HUKUM

Ketika Preman Makin Brutal

Aksi premanisme makin berani dan tidak lagi pandang bulu. Demi urusan utang-piutang, rumah duka pun diserbu. Aparat dinilai tak berdaya memberi rasa aman kepada masyarakat.

Rumah duka di dalam kompleks Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto (RSPAD), Jakarta Pusat, Kamis pekan lalu tampak lengang. Stendly Wenno, Ricky Tutu Boy, Oktafianus Mag Milion, Yopi Jonatan Berhitu, Errol Karl Latumanui, dan Jefrry Ha Kailola sedang menunggui jenazah Bobby Sahusilawane, kerabat mereka yang meninggal dunia karena kanker paru-paru. Waktu menunjukkan pukul 02.00.

Tiba-tiba, belasan mobil menyesaki halaman parkir rumah duka. Dari dalam mobil, keluar puluhan pria dan seorang wanita. Mereka merangsek masuk ke rumah duka sambil menggenggam parang dan samurai. Lalu secara brutal mereka menyerang para pelayat. Mendapat serangan mendadak, para pelayat mencoba menyelamatkan diri. Sebagian bersembunyi di bawah meja, sebagian lainnya berhamburan ke luar.

Aksi penyerangan itu berlangsung tak sampai 20 menit. Stendly yang berlari ke halaman parkir menjadi sasaran para penyerang. Ia berusaha melawan sekuat tenaga. Namun, karena lawannya menggunakan parang, warga Kemayoran, Jakarta Pusat, itu tewas terkena sabetan di bagian perut, dahi, dan kepala. Nasib serupa menimpa Ricky. Pria kelahiran Ambon itu terkena sabetan parang di tubuhnya ketika berusaha melawan para penyerang.

Mengetahui ada keributan di rumah duka RSPAD itu, dua jam kemudian polisi mendatangi lokasi. Sejumlah saksi mata diperiksa. Dari mereka, polisi mengantongi nama pelaku penyerangan itu. Untuk sementara, polisi memperkirakan, motif penyerangan itu terkait utang-piutang hasil penjualan narkoba senilai Rp 280 juta. Kabarnya, kelompok penyerang berniat menagih utang itu kepada kelompok korban.

Hingga Senin lalu, polisi yang dibantu TNI-AD berhasil menangkap 26 orang yang diduga pelaku penyerangan. Sebanyak 19 pelaku ditangkap polisi. Sebagian besar pelaku dicokok di kompleks Permata, Cengkareng, Jakarta Barat, atau lebih terkenal dengan sebutan Kampung Ambon. Sedangkan sisanya, enam pelaku, ditangkap petugas TNI-AD di kawasan Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Polisi juga sedang mengejar perempuan berinisial I yang ikut dalam penyerangan itu.

Kabid Humas Kepolisian Daerah Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, mengakui bahwa tidak semua yang ditangkap ditetapkan sebagai tersangka. Hingga kini, polisi baru menetapkan lima tersangka, yakni Edo Tupessy alias Edo Kiting, Gretes alias Hery, Tony alias Ongen, Rens, dan Abraham.

Mereka dijerat dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 170 (pengeroyokan), Pasal 334 (pembunuhan), dan Pasal 340 (pembunuhan berencana). Pasal-pasal itu memberi ancaman hukuman di atas lima tahun penjara. Bahkan, jika terbukti melakukan pelanggaran pasal pembunuhan berencana, pelaku terancam hukuman hingga 20 tahun penjara.

Terkait penangkapan pelaku penyerangan itu, Senin lalu Gatra menyambangi Kampung Ambon. Kepada Gatra, sejumlah warga membenarkan kedatangan beberapa polisi berpakaian preman menyisir kawasan itu, selang sehari setelah peristiwa RSPAD tadi. Polisi meyakini Edo, yang merupakan pimpinan kelompok penyerang itu, bersembunyi di sana. Seorang warga menceritakan bahwa Edo tidak disukai warga Kampung Ambon. ”Kami pernah punya masalah dengan dia,” kata warga itu, tanpa mau menjelaskan apa masalahnya.

***

Aksi penyerangan di rumah duka RSPAD itu membuat masyarakat, terutama warga Jakarta, prihatin. Bagaimana tidak, penyerangan bergaya preman tersebut terjadi di ruang publik. Pada saat penyerangan, tidak ada petugas keamanan di sana. Alhasil, usai melakukan aksi, para penyerang dengan santainya melenggang meninggalkan rumah duka. Aksi itu menambah panjang daftar aksi peremanisme di Jakarta yang terjadi dua tahun terakhir ini (Lihat: Jejak Aksi Premanisme Ibu Kota).

Sebelumnya, masyarakat memperoleh kabar mengenai keberhasilan polisi menangkap John Refra alias John Kei, Jumat malam 17 Februari lalu, di sebuah hotel di kawasan Pulomas, Jakarta Timur. Bos Angkatan Muda Kei (Amkei) itu ditangkap karena diduga terlibat dalam kasus pembunuhan Tan Harry Tantono alias Ayung, 45 tahun, Direktur Utama PT Sanex Steel Indonesia, di kamar Hotel Swiss Belhotel, Jakarta Pusat, pada 26 Januari lalu.

Dalam aksi penangkapan itu, polisi menerjunkan tidak kurang dari 75 personel bersenjata lengkap, plus rompi antipeluru, dari Polda Metro Jaya. Menurut Rikwanto, besarnya jumlah polisi yang dikerahkan itu sepadan dengan tingkat ancaman. ”Sebab dia panglimanya. Ke mana-mana pasti banyak loyalisnya yang mengikuti,” ujar Rikwanto.

Kini polisi telah menetapkan John Kei sebagai tersangka. Ia dijerat dengan pasal pembunuhan. “Motif pembunuhan, karena Ayung tidak membayar fee kepada John Kei dengan kelompoknya,” Rikwanto menjelaskan.

Penangkapan gembong preman yang melibatkan banyak aparat kepolisian pernah pula terjadi ketika polisi menangkap Hercules, pimpinan kelompok preman asal Timor Leste (dahulu Timor Timur), pada 2006. Ketika itu, sebanyak 125 aparat kepolisian dari Polres Jakarta Barat dikerahkan untuk menangkap Hercules. Polisi mencokok Hercules dan puluhan anak buahnya yang sedang “menjaga” lahan sengketa di kawasan Jakarta Barat. Hercules cs ditetapkan sebagai tersangka dan dikenai Pasal 31 ayat (1) KUHP karena dinilai melakukan perbuatan tidak menyenangkan.

Sosok John Kei tidak asing lagi di kalangan preman yang lekat dengan dunia kekerasan. Pria berumur 43 tahun kelahiran Pulai Kei, Maluku, itu mulai menunjukkan taji usai kelompoknya bentrok dengan kelompok preman pimpinan Basri Sangaji pada 2004. Basri tewas dibunuh anak buah John Kei di sebuah hotel di Jakarta Selatan. Meski banyak yang menduga John Kei berada di balik terbunuhnya Basri itu, ia bisa lolos dari jerat hukum. Sebab anak buahnya mengaku, pembunuhan itu atas inisiatif mereka sendiri dan John Kei tidak terlibat.

Bisa saja, dalam pembunuhan Basri itu, John Kei memang tidak terlibat. Namun, dalam kasus pembunuhan Ayung, sulit rasanya bagi John Kei untuk berkelit. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Toni Harmanto, menyatakan bahwa polisi memiliki cukup bukti untuk menjerat John Kei cs dengan Pasal 340 KUHP. ”Ini berencana karena dengan sengaja sudah ada persiapan sebelumnya. Kami melihat niatnya. Kalau sudah berniat dan ada persiapannya, itu direncanakan,” kata Toni. Hal lain yang menjadi alat bukti adalah rekaman CCTV.

Di dalam rekaman itu, menurut Toni, ada jeda waktu ketika John Kei masuk ke kamar hotel. Lalu Ayung masuk ke kamar yang sama, sampai akhirnya Ayung ditemukan tak bernyawa dengan 32 luka tusuk di tubuhnya. ”Berdasarkan keterangan forensik, rekaman itu asli tidak ada editan,” ujarnya. ”Pisau juga, berdasarkan pengakuan tersangka, dibawa dari luar. Jadi, ini memang sudah direncanakan. Pisau itu dibawa lima tersangka lainnya,” kata Toni.

Kubu John Kei melakukan perlawanan. Melalui tim kuasa hukumnya, John Kei melayangkan gugatan praperadilan atas penangkapannya. Tito Refra Kei, kuasa hukum John Kei, yang juga adik kandungnya, mengatakan akan segera mendaftarkan gugatan praperadilan itu ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Menurut Tito, pihak keluarga juga menyesalkan tindakan polisi yang melepaskan peluru ke arah kaki kanan John Kei. “Seharusnya itu (penembakan) tidak perlu terjadi karena saat penangkapan, John Kei mengaku sudah menyerah,” katanya.

Maraknya aksi premanisme itu memicu keprihatinan Ketua Komisi Keamanan Dewan Perwakilan Rakyat, Mahfudz Siddiq. Bagi politikus dari Partai Keadilan Sejahtera itu, premanisme ibarat anak macan yang lama dipelihara dan sekarang menerkam tuannya. Bahkan premanisme ini tidak punya rasa takut pada institusi polisi dan militer. “Sampai-sampai, bukan hanya kelompok sipil yang jadi korban, aparat pun terkadang jadi korbannya,” ujar Mahfudz kepada Edmiraldo Nanda Nopan Siregar dari Gatra.

Sementara itu, mantan Komandan Pusat Polisi Militer (Dan Puspom) TNI, Mayor Jenderal (purnawirawan) Syamsu Djalal, menilai aksi penyerangan di rumah duka RSPAD itu memperlihatkan ketidakberdayaan aparat dalam menciptakan rasa aman bagi masyarakat. Semestinya, kata Syamsu, aparat bertindak tegas terhadap setiap aksi premanisme yang melanggar hukum. “Jangan takut dengan preman, sekalipun pimpinannya dikenal sadis. Kalau memang mereka melanggar hukum, sikat saja,” kata Ketua Umum Laskar Merah Putih.

Dalam pandangan pengamat hukum dan kepolisian, Sudirman Ail, sulitnya polisi memberantas preman di Jakarta terjadi karena beberapa faktor. Pertama, mungkin karena ada pembiaran. Pembiaran ini terjadi karena banyak pihak yang memanfaatkan preman. Selain itu, ada sejumlah birokrat, termasuk aparat keamanan, yang karena gajinya serba-kurang, mereka mencari uang tambahan dengan meminta sangu kepada bos kelompok preman. “Ini otomatis, kalau ada apa-apa, dia (aparat) tidak akan bisa tegas. Tapi itu dilakukan oknum,” ujar mantan Kapolda Jawa Barat itu.

Mahfudz setuju dengan Sudirman. ”Polisi tidak akan bisa menuntaskan ini kalau jejaring-jejaring premanisme ini juga nyangkut pada oknum atau mungkin di institusi kepolisian,” katanya.

Sujud Dwi Pratisto, Deni Muliya Barus, dan Averos Lubis


Jejak Aksi Premanisme Ibu Kota 2010- 2012
4 April 2010: Kelompok Kei bentrok dengan kelompok pemuda asal Flores di kelab malam Blowfish, City Plaza, Jakarta Selatan. Dua orang dari kelompok Kei tewas. Bentrokan ini dipicu perebutan bisnis jasa pengamanan tempat hiburan malam.

29 September 2010: Ketika berlangsung sidang kasus bentrok di Blowfish, terjadi “perang” antara kelompok Kei dan kelompok pemuda asal Flores di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dua orang dari kelompok Kei tewas.

20 April 2011: Indra Lesmana tewas dibunuh seorang preman yang hendak merampas ponsel dan uang milik Indra. Pembunuhan ini terjadi di jembatan penyeberangan di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta.

14 Oktober 2011: Dipicu perebutan lahan, warga di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, bentrok dengan kelompok preman. Beberapa warga dan preman terluka. Polisi menahan sedikitnya 81 orang yang diduga sebagai pemicu kerusuhan ini.

26 Januari 2012: Tan Harry Tantono alias Ayung, 45 tahun, bos pabrik Sanex Steel, ditemukan tewas di kamar Hotel Swiss Belhotel, Jakarta Pusat. Dari hasil penelusuran polisi terungkap, pelaku pembunuhan adalah sejumlah orang dari kelompok Angkatan Muda Kei (Amkei), termasuk John Refra alias John Kei, bos Amkei.

20 Februari 2012: Nur Afriadi tewas dibunuh sejumlah preman yang hendak merampas ponsel dan uang miliknya. Pembunuhan ini terjadi di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

23 Februari 2012: Terjadi bentrokan antara dua kelompok di rumah duka RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Dua orang tewas dan empat orang luka parah.

***

Ongen Sangaji: Saya Tidak Pernah Jadi Terpidana
Di era 1990 hingga 2000-an, ada kelompok preman asal Ambon yang cukup disegani di Jakarta. Kelompok ini dipimpin Basri Sangaji. Namun, pada 2004, dalam bentrok dengan kelompok Angkatan Muda Kei, Basri terbunuh. Tongkat kepemimpinan kelompok Sangaji kabarnya kemudian berpindah ke sang adik, Ongen Sangaji.

Bagaimana kiprah Ongen Sangaji saat ini? Kepada Gatra, Ongen mengaku sudah lama pensiun dari hiruk-pikuk dunia preman. Ia telah bertobat dan memilih menghabiskan sisa hidupnya dengan terjun di dunia politik sebagai pengurus DPD Partai Hanura DKI Jakarta. Selain itu, Ongen dan keluarganya aktif di dunia pendidikan dengan mendirikan Sekolah Dasar Tiara Bangsa.

Berikut petikan wawancara wartawan Gatra Ageng Wuri R.A. dengan Ongen Sangaji, Selasa lalu:

Menurut Anda, kenapa polisi sulit memberantas preman di Jakarta?

Saya rasa, itu bukan saja tugas polisi. Ini merupakan tanggung jawab negara dan pemerintah terkait. Departemen Sosial, Departemen Tenaga Kerja, ini tanggung jawab semua. Polisi punya tugas ketika ada persoalan. Dia menangkap. Dia punya tugas dalam persoalan sosial. Jadi, tidak serta-merta kita menyerahkan ke polisi. Menurut saya, negara juga punya tanggung jawab.

Apakah karena ada hubungan “pertemanan” polisi dengan preman?

Kita tidak bisa membatasi ada oknum polisi yang berteman dengan preman. Itu hubungan sosial. Jika polisi terlibat tindak pidana, itu tidak mungkin. Ini hal-hal yang wajar ketika seorang polisi berteman dengan seorang penjahat, berteman dengan preman. Itu hal yang wajar, hal sosial. Tapi, ketika mereka melakukan tindakan pidana, itu bukan tanggung jawab polisi, melainkan aparat lain. Jadi, kita harus bisa memisahkan.

Nama Anda masih dikaitkan dengan cap sebagai tokoh preman, apa Anda merasa risi?

Saya menerima itu sebagai proses kehidupan. Saya tidak mungkiri itu dan menerima itu. Hidup ini kan harus ada perubahan. Perubahan itu harus ada hasilnya. Dan hasilnya itu harus maksimal buat saya, buat keluarga saya, dan buat orang lain. Dan ini yang saya lakukan hari ini.

Perlu dicatat bahwa yang namanya Ongen Sangaji ini tidak pernah duduk di kursi pesakitan sebagai terpidana. Saya tidak pernah menyakiti orang lain, kecuali saya dipaksa untuk membela diri. Saya tidak memeras orang. Saya tidak pernah merampok.

***

Hercules: Dunia Hitam Sudah Saya Kubur Dalam-dalam
Nama Hercules tidak asing lagi di dunia perpremanan. Namun kini pria asal Timor Leste itu mengaku sudah insaf. Dia memutuskan meninggalkan dunia hitam dan menjalani kehidupan sebagai manusia normal seperti pada umumnya: punya keluarga, pekerjaan tetap, dan bisa bersosialisasi dengan masyarakat luas. Ditemui di Surabaya, Selasa malam lalu, Hercules menuturkan pendapatnya mengenai maraknya premanisme belakangan ini.

Berikut petikan wawancara wartawan Gatra Arief Sujatmiko dengan Hercules:

Sepekan terakhir ini, banyak terjadi aksi premanisme. Apa komentar Anda?

Itu merupakan tanggung jawab negara untuk mengatasinya. Negara punya alat kekuasaan berupa penegak hukum, yaitu polisi. Hukum yang ada di negeri ini berlaku bagi siapa sajayang melanggarnya tanpa memandang latar belakang orang tersebut. Baik mereka itu preman maupun orang berpangkat.

Polisi kesulitan melakukan pembasmian terhadap preman, apa karena preman ini punya beking kuat sehingga tidak terjamah hukum?

Itu tidak benar. Buktinya, saat ini John Kei telah ditangkap. Selain itu, beberapa waktu lalu, polisi juga berhasil melakukan penangkapan terhadap sejumlah preman yang diduga berbuat anarkis. Sehingga tidak benar kalau dikatakan polisi sulit menindak para preman itu. Jika sampai polisi melakukan “pembiaran”, masyarakatlah yang akan bereaksi atas kinerja polisi yang dinilai tidak becus dalam memberikan pelayanan sebagai pengayom masyarakat.

Anda masih dicap sebagai preman, apakah Anda merasa risi?

Bagi saya, hal itu tidak masalah. Memang mengembalikan citra orang yang pernah terjun di dunia bebas bukan perkara mudah. Masyarakat tidak begitu saja bisa dan mau menerimanya kembali di tengah-tengah masyarakat. Begitu juga dengan citra saya sebagai preman yang cukup berpengaruh di Jakarta dan beberapa wilayah lainnya. Yang jelas, saat ini dunia hitam yang pernah membesarkan nama saya sudah dikubur dalam-dalam. Saya sekarang hanya fokus pada bidang usaha saya saat ini. Seperti kegiatan sosial, perusahaan perikanan, sekolah, dan bisnis properti.

Majalah GATRA Edisi 17 / XVIII 7 Mar 2012

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s