Ketika kaum muda itu berkata, “Salah lagi gua.”

Sang Empunya Kata: Averos Lubis

Hargailah sebuah titik dasar dalam keinginan berkarya. Angka 2 tidak ada bila tak dimulai dari 1. Begitupun 1, dia tak ada bila tak dimulai dari 0. Biarpun kosong, hampa, bahkan tak dinilai sama sekali. Ternyata dialah ihwal mula semuanya.

Olahan kata yang tersirat di atas. Lantas dituangkan ke dalam sebuah jejaring sosial pada Minggu 29 Mei 2011 ini. Nah, usut punya usut, olahan kata itu lantaran saya kecewa melihat beberapa kaum muda yang katanya ingin belajar dalam suatu hal dunia fotografi.

“Bang bagaimana, kalau kita latihan motret,” celoteh salah seorang dari sekitar hampir puluhan orang yang hendak belajar fotografi. Simple, saya bilang. “Kalian cuma melihat sekedar keren saja gaya seorang photografer itu. Kalau kerjaannya apakah tahu seperti apa?”

Entah mereka dimaki narasumber, dipukul, bahkan dibilang orang gila, satu wejangan lagi saya berikan kepada para kaum muda itu. Kenapa perkataan saya tadi sengaja membuat mental mereka jatuh. Sebab, secara mental hanya segelintir dari mereka memiliki mental oke punya.

Selebihnya, ibarat kayu laut, belum lagi ada yang menang gaya, menang angan, menang janji. Tak lupa menang segala hal yang bersifat sekedar pepesan kosong saja. Kemudian, pertanyaan hingga sekarang yang tak bisa dijawab oleh pikiran saya. Siapa ini yang payah. Saya atau mereka atau mereka atau saya lagi.

Padahal, tak ada hal rumit mengharuskan mereka dalam berkarya. Istilah tenar sebutan orang Medan, “Sekelaknya saja lay”. Artinya, saya meminta hal sederhana namun sesuai dengan ucapan bersama. Tak perlu lebih, bahkan dilebih-lebihkan.

Namun begitulah, risiko namanya berbagi ilmu gratis. Ya, gratis juga dianggap orang. Sepele dan tak perlu dianggap serius muncul ke permukaan. Bagi saya itu tak masalah. Akan tetapi, saya sudah punya persepsi sendiri. Apa itu? Sekian banyak orang yang saya temui. Kebanyakan adalah orang yang bisa saya“taker” (jengkali-red).

Bukan hendak mau pongah. Sebab kenyataanya, orang yang saya “taker” itu sungguh tidak menghargai sebuah titik dasar dalam keinginan berkarya. Mungkin memang sudah kredo mereka menjadi orang-orang “ketaker”. Aduh salah lagi gua …Mohon ampun Tuhan!

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

3 Balasan ke Ketika kaum muda itu berkata, “Salah lagi gua.”

  1. igosimel berkata:

    hahaa.. salah lagi-lagi

  2. igosimel berkata:

    ya gitu lah bg.. mau apa lagi. ha..ha..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s