Dibilang Romantis, Eh Gaya Picisan

Oleh Averos Lubis

Pertanyaan pertama dari saya atas judul di atas. Sudah romantis. Kok picisan pula. Nah, hal itulah yang membuat jemu saya berpikir. Bermula dari kisah seorang kawan menyukai seorang wanita. Suatu malam dia pernah bercerita. Sekira beberapa bulan lalu.

Katanya, wanita idolanya ini sungguh dicintainya. “Entah apa yang terjadi sama si kawan ini. Bakal serius aku,” ujarnya kepada saya kala itu. Saya pun hanya bisa berdehem. “Ehem.”

Lalu, “Baguslah. Apalagi, semuanya sudah selesai. Carilah jodoh,” saran saya kepada sang teman. “Iya, ya apalagi?” ia bertanya kembali. “Aku gaslah si kawan itu. Syukur-syukur kelak jadi isteri awak,” harapan kawan saya itu. Selang berapa lama, sang kawan tersebut malah curah hati kepada saya. “Banyak juga yang mengejar kawan itu,” katanya. “Banyak saingannya nih,” celotehnya lagi kepada saya.

Usai dia berkata banyak saingan. Saya hanya berpesan pendek, risiko merebut cewek, ya seperti itu. Asal fair. Jangan sampai saling berantam. Perbandingan wanita dibanding pria, sungguh jauh. Bisa 3:1 kawan. “Jadi, jangan buat malu “adam-adam” lainnya bila saling baku hantam,” pesan sok paten keluar dari bibir saya.

Sontak, kawan saya itu, malah membanding-bandingkan antara gebetannya yang lama dengan yang kini. Dia berkata, gebetan lama memang cantik. Tapi, yang sekarang juga cantik. “Tak kalah sainglah sama yang lama,” ungkapnya.

Saya pun hanya bisa berdehem sekali lagi. “Ehem…Ehem…” Padahal, menurut saya, bila gebetannya dibilang cantik. Ya, saya bilang, “Nisbi itu kawan. Biasa sajalah. Menang gaya anak jaman saja.” Sesaat saya diam. Dan saya berpetuah lagi. “Gaya seperti itu, seribu satu saya jajal. Bosan malah,” agak pongah saya berkata.

Eh, setelah sama dia bercurah hati ingin menggaet wanita harapannya itu. Malah saya perhatikan pergerakannya sungguh menjemukan. Ibarat gaya picisan. Padahal, saya tahu, wanita dikejarnya itu bukan penyuka picisan. Sang gebetan itu, suka gaya kejamanan sekarang. Namun, apa lacur dikata. Kawan saya ini punya mental di atas rata-rata.

Tampaknya dia mulai berhasil meraih angan dia. Namun, saya agak “gerah” bila dia merancangnya dengan gaya picisan atau murahan. Sebab, posisinya dengan sang idola hati masih antara iya dan tidak. Dan permasalahannya yang membuat saya sangat gerah. Dunia daring atau online dia gunakan seakan kampanye keakuannya sukses menaklukan sang idola hati.

Saya harap, bilamana sang idaman hati itu bukan memilihnya. Bahkan, memilih entah siapa yang menjadi seleranya. Wahai, kawanku. Gaya picisanmu bakal sia-sia. Terlebih dirimu terlalu anggar keakuanmu telah memiliknya. Berujung, menjadi cerita di antara para “adam-adam” di sekelilingmu. Ya, gaya bercintamu, ala picisan! Aduh!!

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s