LINGKUNGAN

Cagar Budaya Tercemar Batu Bara

Para pejabat saling lempar tanggung jawab ketika sejumlah perusahaan batu bara menimbun batu bara di kawasan zona inti Candi Muaro Jambi. Padahal, kawasan peninggalan sejarah itu sedang diajukan menjadi warisan budaya dunia ke UNESCO

Beberapa anggota satpam bersiaga di kompleks Candi Muaro Jambi di Desa Muaro Jambi, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, akhir Februari lalu. Tapi petugas keamanan sipil itu tidak menjaga situs cagar budaya tersebut, melainkan mengamankan hamparan timbunan (stockpile) batu bara di kawasan peninggalan sejarah yang terletak sekitar 50 meter dari Sungai Batanghari itu.

Setidaknya ada empat stockpile batu bara milik PT Indonesia Coal Resources, PT Thriveni Mining, PT Sarolangun Bara Prima, dan PT Bahar Surya Abadi. Area penimbunan batu bara itu dikelola PT Tegas Guna Mandiri. Tak jauh dari stockpile, ada tiga kapal ponton pengangkut barang sedang bersandar. Satu di antaranya sedang mengisi muatan batu bara dari tempat penimbunan.

Menurut pengamatan Gatra, aktivitas pertambangan itu hanya berjarak lima meter dari dua menapo –reruntuhan candi yang masih tertimbun tanah, yakni menapo ”Teluk 1” dan ”Teluk 2”. Tak jauh dari sana, tampak pula menapo ”Cina” yang telah dikelilingi stockpile lain. Menapo Cina itu terlihat lebih merana ketimbang yang lain. Ia tenggelam dalam genangan air hitam pekat, tercemar batu bara.

Timbunan batu bara yang lebih tinggi mengakibatkan air hujan membanjiri kawasan tersebut. Situasi inilah yang membuat kondisi situs bersejarah itu makin memprihatinkan. ”Kandungan logam batu bara yang terurai air hujan akan menghasilkan kadar asam tinggi. Jika terus digenangi, pengeroposan lebih cepat terjadi,” kata juru bicara Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi, Agus Widiatmoko.

Tidak hanya itu. Debu batu bara yang beterbangan juga masuk ke pori-pori dinding candi sehingga memperlemah daya ikat batu bata kuno. Padahal, kompleks Candi Muaro Jambi sudah lama ditimang-timang untuk dijadikan salah satu warisan budaya dunia UNESCO, lembaga pendidikan dan kebudayaan yang bernaung di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Banyak ilmuwan dalam maupun luar negeri yang terpesona oleh budaya dan sejarah yang tersimpan dalam candi itu. Salah satunya, ahli purbakala F.M. Schnitger pernah menulis buku berjudul Forgotten Kingdoms in Sumatra (1964) tentang kompleks bersejarah itu. Situs bersejarah terluas di Asia Tenggara itu, menurut data Dinas Purbakala setempat, sudah teregistrasi dalam daftar tunggu UNESCO dengan nomor 5695 sejak 2009.

“Kompleks itu berada di peringkat teratas dari beberapa kebudayaan yang diajukan Indonesia untuk menjadi warisan dunia,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, Didy Wurjanto. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Menteri Pariwisata, Jero Wacik, dan Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, pernah berkunjung ke kompleks bersejarah itu pada 22 September tahun lalu dan menetapkannya sebagai kawasan cagar budaya dan wisata terpadu.

Tapi kini, “Aktivitas penambangan dan adanya stockpile di sana dapat mengancam upaya Indonesia mengajukan Candi Muaro Jambi sebagai salah satu situs warisan budaya dunia,” ujar Didy. Apa boleh buat, hiruk-pikuk usaha tambang batu bara di zona inti lokasi cagar budaya Candi Muaro Jambi memang telah terjadi setahun terakhir ini.

Selain perusahaan tambang batu bara yang disebut sebelumnya, masih ada kegiatan PT Bina Borneo Inti, yang juga merupakan perusahaan batu bara, dan pabrik pengolahan minyak sawit PT Sinar Alam Permai, di lahan situs seluas 2.612 hektare tersebut. ”Itu belum ditambah dengan calon tiga perusahaan lain yang tengah mengajukan izin penimbunan batu bara. Mereka semua berada dalam zona inti cagar budaya. Ini benar-benar kebablasan,” katanya.

Padahal, menurut Agus, pihaknya selalu menolak setiap pengajuan izin usaha di lokasi cagar budaya. Usaha industri apa pun dalam lokasi situs akan merusak kandungan sejarahnya. ”Tetapi pemerintah daerah (pemda) tetap memberi izin kepada mereka,” ujarnya.

Celakanya, para pengusaha batu bara yang dikontak Gatra tak merasa aktivitas mereka merugikan siapa pun. PT Tegas Guna Mandiri, misalnya, membantah tudingan bahwa stockpile mereka berada dalam kawasan inti cagar budaya. ”Saya tidak tahu persis apakah itu zona inti atau bukan. Tetapi, yang jelas, kalau disebut lokasinya dekat dengan situs Muaro Jambi, itu tidak benar. Lokasi kami jauh,” kata Elvi, istri pemilik PT Tegas, Edi Gunawan.

”Lagi pula, saya pernah membaca di koran bahwa pemda menyatakan, lokasi stockpile tidak berada dalam kawasan lindung,” kata Elvi ketika ditemui di kantornya, Jumat dua pekan lalu.

Sedangkan Bupati Muaro Jambi, Burhanuddin Mahir, menyatakan tidak pernah menerbitkan izin lokasi. “Mereka hanya mengantongi izin prinsip, sehingga kami tidak bisa mengecek amdalnya (analisis mengenai dampak lingkungan). Itu masalahnya,” kata Burhanuddin, yang juga menyoal pernyataan BP3 bahwa lokasi stockpile adalah kawasan cagar budaya. ”Jika BP3 menyebut lahan itu kawasan situs, dasarnya apa? Saya tak pernah diajak berkoordinasi atau rapat soal penetapan kawasan,” ungkapnya.

Menurut Didy, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri)-lah yang menyebut kawasan itu belum ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya. ”Ya, Kemendagri mengizinkan keberadaan industri-industri tersebut,” kata Didy. Karena itulah, aparat pelindung cagar budaya tak bisa mengusir perusahaan batu bara yang mencemari cagar budaya.

Sebenarnya aparat Pemda Muaro Jambi, Pemprov Jambi, dan instansi terkait telah mengadakan beberapa kali pertemuan untuk membahas masalah ini. Terakhir kali diadakan pada 21 Oktober silam, yang dihadiri Direktur Kawasan dan Pertanahan Ditjen Pemerintahan Umum, Bareskrim Mabes Polri, Sekda Provinsi Jambi dan Kabupaten Muaro Jambi, serta Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jambi.

”Pertemuan itu membahas aktivitas perusahaan pertambangan batu bara di kawasan candi,” kata Saiful Mujahid, Kasubdit Pelindungan dan Penyelamatan Direktorat Tinggalan Purbakala, yang turut hadir dalam pertemuan itu. Menurut Saiful, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muaro Jambi yang dinilai lebih tahu situasi setempat ternyata tidak melarang aktivitas tambang di lingkungan situs.

Para peserta pertemuan itu membahas jenis kegiatan yang dilarang hanya kegiatan yang dilaksanakan di atas bangunan bersejarah. Jadi, kegiatan di sekitarnya tidak dilarang. Namun, Saiful menambahkan, sebenarnya pertemuan itu tidak menghasilkan keputusan apa pun. ”Jadi, di dalam rapat itu tidak ada suatu kesepakatan atau keputusan, hanya usulan-usulan,” katanya.

Toh, Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus, mengaku dilematis mengambil sikap untuk mengatasi masalah candi Muaro Jambi ini. Cagar budaya dan aktivitas pertambangan batu bara di sana dibutuhkan. ”Kami butuh investor untuk menumbuhkan geliat ekonomi. Di sisi lain, aset situs juga kami jaga karena ini amanat undang-undang,” ujarnya. Sampai saat ini, kata Hasan, dia hanya bisa menunggu keputusan Kemendagri yang sudah turun ke lokasi dan memanggil pihak terkait. ”Jadi, kami menunggu hasilnya,” ia menambahkan.

Salah satu kebijakan itu agaknya berupa penghentian kegiatan stockpile jika masa kontrak usahanya habis. ”Diusulkan supaya kontraknya tidak dilanjutkan,” kata Saiful. Tetapi itu lagi-lagi harus didahului perundingan sejumlah pihak terkait, terutama Pemkab Muaro Jambi. ”Itu memang tergantung, terutama, dari mereka,” katanya.

Lantas, kapan kebijakan itu akan turun? Sementara Candi Muaro Jambi terus tergerus debu batu bara? Tak ayal, ”debat kusir” siapa yang bertanggung jawab membereskan hal ini membuat geram banyak pihak. Svarnadvipa Institute bersama Dewan Kesenian Jambi, Sekolah Alam Raya Muaro Jambi (Saramuja), Komunitas Seni Inner Jambi, Jambi Corps Grinder, Dwarapalamuja, dan beberapa akademisi Jambi menggelar sejumlah aksi solidaritas menentang aktivitas tambang itu, akhir Februari lalu. Mereka membuat Petisi Jalanan, bertulisan ”Selamatkan Kawasan Percandian Muaro Jambi”.

Mereka sengaja menggelar aksi itu di depan kantor Gubernur Jambi. ”Kami berhasil mendapatkan 1.500 tanda tangan masyarakat Jambi,” kata Husnul Abid, Direktur Svarnadvipa Institute. Husnul menyesalkan situs itu belum ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya.

Padahal, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2010 tentang Otonomi Daerah tegas menyebutkan, penetapan kawasan cagar budaya yang berada di sebuah kabupaten cukup dilakukan oleh bupati. ”Jelas, kompleks Candi Muaro Jambi hanya berada di Kabupaten Muaro Jambi,” ujarnya.

Menurut Ketua Harian Dewan Kesenian Jambi, Naswan Iskandar, polemik ini sebenarnya dapat diakhiri dengan mudah jika Gubernur Jambi menggunakan political will-nya. Dia tinggal berkompromi dengan bupati yang notabene bawahannya di Partai Demokrat, plus wakil bupati yang tak lain adalah menantunya. Mereka bertiga tinggal bersepakat untuk mengganti rugi industri yang telanjur berada di kawasan itu atau memindahkan lokasi industri mereka. ”Saya pikir, jika mereka berpikir arif dan bijaksana, solusinya bisa seperti itu,” kata Naswan.

Nur Hidayat, Averos Lubis, dan Jogi Sirait (Jambi)


Sang Universitas Tertua
Situs Candi Muaro Jambi dapat disebut sebagai universitas tertua di negeri ini. Dibangun pada abad ke-7 dan hampir tujuh abad pula menjadi pusat pendidikan dunia. Ribuan candi ada di sana, meski baru 90 candi danmenapo yang terdata. Lima belas di antaranya telah dipugar.

Dari berbagai telaah purbakala terungkap bahwa dari sanalah lahir biku-biku kondang dari berbagai negara. Salah satu alumnusnya adalah Lana Atisya, biku India pengubah sistem keagamaan dan pencipta kurikulum keagamaan di Tibet. Ada pula Changkyo Dorpe, biku Tibet pendeta utama di Cina pada abad ke-16. Mereka tidak hanya memperdalam agama, melainkan juga menimba ilmu kedokteran, logika, filosofi, dan tata bahasa percandian.

Seorang peneliti purbakala F.M. Schnitger, yang menulis buku Forgotten Kingdoms in Sumatra (1964), kemudian pendataannya diteruskan Dinas Purbakala (1954) dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional sejak 1978, menyimpulkan bahwa temuan arkeologis berupa benda-benda bersejarah di lokasi itu menunjukkan hubungan yang erat Muaro Jambi dengan orang India, Persia, Cina, Burma, Kamboja, Vietnam, Siam, dan Arab.

Tidak seperti candi-candi di Jawa, candi peninggalan Kerajaan Melayu Kuno itu boleh dibilang unik. Terdapat kanal dan parit yang saling tersambung dan berujung di Sungai Batanghari. Kanal-kanal itu menghubungkan satu candi dengan candi lain. Jarak kanal itu dengan candi tidak jauh, hanya 200-300 meter. Bahkan parit-parit selebar 2-3 meter yang dibangun di depan candi diduga menjadi salah satu akses untuk memasuki candi dari jalur kanal.

Menurut Kepala BP3 Jambi, Agus Widiatmoko, kanal-kanal itu memiliki dua fungsi simbolis. Pertama, kompleks candi dibangun sebagai bentuk makrokosmos. Kanal ibarat samudra, sedangkan candi adalah gunung. Fungsi kedua, jalur transportasi yang menghubungkan antarcandi. Aliran kanal yang menuju ke barat itu berkebalikan dengan aliran Sungai Batanghari yang ke arah timur.

Sebagian kanal dan parit sudah tertutupi gundukan tanah, semak, juga rumah-rumah warga setempat. Misalnya kanal yang membelah Kampung Danau Kelari dengan Kampung Sungai Melayu. Padahal, kanal yang berujung di Sungai Batanghari itu menembus ke Candi Gumpung. Dari kanal itu menyambung ke kanal lain yang melintasi Candi Kedaton, Gedong I, dan Gedong II.

Selama berabad-abad, situs itu teronggok. Kawasan itu diduga “terbenam” banjir lumpur Sungai Batanghari, yang letaknya tak jauh dari lokasi itu. ”Ketika Candi Muaro Jambi diusulkan ke tingkat internasional, bahkan Kembudpar yang mengusulkan, mengapa situs ini seolah diabaikan?” ujar Husnul Abid, Direktur Svarnadvipa Institute.

Candi Muaro Jambi jelas berpotensi besar mendatangkan wisatawan. Penganut ajaran Buddha di dunia ditaksir mencapai 380 juta orang. Lebih dari 90%-nya ada di Asia. Bila 1%-2% saja setiap tahun datang berziarah, Candi Muaro Jambi akan menjadi penyumbang besar pendapatan daerah.

Dinas Kebudayaan Provinsi Jambi butuh waktu tujuh tahun hingga UNESCO mengakuinya sebagai salah satu warisan dunia pada 2007. Jangan sampai para kepala daerah itu, karena enggan menggunakan political will-nya dan lebih mementingkan investasi yang lebih kecil, lantas menyia-nyiakan pusaka Sang Buddha ini. Padahal, ”kemenangan” itu sudah di depan mata!

Jogi Sirait

Majalah GATRA http://arsip.gatra.com/2012-03-19/majalah/

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s