HUKUM

Tergelincir Aset Budel Pailit

Dua kurator diseret ke meja hijau karena dituding menilap uang penjualan aset pailit PT Sarana Perdana Indoglobal. Menyeret perwira polisi. Kreditur SPI hanya gigit jari.

Sidang dengan terdakwa Tafrizal Hasan Gewang dan Denny Azani B. Latief berlangsung tak sampai 10 menit. Sidang yang seharusnya beragenda mendengar keterangan saksi itu akhirnya ditunda lantaran para saksi tidak hadir. “Karena saksi tidak ada, sidang ditunda,” kata Ketua Majelis Hakim Lidya S. Parapak di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Selasa pekan lalu. Pada hari itu, Tafrizal dan Denny untuk kesekian kalinya menjalani persidangan.

Dua kurator senior itu diseret ke meja hijau lantaran dituding menilap uang hasil penjualan Hotel Podomoro, Sunter, Jakarta Utara. Hotel itu merupakan bagian dari aset budel pailit PT Sarana Perdana Indoglobal (SPI). Atas perbuatan itu, kedua terdakwa dijerat dengan pasal berlapis, yakni Pasal 372 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) KUHP tentang penggelapan dan Pasal 263 ayat (1) KUHP jo Pasal 55 ayat (1) KUHP tentang pemalsuan surat. Juga Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Ancaman hukumannya, 15 tahun penjara.

Dua hari berikutnya, digelar sidang dengan terdakwa Achmad Rivai di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan. Rivai adalah bekas Kepala Satuan Remaja, Anak ,dan Wanita Polda Metro Jaya yang pernah menangani kasus SPI. Perwira polisi berpangkat ajun komisaris besar ini dijerat dengan pasal gratifikasi dan korupsi. Ia dituding menerima suap atau gratifikasi Rp 500 juta dari Johny Widjaya, pengusaha yang membeli Hotel Podomoro. Uang itu diberikan melalui pengacara Johny, Tarida Sondang. Achmad terancam hukuman 20 tahun penjara.

Meski sidang Tafrizal, Denny, dan Rivai digelar di dua pengadilan yang berbeda, kasus yang mendera ketiga terdakwa disebabkan persoalan yang sama: tergelincir aset pailit SPI.

SPI adalah perusahaan yang bergerak di bisnis investasi. Sekitar pertengahan 2006, SPI menjadi incaran banyak orang yang ingin melipatgandakan uang. Maklum, SPI berani menawarkan bunga lebih tinggi daripada bunga deposito bank. Ketika itu, bunga deposito hanya sekitar 10% per tahun atau 0,8% per bulan. SPI mengiming-imingi nasabah dengan bunga hingga 4% per bulan.

Dalam waktu singkat, perusahaan yang berkantor di Gajah Mada Tower, Jakarta Pusat, itu mampu menggaet 2.000 lebih nasabah dan berhasil meraup uang nasabahnya hingga Rp 2 trilyun. Salah satunya adalah Alym Bahry, yang menginvestasi dana Rp 60 milyar. Dana sebanyak itu adalah hasil urunan sejumlah temannya. “Awal bergabung, saya memasukkan Rp 100 juta. Kemudian saya mengajak teman-teman hingga uang investasinya mencapai Rp 60 milyar,” kata Alym kepada Ageng Wuri R.A. dari Gatra.

Pria berusia 35 tahun itu mengaku terpikat berinvestasi karena ajakan Seprie Roring, Direktur Utama SPI, pada Februari 2006. “Saya diiming-iming bunga 4% per bulan. Bunganya akan terus naik 6, 8, dan seterusnya, hingga 10% per bulan,” ujarnya. Selain itu, SPI juga menjanjikan uang nasabah tidak akan hilang karena ada kontrak perjanjian yang berisi kepastian pengembalian.

Ketertarikan Alym begabung dengan SPI makin tinggi ketika sekitar Februari 2007, SPI menggelar acara besar-besaran di hotel mewah di Surabaya. Acara yang menghabiskan dana Rp 4 milyar dalam semalam itu dihadiri pemilik SPI, Leonardus Patar Muda Sinaga. “Tutur katanya sopan sehingga nasabah percaya kepada,” kata Alym.

Petaka muncul pada Maret 2007. Kiriman uang yang biasanya setiap bulan diterima Alym dan investor lainnya tiba-tiba terhenti. Usut punya usut, ternyata uang nasabah dibawa kabur pemilik SPI, Leonardus Patar Muda Sinaga. Nasabah kelabakan. Atas kejadian ini, nasabah melaporkan Leonardus dan beberapa petinggi SPI ke Polda Metro Jaya. Pada saat bersamaan, nasabah menggugat pailit SPI di Pengadilan Niaga Jakarta.

Begitu gugatan pailit dikabulkan pada 8 Mei 2007, pengadilan menetapkan Tafrizal dan Denny sebagai kurator. Mulailah kurator melaksanakan tugasnya menginventarisasi aset-aset milik SPI untuk dimasukkan dalam budel pailit dan dijual. Nanti uang hasil penjualan aset itu dibagi-bagikan kepada nasabah SPI selaku kreditur.

Salah satu aset budel pailit SPI yang dijual kurator adalah Hotel Podomoro. Untuk menjual hotel ini, kurator dua kali melakukan lelang. Namun, di dua lelang itu, harga yang diajukan peserta lelang masih jauh di bawah patokan harga panitia lelang. Akhirnya lelang ditutup tanpa ada penjualan hotel. Belakangan, dengan cara diam-diam pada April 2009, kurator menjual hotel itu tanpa proses lelang kepada Johny Widjaja dan Lisa Megawati.

Dalam surat dakwaan dengan terdakwa Tafrizal dan Denny, jaksa menuding ada penyimpangan uang hasil penjualan hotel itu. Modusnya, kurator mengklaim hotel itu laku dengan harga Rp 20,1 milyar. Namun, dari temuan polisi, kurator menjual hotel itu dengan harga Rp 25 milyar.

“Jadi, ada selisih Rp 5 milyar,” ujar Jaksa Trimo, seperti dikutip dalam surat dakwaan. Tak hanya itu. Menurut jaksa, kurator juga membuat catatan uang pengeluaran yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Misalnya ongkos kurator, pembayaran pajak, dan biaya operasional hotel. Jika ditotal, uang hasil penjualan hotel yang ditilap kurator mencapai Rp 10,85 milyar. Kreditur pun gigit jari. “Kreditur yang berjumlah 2.184 orang hanya kebagian Rp 8,19 milyar,” ungkap jaksa.

Ditemui Gatra usai sidang, Tafrizal enggan mengomentari kasus yang menjeratnya. “Semua saya serahkan ke pengacara,” katanya. Kuasa hukum Tafrizal, Siti Aminah, hanya berujar singkat, “Kasus ini belum final. Jadi, tunggu sidang selanjutnya.” Sementara itu, Denny dan pengacaranya, Mulyadi, memilih tutup mulut.

Dalam pandangan Ketua Himpunan Pengurus dan Kurator Indonesia, Nasrullah Nawawi, kurator memang kerap menghadapi persoalan pelik terkait pengurusan aset budel pailit. Pemicunya, ada beberapa aset budel pailit yang bersinggungan dengan kasus pidana atau perdata. Padahal, tugas kurator adalah menjual aset budel pailit dan hasilnya dibagikan kepada kreditur. “Ini menjadi dilema bagi kurator ketika ingin menjual aset budel pailit,” kata Nasrullah.

Rivai melalui pengacaranya, Junimart Girsang, membantah menerima suap dari Johny melalui Tarida terkait penjualan Hotel Podomoro itu. “Kata klien saya, dia tidak mengenal dua orang itu (Johny dan Tarida),” tutur Junimart. Namun, Junimart mengakui, kliennya menerima uang dari Tarida dengan cara ditransfer ke rekening kliennya. Jumlahnya bukan Rp 500 juta, melainkan Rp 200 juta. Itu pun sudah dikembalikan Rivai kepada pengirim uang. “Saya sudah cek dan recek kepada pak Johny Widjaja bahwa uang Rp 200 juta itu telah dikembalikan kepadanya, tapi tidak pernah dibilang dalam persidangan,” Junimart menambahkan.

Nasabah SPI, Titus Sulaiman, berharap jaksa dan hakim yang menangani kasus SPI ini bekerja secara profesional dalam menegakkan keadilan. Jangan sampai ada rekayasa. Sebab apa yang dilakukan dua kurator itu telah menyengsarakan nasabah dan keluarganya. “Banyak dari mereka (nasabah) yang karena kasus SPI ini meninggal dunia. Ada yang bercerai atau keluarganya berantakan. Ini saya lihat dan saya buktikan sendiri,” katanya.

Sujud Dwi Pratisto dan Averos Lubis

Majalah GATRA Edisi 9 / XVIII 11 Jan 2012

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s