RAGAM

Riwayat 150 Tahun HKBP: Di Balik Nama Besar Nommensen

Jemaat Huriah Kristen Batak Protestan (HKBP) di seantero negeri menggelar perhelatan besar memperingati 150 tahun usia lembaga itu. Beragam kegiatan digelar sejak jauh hari, salah satunya renovasi Kantor Pusat HKBP di Pearaja, Tarutung. Lalu revitalisasi rumah sakit di Balige. Selain itu, digelar serangkaian seminar bertema sentral peningkatan keimanan. Tapi, siapa nyana, riwayat berdirinya HKBP tak berkaitan langsung dengan I.L. Nommensen, penginjil yang punya nama besar di tanah Batak. Banyak penginjil yang menjalankan misinya jauh sebelum HKBP lahir, tapi Nommensen-lah tokoh yang dipandang paling berjasa mempercepat Kristenisasi di tanah Batak.

Ahad pagi, 9 September 2011. Langit di atas Stadion Teladan, Medan, tampak begitu cerah setelah beberapa hari sebelumnya terus diguyur hujan. Puluhan ribu orang tampak menyemut memenuhi tempat duduk yang tersedia hingga ke lapangan. Suasana khidmat menyelimuti perayaan besar itu. Teriknya matahari tak menyurutkan semangat mereka mengikuti seluruh prosesi upacara sampai selesai pada sore hari. Maklum, perhelatan yang digelar sepanjang Ahad itu merupakan puncak perayaan “Jubileum 150 Tahun Huria Kristen Batak Protestan (HKBP)”.

Dua hari sebelumnya, perayaan serupa digelar di Pearaja, Tarutung, Sumatera Utara. Suasana yang tak kalah khidmat berlangsung di kompleks Kantor Pusat HKBP itu. Gedung berlantai dua beratap arsitektur khas Batak yang baru selesai direnovasi itu pun menambah semarak perhelatan penting tersebut.

Perayaan memang digelar pada pekan pertama Oktober ini. Sebab, menurut Ramlan Hutahaean, Sekretaris Jenderal HKBP, 7 Oktober adalah tanggal lahirnya HKBP. Ia pun membeberkan peristiwa yang terjadi genap 150 tahun lalu, tepatnya pada 7 Oktober 1861. “Kelahirannya ditandai dengan kesepakatan empat pendeta membagi pelayanan gereja di tanah Batak,” katanya.

Keempat pendeta itu adalah Wilhelm Carl Heine, Johann Karl Klammer, Friedrich Wilhelm Betz, dan Gerrit van Asselt. Mereka menggelar kesepakatan itu di Parausorat, sebuah kawasan dekat Sipirok, Tapanuli Selatan. Kesepakatan itu juga membahas strategi pekabaran Injil agar cepat menyebar di tanah Batak.

Hasilnya, Klammer mendirikan jemaat di Sipirok pada 1861, Betz mendirikan jemaat Bungabondar (1861), Van Asselt mendirikan jemaat Sarulla (1862), dan Heine mendirikan jemaat Sigompulon, Pahae (1862). Walau demikian, Ramlan menegaskan, agama Kristen sesungguhnya masuk ke tanah Batak jauh sebelum masa keempat pendeta itu berbagi tugas.

Dua Pendeta yang Terbunuh
Hal itu dibenarkan Sintua Visman Sahat Mauli (V.S.M.) Hutajulu. Mantan dosen senior Universitas HKBP Nommensen Medan ini menuturkan, jejak Kristen di tanah Batak ada sejak kedatangan para penginjil pada 1820-an. Ketika itu, Gereja Baptis Inggris mengutus tiga penginjil, Richard Burton dan Nathanael Ward, menyusul Pendeta Charles Evans yang lebih dahulu tiba di tanah Batak.

Pada saat itu, Pendeta Evans bergiat menginjil di sekitar Tapanuli Selatan, sedangkan Pendeta Evans dan Pendeta Ward berkiprah di wilayah Silindung, Tarutung, Tapanuli Utara. Ternyata kepercayaan adat istiadat masyarakat setempat sulit ditembus sampai mereka angkat kaki pada 1824. “Para pendeta itu belum berhasil mengembangkan agama Kristen di sini,” ujarnya.

Genap 10 tahun kemudian, pada 1834, datang pula dua penginjil Amerika Serikat ke Silindung. Mereka adalah Pendeta Samuel Munson dan Henry Lyman. Alih-alih berhasil menjalankan misinya, dua penginjil itu malah menemui ajal. Keduanya dibunuh sekelompok orang di Sisangkak, masih di kawasan Tarutung.

Konon, pembunuhan itu dilakukan atas perintah Raja Panggalamei. Dua misionaris itu lalu dimakamkan di Lobupinang, yang berjarak 20 kilometer dari Kota Tarutung ke arah Sibolga. “Mereka dibunuh karena dicurigai sebagai mata-mata si botar mata (secara lugas berarti ‘si mata putih’, julukan yang dilekatkan kepada bangsa Belanda –Red.),” kata Sintua V.S.M. Hutajulu.

Kisah lain menyebutkan, Pendeta Munson dan Lyman bertolak dari Boston menuju Batavia, kemudian sampai di Sibolga pada 1834. Dari Sibolga, mereka berangkat ke Tarutung melewati Desa Sukka, didampingi penerjemah. Sampai di Sisangkak, pada sore hari, rombongan misionaris ini disergap prajurit Raja Panggalemi. Dalam serangan inilah kedua pendeta itu tewas.

Konon pula, warga Desa Sukka amat berang mendengar kabar pembunuhan itu. Beramai-ramai mereka datang ke Sisangkak. Sesampai di sana, mereka mendapati kedua pendeta tadi sudah jadi mayat. Karena marah, mereka lalu membakar desa itu dan membawa jenazah para misionaris itu kembali ke Desa Sukka untuk dimakamkan. Lagi-lagi misi penginjilan di tanah Batak gagal.

Orang Batak Pertama yang Dibaptis

Setelah peristiwa pembunuhan misionaris itu, pekabaran Injil di tanah Batak seperti terhenti sama sekali. Untuk memecah kebekuan itu, Belanda menerjunkan seorang ahli bahasa bernama Herman Neubronner van der Tuuk untuk mendalami bahasa dan budaya orang Batak. Pada 1852, Lembaga Alkitab Belanda pun menugasinya menerjemahkan beberapa bagian Injil ke dalam bahasa Batak. “Terjemahan itulah yang kemudian dijadikan sebagai pegangan para penginjil berikutnya yang datang ke Tanah Batak,” ujar Jan Sihar Aritonang, pakar sejarah gereja di Indonesia, kepada Eri Komar Sinaga dari Gatra.

Empat tahun kemudian, misi zending dari Belanda kembali mengutus pendeta lain bernama Gerrit van Asselt. Ia diserahi tugas pakabaran Injil di wilayah-wilayah yang telah dikuasai Belanda. Hingga saat itu, para penginjil masih belum berani masuk ke tanah Batak karena mendapat perlawanan keras dari Sisingamangaraja. “Aktivitasnya masih terbatas di kawasan Sipirok, Angkola, dan Mandailing,” katanya.

Menurut catatan V.S.M. Hutajulu, Pendeta Van Asselt tiba di Padang pada 2 Desember 1856. Beberapa bulan kemudian, ia ditempatkan di Parausorat. Selama lebih-kurang empat tahun di Sipirok, ia berhasil membaptis Simon Siregar, anak raja setempat, dan Jakobus Tampubolon, seorang budak yang ditemukannya di Barus. Keduanya menjadi orang Batak pertama yang mengaku Yesus Kristus sebagai Juru Selamat pada 31 Maret 1861.

Walau demikian, menurut Jan Aritonang, pekabaran Injil di tanah Batak semakin intensif berkat bantuan misionaris Jerman. Mereka tergabung dalam misi zending berbendera Reinische Missions-Gesselschaft (RMG), organisasi tempat bergabung Nommensen –nama yang kemudian melekat sangat kuat dengan Kristenisasi di tanah Batak. Organisasi ini juga akrab disebut Gereja Kongsi Barmen, nama kota asalnya di Jerman.

Lahirnya HKBP pun erat kaitannya dengan aktivitas RMG Barmen itu. Pada 7 Oktober 1861, gabungan pendeta Jerman dan Belanda mendirikan misi berjuluk HKBV. Nama ini diambil dari huruf pertama nama masing-masing pendeta yang telah berbagi tugas seperti tersebut di atas, yakni Heine, Klammer, Betz, dan Van Asselt. “Jadi, sesungguhnya kelahiran HKBP tidak ada kaitan langsung dengan nama Nommensen yang dikenal selama ini,” ujar Ramlan Hutahaean.

Nommensen yang Pemberani

Ramlan mengakui, nama Nommensen memang jauh lebih populer dibandingkan dengan misionaris lainnya yang menjalankan misi di tanah Batak. Sebab ia boleh dibilang menjadi Ephorus pertama ketika HKBP masih menjadi bagian zending di Jerman di bawah bendera RMG. “Tidak bisa dimungkiri pula, Nommensen berperan besar mempercepat laju Kristenisasi di tanah Batak,” tuturnya.

Ihwal popularitas Nommensen yang begitu menonjol, Jan Aritonang melihat dari sisi berbeda. Menurut dia, Nommensen punya keberanian ekstra dan semangat pengabdian yang besar sampai berhasil melakukan misi pekabaran Injil di tanah Batak. Konon, ia sempat diracun warga ketika menjalankan misi, tapi tidak meninggal. “Keberanian dan semangat pengabdiannya itulah yang membuat dia dihormati sebagai rasul tanah Batak,” katanya.

Nommensen lahir dari keluarga miskin pada 6 Februari 1834 di Noordstrand, sebuah pulau kecil di pantai perbatasan Jerman dan Denmark. Bernama lengkap Ingwer Ludwig Nommensen, ia merupakan anak laki satu-satunya dari empat bersaudara dalam keluarga pasangan Peter dan Anna Nommensen.

Sejak kecil, ia terbiasa membantu orangtuanya mencari nafkah, dari menggembalakan kambing milik orang lain hingga menjadi buruh tani. Kebiasaan melakoni pekerjaan kasar ini kelak banyak membantunya ketika menjalani misi pekabaran Injil di tanah Batak. Pendidikan yang dijalaninya di sekolah pendeta RMG Barmen pun memberi banyak bekal untuk misi itu.

Nommensen sudah pula mempersiapkan diri mempelajari bahasa dan kebudayaan masyarakat Batak dengan berguru kepada Van der Tuuk di Belanda. Perjalanannya menuju tanah Batak dimulai pada Oktober 1861. Ia berangkat dari Amsterdam, Belanda, menuju Sumatera dengan kapal Pertinar. Pelayaran ini makan waktu hingga 142 hari, dan baru pada 14 mei 1862 Nommensen sampai di Padang, Sumatera Barat, lalu ke Barus.

Ia memulai pekerjaannya di Barus dan mendalami lagi bahasa Batak sekaligus bahasa Melayu. Lalu ia mulai menjalin kontak dengan orang-orang Batak, terutama dengan raja-raja. Ia tidak jemu menempuh perjalanan keliling untuk menciptakan hubungan pergaulan yang baik. Ia mempelajari adat istiadat Batak, kemudian menggunakannya demi mempererat pergaulan.

Setelah sempat tinggal bersama Pendeta Van Asselt di Parausorat, pada November 1863 Nommensen sampai di Silindung. Pada bulan itu pula, ia sampai di Lembah Silindung dan mendaki Bukit Siatas Barita. Di situlah konon ia berdoa, “Tuhan, hidup atau mati saya akan bersama bangsa ini untuk memberikan Firman-Mu dan Kerajaan-Mu.”

Dengan tekad itu, ia kemudian tinggal di Silindung, lalu membangun rumah sederhana di kawasan Saitnihuta pada Juli 1864. Pada akhir bulan itu, tepatnya tanggal 30, Nommensen memberanikan diri menemui Raja Panggalamei di Pintubosi, Lobupinang. Padahal, ia tahu benar, prajurit raja inilah yang telah membunuh Pendeta Munson dan Lyman di Sisangkak, persis 30 tahun sebelumnya. Walau misinya belum berhasil, setidaknya ia masih selamat.

Penglihatan Gaib tentang Orang Batak

Selang dua bulan kemudian, sebuah cobaan berat dialaminya. Pada 25 September, ia ditangkap dan akan dipersembahkan sebagai kurban untuk para begu yang disebut Sombaon Siatas Barita di Onan Sitaharu. Kepercayaan tentang kurban ini masih dipegang erat beberapa raja kecil di bawah kekuasaan Sisingamangaraja.

Dengan tegar, Nommensen menghadapi cobaan berat itu seraya terus memanjatkan doa kepada Tuhan. Terkisah, pada saat akan dikurbankan, secara tiba-tiba datang angin puting beliung yang disusul dengan hujan deras. Walhasil, upacara persembahan itu urung dilaksanakan dan Nommensen selamat. Lewat kejadian inilah ia kemudian dijuluki “Apostel di Tanah Batak”.

Suatu ketika, Nommensen sendiri mengaku pernah mendapat penglihatan gaib yang menerawang orang Batak di masa depan. Terawangan itu lalu diungkapkannya lewat sepucuk surat yang dilayangkannya ke RMG di Barmen. “Dalam roh saya melihat di mana-mana jemaat Kristen, sekolah-sekolah, dan kelompok orang Batak tua dan muda yang berjalan ke gereja-gereja,” tulis dia.

“Di setiap penjuru saya mendengar bunyi lonceng gereja yang memanggil orang-orang beriman datang ke rumah Allah. Saya melihat pendeta-pendeta dan guru-guru orang pribumi Sumatera berdiri di panggung-panggung dan di atas mimbar-mimbar, menunjukkan cara hidup Kristen kepada yang muda maupun yang tua.”

“Anda mengatakan saya seorang pemimpi, tetapi saya berkata: tidak, saya tidak bermimpi. Iman saya melihat ini semua. Hal ini akan terjadi karena seluruh kerajaan akan menjadi milik-Nya dan setiap lidah akan mengetahui bahwa Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa.”

Berbagai sumber menyebutkan, penglihatan gaib itu diperoleh Nommensen ketika sedang berdoa di Bukit Siatas Barita. Lokasi itu kini menjadi objek wisata rohani Salib Kasih yang masuk wilayah Tarutung.

Hasil Penginjilan yang Menakjubkan

Di Silindung, ia melakukan pembaptisan pertama terhadap empat pasang suami-istri beserta lima anaknya pada 1865. Antara lain bernama si Jamalayu yang diberi nama baptis Johannes. Istri Johannes yang dibawa dari Sipirok sebagai pembantu Nommensen diberi nama baptis Katharina.

Nommensen berhasil mengumpulkan jemaatnya yang pertama di Huta Dame (Kampung Damai), salah satu kecamatan di Kabupaten Tarutung. Di sana terdapat gereja yang dibangun Nommensen. Masih dalam satu kawasan bernama Saitnihuta, terdapat pula rumah Nommensen. Di situ kini berdiri sebuah tugu peringatan. Pada 1873, ia mendirikan sebuah bangunan gereja, sekolah, dan rumah di Pearaja, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Hingga kini, Pearaja menjadi pusat HKBP di seluruh dunia.

Sistem persekolahan berpindah-pindah pun diterapkannya pada 1873, dengan maksud agar orang Batak sendiri bisa lebih cepat menjadi guru. Para siswa mendatangi para pendeta di tempat masing-masing bertugas: Nommensen di Pearaja, Johansen di Pansurnapitu, dan Mohri di Sipoholon. Adakalanya pula para pendeta ini yang mendatangi para muridnya.

Hasilnya sungguh menakjubkan. Pada 1876, selang tiga tahun setelah membangun gereja dan sekolah, jumlah warga Silindung yang dibaptis mencapai 7.000 orang. Pada tahun itu juga, Nommensen merampungkan terjemahan Perjanjian Baru dalam bahasa Batak Toba.

Pada tahun berikutnya, 1877, Nommensen bersama Johansen mendirikan sekolah guru zending di Pansurnapitu. Lokasi ini dulu dikenal sebagai parsombaonan (pesugihan). Kini, di situ berdiri Gereja HKBP untuk kawasan Pasurnapitu.

Versi lain menyebutkan, pada 1876 Nommensen bertolak ke Toba bersama Pendeta Johansen. Baru sampai Balige, mereka memutuskan tak melanjutkan perjalanan, lalu kembali ke Silindung. Soalnya, situasi di kawasan itu cukup gawat akibat perang yang sedang berlangsung antara tentara Belanda dan para prajurit Raja Sisingamangaraja XII.

Baru 10 tahun kemudian, pada 1886, ia kembali bertolak ke Toba setelah Pendeta Kessel dan Pendeta Pilgram tiba pada 1881 dan berhasil menyebarkan Injil di sana. Misi dua pendeta ini di Laguboti dan Sigumpar kemudian dilanjutkan Pendeta Bonn, yang telah mendapat restu dari Raja Ompu Tinggi dan Raja Oppu Timbang yang menyediakan lahan gedung sekolah di Laguboti.

Pendeta Bonn pindah dari Sigumpar ke Pangaloan, dan Nommensen menggantikan tugasnya. Sepeninggal Bonn, Nommensen mendapat rintangan. Ketika itu, sempat terjadi perdebatan sesama penduduk atas izin sebidang tanah. Setelah akhirnya mendapat persetujuan dari penduduk, ia pun mendirikan gereja, sekolah, balai pengobatan, lahan pertanian, dan tempat tinggalnya di sana. Konsep pembangunan satu atap ini disebut “pargodungan“, yang kemudian menjadi karakter setiap pembangunan gereja Protestan di tanah Batak.

Punya Metode Berbeda

Menurut Ramlan Hutahaean, dalam menyebarkan Kristen, Nommensen punya metode yang berbeda dibandingkan dengan para misionaris pendahulunya. Selain lewat sistem persekolahan dan menyusun Perjanjian Baru versi bahasa Batak, ia ikut terjun memperbaiki pertanian dan peternakan rakyat. Ia tak segan meminjamkan modal dan menebus para budak dari tuannya. Malah ia membuka balai-balai pengobatan dan sekolah misionaris yang melahirkan penginjil dari kalangan pribumi Batak.

Dia juga memahami dengan baik seluruh pelajaran yang diberikan Van Der Tuuk sewaktu mempelajari budaya Batak di Amsterdam. Khususnya mengenai bahasa, sistem pelapisan sosial, dan corak berpikir orang Batak yang adaptif, adoptif, dan transformatif. Kemudian ia pun berhasil melakukan pendekatan kepada raja-raja Batak yang berkuasa ketika itu, lalu menjalin persahabatan dengan baik.

Kendati tidak semua raja dapat didekatinya, tidak sedikit raja yang mau bersekutu untuk memerangi kegelapan hidup orang Batak pada saat itu. Sebut saja Raja Pontas Lumban Tobing, sosok paling menonjol yang bekerja sama dengannya. Padahal, Raja Pontas adalah cucu raja yang dulu mewakili raja-raja Silindung yang menolak tawaran misionaris Burton dan Ward dalam pertemuan di Onan Sitahuru. Pendekatan Nommensen terhadap Raja Pontas ternyata berhasil dan ujung-ujungnya kawasan Silindung menjadi wilayah kekristenan yang kuat.

Namun catatan lain ihwal kegiatan penginjilan Nommensen diungkapkan Jan Aritonang. Untuk mempermudah pekabaran Injil, menurut dia, Nommensen menjalin kerja sama dengan pihak kolonial Belanda. Nommensen bahkan berkirim surat kepada Pemerintah Belanda untuk menaklukkan tanah Batak dan disetujui Amsterdam.

Rupanya, pemerintah kolonial Belanda punya pertimbangan sendiri. Kegiatan penginjilan bisa menghambat laju perkembangan Islam ke Sumatera Utara. Sebab, bila seluruh Sumatera telah menjadi Islam, Belanda akan kesulitan menaklukkan daerah tersebut. Belanda memandang Islam sebagai penghalang utama.

Pekerjaan Nommensen semakin mudah karena masyarakat di sana belum memeluk agama Islam. Mereka masih memeluk agama tradisional sehingga tidak sulit untuk mengkristenkan mereka. Dengan didudukinya tanah Batak, penginjilan akan berlangsung sangat mudah. “Yang penting, bagaimana memajukan masyarakat, dan kita harus paham bahwa kolonialisme itu tidak semuanya jelek,” katanya.

Pengaruh para misonaris yang makin luas di tanah Batak membuat Raja Sisingamangaraja XII marah besar. Ia mengancam akan membumihanguskan kegiatan para misionaris. Tapi ancaman sang raja itu tidak menjadi kenyataan. Walau demikian, kejadian itu memaksa Nommensen beserta istri dan anak-anaknya mengungsi dari Silindung ke Sibolga. Ia lalu diterbangkan kembali ke Eropa pada 1880.

Hanya lebih-kurang satu tahun di Eropa, Nommensen kembali ke Pearaja persis menjelang Natal 1881. Pada saat itulah Gereja Kongsi Barmen menetapkan I.L. Nommensen sebagai Ephorus pertama HKBP, lalu gelar “Ompu i” disematkan untuk dirinya. Ia pindah ke Kampung Sigumpar, yang kini menjadi bagian Kabupaten Tobasa, sembilan tahun kemudian. Di rumah terakhir inilah pemimpin jemaat HKBP itu mengembuskan napas terakhir.

Persis pada Kamis 23 Mei 1918, berembus kabar yang menyesakkan. Pagi hari sekitar pukul enam, Ingwer Ludwig Nommensen dikabarkan pergi menghadap Tuhan. Jasadnya lalu dimakamkan di kawasan pekuburan Sigumpar, berdampingan dengan makam istri keduanya, Christine Harder, yang telah mendahuluinya wafat pada 1905.

Lokasi pemakaman Nommensen di Sigumpar tampak masih terawat. Sayang, pengunjung tak bisa masuk ke lokasi makam yang dipugar Yayasan Pasopar dan diresmikan pada 29 Juni 1996 oleh Raja Inal Siregar, Gubernur Sumatera Utara ketika itu. Kunci gembok pintu gerbang makam tak bisa dibuka karena serpihan kayu kecil menyumbat lubangnya.

Erwin Y. Salim, dan Averos Lubis (Medan)

Nommensen Memang Lebih Populer

Beberapa waktu menjelang perayaan Jubileum 150 tahun HKBP di Pearaja, Averos Lubis dari Gatra menemui Sekretaris Jenderal HKBP, Ramlan Hutahaean. Setelah bicara panjang lebar seputar sejarah masuknya agama Kristen ke tanah Batak, ia menjelaskan seputar perayaan besar yang jatuh pada 7 Oktober lalu di kantor pusat HKBP. Ia tampak bersemangat menjelaskan soal perhelatan itu. Berikut petikannya.

Bagaimana tali-temalinya Jubelium 150 tahun HKBP dengan nama Nommensen?

Dalam pandangan HKBP, tidak ada hubungan langsung antara Nommensen dan Jubelium 150 tahun HKBP. Namun memang tak dimungkiri, Nommensen lebih populer dibandingkan dengan misionaris lainnya. Sedangkan hubungan langsungnya, dia merupakan Ephorus pertama ketika HKBP masih merupakan bagian zending di Jerman, Rheinische Mission Gesselschaft (RMG). Dan tak dimungkiri peran Nommensen mempercepat laju kekristenan di tanah Batak.

Apa saja bentuk kegiatan dalam perayaan ini?

Perayaan Jubelium 150 tahun ini, selain untuk mengucap syukur kepada Tuhan yang telah memberkati perjalanan HKBP dan masyarakat Batak, juga terdapat dua jenis perayaan: fisik dan non-fisik. Dan itu dilakukan pada empat tingkatan, mulai tingkat huria, resor, distrik, hingga nasional.

Misalnya bangunan pendukung pelayanan, tugu perayaan, prasasti. Tujuannya, mengingatkan kepada seluruh warga HKBP bahwa Jubelium 150 tahun adalah momentum yang istimewa, bahwa HKBP bersyukur atas karunia Tuhan yang diterima. Jemaat di daerah masing-masing membangun gedung sekolah Minggu, kemudian membangun perpustakaan untuk membina anak-anak generasi mendatang.

Untuk program fisik, panitia Jubelium 150 tahun HKBP telah merenovasi Kantor Pusat HKBP di Pearaja, Tarutung. Lalu merevitalisasi rumah sakit di Balige dan pembangunan gedung Sopo Marpingkir di Jakarta. Sedangkan untuk program non-fisik, panitia akan melakukan beberapa kegiatan seminar iman, hukum, dan kelembagaan iman dan ekonomi, iman dan budaya, iman dan iptek. Semua seminar itu akan dilaksanakan di tingkat distrik dan nasional.

Menurut data mutakhir, berapa jumlah gereja dan jemaat HKBP serta bagaimana persebarannya?

Gereja-gereja kami, selain di Indonesia, tersebar juga di luar negeri, seperti di Malaysia, Singapura, dan Los Angeles, California. Di Singapura, misalnya, ada sekitar 100 kepala keluarga yang menjadi anggota jemaat HKBP. Mayoritas orang Indonesia dan ada orang pribumi Singapura yang menjadi jemaat HKBP. Kini laju perkembangan HKBP sudah lebih dari 3.000 resor, 26 distrik, dan ada sekitar 4,1 juta jiwa jemaat yang membutuhkan pelayanan.

Majalah GATRA Edisi 50 / XVII 26 Okt 2011
 

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s