Menangkap Peluang Politik Dagang Sapi Australia

Australia menghentikan pasokan sapi ke Indonesia selama enam bulan. Harga sapi lokal merangkak naik. Selama ini, kebijakan yang ada memanjakan sapi impor. Ada upaya menggagalkan swasembada daging sapi 2014?

Program tayangan televisi Australia itu berjudul seram: A Bloody Business. Yang menjadi bintang utama adalah sejumlah penjagal dari rumah potong hewan (RPH) Indonesia. Sedangkan para korban adalah sapi-sapi “bule” asli Australia. Konon, dalam tayangan itu tergambar sapi-sapi dibantai, matanya dicungkil, ekornya dipatahkan, dan tenggorokannya dipotong.

Kejadian itu merupakan hasil tangkapan kamera anggota kampanye hak asasi binatang dan ditayangkan dalam program “Four Corners”, milik stasiun televisi ABC, akhir Mei lalu. Tayangan itu mengklaim, kondisi serupa setidaknya terjadi pada 12 RPH lainnya di Medan, Lampung, dan Nusa Tenggara Barat (NTB). “Kekejaman pada hewan Australia tidak dapat diterima,” kata Cameron Hall, pimpinan LiveCorp, sebuah LSM penyayang binatang garis keras, kepada wartawan.

Australia pun berang. Rupanya, lobi politik para aktivis Animal Welfare didukung cukup kuat oleh Partai Hijau Australia. Pemerintah Australia akhirnya resmi menyatakan menghentikan ekspor sapi ke Indonesia selama enam bulan ke depan, terhitung sejak awal bulan ini.

Sehari sebelum pernyataan stop ekspor itu, Menteri Pertanian Suswono mengaku ditelepon Menteri Pertanian Australia, Joe Ludwig. “Dia pesan agar Pemerintah Indonesia bisa memahami apa yang dilakukan Pemerintah Australia itu. Saya jawab, ‘Ya, silakan saja’,” kata Suswono. Namun Suswono juga mengatakan penyesalannya atas kebijakan itu karena tanpa dilakukan penelitian lebih dulu.

“Sebenarnya justru mereka yang rugi,” ujar Suswono. Sejumlah pengusaha sapi Australia memang mengeluh kepada Gatra. “Saya bisa rugi besar, bahkan bangkrut kalau kondisi tidak baik,” tulis Dean Ryan, seorang pengusaha sapi dari Perth, dalam pesan singkatnya kepada wartawan Gatra Antonius Un Taolin. Ryan mengaku sedikitnya mengekspor 80.000 ekor sapi ke Indonesia setiap tahun. Pada saat ini, sebanyak 4.000 ekor sapinya sudah di atas kapal, siap diekspor.

Eh, tiba-tiba kebijakan stop ekspor diberlakukan. Padahal, Ryan mengaku harus merogoh setidaknya A$ 70.000 per hari untuk mengurus sapi-sapi itu. “Itu belum ongkos karyawan saya yang mengurus di pelabuhan. Anda bisa bayangkan sakit kepala saya,” katanya.

Sakit yang sama boleh jadi juga dialami pengusaha sapi lainnya, Paul Holmes. Menurut Holmes, tidak hanya pengusaha sapi, peternak dan karyawannya serta sopir truk turut terimbas. “Jika kondisi ini terus dibiarkan, dalam bulan ini juga sudah ada yang gulung tikar dan PHK,” kata Holmes.

***

Toh, “negeri kanguru” itu telanjur gusar atas perlakuan terhadap hewan ekspornya. Pihak Indonesia sendiri berjanji meneliti kasus itu sampai tuntas. Walau begitu, Suswono menemukan banyak kejanggalan pada tayangan A Bloody Business itu. Dari 12 RPH yang dituding melanggar “keperibinatangan”, dua di antaranya disebutkan di NTB. “Saya yakin, tak ada pemotongan sapi Australia di NTB. Kemudian ada juga satu RPH di Lampung yang sebenarnya sudah lama ditutup,” katanya.

Para petinggi RPH juga ramai-ramai membantah. “Apa yang kami lakukan di Bayur sudah sesuai dengan prosedur,” kata Syaiful Huda, Kepala RPH Bayur, Tangerang. Kini, menurut Syaiful, kebijakan Australia menghentikan ekspor sapi ke Indonesia itu berdampak pada pasokan sapi di wilayahnya. Jumlah sapi yang dipotong di RPH Bayur, tutur Syaiful, mencapai 950-1.000 ekor sebulan. Biasanya sapi lokal yang dipotong hanya 10%. “Sangat jauh dari sapi Australia yang mencapai 90%,” ujar Syaiful kepada Septho Marsiano dari Gatra.

Maklumlah, pasokan sapi nasional –seperti terjadi pada sejumlah bidang lainnya– memang sudah lama dikuasai sapi asing, terutama dari Australia. Menurut Suswono, Australia adalah negara yang mendominasi pasar sapi dan daging impor di Indonesia. “Angkanya mencapai 60%,” katanya.

Angka dominasi sapi Australia dari Ketua Asosiasi Pengimpor Daging Indonesia, Thomas Sembiring, lebih sedikit, yakni sekitar 40%. Menurut Thomas Sembiring, selain Australia, Indonesia juga menerima sapi impor dari Selandia Baru sebanyak 35%. Selebihnya, sebanyak 25%, dari Amerika Serikat dan Kanada.

Data yang diterbitkan Ditjen Peternakan menyebutkan, sejak 2007 terjadi kelebihan impor sapi kategori bakalan dan daging, sehingga kebijakan pengaturan volume impor sangat diperlukan (lihat: Penyediaan & Konsumsi Daging Sapi Impor Versus Lokal 2005-2009). Betapa tidak, dominasi sapi impor ini membuat harga sapi lokal jatuh di pasaran. “Harga sapi lokal hanya Rp 19.000-Rp 21.000 per kg bobot hidup, sedangkan sapi impor mencapai Rp 26.000-Rp 27.000 per kg bobot hidup,” tutur Suparto, Ketua Kelompok Peternak Sapi di Lamongan, Jawa Timur.

***

Nah, setelah kebijakan stop ekspor terjadi, harga daging lokal pun mulai merangkak naik dan laris manis. Menurut pantauan Ketua Paguyuban Pedagang Daging Sapi Medan, Slamet, harga daging sapi lokal di sana kini mencapai Rp 65.000-Rp 70.000 per kg, dari sebelumnya Rp 61.000 per kg.

Sebelumnya, lanjut Slamet, daging sapi impor memang berkuasa di Medan. Jumlah konsumsi daging sapi mencapai enam ton setiap hari. “Tapi sebanyak 99% kebutuhan itu diimpor dari Australia. Selebihnya baru dari lokal,” tutur Slamet. Ketika impor dihentikan, sapi Australia pun menghilang, sehingga daging lokal diburu pembeli. “Daging yang saya jual hari ini ludes,” kata Ucok, penjual daging sapi di Pasar Aksara, Medan, Senin pekan lalu.

Hal yang sama terjadi di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ludovikus Moruk, warga Dusun Rantete, Desa Taniumanu, Kecamatan Laenmane, NTT, agak bingung dengan ulah para pedagang sapi. Mereka terus berdatangan menawar sapinya dengan harga lebih tinggi Rp 18.000 per kg bobot hidup dibandingkan dengan harga sebelumnya Rp 16.000 kg pada bulan lalu. “Tapi saya yang menawar banyak. Saya mau coba bertahan dulu dengan harga yang lebih tinggi,” katanya.

Sejauh ini, memang belum pasti benar ke mana arah dampak kebijakan stop ekspor itu. Sebenarnya, menurut Suswono, pada saat ini Australia hanya menghentikan pasokan sapi bakalan alias sapi hidup. Tapi ekspor daging sapi jalan terus. “Ini memang menjadi pertanyaan, kenapa hanya sapinya yang dihentikan, tidak sekaligus ekspor daging,” ujar Suswono.

Oleh sebab itu, Suparto menilai, Australia memang sedang melancarkan politik dagang sapi. “Ini akal-akalan mereka saja, untuk melihat reaksi pasar Indonesia,” katanya. Jika pasokan dihentikan, akan ada gejolak pasar sehingga tercipta ketergantungan pada sapi impor. “Australia sangat tahu bahwa Indonesia sangat butuh daging sapi. Padahal, pasar lokal belum dapat memenuhi kebutuhan itu,” kata Suparto kepada wartawan Gatra Arif Sujatmiko.

Bahkan Suparto mengingatkan para peternak nasional agar waspada. Jangan-jangan, ini salah satu skenario untuk menggagalkan program pemerintah: swasembada daging sapi 2014. “Coba lihat, untuk memenuhi program swasembada daging 2014, berarti para peternak harus mempersiapkan bibit sapi pada tahun ini juga,” tutur alumnus Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Surabaya, itu.

***

Karena itu, Indonesia harus pintar memanfaatkan situasi yang ada. Suparto berharap, kondisi ini dapat dimanfaatkan sebagai momentum kebangkitan industri sapi dalam negeri. Suswono menyatakan hal yang sama. “Politik dagang sapi” Australia dapat dijadikan peluang emas untuk swasembada daging sapi.

Misalnya soal kenaikan harga tadi. “Biarlah harga sapi lokal terangkat harganya. Para pedaganglah yang menikmati margin harga yang besar,” kata Suswono. Targetnya, menurut Suswono, maksimal volume impor pada 2014 tinggal 10%. “Posisi sekarang, daging impor masih di atas 30%,” ia menambahkan.

Masalahnya, program swasembada daging sapi 2014 itu dicanangkan beberapa tahun silam. Kok, belum ada juga tanda-tanda ke arah swasembada? Apalagi, sejumlah asosiasi pedagang sapi mulai mengeluh. Menurut pantauan Slamet, walaupun harga sapi lokal naik, pasokan daging kian menipis. “Kalau benar-benar habis, pedagang akan panik. Sekarang penurunan suplai daging sapi mencapai 70%,” katanya kepada wartawan Gatra Averos Lubis.

Menurut pantauan Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (Apfindo), Joni Liano, hingga musim Lebaran tahun ini, pasokan daging memang masih aman-aman saja. “Tetapi, setelah Lebaran, kami nggak tahu,” katanya.

Selain itu, Joni melanjutkan, perlu diperhatikan pula efek domino kebijakan ini. Dari kalkulasi Apfindo, satu ekor sapi impor Australia mampu menghidupi dua kepala keluarga. Maka, kondisi ini akan berdampak pada periuk nasi setidaknya 1,2 juta orang. “Itu jadi persoalan kita juga, kan?” ujarnya.

Tak ayal lagi, program pembibitan sapi lokal harus digenjot untuk memenuhi kebutuhan pasar sendiri. “Apa selamanya negara kita yang terkenal gemah ripah loh jinawi ini selalu menjadi konsumen saja?” tanya Suparto.

Nur Hidayat dan Sandika Prihatnala

Penyediaan & Konsumsi Daging Sapi Impor Versus Lokal 2005-2009 (dalam ribu ton)

2005 2006 2007 2008 2009
Produksi lokal 217,4 259,5 210,8 233,6 250,8
Impor 111,3 119,2 124,8 150,4 142,8
– Impor bakalan 55,1 57,1 60,8 80,4 72,8
– Impor daging 56,2 62,0 64,0 70,0 70,0
Total produksi lokal & impor 328,6 378,7 335,6 384,1 393,6
Konsumsi daging sapi 314,0 313,3 325,9
Selisih lokal & konsumsi (103,3) (79,7) (75,0)
Selisih impor dengan 21,5 70,8 67,8
kekurangan produksi lokal

Sumber: Blueprint program swasembada daging sapi 2014, Dirjen Peternakan

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s