HUKUM

Terpidana Pengendali Serbuk Setan

Hillary K. Chimezie, gembong narkoba asal Nigeria yang mendekam di Penjara Nusakambangan, ditangkap aparat Badan Narkotika Nasional.Kaki tangan Hillary di Nusakambangan dan Penjara Tanjung Gusta juga dibekuk. Mereka diduga mengendalikan peredaran narkoba.

Penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tanjung Gusta, Medan, sangat paham bahwa Samuel Mamudu hobi latihan mengangkat beban guna menjaga kebugaran tubuhnya yang atletis. Hampir setiap hari ia terlihat berlatih di ruang fitness lapas. Tapi tak banyak yang tahu bahwa terpidana kasus narkoba itu juga gemar bertelepon. Maklumlah, Samuel selalu sembunyi-sembunyi jika sedang menjalin komunikasi seluler.

Selasa dua pekan lalu, Samuel alias Smith terpaksa buka kartu kepada publik soal aktivitasnya bertelepon di lapas itu. Pria Nigeria berusia 34 tahun ini ternyata masih menjadi bagian dari sindikat peredaran narkoba internasional. ”Dari penjara, saya kendalikan. Cara kerjanya, cukup angkat telepon,” katanya dengan bahasa Inggris terpatah-patah saat konferensi pers di Markas Kepolisian Resor Kota Medan.

Hari itu, Samuel baru diciduk petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) dari selnya. Menurut Direktur Nakrotika Sintetis BNN, Komisaris Besar Atrial, yang memimpin penangkapan itu, nama Samuel terendus berdasarkan pengembangan penangkapan Zakiyah alias Agnes, wartawati yang menjadi kurir narkoba. ”Sekarang ini kasus baru lagi (bagi Samuel). Barang buktinya 2.609,9 gram sabu, masuk dari Papua Nugini,” kata Atrial di Lapas Tanjung Gusta.

Seperti diketahui, Zakiyah bersama seorang rekannya berinisial BD ditangkap pada 5 November silam di dekat Sarinah, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat. Waktu itu, keduanya hendak mengantar sabu seberat 2,6 kilogram yang disembunyikan di dalam guling warna putih. Petugas BNN meringkus pula kurir perempuan bernama Muirah dan pria Afrika bernama Nduka, yang menunggu kiriman sabu itu di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan. Nduka didor kakinya karena mencoba kabur.

Pengembangan kasus ini menyeret Justin, warga Kamerun yang menjadi suami Zakiyah. Namun sejauh ini Justin ditangkap atas sangkaan pembuatan uang palsu –tapi petugas akan terus menyelidiki perannya dalam jaringan narkoba. Petugas BNN menemukan sejumlah uang palsu pecahan US$ 100 dan 100 euro di rumah Zakiyah di kompleks Citra Indah, Bukit Alamanda, Jonggol, Bogor, Jawa Barat. Pasangan ini tinggal di sana sejak 2009 dan dikenal sangat tertutup.

Kepada petugas, Justin mengaku tak tahu bahwa Zakiyah menjadi kurir narkoba. Zakiyah juga mengaku tak tahu suaminya bermain uang palsu. Penyidik masih mendalami pengakuan mereka ini. Yang jelas, yang agak melegakan penyidik, Zakiyah cukup lancar menyebut beberapa nama gembong narkoba dari Nigeria yang menjadi bosnya: Samuel Mamudu, Obina Nwajagu, dan Hillary K. Chimezie. Dua nama terakhir mendekam di Nusakambangan, Jawa Tengah, masing-masing di Lapas Pasir Putih dan Lapas Batu.

Samuel Mamudu adalah terpidana seumur hidup dalam kasus penyelundupan 2,993 kilogram heroin dan 497 gram sabu melalui Pelabuhan Teluk Nibung, Tanjung Balai, Asahan, Sumatera Utara. Samuel ditangkap petugas Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara di kompleks Karawaci, Tangerang, Banten, 4 Mei 2011. Samuel menjalani hukuman penjara di Lapas Tanjung Balai sampai Juli lalu, kemudian dipindahkan ke Lapas Tanjung Gusta.

Belum diketahui pasti, apakah Samuel beraksi mengendalikan peredaran narkoba sejak ditahan di Lapas Tanjung Balai atau setelah dipindahkan ke Lapas Tanjung Gusta. Lucunya pula, polah Samuel di Tanjung Gusta tak tercium petugas lapas. Bahkan, menurut pengamatan Kepala Bagian Kemanan Lapas Tanjung Gusta, J.E.T. Gultom, kegiatan Samuel di penjara biasa saja, tidak mencurigakan.

Nyatanya, menurut petugas BNN, Samuel berperan besar dalam sindikat narkoba, yakni sebagai pengendali kaki tangannya di lapangan, sekaligus penyalur dana hasil penjualan narkoba. Masih menurut petugas, Samuel diketahui pernah mengirim sejumlah dana kepada Zakiyah, juga kepada Obina, yang disebut-sebut merupakan kaki tangan Hillary.

Samuel pernah pula mendanai NA, ibu rumah tangga kurir narkoba yang ditangkap di Bandar Udara Husein Sastranegara, Bandung, 4 Oktober silam, dengan barang bukti sabu 775 gram. Kepada petugas, NA mengaku berpacaran dengan Samuel. NA pun menuturkan, Samuel menyebut sabu 775 gram dari India itu merupakan pesanan Mairike Franola alias Ola, terpidana mati kasus narkoba yang mendapat grasi menjadi hukuman penjara seumur hidup.

Terkait dengan kasus sabu 775 gram itu, Ola pun diboyong petugas BNN dari selnya di Lapas Wanita Tangerang untuk disidik. Penyidik BNN menemukan ada kaitan antara Ola dan Hillary. Ola diduga mendapat pasokan dana, juga narkoba, dari Hillary. Bahkan, kabarnya, Hillary-lah yang mendanai Ola sehingga bisa memperoleh grasi, yang sempat menghebohkan masyarakat itu.

Zakiyah juga punya kaitan erat dengan Hillary. Ia pernah mentransfer dana kepada Hillary, diduga hasil penjualan sabu sebelumnya.Dalam kasus teranyar, Zakiyah mengaku mendapat perintah dari Hillary untuk mengantarkan sabu 2,6 kilogram tersebut. Ia mengaku pula bahwa serbuk setan itu milik Obina, tapi belum terungkap dari mana asal-usulnya hingga sampai ke tangan kurir Zakiyah. Kepada penyidik, Zakiyah mengaku terpaksa menjadi kurir narkoba karena terbelit utang. ”Dia (Zakiyah) nekat begitu karena faktor ekonomi,” kata Deputi Penindakan BNN, Inspektur Jenderal Benny J. Mamoto.

Adapun Obina adalah terpidana mati kasus 400 gram heroin, sedangkan Hillary pernah menjadi terpidana mati kasus 5,8 kilogram heroin –belakangan oleh majelis peninjauan kembali (PK) Mahkamah Agung (MA) dikorting menjadi 12 tahun penjara. Keduanya dicokok petugas BNN pada Rabu pekan lalu dan diboyong ke Markas BNN di Cawang, Jakarta Timur. Bersama mereka, petugas BNN ”memboyong” sejumlah penghuni lapas lainnya, yaitu Humphrey Ejike alias Doktor alias Koko, Rudi Cahyono, Hadi Sunarto, Yadi Mulyadi alias Bule, serta Silvester Obiekwe Nwaolise alias Mustofa. Namun mereka bukanlah dari jaringan yang sama dengan Hillary.

Silvester dan Humphrey, misalnya, merupakan geng sendiri. Silvester, terpidana mati kasus 1,2 kilogram heroin, diduga terkait kasus penyelundupan 2,415 kilogram sabu di Jayapura. Humphrey, terpidana mati kasus 1,7 kilogram heroin, diduga terlibat kasus 536,8 gram sabu di Depok, Jawa Barat. BNN bertekad memutus mata rantai atau setidaknya menekan peran terpidana narkoba yang masih beraksi dari balik penjara.

***

Dicokoknya Hillary dan kawan-kawan itu mau tak mau kembali menunjukkan masih maraknya peredaran narkoba yang dikendalikan dari balik tembok penjara. Pertanyaannya: kok bisa? Inilah yang membuat Ketua Gerakan Anti-Narkotika (Granat), Henry Yosodiningrat, geram bukan kepalang. Ia menuding oknum aparat lapas bermain mata dengan gembong narkoba yang menjadi terpidana.

Lebih luas, Henry menyebutkan, oknum aparat yang bermain mata dengan gembong narkoba itu sudah merasuk di hampir semua instansi, terutama instansi penegakan hukum. Moral mereka telah dibeli sindikat narkoba. Modusnya tidak sekadar terlibat pengaturan peredaran narkoba. Lebih parah lagi, sudah pula memainkan hukum. ”Memalukan. Mereka (sindikat narkoba) bisa mengatur sampai MA,” kata Henry kepada Fitri Kumalasari dari Gatra.

Yang dimaksud Henry, antara lain, apa lagi kalau bukan skandal pengurangan hukuman terhadap Hengky Gunawan, gembong narkoba yang dijatuhi hukuman mati di tingkat kasasi. Putusan kasasi ini dianulir menjadi hukuman penjara 15 tahun dalam putusan PK.Gilanya pula, hukuman pengganti 15 tahun penjara itu disulap menjadi 12 tahun penjara. Skandal ini melengserkan Hakim Agung Ahmad Yamani, salah satu anggota majelis PK yang diduga bermain.

Henry Yosodiningrat juga menyesalkan pemberian grasi kepada sejumlah terpidana mati kasus narkoba, antara lain Ola yang belakangan kembali tersangkut kasus narkoba.Ia menilai kebijakan itu salah arah dan dalih pemerintah bahwa pemberian grasi itu demi kemanusiaan justru tidak relevan.

”Ini kejahatan kemanusiaan. Hampir 50 orang mati setiap hari karena narkoba. Presiden melangkahi semangat melawan kejahatan luar biasa,” tutur Henry, gundah. Ia khawatir, moral oknum aparat yang bobrok, ditambah mudahnya grasi diberikan, akan membuat peredaran narkoba di Nusantara makin menjadi-jadi.

Ketika kegundahan Henry belum mereda,masyarakatkembali dikejutkan dengan masuknya sejumlah besar narkoba jenis sabu, akhir November lalu. Hal ini terungkap setelah Badan Rerserse Kriminal Mabes Polri menangkap lima orang kawanan sindikat narkoba, seorang di antaranya warga Malaysia berinisial YAP.Di rumah kontrakan YAP di Kalideres, Jakarta Barat, polisi menyita 250 kilogram sabu asal Malaysia. Sedangkan dari seorang tersangka lainnya yang ditangkap di tempat terpisah, disita 2 kilogram sabu.

Negeri ini memang tak putus digempur narkoba.Sungguh sangat mencemaskan.

 

Taufik Alwie, Deni Muliya Barus, dan Averos Lubis (Medan)

Majalah GATRA Edisi 6 / XIX 19 Des 2012

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s