KESEHATAN

Vasektomi Massal Berujung Perkara

Tiga akseptor KB mengalami perdarahan usai menjalani vasektomi massal dalam rangka memecahkan rekor Muri. Satu di antaranya melayangkan somasi kepada penyelenggara.

Meskipun masih lajang, Ganis Ananto, 48 tahun, mau saja menjalani vasektomi. Imbauan kepala lingkungan tempatnya bekerja, plus iming-iming imbalan sejumlah uang, mengusiknya untuk ikut program vasektomi massal yang diselenggarakan Pemerintah Kota Medan. Ia oke-oke saja ketika saluran spermanya dipotong, sehingga spermanya tidak keluar saat mengalami ejakulasi.

Namun malang bagi Ganis. Pasca-operasi vasektomi, ia mengalami perdarahan. Perut bagian bawahnya mengalami pembengkakan. Ia pun sulit berjalan. Sampai-sampai, Ganis harus dirawat di rumah sakit. Ternyata Ganis tidak sendiri mengalami masalah setelah mengikuti vasektomi massal itu. Dua peserta lainnya, Sudiro, 48 tahun, dan Muhadi, 45 tahun, juga mengalami perdarahan. Seperti Ganis, Sudiro dan Muhadi menjalani perawatan di rumah sakit.

Pendarahan yang menimpa Ganis ternyata tidak hanya berlanjut ke rumah sakit, melainkan juga bergulir ke ranah hukum. Lewat kuasa hukum Irfan Hakim, Ganis menyomasi penyelenggara vasektomi massal itu, yakni Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Pemerintah Kota (Pemkot) Medan serta Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sumatera Utara. “Jika sampai pekan depan tak ada jawaban, kasusnya akan dibawa ke pengadilan,” kata Irfan kepada wartawan, Jumat pekan lalu.

“Mengapa orang yang belum menikah diajak vasektomi? Ini yang kami pertanyakan melalui surat kepada BKKBN Sumatera Utara serta Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB kota Medan,” Irfan menambahkan.

Perkara ini bermula ketika Pemkot Medan bersama BKKBN Sumatera Utara menggelar vasektomi massal selama dua hari, 23-24 Oktober lalu.
Sosialisasi pun dilakukan di 21 kecamatan dan dibagi menjadi lima rayon. Dalam sosialisasi itu, pihak Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB Medan mengajak sejumlah dokter spesialis dan para akseptor yang pernah divasektomi.

Lembaga itu kemudian menjaring sebanyak-banyaknya pria yang mau divasektomi. Pihak pemkot terpaksa melibatkan seluruh kepala lingkungan. Mereka diminta mencari akseptor baru. Para calon akseptor diiming-imingi uang Rp 300.000 per orang (lewat kuasa hukumnya, Ganis mengaku hanya menerima Rp 250.000).

Maklum, tujuan vasektomi massal ini, selain untuk mendukung program KB, juga ingin memecahkan rekor Muri (Museum Rekor Indonesia). Mereka diminta menandatangani surat persetujuan divasektomi. Menurut Usma Polita, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB Medan, mereka dianggap telah membaca surat pernyataan persetujuan itu sebelum meneken. ”Mereka semuanya sudah besar, apakah mereka buta huruf dan tidak bisa baca,” ujarnya.

Akhirnya terkumpul 1.575 orang, jumlah yang dianggap mencukupi untuk memecahkan rekor Muri. Sebelum ini, rekor peserta pria ber-KB dipegang Provinsi Kalimantan Selatan, dengan jumlah akseptor 870 orang. Namun operasi vasektomi itu tidak sepenuhnya berjalan sukses pada hari kedua. Ketiga orang tadi justru mengalami perdarahan.

Sudiro malah mengalami tiga kali perdarahan. Namun, dari ketiganya, hanya Ganis yang ingin melanjutkan kasus ini. Dua orang lagi memilih kembali ke Langsa dan sulit dihubungi.

Menanggapi tudingan itu, Anthony, Kepala Sub-Direktorat Advokasi dan Informasi BKKBN Sumatera Utara, mengatakan bahwa kasus somasi ini menunjukkan kurangnya pemahaman akseptor terhadap peraturan yang berlaku setelah divasektomi. Salah satunya, dilarang bekerja keras beberapa hari setelah divasektomi. Jika itu diabaikan, akseptor akan mengalami perdarahan.

Sedangkan soal status Ganis, Anthony meragukannya. Dalam data riwayat hidup Ganis tertulis bahwa dia sudah menikah dan punya anak. ”Dia memiliki dua anak. Terkecil berumur empat tahun dan terbesar enam tahun,” katanya kepada Gatra. Ia juga melakukan konsultasi sebelum divasektomi. Pihaknya pun memberikan pertanggungjawaban kepada ketiga akseptor tadi. Namun yang memilih melakukan somasi cuma Ganis.

Irfan mengakui, Ganis sudah ditemui dokter spesialis urologi Zahri A. Rani. Zahri bertanggung jawab atas masalah itu. ”Apakah dokter yang dipilih benar-benar ahli dalam bidang vasektomi,” kata Irfan. Zahri, menurut Irfan, adalah dokter yang melakukan vasektomi terhadap Ganis. Gatra berusaha mengonfirmasikan kasus itu ke sejumlah tempat prakteknya. Namun, sejauh ini, ia sulit ditemui.

Averos Lubis (Medan)

Beberapa Metode KB
A. Metode alami:
– Berpantang berhubungan seks.
– Sanggama terputus.
– Berhubungan seks di kala haid.
B. Metode penghalang:
– Kondom. Sebagai penampung sperma yang dipasang di penis pada pria dan vagina pada wanita.
– Diafragma. Dipasang di atas leher rahim untuk menghalangi sperma.
– Spermisida. Sejenis gel, krim, atau lotion yang dapat membunuh sperma. Harus dipakai dan dikombinasikan dengan diafragma atau kondom, misalnya.
C. Metode hormonal:
– Susuk implan. Tabung kecil fleksibel berisi hormon progesteron yang dimasukkan di bawah kulit lengan atas wanita.
– Pil KB. Diminum wanita untuk menipu tubuh seolah-olah wanita itu hamil, sehingga indung telur tidak melepaskan sel telur.
– Pil kontrasepsi darurat. Dikonsumsi tiga hari sebelum melakukan hubungan seks.
– Injeksi. Untuk mencegah pelepasan sel telur.
– Cincin vagina atau koyo KB. Bekerja memberikan aliran hormon untuk mencegah kehamilan.
D. Metode dalam rahim:
– IUD atau spiral. Ada spiral hormon dan spiral tembaga. Alat ini bisa terpasang di dalam rahim 5-10 tahun –tergantung jenis yang digunakan. Mudah diambil jika ingin kembali hamil.
E. Sterilisasi. Untuk pria disebut vasektomi dan tubektomi untuk wanita. Caranya, memotong atau memutus saluran sperma atau saluran telur. Tujuannya, mencegah keluarnya sel sperma atau sel telur. Sehingga, meski pria mengalami ejakulasi, spermanya tidak keluar.
Diolah dari berbagai sumber.

Majalah GATRA Edisi 3 / XIX 28 Nov 2012

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s