EDISI KHUSUS

Ritual Agama Berbalut Budaya

Perayaan Imlek di Indonesia tak sekadar diisi serangkaian ritual ibadah umat Buddha, Konghucu, dan Taoisme di kelenteng. Juga menjadi ajang pembauran budaya Tionghoa dengan budaya daerah setempat. Ada pula yang mengusung tema global, seperti isu lingkungan “Go Green Pecinan”. Tradisi mudik pun menjadi kesempatan untuk bersilaturahmi dengan kerabat di kampung.

Yuliana, 25 tahun, sibuk berbenah. Rumahnya di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, ditata rapi. Interior rumah yang kotor dibasuh dengan kain pembersih sampai terlihat mengilap. Jendela dan kacanya dibersihkan agar tampak kinclong. Lantai dalam dan luar rumah disapu dan dipel dengan air bercampur pewangi. Beberapa dinding rumah pun dicat ulang supaya kelirnya lebih terang.

Selain berbenah rumah, karyawan sebuah perusahaan swasta di Jakarta itu juga rajin menyambangi sejumlah pusat perbelanjaan yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Dia membeli sembilan bahan pokok makanan (sembako) untuk kebutuhan membuat kue. Tanpa terkecuali, Yuliana belanja pakaian pula. ”Semua itu saya lakukan bersama keluarga untuk menyambut hari raya Imlek,” katanya, dua pekan lalu, kepada Gatra.

Penyambutan Imlek memang seringkali dipersiapkan secara khusus oleh warga keturunan Tionghoa yang ada di Indonesia. Keluarga Yuliana adalah satu dari jutaan keluarga keturunan Tionghoa di Indonesia yang kerap melakukan persiapan spesial menjelang perayaan Imlek atau tahun baru Cina. Pada tahun ini, tahun baru Cina memasuki tahun 2562 (Tahun Kelinci) dan jatuh pada Kamis 3 Februari 2011.

Tiap kali hari besar itu datang, warga Tionghoa terbiasa membuat aneka masakan. Mulai masakan daging babi, jajanan kue lapis, kue keranjang, kue bangkit, dan puluhan jenis cemilan lainnya. Yang tak kalah penting adalah tersedianya pernak-pernik Imlek. Antara lain lampion besar dan kecil, lilin hias, amplop merah untuk tempat uang (angpao), pohon keberuntungan yang dirancang secara khusus, dan perlengkapan lainnya yang menunjang ritual sembahyang di vihara (kelenteng).

Tak hanya keluarga Yuliana, sejumlah pengurus kelenteng ternama di kota-kota besar di Indonesia pun menyiapkan berbagai keperluan peribadatan yang berlangsung sebelum dan sesudah perayaan Imlek. Setidaknya, hal itu tampak di Vihara Dharma Bhakti di bilangan Jalan Kemenangan III, Jakarta Barat. Menyambut Imlek tahun ini, menurut seorang pengurus hariannya, Suherman, vihara tertua di Jakarta itu merenovasi bangunan kamar mandi, melakukan pengecatan ulang, dan membersihkan seluruh ruangan tempat para dewa dan dewi.

Termasuk menyediakan perlengkapan dan peralatan untuk sembahyang pada puncak malam tahun baru. Di tengah malam tahun baru Cina itulah, lanjut Suherman, ribuan umat Buddha, Konghucu, dan Taoisme berbondong-bondong datang ke vihara yang punya nama lain Kelenteng Jin De Yuan itu. Dalam sembahyangnya, mereka berdoa meminta keselamatan, kesehatan, dan terlindung dari segala marabahaya.

Beberapa hari sebelumnya, mereka juga memanjatkan rasa syukur atas apa yang telah dilalui dan dicapai selama setahun belakangan. Suherman menjelaskan, mereka biasanya mulai berdatangan untuk sembahyang pada malam tahun baru, sekitar pukul 19.00 WIB. Puncaknya pas tengah malam pada pukul 24.00. “Itu yang paling rame,” katanya.

Gelombang orang sembahyang di tahun baru Cina terus berlangsung hingga malam berikutnya. Memasuki tengah malam inilah, kelenteng kesohor di Jakarta itu kembali tertutup untuk umum. Kata Suherman, 3.000-an orang yang datang ke Kelenteng Jin De Yuan berasal dari sekitar kota Jakarta. Yakni dari Bogor, Bekasi, Tangerang, dan Depok. Namun terkadang ada pula yang datang dari luar Pulau Jawa. ”Kalau belum sembahyang di kelenteng ini, rasanya seperti belum lengkap,” tutur Suherman.

Bedanya dari kelenteng di kota-kota besar lainnya, Jin De Yuan tak menampilkan atraksi kesenian barongsai pada malam tahun baru itu. Sebab, Suherman menambahkan, dewa penjaga atau tuan rumah kelenteng itu adalah Dewi Kwan Im yang memiliki karakteristik tenang. ”Di kelenteng lain mungkin atraksi barongsai selalu ada,” kata pria yang sudah lima tahun lebih mengurus Keenteng Jin De Yuan itu.

Pernyataan Suherman itu dibenarkan Albert, pengurus Kelenteng Boen San Bio atau Vihara Nimmala di Jalan Pasar Baru, Kota Madya Tangerang, Provinsi Banten. Menurut Albert, pada malam tahun baru itu, di samping disediakan tempat sembahyang, juga ditampilkan kesenian barongsai. Atraksi ini digelar kelompok barongsai Yayasan Nimmala. ”Sebulan sebelum hari raya tiba, mereka mulai berlatih secara rutin,” kata Albert, yang menjadi pengurus Vihara Nimmala sejak 15 tahun silam.

Sejalan dengan Kelenteng Boen San Bio, Kelenteng Hong San Ko Tee di Jalan Cokroaminoto, Surabaya, juga memeriahkan Imlek dengan mempersembahkan atraksi kesenian barongsai. Yang pasti, menurut pengurus rumah ibadah itu, Juliani Pudjiastuti, pada saat tahun baru Cina tiba, jamaah yang hendak bersembahyang sangat berjibun. Mereka datang dari seantero Surabaya.

Beberapa hari sebelum acara puncak ritual tengah malam, pihaknya selalu mempercantik suasana kelenteng dengan ratusan lampion yang dipasang di kanan dan kiri bangunan serta di jalan menuju lokasi sembahyang. Termasuk mewarnai bangunan kelenteng menjadi lebih bersinar terang. Bagi orang yang bermalam di kelenteng, pengurus menyuguhkan berbagai aneka makanan. ”Sebelum acara puncak tahun baru, kami juga membagi-bagikan sembako untuk para fakir miskin ,” kata Juliani.

Di luar kelenteng, semarak memeriahkan tahun baru Cina berlangsung di pusat-pusat perbelanjaan dan tempat wisata. Simbol-simbol Imlek terlihat eksis ketika memasuki sejumlah area plaza, mal, dan tempat hiburan di Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Medan, Bandung, Semarang, dan kota besar lainnya di seantero Indonesia. Lambang naga dan simpul Imlek yang ada di sudut-sudut pertokoan dan fasilitas umum perkotaan memendarkan dominasi kelir merah. Suasana malam semakin eksotik oleh temaram cahaya lampu lampion.

Keindahan sinar lampion juga begitu terasa pada malam hari di Kampung Pecinan, Semarang. Ditambah sejumlah ruas jalan yang dipenuhi tiang penerang yang diperbaiki sebulan sebelumnya. Maklum, di kawasan itu ada gawean besar yang mengiringi perayaan Imlek. Acara rutin tahunan sejak 2004 itu tak lain adalah pasar Imlek Semawis (Semarang untuk Pariwisata).

Pada tahun ini, hajatan Semawis menghadirkan 150-an stan untuk berjualan aneka jajanan langka khas Tionghoa. Beberapa anjungan juga dijadikan ajang promosi pembauran budaya Tionghoa dengan budaya Jawa. Ada pula pameran dan pertunjukan kesenian ala Cina yang digelar di beberapa gedung yang ada di Kampung Pecinan.

Ketua Komunitas Pecinan Semawis, Harjanto Halim, mengatakan bahwa pada Imlek tahun ini komunitasnya tidak menonjolkan pada aspek ritual. Sebab urusan ini lebih dipusatkan di dalam kelenteng dan rumah masing-masing keturunan Tionghoa. Pihaknya lebih berkonsentrasi di ruang terbuka. ”Event yang pernah diselenggarakan pada tahun-tahun sebelumnya lebih diperbesar. Arahnya, memperluas pemahaman religius menjadi budaya,” katanya.

Perluasan pemahaman terhadap Imlek itu bertujuan agar tahun bari Cina tak lagi diperingati penganut Tri-Dharma (Buddha, Konghucu, dan Taoisme), melainkan juga oleh warga Tionghoa yang beragama Nasrani maupun Islam. Dengan begitu, rangkaian acaranya pun menjadi milik masyarakat luas, terutama di sekitar Kampung Pecinan. Bagi Harjanto, Imlek merupakan ajang menyampaikan pesan dan penyadaran kepada khalayak. Karenanya, tema yang diusung tiap tahun berbeda-beda. ”Tahun ini, kami mengusung tema penyadaran lingkungan, ‘Go Green Pecinan’,” ujarnya.

Perayaan di ruang terbuka juga terjadi di Bandung. Seorang jamaah bernama Andi, di Vihara Satya Budhi, kelenteng terbesar di kota Bandung yang berdiri sejak tahun 1896, menuturkan bahwa selepas perayaan Imlek di kelenteng, biasanya warga Tionghoa Bandung berkumpul di satu tempat yang luas dan terbuka.

Pada tahun lalu, acara kumpul bareng itu berlangsung di Bumi Sangkuriang, Ciumbuleuit, sebuah kawasan di Bandung Utara yang memilki areal taman luas dan tertata. Pada tahun ini, kemungkinan puncak kemeriahan Imlek di Bandung berlangsung di tempat yang sama. Uniknya, kali ini kesenian yang disuguhkan tidak melulu asal Tionghoa. Selain pertunjukan barongsai, ada pula sajian kesenian reog dan ditutup dengan pegelaran wayang golek. “Meriah sekali, ada perpaduan antara kesenian Cina dan Sunda,” kata Andi, seraya menjelaskan bahwa di vihara lainnya di kota Bandung dimeriahkan dengan dentuman kembang api dan tabuhan genta. ”Seperti Lebaran Idul Fitri saja,” pria berusia 37 tahun itu menambahkan.

Warga keturunan Tionghoa juga mengenal tradisi mudik menjelang Imlek, layaknya tradisi umat Islam menjelang Lebaran. Mereka menjadikan tahun baru sebagai ajang berkumpul dengan sanak famili yang ada di kampung. Sutopo, Ketua Perwakilan Umat Buddha Indonesia Kota Medan, misalnya, kerap mudik dari kota Medan ke kampung halamannya di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, hanya untuk bersilaturahmi dengan kerabat. “Imlek adalah kegembiraan dalam kebersamaan, optimisme dan wujud syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa,” katanya kepada Averos Lubis dari Gatra.

Sebagaimana keluarga Sutopo, keluarga Yuliana tadi pun menggelar pertemuan keluarga besar di Jakarta. Rumah anggota keluarga yang paling tua menjadi titik pusat berkumpul. Yang muda dan belum berkeluarga dipastikan bakal menerima angpao (hadiah) dari orang-orang yang lebih tua. “Mendapatkan angpao itulah yang paling menarik,” ujar Yuliana di sela-sela berbenah rumahnya.

Deni Muliya Barus, Haris Firdaus, Syamsul Hidayat (Semarang), M. Nur Cholish Zaein (Surabaya), dan Wisnu Wage Pamungkas (Bandung)

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s