LINGKUNGAN

Jalan Tertatih-tatih Selamatkan Toba

Tumpang-tindih pemanfaatan Danau Toba menjadikan ekosistem kawasan itu mengalami degradasi hebat. Lingkungan rusak, pariwisata merosot, dan bencana longsor terus mengancam. Sejumlah penggiat sudah menggalang gerakan dari bawah.

Panorama sepanjang pinggir Danau Toba selalu menawarkan beragam nuansa keelokan berbeda-beda. Sayang, pemandangan indah itu dirusak oleh aktivitas pencucian pakaian dan perkakas di pinggir danau. Di Pelabuhan Ajibata, Parapat, tampak segelintir orang mencuci pakaian langsung di danau tanpa ada orang yang menegur. Limbah sabunnya memperkeruh air danau.

Jika aktivitas itu dilakukan saban hari, secara akumulatif zat kimia berbahayanya pasti akan mencemari. Pemandangan serupa juga nampak di pinggir Pelabuhan Balige. Terpal, karpet, bahkan mobil dicuci langsung di pinggir danau. Limbahnya menggelontor ke danau. Suasana tersebut diperparah dengan enceng gondok yang mulai menutupi sebagian perairan Toba.

Kebiasaan buruk lain yang sulit hilang antara lain membakar ladang dan belukar agar tumbuh tanaman baru untuk makanan ternak mereka. Kecuali itu, pengenalan aquafarm di danau melalui keramba jaring apung dilihat juga sudah melebihi ambang batas daya dukung lingkungan. Banyak warga meniru begitu saja.

Sebastian Hutabarat hanya menggeleng-gelengkan kepala. “Akar masalahnya adalah tidak adanya rasa memiliki terhadap tempat indah itu,” kata Sebastian Hutabarat. Warga Balige, Kabupaten Tobasa, itu sempat mengajak warga pinggir danau memanfaatkan enceng gondok untuk kompos. Kompos diperkenalkan Bastian pada petani agar mau bercocok tanam secara organik.

Menurut Bastian, sistem yang paling pas untuk kawasan Danau Toba memang pertanian organik. Kompos dinilai lebih aman ketimbang menggunakan pupuk dan pestisida. Residu pupuk dan pestisida kimia pada satu titik ambang jenuh pasti akan menghancurkan ekosistem. “Bila sudah rusak, biaya dan waktu pemulihannya akan sangat tinggi,” ujarnya. Namun, aktivitas ini masih dalam skala kecil, dan pemanfaatan enceng gondok belum massif.

Keluh kesah Bastian ada benarnya. Di beberapa pinggir danau, keramba sudah berlebihan. Bisa membahayakan wisatawan yang ingin berenang dan berlayar. Seperti yang nampak di kawasan pinggir Tuk Tuk, Pulau Samosir, yang dipenuhi belasan hotel. Belasan jaring-jaring keramba membuat aktivitas wisata tidak leluasa lagi. Kotoran ikan juga membuat air jadi keruh. “Di sini kami harus berbagi dan jangan sampai merusak jaring warga,” ungkap Jacks Bandit, yang kini aktif mengoperasikan kapal layar catamarannya.

Keprihatinan yang lebih luas terungkap ketika Badan Pelaksana Badan Koordinasi Pengelolaan Ekosistem Kawasan Danau Toba (BKP-EKDT) menggelar diskusi dengan para penggiat lingkungan dan LSM yang memiliki aksi pada pelestarian Danau Toba. Pertemuan berlangsung di Medan, Kamis dua pekan lalu. Kepala BKP-EKDT, Dr. Edward Simanjuntak, mengakui masih banyak aktivitas di sekitar danau yang menafikan ekosistem berkelanjutan.

“Umumnya adalah eksploitasi sumber daya alam sekitar danau yang menghasilkan limbah pencemar,” kata Edward kepada Averos Lubis dari Gatra. Bentuknya bisa berupa kegiatan perhotelan, rumah makan, perikanan, pertanian, dan aktivas sehari-hari warga yang tidak peka pada ekosistem lingkungan sekitarnya. Edward berkesimpulan bahwa faktor kesadaran serta kepedulian masyarakat dan pelaku usaha memang masih rendah.

Sedangkan kebiasaan membakar tanaman, menurut Edward, juga disebabkan minimnya pengetahuan dan masalah ekonomi yang menjerat. Masih banyak warga yang memilih cara-cara instan tanpa pernah memikirkan kegiatan yang berbasis lingkungan.

Penyuluh dan penggiat lingkungan, Opat Parulian Purba, dari Desa Silando, Kecamatan Muara, Tobasa, merasakan bagaimana pemakaian pupuk kimia untuk pertanian di kawasan Karo, Simalungun, Tapanuli Utara dan Tobasa sulit dibendung. “Memang sejak 2005 kesadaran untuk menciptakan pupuk organik muncul, namun masih banyak petani yang memilih pupuk kimia dengan alasan lebih cepat,” katanya.

Pelanggaran juga terlihat pada penggunaan keramba. “Meskipun sudah ada larangan, namun yang melanggar masih banyak,” katanya. Intensitas kerusakan hutan juga nampak dari masih maraknya penebangan kayu. “Terkadang banyak oknum di sana. Saya takut sembarang sebut. Apa itu legal atau ilegal,” ujar Opat.

Keprihatinan serupa pernah diutarakan Ketua Earth of Society Danau Toba, Mangaliat Simarmata, sepekan setelah musibah banjir bandang yang melanda Desa Sabulan dan Desa Buntu Nauli, Kecamatan Sitio-tio, Kabupaten Samosir, pada akhir April tahun lalu. Banjir yang membawa bebatuan dan potongan kayu itu, menurut Mangaliat, akibat dari pemanfaatan hutan secara berlebihan di sekitar kawasan. “Secara kasar, hampir 70% hutan di sekitar Danau Toba telah rusak,” katanya seperti dikutip Antara. Ini salah satu biang keladi degradasi ekosistem di sana.

Pengrusakan itu akibat kegiatan pertambangan, pembalakan liar, dan pemanfaatan hutan lindung untuk hutan tanaman industri. Ia menunjuk kawasan hutan lindung sekitar 10 km dari Sitio-tio, seluas 2.600 hektare yang di atasnya ada izin hak pengelolaan hutan.

Rusaknya hutan di kawasan danau, juga bisa dilihat pada merosotnya debit air di 11 anak sungai yang hulunya berasal dari Kabupaten Dairi, yang terletak di barat laut Danau Toba. Debit airnya merosot menjadi 13 meter kubik. Kesebelas sungai itu mengerucut menjadi satu sungai besar, Lau Renun, lalu bermuara ke Toba. Ini mengakibatkan turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Lau Renun, yang terletak di sungai tidak dapat bergerak maksimal. Padahal ketika PLTA akan dibangun, survei awal menunjukkan debit air 11 anak sungai itu masih 20 meter kubik.

Gundulnya sejumlah dataran tinggi pinggir Danau Toba juga sangat disesali Toni Parlindungan Sianipar, 45 tahun, yang puluhan tahun merantau di Jakarta. Melihat foto pemandangan lereng perbukitan dari Huta Ginjang, di Siborong-borong, Toni terperengah kaget. “Dulu tidak seperti ini, karena banyak ditumbuhi pohon pinus,” katanya.

Toni sulit melupakan pinus-pinus itu. Ketika duduk di bangku sekolah dasar sekitar 1975-an, dirinya bersama teman-temannya dari Tara Bunga, Balige, digerakkan untuk menanam ratusan pohon pinus di sekitar kawasan itu. “Sayang kalau sekarang menjadi seperti ini,” katanya.

Dari data yang didapatkan, kini terdapat area seluas 16.226 hektare berpotensi besar terkena erosi dan area seluas 12.681 hektare lainnya rawan longsor. Risiko itu bisa terjadi lantaran ada 19 sungai di daerah tangkapan air yang langsung masuk ke danau. Berdasarkan data Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Wilayah I Medan, daerah tangkapan air di sekeliling danau seluas 190.314 hektare dengan ketinggian hingga 1.981 meter di atas permukaan laut (dpl) itu tergolong peka erosi. Area di daerah tangkapan air Danau Toba itu terhitung lahan kritis yang harus disemai dengan bibit tanaman pohon keras. Pola tanaman semusim kurang dari setahun pada lahan kritis harus dihindari karena bakal memicu erosi dan endapan di danau.

Selain itu, danau di ketinggian 906 meter dpl dengan garis pantai sepanjang 285 km itu mendapat terpaan curah hujan cukup tinggi, rata-rata di atas 2.000 mm setahun. Selain enam wilayah kabupaten di sekitar danau yang menjadi daerah tangkapan air hujan. Pulau Samosir yang dihuni sekitar 130.570 orang dengan kepadatan 51 orang per km2 merupakan kabupaten baru dengan karakteristik degradasi lingkungan yang berbeda.

Namun tak semua warga di sekitar Toba tak perduli dengan lingkungan sekitar. Ambil contoh kawasan Ambarita. Mayoritas warganya sadar bahwa pariwisata harus didukung oleh lingkungan yang bersih dan sehat. Maka, warga Ambarita dan sekitarnya menjaga betul lingkungan dengan praktek yang ramah dengan ekosistem.

Resep untuk menggerakkan masyarakat, dimulai dari komitmen kelompok kecil dulu.”Mereka diberi pengertian dan sejumlah contoh bahwa dampak negatif dari ekosistem yang rusak pada awalnya akan berimbas serta merugikan diri mereka sendiri,” ungkap Mangantar Tua Sialagan, Kepala Desa Ambarita.

Namun untuk menggerakkan warga untuk sadar lingkungan terbilang sulit. Itu dirasakan Annette Horschmann Boru Sialagan, yang sejak 1994 bermukim di Tuk Tuk. Perempuan kelahiran Wengern, Jerman, ini menjadi motor penggerak warga sekitar untuk membersihkan enceng gondok. “Semula sulit karena kepedulian rendah dan karakter warga yang memang tidak mau diatur-atur,” katanya.

Jalan satu-satunya adalah dengan memberi contoh kongkret. “Saya mulai membersihkan sendiri enceng gondok yang mengumpul belasan meter dari bibir pantai,” katanya. Horschmann menaiki sampan kecil dan bergantian dengan suami dan beberapa pegawainya mengambil enceng gondok. Ia membutuhkan waktu berhari-hari. Tidak bisa seketika, karena meski sudah nampak bersih, pagi atau sorenya datang kiriman enceng gondok dari seberang.

Enceng gondok itu ia kumpulkan dan diolah menjadi kompos. Hasilnya sudah nampak. Dalam tiga tahun ini pohon di sekeliling Tabo Cottages, penginapan yang ia kelola bersama suaminya, tumbuh subur tanpa harus memberi pupuk. Langkah itu menarik sejumlah petani bawang dan mulai meniru caranya. Hasilnya di luar dugaan, karena bawang lebih besar dan tanah gembur serta mudah ditanami.

Kesadaran untuk mengelola sampah dengan benar juga Annette contohkan. Mulai dari memilah-memilah sampah menjadi tiga, yakni yang bisa membusuk, plastik, dan kaca, serta logam. Kepiawaian Annette berbahasa Batak, menyelami adat-istiadat setempat, dan menyapa langsung warga sekitar menjadikan sosialisasi yang dilakukan menjadi tanpa jarak dan efektif. “Potensi mereka sebenarnya besar. Dengan merubah sejumlah pola pikir yang keliru, masyarakat akan tergerak menjaga kelestarian ekosistem Danau Toba dari hal-hal kecil sesuai peran dan tanggung jawab masing-masing,” ujar istri Antonius Silalahi.

Annette bergabung dalam Save Lake Toba Community. Bersama sejumlah penggiat lingkungan dan LSM aktif dalam berbagai diskusi rutin yang dilakukan BKP-EKDT. Dalam setahun ini mereka mulai menata serta mensinkronkan berbagai kepentingan dari budaya, kesenian, tradisi, aktivitas pariwisata, ekonomi, dan pelestarian ekosistem mulai dari bawah. “Kami mengawali dari simpul-simpul emosional dan kepentingan warga,” ujarnya. Dari mulai mencari tahu kebutuhan, apa yang harus diperbaiki, sampai apa yang menjadikan semuanya bisa maju.

Annette dan sejumlah penggiat yang peduli pada Danau Toba percaya bahwa kesadaran, kemitraan, dan partisipasi masyarakat adalah kunci penting untuk menyelamatkan ekosistem Danau Toba. Mereka juga berharap pemerintah provinsi dan tujuh kabupaten membentuk satu wadah untuk Toba agar ada koordinasi, kekompakan, dan saling dukung dalam memajukan ekosistem Toba. “Kami masih harus belajar dan mendapat dukungan banyak pihak,” katanya. Ayo, siapa peduli Tao Toba.

G.A. Guritno

Faktor Pencemaran Danau Kaldera
– Limbah cair pabrik dan rumah tangga dibuang langsung ke danau.
– Limbah padat dan plastik di sepanjang pantai.
– Penggunaan pewarna kimia pada kain tenun.
– Pendangkalan karena erosi dan kerusakan hutan.
– Lahan kritis dan penggundulan hutan melalui HPH.
– Tata ruang tidak sesuai peruntukan.
– Penggunaan pupuk dan pestisida kimia berlebihan.
– Tidak adanya kesadaran dan sistem pengelolaan sampah yang baik.

Diolah dari berbagai sumber

Menuai Kehidupan Taman Eden
Mengejar kesuksesan hidup di kota besar adalah impian sebagian besar pemuda kawasan Danau Toba. Demikian pula dengan Marandus Sirait, 43 tahun, pemuda kelahiran Desa Sionggang Utara, Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Toba Samosir. Ia sekolah dan mengikuti les gitar klasik di Medan. “Cita-cita saya adalah menjadi pemusik dan pencipta lagi terkenal,” katanya.

Namun, Tuhan berkehendak lain. Tahun 1997, ia meninggalkan segala bentuk aktivitas bermusiknya dan balik ke kampung halaman. Tanpa dana besar dan tanpa publikasi, Marandus sendirian menyulap lahan orang tuanya seluas 40 hektare menjadi Taman Eden 100. “Saya terobsesi menanam pohon buah-buahan sebanyak 100 jenis,” katanya.

Dua tahun kemudian, Marandus memberikan Yayasan El Shaddai. Yayasan tersebut membangun Taman Eden 100 dengan konsep Agrowisata Rohani. Di sana pengunjung bisa melakukan retret di alam, kamping, mendaki gunung, flora dan fauna, air terjun, gua kelelawar, rumah Tarzan, 100 lebih jenis pohon buah, lintas alam, hash, dan wisata alam. Agrowisata ini juga menawarkan beragam burung liar, empat mamalia yakni kera, monyet, siamang, dan hulihap, serta beruang hutan.

Semula, orangtua dan saudara-saudaranya belum memberi dukungan. Karena tidak punya modal sejak tahun 2003 satu per satu alat musiknya dijual untuk modal hidup. Kerja kerasnya mulai nampak namun tak ada yang memperhatikannya. Bahkan dalam dua bulan ia harus tiga kali masuk rumah sakit karena kurang gizi dan terkena tifus serta maag. “Saya frustasi dan sempat berpikir ini bukan jalan yang Tuhan kehendaki,” Marandus menambahkan.

Ternyata beberapa orang di Pemerintah Provinsi Sumatera Utara diam-diam memperhatikan aktivitasnya. Lalu mendorongnya ikut seleksi penghargaan Kalpataru. Beruntung, ia mendapat Kalpataru untuk kategori Perintis Lingkungan di usia cukup muda, pada 2005. Penghargaan itu makin melecut semangat Marandus.

Ongkos yang ia keluarkan secara pribadi sudah tak terhitung. Mencari bibit tanaman langka dilakukan sampai ke Pekanbaru, Kabanjahe, Langkat, dan Binjai. Kini tanaman buahnya sudah mencapai 120 lebih. Sejak mendapat Kalpataru itu, tawaran kerja sama dan bantuan untuk pembibitan tanam datang dari sejumlah lembaga pemerintah, perusahaan dari dalam dan luar negeri, dan pribadi-pribadi.

Mulai 2008, Marandus mulai membagikan bibit pohon untuk daerah-daerah kritis. Rata-rata 200 batang per kelompok orang. “Bisa lebih hingga 1.000 batang, asalkan disertai konsep dan kesediaan memelihara hingga besar,” katanya. Tahun lalu, bareng dinas dari Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan, serta Otorita Asahan dan Toba Pulp Lestari, ia memulai program “Kebun Bibit Rakyat” di sejumlah desa.

Upaya Marandus tak cuma menghijaukan sekitar Toba, melainkan juga sukses menciptakan pohon-pohon khas Danau Toba. Seperti andalehat, antarasa, andaliman, inggul, jabi-jabi, dan tabu-tabu. Andalehat berbuah manis, banyak getah, dan tahan air. Antarasa rasanya getir untuk lalapan. Sedangkan tanaman inggul kayunya dapat dimanfaatkan untuk membuat sampan di danau Tobo dan tahan air. Kemudian, jabi-jabi seperti beringin, buahnya kecil untuk makanan burung, serta tabu-tabu untuk menghangatkan minuman.

Pada hari libur besar pengunjung Taman Eden bisa mencapai 500 orang. “Saya terhibur jika banyak kaum muda yang mulai tertarik pada pelestarian alam,” ungkapnya. Mereka yang datang bisa membeli tanaman dari Rp 50.000 hingga Rp 200.000 untuk disumbangkan demi pelestarian hutan. Ratusan orang dari pejabat, artis, pengusaha, sampai pelajar sudah melakukannya.

Tahun ini, Marandus berencana mengajukan kerja sama dengan pemerintah kabupaten untuk bisa mengelola hutan wisata. Pendapatannya untuk biaya perawatan hutan dan lahan-lahan kritis di sekeliling danau.

Marandus berharap berbagai pihak mulai menghargai penggiat lingkungan agar makin banyak yang tergerak melestarikan alam. “Kita masih butuh bantuan banyak pihak karena sejatinya manusia tidak bisa hidup baik dan menjadi berkat bagi sesamanya, jika lingkungan hidup sekitarnya rusak,” katanya.
G. A. Guritno

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s