Marwahmu, Lelakimu!

Lelaki menindas perempuan itu sudah biasa. Dan perempuan menerima tamparan lelaki juga sudah sering dilihat. Berlanjut hal mengumpat, memarahi, dan meludahi. Untuk meludahi, oh itu sangat luar biasa. Sungguh lelaki pecundang.

Dan kejadian semacam ini seakan khayalan belaka. Tapi, percayalah hal tersebut ada dalam kehidupan sehari-hari dialami oleh orang sekitar kita ataupun kita sendiri. Tanpa kita sadari bahwa benar-benar ada.

Nah, bagaimana bila yang terjadi malah kebalikan. Lelaki yang diinjak-injak perempuan. Seakan tak punya marwah. Sedangkan, marwah lelaki itu berada di “antara-antara” tengah tubuh. Namun, bukan hanya masalah di “antara” itu saja. Banyak hal lainnya. He-he-he…

Bisa saja memang ada sifat lelaki yang feminimis, lebay, dan agak kemayu. Namun mereka tetap golongan lelaki tulen. Tidak abnormal.Kembali ke permasalahan sebelumnya. Lelaki yang diinjak oleh perempuan. Sudah pasti hubungan mereka cukup rumit. Pasti sangat rumit. Sebab, salah satu di antara keduanya memilki sifat dominan cukup kuat. Entah itu laki-laki atau perempuan.

Persis seperti film menggambarkan para suami yang takut terhadap istrinya. Filam itu diputar di salah satu televisi swasta Indonesia. Mungkin sekedar lucu-lucuan saja. Namun, bagi saya itu sungguh gawat sekali. Apa sebab? Dalam film itu para lelaki, macam boneka para istri mereka. Saya pun meminjam istilah kepada para lelaki di sana entah apa-apa.

Mungkin ada benarnya bila perempuan menginjak lelaki dengan hatinya.

Saya teringat kisah cinta Hitler bersama perempuan paling dicintainya hingga akhir hayat. Ya, Eva Anna Paula Braun. Lahir di München, pada 6 Februari 1912 silam. Kemudian, meninggal di Berlin, 30 April 1945. Walau konon katanya, dia perempuan simpanan selama satu hari dan satu malam, istri Adolf Hitler.

Pada tahun 1930 Hitler bertemu Eva. Saat itu usia Eva masih 17 tahun. Kala itu ia pun menjadi asisten seorang juru foto Hitler. Waktu berlalu, eh, pada 1936 ia menjadi pacar Hitler. Dan ketika Tentara Merah Uni Soviet sudah berada di kota Berlin, Pada 29 April 1945. Ia mendadak menikah dengan Hitler. Sehari kemudian mereka bunuh diri. Ironi Romantis.

Hal ini pun terjadi dengan salah seorang kawan seperjuangan. Namun kisahnya terbalik seperti kisah Hitler dan Eva. Bak Eva teman lelaki saya. Sedangkan Hitler, pacarnya. Sebab yang saya lihat. Teman saya, sebut saja Pujangga Pena. Laiknya dalam keadaan genggam orang dicintainya.

Dia menurut, tanpa bisa melawan, menggangguk tanpa bisa menggeleng. Bahkan dia hanya diam bilamana umpatan sejurus makian datang bergantian. Dan yang membuat lebih penasaran. Apakah dia mau mati bersama dengan pacarnya, laiknya kisah ironi romantis Hitler? Ah, itu saya tidak berani jawab. Paling yang saya lihat kisah cintanya memang rumit. Entah mau dibawa kemana, meminjam istilah lirik salah satu band pop Indonesia. Tapi percayalah bung, lelaki harus jaga marwahnya!

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s