Romeo dan Juliet Entah Jilid ke Berapa?

Pengolah Kata
Sang Empunya : Averos Lubis

Sontak, sungguh sial Romeo. Dia salah kaprah. Sebab, ia melihat pujaan hatinya Juliet meninggal diduga telah meminum obat beracun, lantaran betapa besar cinta Juliet kepadanya. Maka, menyusullah Romeo dengan ikut meminum obat beracun. Alhasil, meninggallah Romeo beberapa menit kemudian seraya berharap dapat bertemu Juliet di alam baka. Seperti saya katakan tadi, sungguh sial Romeo yang tampan dan rupawan itu.

Eh, selang berapa lama kemudian, Juliet terbangun dari tipu “tidurnya” yang tampak orang meninggal dunia. Lantas, Juliet bermuram durja. Apa sebab? Ternyata dia melihat seonggok tubuh Romeo kaku tak bernapas di dekat dirinya usai “tertidur” lama, lantaran meminum obat yang dapat membuat tubuh tampak pucat dan meninggal hanya beberapa jam.

Sejurus, gelisah, galau, perih hati dan gemetar seluruh tubuhnya. Dia pun berteriak histeris. “Romeoooooo,” meraung-raung ia berteriak. Dan bukan hanya berteriak. Dia langsung menghujamkan pisau ke tubuhnya yang cukup molek. Crootttt. Darah keluar seraya berebutan berlari dari tubuhnya. Begitulah akhir cerita dua sejoli ini.

Dalam menjalin hubungan asmara, Romeo dan Juliet selalu “berjalan” mengendap-endap. Tak, berani tampil seperti dua sejoli pada umumnya. Lantaran dua keluarga mereka saling bersitegang, yaitu keluarga Capulet dan Montague.

Nah, sebelumnya kisah melankolis yang terjadi sekira abad ke 15 di Verona ini. Kala itu, saat Juliet hendak disuruh menikah oleh ibundanya Lady Capulet dengan sepupunya bernama Paris. Juliet meminta bantuan solusi atas masalah itu kepada Friar Lawrence. Lalu, Friar mengusulkan supaya meminum sebuah obat yang dapat membuat tampak meninggal bila dilihat oleh orang-orang. Tak ayal, dia pun akan memberitahu kepada Romeo bahwa Juliet hanya tampak “teridur” alias meninggal beberapa jam saja.

Sial sungguh sial, Friar tak dapat bertemu dengan Romeo dan kabar meninggalnya Juliet meminum racun menyebar ke seantero negeri. Adapun kabar tersebut menjadi kebenaran sejati pula dianggap Romeo. Padahal itu hanya rekayasa Juliet demi Romeo.

Bahkan menurut sebuah literatur, kala Romeo datang untuk ke acara pemakaman Juliet. Paris betapa kesal. Segera ia ingin menghajar Romeo dengan pedang. Dan ia tahu karena Romeo pula dia gagal menikah dengan Juliet. Akan tetapi, nasib Paris berujung dengan kekalahan menyebabkan dirinya meninggal. Dan seorang Friar Lawrence menyaksikan ketiga orang meninggal demi cinta berujung entah ke mana. Paris, Romeo dan Juliet.

Kisah ini bagi seorang penikmat kisah romantis pasti dielu-elukan. Sebab, demi cinta dia akan berbuat apa saja kepada sesorang dicintainya. Tapi, bagi pecinta realis, ini cukup muak. “Dramaturgi memuakkan,” kata saya. Namun, kalau kata orang-orang, kalau sudah cinta. Ya, seperti kisah karya William Shakespeare. Payah bilang untuk berujar.

Namun, dari abad ke-15 silam hingga abad ke-20 sekarang. Haruslah memilih kisah percintaan. Apa iya, wajib berdarah-darah ataupun harus berujung kematian dalam bercinta? Mungkin, untuk bercinta, di malam pertama wajib berdarah-darah. Tapi, di luar kamar perlukah? Ah, sial. Lagi-lagi masih saja ada seperti itu. Sekali lagi saya katakan mengutip orang-orang tua jaman dulu. “Begitulah kalau sudah cinte. Apa bisa dibilang, semua hanya masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri,” petuah orang-orang dulu.

Sialnya pada jaman modern ini, apa yang disampakain oleh Friar Lawrence dulu. Tak beda rupa maupun kisah Romeo dan Juliet abad sekarang. Melihat dua sejoli bertengkar hingga berdarah-darah. Pingsan-pingsanan. Dan selalu terkendala akan beragam masalah. Sial dan sungguh sial, Romeo dan Juliet abad sekarang tak pernah belajar pada kisah Romeo dan Juliet pada jaman dulu.

Cinta dan perjalanan kehidupan tak sesuai rencana keinginan berdua sejoli. Ada masalah orang tua yang memandang bibit, bebet, bobot. Masalah latar belakang keluarga, masalah masa depan anak gadis yang jikalau diijinkan untuk menikah, dan masalah sikap seorang laki-laki yang akan dipandang oleh laki-laki lainnya dalam bercinta dengan pujaan hatinya. “Sial sungguh sial melihat kisah Romeo dan Juliet entah jilid ke berapa lagi ini. Dan persis pula dengan kisah disampaikan oleh Friar Lawrence. Hanya beda plot waktu dan latar belakang peristiwa saja,” ujar saya agak muak.

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s