Kombinasi Ilmu untuk Golden Generation

Sekolah berbasis agama Islam ini berupaya mempersiapkan calon pemimpin masa depan yang berakhlakul karimah, sehat jasmani dan rohani, serta mampu berkompetisi. Biayanya cukup mahal.

Nuansa keislaman di sekolah ini sangat kental. Pengetahuan tentang iman, Islam, dan ihsan selalu ditekankan. Juga menyangkut akhlak serta rasa bangga terhadap Islam dan semangat jihadnya. Tak ketinggalan, penanaman rasa cinta kepada Allah dan Rasul yang dicerminkan lewat perilaku dan budaya yang Islami. Pembiasaan berbudaya Islam ini antara lain dengan gemar beribadah, disiplin, kreatif, mandiri, serta membiasakan hidup sehat dan bersih.

Begitulah suasana yang tercermin dalam aktivitas belajar-mengajar di SMA Yayasan Pendidikan Shafiyattul Amaliyyah (YPSA) Medan. Dengan basis keislaman yang kuat tadi, maka jangan heran jika aktivitas beribadah tak pernah alpa berlangsung di sela-sela kegiatan sekolah. Berbagai macam aktivitas ekstrakurikuler atawa ekskul pun digenjot, yang diselenggarakan setiap Sabtu. Semua siswa wajib mengikutinya.

Menurut Ketua Umum YPSA, Hj. Rachawati Sofyan Raz, yayasan pendidikan yang menaungi jenjang taman bermain, taman kanak-kanak, hingga sekolah menengah atas itu memang berupaya mempersiapkan calon pemimpin masa depan yang bertakwa, berwawasan intelektual, berakhlakul karimah, memiliki fisik yang sehat, serta mampu berkompetisi. ”Kami menyebutnya sebagai golden generation,” kata Rachmawati, penuh semangat. Hal itu, katanya pula, bisa dicapai dengan menerapkan sistem pendidikan yang terintegrasi antara ilmu agama dan ilmu umum.

Nah, untuk mencapai tujuan itu, sekolah ini sepertinya telah punya ”modal” lumayan. Lihat saja, sejak 2008, SMA YPSA, yang mendapat nilai A dari Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M), sudah masuk rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI). Pada Januari 2011, sekolah ini resmi pula diakreditasi sebagai sekolah yang menjadi Cambridge International Examination (CIE) Test Center. Proses akreditasi ini dilakukan pihak CIE pada Desember tahun lalu. Dengan akreditasi ini, SMA YPSA dapat mengadakan ujian internasional dengan sertifikat resmi dari CIE London.

Kurikulum di sekolah dengan slogan “Islamic full day school” ini praktis tidak hanya mengandalkan kurikulum dari Kementerian Pendidikan Nasional, melainkan juga kurikulum berbasis lokal dari yayasan sendiri serta kurikulum dari Kementerian Agama. Tentu saja, ada pula kurikulum internasional dari Cambridge University. Di kelas internasional, YPSA menggandeng Learning Sinergy Group yang berpusat di Singapura, untuk menjembatani kurikulum dengan modul yang dikeluarkan Cambridge University.

Kombinasi kurikulum ini ditunjang pula dengan fasilitas sekolah yang memadai. Misalnya ruang kelas full AC yang diisi maksimal 28 siswa, laboratorium MIPA, lab bahasa (Inggris, Arab, Jepang, Jerman, dan Mandarin), serta lab komputer. Juga ada ruang perpustakaan, ruang makan, kantin, dan masjid. Selain itu, disediakan pula studio musik, ruang bermain, kebun pembibitan, klinik kesehatan, dan minimarket.

Tenaga pengajar pun oke semua. Pihak sekolah mengklaim bahwa para gurunya cukup qualified, lulusan S-1 sampai S-3 dari perguruan tinggi dalam dan luar negeri. ”Tenaga pengajar harus berprestasi akademis, berwawasan keagaman, serta berpengalaman organisasi,” kata Daulat Siregar, KepalaSMA YPSA. Karena itulah, menurut Daulat, pihaknya selalu mengembangkan standardisasi dalam perekrutan, pelatihan, dan penilaian terhadap tenaga pengajar.

Calon guru, di samping harus berpengalaman mengajar minimal tiga tahun dan berjiwa murrabi (mendidik, mengasuh, membina), juga harus lulus tes akademik, micro-teaching, psikologi, kesehatan, dan wawasan. Juga mesti lolos tes wawancara. Kualitas para guru yang lolos saringan dan mulai bertugas ini terus ditingkatkan dengan diikutkan dalam berbagai pelatihan dan seminar, dengan narasumber lokal dan asing. Tidak sedikit pula yang disekolahkan ke jenjang pendidikan berikutnya atau diikutkan dalam berbagai kursus.

Rekrutmen terhadap calon siswa pun dilakukan secara ketat. Seleksi dilakukan dengan ujian tertulis, meliputi tes potensi akademik dan pengetahuan agama Islam. Juga tes bahasa Inggris, psikologis, dan sejumlah tes lainnya. Sebelum mendaftarkan anaknya, orangtua calon siswa dipersilakan melihat berbagai fasilitas di sekolah itu serta bertanya sepuasnya seputar program belajar dan kurikulumnya.

Ini bertujuan agar para orangtua punya gambaran jelas sebelum memutuskan anaknya bersekolah di situ. Apalagi, biaya yang mesti dikeluarkan tidaklah kecil. Untuk SMA RSBI, siswa baru dipungut biaya total Rp 11.320.000, termasuk uang pakaian seragam dan sumbangan penyelenggaraan pendidikan (SPP) bulan pertama Rp 850.000. Sedangkan untuk SMA dalam unit upper secondary, total biaya bagi siswa baru adalah Rp 16.820.000. Ini termasuk uang pakaian seragam dan uang SPP bulan pertama Rp 2.150.000.

Para siswa sangat menikmati proses belajar-mengajar di sekolah ini. Maklum, kegiatan itu tidak hanya berlangsung di dalam kelas, melainkan juga di luar kelas. Seperti di taman, lingkungan masyarakat sekitar, perpustakaan, dan laboratorium. Para siswa juga diajak melakukan study tour ataupun wisata homestay ke beberapa tempat yang berkaitan dengan mata pelajaran.

Untuk memudahkan orangtua dalam memantau prestasi dan kegiatan siswa di sekolah, SMA YPSA menyediakan fasilitas SMS gateway yang bisa diakses setiap saat. Sehingga orangtua bisa mengecek tingkat kehadiran anaknya serta nilai mata pelajaran yang diraih si anak. Selain itu, dengan fasilitas tadi, orangtua siswa bisa menjalin komunikasi dengan para guru.

Pola pengajaran seperti ini di SMA YPSA telah menghasilkan siswa-siswa berprestasi. Hasfi Fauzan Raz adalah salah satu siswa yang berprestasi membanggakan. Juni tahun lalu, Hasfi mengikuti “People to People Future Leaders Summit” di Amerika Serikat atas undangan Celebrating Five Decades of International Exchange dan Global Young Leaders Conference. Hasfi satu-satunya perwakilan dari Asia. Kesempatan ini diraihnya setelah dia memperoleh nilai tertinggi scholastic aptitude test di The National Society of High School Scholars di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat.

Siswa lainnya yang sempat diutus ke luar negeri adalah Rahmi Permata. Ia perwakilan SMA YPSA di Harvard Model Congress Europe. Cewek 17 tahun ini mengaku sangat happy bersekolah di SMA YPSA. Jenjang SMP pun dilaluinya di YPSA. ”Di sini ada program magang dan homestay, juga sudah I level. Kami bisa lanjut ke univeritas internasional di mana saja,” kata pencetus program go green di sekolahnya ini. Rahmi pun konsisten bersepeda ke sekolahnya. ”Tapi, sayang, tempat parkir sepeda masih kurang,” katanya.

Seperti halnya Rahmi, para siswa rata-rata mengaku senang dan bangga bersekolah di SMA YPSA. Siswa bernama Vriancha Admira Putri, misalnya, menyebut para guru yang masih muda dan baik sebagai salah satu alasan yang membuatnya sumringah. Selain itu, yang membuat remaja 18 tahun ini enjoy pula adalah program homestay, yang diselenggarakan bagi siswa kelas XI.

”Kami tinggal dengan keluarga lain yang menjadi orangtua angkat. Sangat bermanfaat,” kata siswi yang kerap memenangkan speech contest antar-siswa di Sumatera Utara itu. Menurut Vriancha, orangtuanya sama sekali tak keberatan mengeluarkan biaya besar karena hasil yang diperoleh cukup sebanding.

Taufik Alwie dan Averos Lubis

SMA Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah

Jalan Setiabudi Nomor 191, Medan

Fasilitas: ruang kelas full AC, laboratorium lengkap, studio musik, kantin, dan masjid.

Biaya:

– Untuk SMA RSBI, siswa baru dipungut biaya total Rp 11.320.000, termasuk uang pakaian seragam dan SPP bulan pertama Rp 850.000.
– Untuk SMA dalam unit upper secondary, total biaya bagi siswa baru Rp 16.820.000, termasuk uang pakaian seragam dan SPP bulan pertama Rp 2.150.000.

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s