menjawab pertanyaan di atas: inikah era globalisasi itu? Tanda kemajuan? Tanda modernisasi? Tanda manusia Indonesia makin menguasai teknik? Malah sebaliknya pula, teknik yang menguasai manusia. Saya balikkan ke kawan-kawan budiman?

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s