Harap Mafhum antara Jaga Bumi atau Jagal Bumi

Oleh Averos Lubis

“Mari menjaga bumi, mari merawat bumi, mari melestarikan alam,” ujar segerombolan orang yang mengaku sangat mencintai bumi itu. Lantas, terdengar lagi riuh rendah suara. “Siapa yang tak mau mencintai tanah airnya. Ayo mari jaga bumi. Jangan sampai ibu pertiwi menangis terisak-isak,” ujar sang promotor demo seraya mengajak para demonstran lainnya.

Ya, sudah ketebak aksi mereka ini adalah apresiasi untuk menjaga bumi. Entah itu lingkungan, suasana, maupun keadaan bumi yang sudah gonjang-ganjing. Dan peristiwa ini saya rekam ketika ada demo di sekitar Bundaran SIB beberapa tahun lalu. Sekira siang hari nan gerah.

Kala itu, hadir seratusan lebih para demonstran mengandalkan jargon yel-yel suaranya. Tak lupa atribut semacam spanduk serta poster bertuliskan mari menjaga bumi terpampang di mana-mana. Tak ayal, para pengendara jalan pada saat itu mafhum betul. Ini pasti demo menjaga bumi.

Pun termasuk saya, ketika itu sedang ikut meliput aksi mereka. Dan salutnya mereka tidak rusuh, malah tertib. Sontak, timbul pertanyaan saya ketika itu. Apa benar mereka ini setulus hati ingin menjaga, merawat, mengasih sayangi bumi. Entahlah, pasti banyak jawaban nisbi yang hadir bila saya tanya satu-satu kepada mereka.

Namun, ada hal unik saya lihat dari keseluruhan para pendemo itu. Mayoritas adalah perokok. Rasanya mereka para perokok berat. Sebab, batang per batang rokok, mulai dari rokok putih hingga kretek tersedia. Ikut “tidur-tiduran” dengan para pendemo di jalanan.

Sejurus kemudian, saya membaca sebuah tulisan dari Masayu Yulien Vinanda. Berikut isinya: Jakarta pada 27 Maret 2011. Meskipun Jakarta diguyur hujan , ratusan orang yang terdiri dari aktivis lingkungan, komunitas masyarakat dan warga ibukota tetap antusias mengikuti puncak kampanye global perubahan iklim Earth Hour yang digelar di Monas, Jakarta Pusat, Sabtu malam.

Acara simbolis pemadaman lampu di wilayah DKI Jakarta tersebut dipimpin langsung oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto. Duta Besar Australia, Bill Farmer, sejumlah perwakilan negara tetangga, jajaran Dewan Pengurus dan Dewan Penyantun WWF-Indonesia, serta mitra korporasi Earth Hour 2010 berkumpul di atas panggung untuk menyaksikan prosesi pemadaman listrik yang berlangsung tepat pukul 20.30.

Menjelang detik-detik pemadaman lampu, para aktivis berbaur di depan Taman Air Mancur Pesona Monas, beberapa di antaranya menari diiringi oleh permainan perkusi kelompok “Tetabuhan Lorong” sambil terus meneriakkan seruan hemat energi.

Di sekitar panggung, terlihat 60 buah lilin membentuk angka 60 yang merepresentasikan gerakan mematikan lampu selama 60 menit dan lampion berwarna-warni yang membentuk tulisan “Jakarta.”

“Saya berharap partisipasi Jakarta pada Earth Hour 2010 ini dapat menjadikan Jakarta lebih baik dari sisi efisiensi dan penghematan energi sekaligus dalam upaya penanggulangan perubahan iklim,” ungkap Prijanto sesaat sebelum count down Earth Hour dimulai.

Lebih jauh lagi, Prijanto mengharapkan kegiatan penghematan energi tidak hanya dilakukan setahun sekali pada Earth Hour saja, tetapi juga dapat diterapkan dalam pola hidup warga Jakarta.

Sementara, Ketua Badan Pengurus WWF Indonesia Kemal Stamboel mengatakan kampanye Earth Hour pada dasarnya berusaha untuk menunjukkan bahwa perilaku sederhana dan murah, bila dilakukan dengan kesadaran dan secara kolektif, baik oleh warga masyarakat, pelaku bisnis, dan pemerintah, dapat mengubah bumi menjadi lebih baik.

Nah, bagi saya banyak pertanyaan. Kok cuma satu jam saja ya. Rasanya, tampak kita menghemat hanya berapa watt saja. Dibanding membuang-buang watt. Dan tampak yang lebih serius bila ingin menjaga bumi. Sohib-sohib di Bali. Apa itu? ya, mereka merayakan Nyepi. Salut buat mereka!

Namun, untuk dua hal kejadian di atas. Ya, saya lagi-lagi harap mafhum. Ya, harap Mafhum antara Jaga Bumi atau Jagal Bumi. Kendati begitu, tetap salut juga dengan Gagasan Earth Hour. Yang berawal dari kampanye kolaborasi sebuah organisasi nirlaba WWF bersama berbagai media di Australia itu. Konon katanya, tujuannya mengurangi efek gas rumah kaca di kota tersebut sebanyak 5%.

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s