FILM

Horor Sejarah Koboi Medan

Film dokumenter tentang pembantaian orang-orang yang dituduh PKI di Sumatera Utara, sekitar tahun 1965. Memuat sudut pandang pelaku yang tercitrakan sebagai sosok pembunuh berdarah dingin. Pemuda Pancasila akan menggugat sang sutradara.

THE ACT OF KILLING
Sutradara: Joshua Oppenheimer
Pemain: Anwar Congo
Produksi: 2012

_____________________________________________________________________________________

 

Eksterior. Suasana di ruang terbuka sebuah permukiman terpencil. Riuh rendah jerit tangis anak-anak dan para perempuan. Lidah api menjilat-jilat. Gerombolan orang berseragam loreng-loreng oranye hitam tampak memegang kendali atas suasana mengenaskan itu. Mayat-mayat bergelimpangan bersimbah darah. Sejurus kemudian, terdengar perintah, “Cut! cut! cut!”

Adegan lantas berpindah pada seorang bocah perempuan yang masih menangis. Seorang pria berbadan besar berseragam loreng-loreng (merujuk pada atribut ormas Pemuda Pancasila) itu tampak meredakan tangis si bocah. Dalam suara agak tergagap, pria itu menenangkan dengan memuji akting si bocah, “Tapi jangan lama kali nangisnya,” ujarnya.

Adegan-adegan tersebut tergambar dalam iklan cuplikan (trailer) film dokumenter berjudul The Act of Killing besutan sutradara Joshua Oppenheimer kelahiran Texas, Amerika Serikat, 23 September 1974. Trailer berdurasi sekitar tiga menit itu telah beredar luas, termasuk melalui situs YouTube, serta memancing perhatian dan pembicaraan seru di kalangan para penggiat film.

Dokumenter ini mengisahkan peristiwa pembantaian terhadap sesiapa yang dituduh “PKI” di Medan, Sumatera Utara, pada kitaran tahun 1965. Jika biasanya film-film “pengungkapan” peristiwa kelam di masa lalu menghadirkan sudut pandang korban melalui kisah-kisah menyayat dalam kesaksiannya, film ini mengetengahkan sudut pandang pelaku, dengan “tokoh utama” seorang preman senior di Medan, bernama Anwar Congo.

Dalam trailer tampak adegan rekonstruktif yang menceritakan salah satu teknik Anwar menghabisi korbannya. Yakni dengan mengikatkan seutas kawat pada sebuah tiang, lantas melilitkannya pada leher korban. Anwar kemudian menarik kawat itu dari jarak dekat.

Adegan tersebut menjadi semacam ilustrasi paparan seorang presenter TVRI Medan yang menyebutkan bahwa Anwar Congo bersama teman-temannya mengembangkan suatu sistem baru yang lebih efisien dalam menumpas komunis. Yaitu sebuah sistem yang manusiawi, kurang sadis, dan tidak menggunakan kekerasan berlebihan. Footage itu bersumber dari acara dialog TVRI Medan dengan Anwar Congo sebagai pembicara yang disaksikan para penonton berseragam Pemuda Pancasila.

Potongan lain memperlihatkan adegan dengan teks pengantar “Meet The Killer“. Anwar di atas sebuah Volkswagen beratap terbuka menelusuri ruas jalan tertentu di Medan, bersama pengemudi dan seorang rekannya. Anwar menamsilkan sebuah pekong (kemungkinan besar ia merujuk pada tempat ibadah etnis Tionghoa tertentu) di kawasan itu sebagai “kantor darah”. Kawannya yang bernama Adi Zulkadry lantas berkisah tentang perasaannya yang dobel karena “menikam” mertuanya yang beretnis Cina sembari tertawa.

Versi utuh dan resmi film yang menggunakan judul bahasa Indonesia Jagal itu diputar lebih dini (early review) dalam perhelatan Festival Film Telluride di Colorado, Amerika Serikat, akhir Agustus lalu. Sedangkan “world premiere” film berdurasi hampir dua jam itu diselenggarakan pada ajang Toronto International Film Festival (TIFF) 2012, Kanada, 6-16 September lalu, lewat sesi “TIFF Docs Program”.

Setelah pemutaran di Telluride, sutradara dan produser Errol Morris dari Amerika dan tokoh perfilman dunia yang disebut sebagai penghela sinema baru Jerman, Werner Herzog, menyediakan diri untuk ambil bagian sebagai produser eksekutif film ini. Herzog memuji film Oppenheimer ini sebagai karya yang sangat kuat, sureal, dan paling menakutkan dalam satu dekade terakhir.

Catherine Shoard dalam ulasan film ini di The Guardian menegaskan pujian Herzog dengan menyebut Jagal sebagai film paling mengerikan dan memberi predikat “Movie of This Year’s Toronto Film Festival”.

Dari dalam negeri, seorang penulis film, seni rupa, dan kebudayaan, Ronny Agustinus, dalam ulasannya di jurnalfootage.net menyebutkan bahwa The Act of Killing memberi gambaran lain bahwa kekejaman Anwar Congo dan kawan-kawan hanyalah bagian dari kekejaman bahkan kegilaan situasi sosial-politik yang melingkupinya.

Ronny yang mengaku telah menonton versi utuh film ini mengemukakan bahwa Jagal telah memberi masukan mendalam untuk tidak melihat sejarah 1965 secara garis besar dan hitam-putih saja, melainkan juga menyuguhkan dampak paling personal yang dihasilkan kekerasan massal terhadap hidup dan kejiwaan masing-masing orang dalam masyarakat Indonesia sampai sekarang. “The Act of Killing menjadi paparan kompleks dan multidimensional tentang motif-motif manusia dalam melakukan dan menyikapi tindak kekerasan,” tulisnya.

Anwar Congo, pria yang ditampilkan sebagai sosok penjagal berdarah dingin dalam film itu, mengatakan bahwa dirinya merasa tertipu oleh Oppenheimer. Dalam konferensi pers menanggapi heboh pergunjingan The Act of Killing yang digelar di kantor Pemuda Pancasila Sumatera Utara, kawasan M.H. Thamrin, Medan, ia mengaku ditawari Oppenheimer untuk bermain dalam sebuah film fiksi berjudul Arsan dan Aminah.

Film itu, menurut Anwar, memuat kisah cinta terlarang seorang koboi dengan perempuan anak seorang anggota PKI. Ayah tokoh perempuan lantas dibunuh dan di akhir kisah pacar si koboi itu juga mati karena ia seorang Gerwani. “film itu isinya, kata Joshua (Oppenheimer) kepada saya, seperti film Samson dan Delilah,” kata pria yang mengaku berkenalan dengan Oppenheimer pada 2008 itu.

Sepanjang proses pembuatan film itu, lanjut Anwar, ia bersama Oppenheimer menjelajahi sejumlah lokasi yang menjadi titik-titik pembantaian terhadap PKI di Sumatera Utara, antara lain Labuhan Batu, Tanah Karo, dan Langkat. “Saya kecewa dan siap menanggung komitmen,” kata Anwar, yang mengaku penggemar James Dean dan film The Alamo, tentang hasil akhir film itu.

Laskar Pemuda Pancasila juga ikut menanggapi film dokumenter itu dengan keras. Kepada Gatra, Ketua Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila (MPW PP) Sumatera Utara, Anuar Shah, menyebut informasi dalam The Act of Killing tidak benar dan hanya memojokkan satu pihak. ”Film The Act of Killing menjual isu komunis yang murahan,” ujarnya.

Namun, di sisi lain, pria yang akrab dipanggil Aweng itu menjelaskan bahwa jika dikatakan Pemuda Pancasila pada sekitar tahun 1965 itu melakukan pembunuhan terhadap orang-orang PKI, hal itu merupakan akibat situasi revolusi yang terjadi saat itu. “Ibarat hukum alam, saling bunuh terjadi lantaran mempertahankan nyawa. Sebab orang-orang komunis juga melakukan pembunuhan terhadap orang-orang nonkomunis.”paparnya.

Aweng menambahkan bahwa pada masa itu, di Sumatera Utara ada dua dari kader PP yang terbunuh oleh orang-orang komunis di Kampung Kolam, Tembung. “Saya lupa namanya, tapi datanya ada,” katanya.

Aweng mengaku bertemu Oppenheimer beberapa tahun lalu. Ketika itu, ia menolak permintaan sang sutradara untuk memasukkan unsur PP dalam film yang dibuat sebagai bagian disertasi itu. Masalahnya, atribut PP lantas hadir bersama Anwar Congo. “Anwar Congo itu sesepuh PP. Jadi, untuk memberikan hukuman secara organisasi adalah sesepuh-sesepuh PP,” tuturnya.

Sementara itu, Kamaluddin Lubis, kuasa hukum PP Sumatera Utara, mengatakan bahwa pihaknya sedang menyusun rencana untuk menggugat Oppenheimer karena film The Act of Killing telah mendiskreditkan PP dan menggambarkan orang Indonesia sebagai sosok yang tidak berperikemanusiaan. “Film itu memutarbalikkan sejarah Indonesia, khususnya di Sumatera Utara. Sejarah komunis yang seolah teraniaya dimulai lagi,” katanya.

Bambang Sulistiyo, dan Averos Lubis (Medan)

Anwar Congo: Saya Bukan Seorang Jagal
Gumpalan tebal asap rokok menyeruak dari bibir pria berusia 72 tahun itu. Anwar Congo, sosok yang kini menjadi buah bibir karena “peran”-nya dalam film The Act of Killing dan peranannya dalam peristiwa pembantaian orang-orang PKI di Sumatera Utara itu, mengaku memang perokok berat.

Dengan topi ala tentara menutupi rambut, kemeja krem yang rapi, dan kaca mata hitam, pria yang hari-hari terakhir ini membatasi diri berbicara kepada wartawan itu terlihat bergaya di tengah acara diskusi ”Mengenang 47 Tahun Peristiwa Biadab G-30-S/PKI” di Rumah Kopi Demokrasi, bilangan Jalan Villa Polonia, Medan, Sabtu 29 September lalu.

Di sela-sela acara, kepada wartawan Gatra Averos Lubis, Anwar memaparkan kesedihannya karena ditempatkan sebagai sosok pembunuh berdarah dingin dalam film The Act of Killing. Berikut petikannya:

Apa kabar, sehat?
Sehat, cuma agak sedih atas pemberitaan di media massa tentang saya. Banyak bohongnya. Banyak media yang menulis seolah saya pembunuh berdarah dingin. Saya kecewa.

Benarkah Anda membantai orang-orang Cina di Sumatera Utara?
Itu tidak benar. Melawan orang Cina RRT iya. Dulu, tahun 1965 itu, orang Cina di Sumatera Utara ada dua kelompok. Satu Cina RRT Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) dan satunya lagi Cina yang pro-Indonesia. Lagi pula, pada zaman itu banyak orang Cina kawan orang-orang Pancasila. Mereka (orang Cina pro-Indonesia —Red.) banyak membantu perjuangan menumpas PKI.

Benarkah gambaran situasi Anda tahun 1965 itu sebagai seorang penjagal?
Jangan ada istilah jagal, sebab saya bukan seorang jagal. Saya hanya orang yang berideologi Pancasila, bukan tukang jagal, atau pembunuh sadis. Apalagi situasi saat itu orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI) menguasai segala hal, dari politik hingga kebudayaan. Orang-orang berideologi Pancasila saja dirongrong nyawanya. Saya harus mempertahankan nyawa saya juga tentunya.

Sosok Joshua Oppenheimer di mata Anda?
Dia orang pintar, daya ingatnya tinggi. Dan saat proses pembuatan film, dia selalu bertanya berulang kali. Bahkan sampai saya mau sembahyang tertunda karena dia terus mewawancarai saya. Saya yang hanya sekolah kelas IV SD memandang dia orang yang cukup pintar berbahasa Indonesia.

Anda mengenal sosok lain dalam film itu yang bernama Adi Zulkadry?
Dia teman saya, tapi di bawah saya usianya, dan masih tergabung juga dalam Pemuda Pancasila. Tapi sekarang saya sudah hilang kontak dengan dia.

Joshua Oppenheimer: Saya Tidak Pernah Menipu Siapa Pun
Film The Act of Killing adalah bagian dari penelitian pascadoktoral Joshua Oppenheimer di Central Saint Martins College of Art and Design, University of The Arts London. Sebagian pendanaannya berasal dari Dewan Riset Kesenian dan Humaniora Inggris. Meski ada nuansa akademik dalam proyek ini, menurut Oppenheimer, karyanya itu tidak perlu dirahasiakan dan dimaksudkan untuk umum.

Berikut petikan wawancara lewat surat elektronik antara Averos Lubis dari Gatra dengan Joshua Oppenheimer:

Anwar Congo merasa tertipu oleh Anda dan karya film Anda. Tanggapan Anda?
Saya tidak pernah menipu siapa pun dalam membuat film ini. Semua gambar diambil secara terbuka dengan sepengetahuan dan seizin partisipan yang bersangkutan. Tidak ada kamera tersebunyi, dan kami tidak pernah merekam secara sembunyi-sembunyi. Selain itu, secara administratif, Anwar Congo dan semua partisipan telah menandatangani surat izin penggunaan gambar (appearance release) dalam bahasa Indonesia yang mengizinkan kami untuk menggunakan rekaman gambar mereka untuk film dan untuk disebarluaskan melalui berbagai media.

Selain itu, sepanjang proses pembuatan film selama tujuh tahun, kami juga memutar ulang hasil rekaman kami kepada partisipan untuk kami dapatkan tanggapan dan reaksinya. Anwar tahu gambar apa saja yang kami miliki. Ia sudah menontonnya, mengomentarinya, dan tidak mengajukan keberatan. Bahkan dalam film Jagal/The Act of Killing” itu, ada beberapa adegan ketika Anwar sedang menonton cuplikan mentah (rushes) yang baru saja disyuting bersamanya. Kesimpulannya: tanpa kesediaan dan pemahaman Anwar Congo, film ini tidak akan jadi dan berhenti di tengah jalan.

Benarkah proyek awal yang Anda janjikan kepada Anwar adalah film Arsan dan Aminah?
Pertama kali saya memperkenalkan diri kepada Anwar, saya mengatakan bahwa saya sedang membuat film dokumenter. Saya jelaskan bahwa saya ingin mendokumentasikan ingatan dan bayangan Anwar dan rekan-rekannya mengenai pengalamannya memberantas komunis. Saya ingin mendokumentasikan bukan hanya bagaimana Anwar mengingat suatu peristiwa di masa lampau, melainkan jugabagaimana Anwar ingin diingat.

Untuk membawa ingatan dan bayangan Anwar tentang peristiwa dan perbuatan Anwar di masa lalu, saya mengajak Anwar membuat sebuah film fiksi sebagai alat untuk meneropong isi benak Anwar. Film fiksi ini adalah sebuah “ruang” bagi Anwar untuk melakukan dramatisasi atas ingatan, imajinasi, mengenai pengalamannya. Anwar lalu mengajak teman lamanya, Ibrahim Sinik, bos koran Medan Pos, untuk menulis skenario filmnya yang diberi judul Arsan dan Aminah.

Dari awal, Anwar tahu bahwa Arsan dan Aminah tidak pernah dimaksudkan sebagai film yang utuh, terpisah, dan berdiri sendiri. Sedari awal, saya menjelaskan ini kepadanya dan berulang kali setiap ada partisipan baru. Anwar tahu bahwa saya tidak hanya melakukan syuting Arsan dan Aminah, melainkan juga proses pembuatannya, evaluasinya, serta tanggapan atas hasil syutingnya. Dengan kata lain, Anwar terlibat dalam semua proses pembuatan film ini secara keseluruhan.

Anwar Congo mengaku ingin sekali melihat versi utuh Jagal. Mungkinkah Anda memutarnya di Indonesia dengan mengundangnya hadir?
Melakukan pemutaran film bersama Anwar Congo sudah kami pikirkan jauh-jauh hari sebelum film ini diluncurkan. Kami sudah merencanakannya, memikirkan cara yang paling baik, dan kami membahas secara mendalam, juga berkonsultasi dengan berbagai pihak, termasuk psikolog yang berpengalaman menangani kasus trauma, bagaimana cara mempertunjukkan film ini kepada Anwar dan apa yang mungkin terjadi jika pemutaran film bersama Anwar dilangsungkan. Tapi, akhirnya kami memutuskan untuk tidak menyelenggarakan pemutaran film bersama Anwar dan partisipan lain.

Pertimbangan kami yang terutama begini, dalam filmJagal/The Act of Killing,kita bisa melihat bagaimana Anwar mengalami trauma psikologis yang berat ketika kami memutarkan salah satu hasil rekaman syuting. Itu hanya satu adegan beberapa menit dari hasil syuting selama seminggu. Bayangkan, apa yang mungkin terjadi pada Anwar jika ia melihat keseluruhan film sepanjang dua setengah jam lebih yang merupakan perasan dari hasil syuting selama tujuh tahun. Guncangan psikologis seperti apa yang mungkin menimpa Anwar.

Majalah GATRA http://arsip.gatra.com/2012-10-01/majalah/

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s