Episode Baru Pembobolan Bank Mega

Uang kas Kabupaten Batubara sebanyak Rp 80 milyar yang ditempatkan dalam bentuk deposito di Bank Mega raib. Pelakukannya diduga sindikat penjebol bank yang juga membobol dana Rp 111 milyar milik Elnusa di Bank Mega.

Kantor bupati di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Limapuluh, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, tampak sepi, Jumat pekan lalu. Baik Bupati O.K. Arya Zulkarnain maupun wakilnya, Gong Matua Siregar, tidak ada di tempat. Ketua DPRD Batubara, Selamat Arifin, yang ditemui usai rapat tertutup DPRD, juga memilih diam sembari tergesa-gesa menuju mobil yang menjemputnya.

Hiruk-pikuk pembobolan uang kas daerah Kabupaten Batubara sebesar Rp 80 milyar di Bank Mega Cabang Jababeka, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, seperti tak sampai di sana. Padahal, kasus ini menyeret dua pejabat teras di kabupaten itu. Mereka adalah Kepala Pengelola Keuangan Daerah Yos Rauke dan Bendahara Umum Fadil Kurniawan.

Yos Rauke dan Fadil Kurniawan kini mendekam di sel Rumah Tahanan (Rutan) Salemba, Jakarta Pusat. Keduanya ditangkap di Sumatera Utara, Kamis malam dua pekan lalu. Setiba di Jakarta, Jumat dini hari, mereka langsung diperiksa. Pemeriksaan baru kelar sehabis subuh.

Sebelum Jumatan, mereka dibawa ke kantor Bank Mega Cabang Jababeka. Di sana, mereka diminta mengecek kas daerah yang ditempatkan di bank milik pengusaha Chairul Tandjung itu. Pulang dari sana, penyidik Kejaksaan Agung langsung menjebloskan mereka ke penjara.

***

Kasus ini merupakan episode baru pembobolan Bank Mega Cabang Jababeka. Belum lama ini, PT Elnusa Tbk kehilangan uang Rp 111 milyar di bank itu akibat kongkalikong Itman Harry Basuki, Kepala Cabang Bank Mega Jababeka, dengan Santun Nainggolan, Direktur Keuangan Elnusa. Keduanya kini menjadi tersangka dan dicopot dari jabatannya.

Kasus itu, menurut Corporate Secretary Bank Mega, Gatot Aris Munandar, merupakan temuan setelah banknya berinisiatif memeriksa semua transaksi mencurigakan pasca-kasus Elnusa. Ia lalu melaporkan kasus itu ke Bank Indonesia dan instansi terkait. Sekalipun begitu, ia membantah sinyalemen bahwa kasus itu berkaitan dengan kasus Elnusa.

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) justru mensinyalir Bank Mega Jababeka sebagai tempat pencucian uang. Kepala Satuan Fiskal Moneter dan Devisa, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Metro Jaya, Komisaris Aris Munandar, juga melihat keterkaitan dua pembobolan itu.

Karena itu, kini Kejaksaan Agung dan Polda Metro Jaya memburu seorang tersangka penting. Dialah yang bakal membuktikan adanya keterkaitan antara dugaan kasus pembobolan kas Pemerintah Kabupaten Batubara dan Elnusa.

Dua kasus itu, menurut Aris, diduga didalangi tersangka Itman Harry Basuki bersama Richard Latief. Richard adalah buronan berbagai kasus pembobolan bank yang ditangkap dalam kasus Elnusa. Selain menjadi otak pembobolan, polisi menduga, Richard juga berperan sebagai mediator.

Kasus ini, menurut Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Noor Rachmad, terjadi akibat rayuan Itman kepada Yos Rauke. Dalam pertemuan di sebuah kafe di Jakarta, September tahun lalu, ia menawarkan jasa perbankan berupa bunga yang lebih tinggi, yakni 7% per tiga bulan dalam bentuk deposito on call. Ketika kembali ke Medan, Yos meminta persetujuan Fadil Kurniawan. Keduanya sepakat meneken aplikasi pembukaan rekening di Bank Mega.

Mula-mula, duit yang dipindahkan pada September 2010 itu adalah Rp 20 milyar. Lalu hampir setiap bulan berpindah Rp 10 milyar, Rp 5 milyar, dan Rp 15 milyar. Terakhir, pada 11 April lalu dipindahkan lagi Rp 30 milyar. Dengan menempatkan dana deposito di Bank Mega Cabang Jababeka itu, menurut Noor Rachmad, kedua tersangka mendapat keuntungan cashback paling sedikit Rp 405 juta.

Yos dan Fadil lalu mencairkan deposito itu dari Bank Mega Cabang Jababeka untuk diinvestasikan di perusahaan jasa keuangan dan jasa pengelolaan aset. Sebanyak Rp 30 milyar kemudian disetorkan ke rekening PT Pacific Fortune Management di Bank BCA dan Bank CIMB Niaga. Selebihnya, Rp 50 milyar, disetorkan ke PT Noble Mandiri Investment lewat Bank Mandiri.

Adapun kebenaran dua perusahaan investasi itu, wallahualam. Soalnya, keduanya tidak tercantum dalam situs Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), baik perusahaan yang berstatus aktif maupun yang izinnya dicabut. Kantor PT Pacific Fortune di One Pacific Building, Sudirman Central Business District, pun tutup sejak Mei ini.

***

Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Batubara, Sakti Alam Siregar, mengatakan bahwa pemerintah daerah telah menunjuk kuasa hukum untuk membela dua pejabat bermasalah itu. Ia heran karena Kejaksaan Agung menunjukkan dokumen bahwa Fadil menarik dana deposito pada September 2010. Soalnya, “Pak Yos Rauke dan Fadil sedang naik haji pada saat itu,” katanya.

Wa Ode Nur Zainab, pengacara dua pejabat itu, menyebut bahwa tidak ada aturan hukum yang dilanggar kliennya karena menempatkan dana kas daerah di Bank Mega Cabang Jababeka. Dana yang berasal dari Anggaran pendapatan dan belanja daerah itu semula disimpan di Bank Sumut dalam bentuk kas giro. Kemudian dipindahbukukan ke Bank Mega Cabang Jababeka dalam bentuk deposito berjangka.

Pemindahbukuan itu, kata Wa Ode, dilakukan karena kliennya tergiur oleh fasilitas bunga deposito 7% yang ditawarkan Bank Mega. “Dengan bunga yang lebih tinggi dibandingkan dengan Bank Sumut, sudah barang tentu akan menambah pendapatan daerah,” ujarnya. Duit Rp 80 milyar itu ditransfer sebanyak lima kali selama September 2010 hingga April 2011.

Rekeningnya pun, lanjut Wa Ode, atas nama Pemerintah Batubara, bukan atas nama pribadi Yos Rauke, Fadil Kurniawan, ataupun bupati. Setiap bulan, bunga deposito itu ditransfer ke rekening Pemerintah Batubara. Dalam menempatkan deposito itu, menurut dia, tidak ada fee maupun dana cashback yang diberikan Bank Mega kepada kliennya. Bahkan Wa Ode yakin, hingga kini duit deposito itu belum pernah ditarik.

Rita Triana Budiarti, Mukhlison S. Widodo, dan Averos Lubis (Medan)

Pendapatan Asli Lima Tahun
Kabupaten pemekaran di Provinsi Sumatera Utara ini belum berusia lima tahun. Mulanya, Batubara merupakan sebuah kewedanaan di Kabupaten Asahan. Pada 15 Juni 2007, wilayah di kawasan pantai timur Sumatera Utara ini memisahkan diri menjadi kabupaten.

Data Badan Pusat Statistik pada 2009 mencatat, jumlah penduduk kabupaten ini sebanyak 389.510 jiwa. Sebagian besar bermata pencaharian petani dan nelayan dengan pendapatan per kapita Rp 24,262 juta. Mereka tersebar di tujuh kecamatan, dengan luas wilayah 904,96 kilometer persegi atau enam kali luas Jakarta Selatan.

Sekalipun begitu, situs resmi Kabupaten Batubara menyebutkan, daerah ini disiapkan sebagai kawasan industri. Kuala Tanjung, salah satu desa di Batubara, ditetapkan menjadi daerah ekonomi khusus, sebagai pengembangan Kawasan Industri Medan. Di sana berdiri PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).

Perusahaan peleburan aluminium milik Jepang dan Pemerintah Indonesia itu merupakan satu-satunya pabrik peleburan aluminium di Asia Tenggara. Di kawasan itu ada juga PT Multimas Nabati Asahan, produsen minyak goreng Sania. Beberapa perusahaan telah pula memulai pembangunan di sana.

Pada tahun lalu, pendapatan asli daerah kabupaten yang berbatasan dengan Selat Malaka itu mencapai lebih dari Rp 14 milyar. Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Batubara, Yos Rauke, menargetkan pendapatan asli daerahnya bisa mencapai Rp 16,8 milyar pada 2011.

Namun, Jumat dua pekan lalu, Yos dijebloskan ke Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Agung. Ia terancam dijerat dengan pasal korupsi karena menggelapkan uang kas daerah Rp 80 milyar, yang setara dengan pendapatan asli kabupaten itu selama lima tahun.

Rita Triana Budiarti

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s