MUSIK

Sang Konduktor

Konser untuk merayakan 20 tahun karier Avip Priatna, satu dari tidak banyak konduktor terbaik yang dimiliki Indonesia, digelar. Mengurai jejak perjalanan dan pesan sosial pria lajang dengan tiga “istri”.

Ketika lelaki itu mulai merunduk, bunyi-bunyi berangsur melirih. Lalu, sembari nyaris berjongkok, ia memainkan tongkat kecil di tangan kanannya, membimbing ketukan dan tempo, menghadirkan suasana menghanyutkan. Tidak lama kemudian, ia kembali berdiri tegak, dan seperti seorang perwira, gagah meminta paparan bunyi yang tegas dan jelas. Di tangannya ada kemegahan dan kesunyian. Dengan batonnya, ia menegakkan hukum dinamika bebunyian.

Lelaki itu, Avip Priatna. Ekspresinya pada saat tampil sebagai konduktor sebuah orkes musik klasik atau kelompok paduan suara sangat khas. Terutama pada petilan-petilan simfoni yang memanifestasikan emosi dan strategi interpretasinya terhadap denyut dan alunan nada riuh ke lirih dan sebaliknya.

Sabtu 3 Desember lalu adalah hari istimewa untuknya. Sebuah konser bertajuk “The Symphony of My Life” digelar di Aula Simfonia, kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Konser itu sengaja disediakan untuk Avip, sebagai perayaan 20 tahun perjalanan kariernya dalam khazanah musik klasik Tanah Air.

“Saya menggeluti musik klasik setelah melarikan diri dari dunia arsitektur,” ujar Avip dalam sambutannya setelah jeda pertengahan konser. Pria kelahiran Bogor, 29 Desember 1964, ini memang menggeluti studi teknik arsitektur di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung, pada pertengahan 1980-an. Namun “provokasi” beberapa kawannya di Bandung membuat Avip jatuh cinta pada musik klasik, sesuatu yang semula tidak pernah ia bayangkan.

Konser “The Symphony of My Life” menghadirkan Jakarta Concert Orchestra, Batavia Madrigal Singers (BMS), Paduan Suara Mahasiswa Unika Parahyangan, serta penampilan khusus dua solis, masing-masing Bettina Jensen (soprano dari Komische Oper Berlin, Jerman) dan Farman Purnama (tenor dari Indonesia).

Konser ini rencananya terdiri dari tiga repertoar. Masing-masing merepresentasikan perjalanan karier Avip dan pesan-pesan aktual yang hendak dikemukakannya. Dengan iringan Jakarta Concert Orchestra, yang didirikannya pada 2002, repertoar pertama adalah karya Ludwig van Beethoven Symphony No. 7 In A Major Opus 92, yang terdiri dari empat bagian.

Setelah lulus sebagai arsitek dari Unpar, Avip konsisten dengan “kemurtadanannya”, melanjutkan kuliah untuk mendapat gelar diploma di University of Music and Performing Art Vienna, Austria. Kemudian ia belajar choir conducting dari Prof. Gunther Theuring dan orchestral conducting dari dirigen terkenal, Leopold Hager.

Dalam sejarah karier Avip, Symphony No. 7 In A Major Opus 92 adalah karya simfoni pertama yang dibawakannya. Dengan karya ini, ia meraih gelar kehormatan dari almamaternya itu dan mendapat pujian dari semua profesor pengujinya. “Pengalaman yang membanggakan dan tidak terlupakan,” kata Avip sembari tersenyum.

Repertoar kedua adalah karya dalam negeri berjudul Titah, gubahan Fero Aldiansya. Karya ini sengaja dibuat untuk konser “The Symphony of My Life” dan berstatus perdana diperdengarkan untuk dunia (world premiere). Pilihan Avip pada karya-karya terbaru seolah hendak menegaskan isi pernyataan bahwa konser 20 tahun itu bukanlah pergelaran terakhir dalam perjalanan kariernya sebagai konduktor.

Nomor itu mengalun dengan nuansa Islam sangat kental. Avip membimbing gabungan paduan suara BMS dan Unpar serta alunan vokal solo tenor oleh Farman Purnama ke dalam alur bunyi yang religius. Lamat dan mengharukan dengan dinamika bunyi yang menggetarkan. Karya ini diangkat dari Al-Quran surat Al-Hujurat ayat 13, yang menjelaskan keberagaman (pluralitas) suku dan bangsa.

Secara intrinsik, Avip berupaya meruntuhkan kesan yang serba-Barat dalam ranah simfoni. “Musik simfoni bisa diciptakan sebagai musik untuk semua golongan, walau pada zaman dulu orkestra dimainkan bila ada undangan dari kerajaan dan kebanyakan dimainkan oleh gereja,” kata pria yang mengaku kiprahnya sebagai konduktor banyak terinsipirasi oleh Leonard Bernstein (Amerika Serikat) dan Simon Rattle (Inggris) ini.

Dan secara ekstrinsik, pesan pluralisme itu mudah saja dimengerti sebagai tanggapan atas isu-isu sosial yang sedang berkembang. Pesan tentang dialog antar-golongan berdasarkan perbedaan agama, suku, dan ras itu diperkuat dengan pilihan Avip menutup konsernya dengan repertoar Gloria karya Francis Poulenc (1899-1963).

Oleh beberapa kritikus, karya itu dianggap tidak terlalu sakral, bahkan cenderung profan. Poulenc menanggapi kritik itu dengan santai. Ia mengatakan bahwa ketika membuat Gloria, dirinya membayangkan lukisan malaikat sedang terjulur jenaka dan para biarawan sedang bermain bola.

Dalam konser Sabtu malam itu, enam bagian dalam Gloria dibawakan secara bergantian oleh gabungan paduan suara BMS dan Unpar serta Bettina Jensen yang dalam dan memukau. “Gloria adalah nomor pertama yang saya dengar, sehingga saya tergerak untuk mendalami seluk-beluk paduan suara,” papar Avip sembari menambahkan bahwa ia masih berstatus mahasiswa Unpar ketika pertama mendengar Gloria.

Sebelum mendirikan dan menjadi Direktur Musik untuk Batavia Madrigal Singers dan Jakarta Concert Orchestra pada 2002, Avip malang melintang bersama kelompok paduan suara Unpar untuk meraih berbagai penghargaan tingkat nasional dan internasional. Nomor paduan suara pertama yang dimainkan sepanjang kariernya adalah Requiem karya Mozart bersama paduan suara Unpar pada 1991.

 

Terbaru, pada Juli lalu, Avip meraih gelar konduktor terbaik dalam kompetisi paduan suara internasional “57 Certamen Internacional De Habaneras Y Polifonia”, yang diselenggarakan di Torrevieja, Spanyol. Selain itu, bersama BMS, pada kompetisi yang berlangsung sejak tahun 1955 itu, Avip meraih empat gelar terbaik lainnya; penghargaan terbanyak yang pernah direbut satu delegasi paduan suara dalam sejarah kompetisi ini.

Dengan pencapaian itu dan prestasi lain pada tahun-tahun sebelumnya, tidak mengherankan jika Avip selalu punya jawaban sama jika ditanya kapan pria berusia 47 tahun ini akan mengakhiri masa lajangnya. “Istri saya sudah ada tiga. Istri pertama Paduan Suara Unika Parahyangan, kedua: Batavia Madrigal Singers, dan istri ketiga: Jakarta Chamber Orchestra.”

Begitulah cerita singkat 20 tahun perjalanan Avip Priatna sebagai konduktor yang memiliki tiga “istri” dan 200 “anak”. Sebagai konduktor, ia menyisipkan unsur subjektif dinamika dan artikulasi dalam tiap instrumen musik yang dimainkan. Sebagai pemegang baton, ia berkomunikasi seperti perwira yang perintahnya minta ditaati.

Bambang Sulistiyo dan Averos Lubis

Majalah GATRA Edisi 6 / XVIII 21 Des 2011

 

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s