Ketika Teroris Balas Menyerang

Markas Kepolisian Sektor (Mapolsek) Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, kembali berdenyut sejak Minggu, 26 September lalu. Pelayanan masyarakat sudah kembali normal, meskipun arus warga yang datang mengurus berbagai keperluan ke Mapolsek itu belum sebanyak biasanya. Selebihnya, warga datang untuk melihat-lihat kondisi kantor Polsek yang pada Rabu dini hari sepekan lalu.

Tiga polisi, Bripda Riswanda, Aipda Deto Sutejo, dan Aiptu Baik Sinulingga, tewas dalam serangan mendadak itu. Menurut saksi mata, sekitar pukul 01.00 dini hari, sekelompok orang mengendarai lima sampai enam sepeda motor mendatangi Mapolsek. Mereka mengenakan helm tertutup dan penutup wajah di baliknya.

Tak lama kemudian terdengar suara rentetan tembakan gencar. Sebuah bom molotov dilemparkan pihak penyerang, namun tak meledak. Sekitar pukul 01.06, kawanan bersenjata itu kabur menuju ke arah jalan besar yang menuju ke daerah Marelan, pinggiran kota Medan.

Para penyerang kelihatannya sangat terlatih melakukan pendadakan. Tujuh anggota polisi yang bertugas pada malam nahas itu tidak sempat melakukan perlawanan. “Dari beberapa saksi yang melihat, mereka dengan tenang melakukan penembakan,” kata Kapolda Sumatera Utara, Inspektur Jenderal Polisi Oegroseno.

Serangan itu tampaknya juga telah direncanakan. Seorang saksi mata, Lindung Ginting, 56 tahun –yang rumahnya berada persis di sebelah mapolsek– mengatakan bahwa sebelum penyerangan, sekitar pukul 12.43, ia melihat sebuah mobil lalu-lalang. “Aku lihat mobil Panther yang menggambar kantor polsek ini,” katanya kepada Averos Lubis dari Gatra. Sejak Senin sebelumnya, kata Lindung, mobil itu sudah diparkir di depan rumahnya.

Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri, memastikan penyerangan tersebut terkait dengan aksi terorisme. “Ini jaringan-jaringan yang ada kaitannya dengan pelatihan yang di Aceh kemarin, terus kemudian mereka mengeluarkan kegiatan berikutnya,” kata Bambang Hendarso Danuri, yang akrab disapa BHD.

Kelompok ini, kata Kapolri, dipimpin oleh Abu Tholut alias Mustofa. “Para tersangka yang ditangkap mengaku berkoordinasi dengan Abu Tholut,” katanya. Abu Tholut sebelumnya pernah divonis delapan tahun penjara dalam kasus terorisme. Tapi ia menjalani hukuman hanya sekitar 4,5 tahun karena berkali-kali dapat remisi.

Kapolri mengatakan, setelah menjalani hukuman, Abu Tholut kembali terjun ke jaringan pelaku teror. Nama Abu Tholut kembali masuk daftar pencarian orang saat terjadi penangkapan terhadap para anggota jaringan teroris yang melakukan pelatihan militer di Aceh beberapa waktu lalu.

Meski sudah kehilangan tokoh kunci seperti Noor Din Mohd. Top, Dulmatin, dan Dr. Azahari, kelompok ini, menurut BHD, tidak bisa dipandang enteng. Polisi menangkap sinyal kelompok ini siap “mengimpor” gerilyawan Irak dan Afghanistan yang terlatih melakukan perang kota untuk “berjihad” di Indonesia.

Dari pengakuan para tersangka yang ditangkap, kata Kapolri, kelompok ini sudah melakukan komunikasi dengan jaringan di luar Sumatera. Jaringan ini terindikasi memiliki dukungan dana dengan organisasi serupa di luar negeri.

Target mereka adalah mengambil alih pemerintahan. “Caranya sama, yakni menciptakan chaos. Sehingga ada delegitimasi pemerintahan. Wibawa negara jatuh dan mereka mengambil alih,” kata BHD. Untuk mengungkap jaringan luar negeri ini, polisi masih mengejar seorang warga asing berkebangsaan Prancis bernama Frederic Jean Salvi.

Salvi alias Ali diduga menjadi penghubung untuk mendatangkan para gerilyawan asing dari Irak dan Afghanistan. Ia juga diduga memberikan sebuah mobil Mitsubishi Gallant yang akan digunakan untuk melakukan serangan pengeboman di Cibiru, Bandung. Selain Ali, warga Arab Saudi bernama Ali Abdullah juga pernah disangka membantu Syaifuddin Zuhri melakukan pengeboman Hotel JW Marriott dan The Ritz-Carlton Jakarta. Namun, oleh pengadilan ia hanya divonis pelanggaran imigrasi.

Kelompok ini diduga mendapatkan senjata dari negara-negara di Asia Tenggara. “Mereka membeli senjata api dari Filipina dan negara-negara Asia Tenggara lainnya,” kata Kapolri. Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Polisi Iskandar Hasan menyebut, selain Filipina, para teroris menyisir Thailand, Kamboja, dan Vietnam untuk membeli senjata api. “Semua yang dibeli adalah senjata bekas,” tuturnya.

Serangan ke Mapolsek Hamparan Perak, menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai, bukan sekadar serangan balasan. “Mereka ingin memberikan pesan bahwa mereka masih kuat, meski para perampok bank sudah ditangkapi,” katanya kepada Gatra. Kesan ini, kata Ansyaad, bisa dilihat dari tidak adanya senjata yang hilang dari Polsek dan tidak ada tahanan yang dibebaskan.

Pola balas dendam memang bukan hal baru. Serangan bom ke Kedutaan Besar Filipana tahun 2000, misalnya, adalah serangan balasan atas penghancuran kamp latihan Abu Bakar di Mindanao. Kemudian, serangan bom Bali, Marriot (2003) yang dianggap sebagai aset Amerika Serikat, dan Kedutaan Australia (2004) juga merupakan serangan balasan atas dukungan kedua negara itu pada serangan ke Irak.

Demikian pula serangan terhadap polisi. Serangan terhadap Pos Brimob di Desa Loki, Kecamatan Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat, yang terjadi 16 Mei 2005, adalah salah satu contohnya. Dalam serangan itu lima anggota Brimob tewas dan para penyerang juga membawa kabur beberapa pucuk senjata. Menurut Kapolri, kelompok teroris memang punya doktrin-doktrin menghalalkan darah polisi yang dianggap thagut (kekuatan jahat) yang halal diperangi.
Modal melakukan serangan balasan juga lumayan kuat, karena selain pasokan senjata, kelompok ini, kata Kapolri, juga aktif merekrut pemuda, preman, dan mantan bandit di penjara. Wilayah seperti Hamparan Perak memang menguntungkan bagi pola rekruitmen seperti itu. Menurut Ansyaad Mbai, wilayah itu terkenal sebagai sarang penjahat bersenjata.

Saat menjadi Kapolda Sumatera Utara tahun 2002, Ansyaad pernah menangani beberapa kasus penyanderaan nelayan oleh kelompok yang mengatasnakaman Gerakan Aceh Merdeka (GAM). “Kini banyak mantan kombatan GAM yang bergabung dengan kelompok teroris,” katanya.

M. Agung Riyadi, Cavin R. Manuputty, dan Sutan Saleh (Medan)
[Laporan Khusus, Gatra Nomor 47 Beredar Kamis, 30 September 2010]

 

Mereka Membantah Tudingan Teroris
Suasana duka masih meliputi keluarga tersangka teroris Marwan alias Wakgeng, 39 tahun, yang tewas ditembak Densus 88 di Hamparan Perak. Ibunda Marwan, Tukiem, 63 tahun, tak percaya bahwa anaknya terlibat jaringan dan aksi terorisme. “Dia memang tidak punya pekerjaan tetap, tapi dia tidak fanatik agama,” kata Tukiem kepada GATRA.

Menurut istri Marwan, Wanti Rahayu, 32 tahun, saat terjadi penembakan ia berada di lokasi kejadian. Saat itu, di rumah yang diserbu Densus 88, ada Kasman Hadiyono alias Yono, 43 tahun, seorang tabib, dan istrinya, Misni, 40 tahun. Menurut Wanti, saat itu Minggu, 9 September, ada dua tamu datang ke rumahnya dan menanyakan keberadaan Marwan. Saat bersamaan datang Yono bertamu ke rumah Marwan.

Saat itulah tiba-tiba datang anggota Densus dan melakukan penangkapan. Suara tembakan beberapa kali terdengar. Marwan tewas danlaptop miliknya disita Densus, sedangkan Yono ditangkap. Wanti membantah bahwa di rumahnya ditemukan bahan peledak dalam satu sak semen. “Sak itu ya isinya semen, untuk menyemen beberapa bagian rumah,” kata Wanti. Marwan dan Yono, kata Wanti, tidak memiliki rekam jejak terlibat organisasi keagamaan radikal. “Suami saya saja salatnya masih bolong-bolong,” katanya.

Bantahan serupa juga datang dari keluarga Ridwan, 41 tahun. Ibunda Ridwan, Siti Auliah, 63 tahun, tak yakin anaknya terlibat terorisme. “Anak saya cuma pekerja sebagai kilang batu bersama pacik-nya, Syamsudin,” katanya. Ridwan, menurut sang ibu, tidak pernah masuk pesantren ataupun ikut organisasi keagamaan radikal. “Dia sejak dulu bekerja sebagai tukang sol sepatu, setelah menikah baru menjadi kilang batu,” katanya.

Demikian pula dengan Nurmala Sari, istri Ridwan, yang sehari-hari mengajar di TK Al-Furqon di sebelah rumahnya. Menurut teman Nurmala, Ida, 30 tahun, temannya itu sudah tinggal di Hamparan Perak sejak kecil. Penangkapan yang berujung tewasnya Ridwan juga membuat anak sulung Ridwan, Farok, syok berat. “Tiap malam dia selalu mengigau dan bangun tidur lantas berteriak, ‘Ayah didor, tolong…!’,” kata Ida.

Selain membantah tudingan, pihak keluarga juga menyayangkan cara-cara Densus 88 dalam melakukan penangkapan yang dinilai melanggar kemanusiaan. Keluarga Khairul Ghazali, yang ditangkap di Tanjung Bali, misalnya, menuding Densus menangkap Ghazali ketika sedang salat magrib.

Menurut adik Ghazali, Adil Akhyar, kakaknya sedang melaksanakan salat magrib ketika disergap Densus. “Ini kan tidak benar,” katanya. Saat itu, ketika sedang salat berjamaah, tiba-tiba mereka langsung diberondong tembakan. Dua dari tiga jamaah salat tewas, seorang lagi melarikan diri. Ghazali sendiri tetap meneruskan salat, dan langsung diseret dan dibawa pergi. “Padahal, dalam penyergapan itu sama sekali tidak ada perlawanan,” kata Adil lagi. Namun, tim Densus 88 tetap melepaskan tembakan membabi buta selama hampir 30 menit.

Saat kejadian, kata Adil, istri Ghazali, Kartika Panggabean, ada di tempat dan hanya bisa berteriak histeris melihat suaminya dibawa oleh puluhan orang. Tak lama, Kartini bersama anaknya yang masih kecil pun dibawa petugas dengan alasan pengamanan. Adil mengaku mengetahui kejadian itu dari Kartini. Mereka kini berencana menggugat pihak kepolisian.

Pihak kepolisian sendiri membantah tudingan itu. Menurut Kabid Penum Mabes Polri, Kombes Marwoto Soeto, Kartini telah berbohong karena ia tidak berada di lokasi kejadian. Densus, kata Marwoto, menangkap Ghazali usai yang bersangkutan melakukan salat.

Aksi Densus 88 ini membuat gusar anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Anggota Komisi III, Ahmad Yani Basuki, khawatir serangan balik teroris justru dipicu cara-cara Densus 88 yang menurutnya cenderung militeristik.

Menurut Ahmad Yani, sebagai bagian dari kepolisian, secara filosofis Densus 88 adalah sipil yang dipersenjatai. “Pendekatannya harusnya sipil, tetapi malah cenderung militeristik,” katanya kepada GATRA. Ia tak menampik bahwa peran Densus dalam memberantas teroris perlu diacungi jempol, tetapi apresiasi berlebihan bisa saja membuat Densus menjadi tanpa kontrol.

Ia mengakui beberapa aksi Densus terindikasi melakukan pelanggaran asasi manusia (HAM). Ia menunjuk dugaan penyiksaan yang dilakukan Densus terhadap anak Abu Jibril, penembakan dua orang terduga teroris di Cawang yang belum jelas klarifikasinya, hingga penangkapan Abu Bakar Ba’asyir sebagai contoh.
Menurutnya, penegakan hukum dengan operasi ala militer tidak menimbulkan efek jera. “Justru bisa menimbulkan efek snowballing. Aksi-aksi terorisme semakin banyak terjadi,” katanya. Ia menyarankan agar Densus mengutamakan tindakan preventif dengan mengutaman peranan intelijen. “Dan kepolisian gagal mengurusi intelijennya,” katanya.

Tudingan Densus 88 melanggar HAM ini dibantah oleh Kapolri. “Kejahatan terorisme berbeda dengan tindak pidana umum, jika diperlakukan sama misalnya mengajak RT setempat, bisa-bisa sudah habis diserang duluan,” katanya. Toh, kata Kapolri, dalam melakukan aksinya Densus lebih banyak menangkap terduga pelaku teroris hidup-hidup.

Sejak tahun 2000, terdapat 563 pelaku terorisme diajukan ke pengadilan. Hanya 44 orang yang tewas ditembak, dan 10 orang mati bunuh diri. Dari 563 pelaku yang diajukan ke pengadilan, sejumlah 471 terdakwa sudah dijebloskan ke penjara. Tetapi 245 di antaranya sudah bebas.

M. Agung Riyadi, Sukmono Fajar Turido, dan Averos Lubis (Medan)

 

Majalah GATRA Edisi  47 / XVI 6 Okt 2010

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s