Densus Menangkap Densus Digugat

Senja di hari Minggu, 19 September 2010, adalah hari yang mengenaskan bagi Kartini Panggabean. Ia menyaksikan suaminya, Khairul Ghazali, usai salat magrib digelandang petugas Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri. Khairul disangka terlibat terorisme dan perampokan Bank CIMB Niaga, Medan, 18 Agustus lalu.

Menjelang isya, giliran Kartini dan empat anaknya diciduk polisi. Keberadaan Kartini dan anak-anaknya sempat menjadi misteri selama sepekan. Tiga anak Kartini yang sudah besar kemudian diserahkan ke pihak keluarga. Tetapi Kartini dan bayinya yang baru berusia tiga minggu bak raib ditelan bumi.

Keberadaan mereka baru bisa dilacak setelah adik iparnya, Adil Achyar, memberi kuasa kepada Bambang Santosa untuk mewakili keluarga Ghazali. Bambang pun kemudian melacak keberadaan Kartini ke wilayah Medan. Ia baru mendapatkan informasi keberadaan Kartini di Markas Polres Tanjung Balai pada Kamis, 23 September.

Bambang berupaya menemui Kartini, namun gagal. Baru keesokan harinya, ia bisa bertemu kliennya. Bambang kaget mendapati Kartini ditempatkan di sebuah ruang sempit berukuran 2,5 x 2 meter bersama bayinya, seorang anak kecil, dan dua perempuan lain.

Dua perempuan itu adalah Tri Lestari, istri Deden alias Deni, tersangka teroris yang tewas ditembak Densus 88 di Tanjung Balai. Dan Elfi Samosir, istri Abdullah yang ditangkap bersama Ghazali. Ikut pula anak Elfi yang berusia 2 tahun.

Kondisi ruangan tempat polisi “mengamankan” para keluarga tersangka teroris, kata Bambang, sangat buruk. Selain sempit, alas tidur untuk mereka juga hanya berupa sehelai kain tebal sepertibed cover. Selain itu, mereka juga tidak disediakan air hangat untuk memandikan bayi Kartini.

Sang bayi sendiri sempat sakit lantaran ibunya masuk angin karena tidur dengan alas seadanya. “Saya sempat meminta tim dokter polisi memeriksa kondisi bayi tersebut, dan dipenuhi,” kata Bambang kepada Gatra. Polisi beralasan melindungi mereka sebagai saksi. Masalahnya, kata Bambang, polisi sama sekali tidak mengeluarkan selembar pun surat keterangan untuk itu.

Karena itu Bambang melaporkan kasus yang menimpa Kartini pada Komnas HAM, Jumat pekan lalu. Selain itu, Bambang juga mengirim surat kepada Komisi III DPR untuk beraudiensi. “Kami tengah menunggu tanggapan dari mereka,” katanya. Rencananya, setelah ini mereka akan menggugat pihak kepolisian, khususnya Densus 88 karena pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Usai aksi penangkapan di Medan, Densus 88 memang mulai menuai gugatan. Selain keluarga Ghazali, keluarga lain, seperti Kasman Hadiyono, pun berencana menggugat Densus. Kasman, yang juga Bendahara Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Sumatera Utara, ditangkap di Hamparan Perak. Belakangan, penjual obat tradisional itu dipulangkan karena dianggap tidak terbukti terlibat terorisme.

Kuasa hukum Kasman, Zulheri Sinaga yang juga anggota tim advokasi MMI, mengatakan pihaknya akan menggugat Densus 88 lewat pemerintahan Australia, salah satu penyumbang dana untuk Densus. Tetapi Kasman Hadiyono sendiri tampaknya masih syok dan belum memberi tanggapan atas rencana gugatan itu. “Beliau (Kasman) masih belum mau membahas gugatan kepada Polri,” ucap Zulheri kepada Gatra.

Zulheri mengeluhkan minimnya dukungan terhadap para korban dari para pegiat HAM. Padahal menurutnya, apa yang terjadi terhadap para korban jelas sebuah pelanggaran HAM. Saat ditangkap, kata Zulheri, Kasman sedang menerima tamu yang datang bersilarutahmi ke rumah adiknya, Marwan, karena masih suasana Lebaran.

Tiba-tiba sepasukan tim Densus 88 datang dan menembak mati dua tamu Kasman, dan membawanya pergi. “Mayatnya entah di mana. Jelas Densus sangan arogan dan melanggar HAM,” kata Zulheri. Karena itu, ia berharap dukungan para pegat HAM agar kasus seperti ini tidak terulang. “Mengapa ketika sudah berurusan dangan masalah keislaman, hanya segelintir lembaga HAM mau menyuarakan suara ketertindasan umat Islam?” kata Zulheri bertanya-tanya.

Nasib Kasman masih tergolong baik, dilepaskan dalam keadaan hidup. Yuki Wantoro, 20 tahun, tersangka teroris yang mati ditembak Densus di Belawan, Medan, jelas tak lagi bisa membela diri atas tuduhan itu. Padahal pihak keluarga yakin, Yuki sama sekali tak terlibat perampokan Bank CIMB Niaga Medan.

Menurut Sekretaris The Islamic Studies and Action Center (ISAC), Endro Sudarso, penembakan terhadap Yuki tidak beralasan. Sebab, Yuki mempunyai alibi kuat tidak terlibat dalam perampokan Bank CIMB karena pada hari perampokan terjadi, Yuki berada di Solo mengurus kartu tanda penduduk.

Yuki berada di rumahnya, di daerah Joyosuran, Solo, sejak 17 Agustus. Esoknya, ketika perampokan CIMB Niaga Medan terjadi, ia sedang membeli pulsa telepon seluler kepada kakaknya, Yudi Mansur, 34 tahun. Tanggal 20 Agustus, Yuki baru mengurus KTP dan esoknya pamit kepada keluarga untuk pergi ke Jakarta.

Keluarga mengaku kaget ketika mendengar mualaf yang baru masuk Islam empat tahun lalu ini, tewas ditembak pada tanggal 19 September. Yuki berada di Medan karena sejak dua tahun lalu mendapat pekerjaan di sebuah perkebunan. Selain soal alasan penembakan atas Yuki, pihak ISAC yang mewakili keluarga Yuki juga akan mencari kejelasan soal dugaan Yuki disiksa sebelum ditembak.

Menurut Endro Sudarso, pada jenazah Yuki terdapat tiga bekas luka tembakan, yaitu pelipis kiri dua buah dan leher sebelah kiri satu buah. Selain itu, lanjut Endro, tangan kiri Yuki juga patah. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa Densus 88 melanggar HAM berat. “Sampai jenazah Yuki dimakamkan pun, keluarga juga belum menerima surat penangkapan,” kata Endro dengan nada tinggi.

Selain di Medan, Densus juga salah tangkap di Bandar Lampung. Wahono alias Bawor yang tadinya disangka sebagai pemasok senjata kepada para perampok CIMB Niaga Medan, ternyata tidak terbukti sehingga akhirnya dilepas. Tetapi penangkapan itu membawa kerugian bagi Wahono karena gara-gara itu dia batal menikah.

Saat ditangkap tanggal 21 September, sebenarnya Wahono akan menikahi Siti Alianti. Tetapi lantaran Wahono ditangkap, ia gagal menikah, dan akhirnya Siti Alianti dinikahi Teguh Subagio, adik Wahono, atas hasil keputusan musyawarah keluarga.

Kasus salah tangkap oleh Densus 88 ini memang bukan yang pertama. Medio Mei lalu, Densus juga pernah menciduk 13 orang anggota pengajian atas dugaan terorisme. Belakangan, ke-13 orang itu terbukti tidak bersalah dan dilepas kembali. Saat itu pun keluarga para korban berniat menggugat, meski hingga kini masih belum ketahuan hasilnya.

Dalam penangkapan itu, Densus juga dinilai melanggar prosedur karena tidak menunjukkan surat penangkapan. Anehnya, saat akan dibebaskan, para korban harus menandatangani dahulu surat penangkapan. “Belakangan memang Densus overacting,” ujar Bambang Soesatyo, anggota Komisi III DPR-RI dari Fraksi Partai Golkar, kepada Gatra.

Karena itu ia setuju agar Densus 88 dievaluasi, termasuk audit terhadap anggaran Densus. “Kita harus melakukan audit agar seimbang. Jangan sampai kita membiayai gerakan yang anti-HAM,” katanya.

Menanggapi rencana gugatan para korban salah tangkap itu, Kabid Penum Mabes Polri, Kombes Marwoto Soeto, menanggapi santai. “Sejauh ini belum ada gugatan ke kita, namun jika memang ada, silakan saja. Kita selalu terbuka,” katanya kepada Gandhi Achmad dari Gatra.

Marwoto menilai, dalam proses penggerebekan maupun penangkapan, Densus 88 sudah sesuai prosedur. “Yang jelas, Densus itu melakukan tugas sudah dengan baik dan benar sesuai dengan prosedur,” katanya. Para tersangka yang dibebaskan, kata Marwoto, bukan salah tangkap, tetapi karena buktinya masih kurang.

Mereka, kata Marwoto, masih akan tetap dipantau pihak kepolisian. Ia membantah tudingan Densus atau polisi telah melakukan pelanggaran HAM. “Tidak benar isu seperti itu,” katanya menegaskan.

M. Agung Riyadi, Sukmono Fajar Turido, dan Averos Lubis (Medan)
[Nasional, Gatra Nomor 48 Beredar Kamis, 7 Oktober 2010]

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s