LAPORAN KHUSUS

Ketika Simulator Kejar Tayang

Simulator kendaraan bermotor yang dikirim Mabes Polri ke Markas Kepolisian di berbagai daerah banyak yang masih mangkrak. Desainnya dibuat dengan tergesa-gesa. Simulasinya terlalu jauh dari aslinya.

Pandangan Kala Salwen, 40 tahun, tertuju pada layar monitor 42 inci yang terpampang di depan matanya. Tanggannya memegang alat serupa batang kemudi mobil sambil sesekali mengoper gigi. Kedua kakinya memainkan gas, kopling dan terkadang menginjak rem.

Saat diminta memainkan alat simulasi kendaraan besar di lokasi pengujian surat izin mengemudi (SIM) Mapolresta Medan, ia merasa kagok. Bertahun-tahun menjadi sopir truk, ia menjadi bak pengemudi kemarin sore di depan alat itu. Menurut Salwen, reaksi yang digambarkan mesin simulator itu terlalu jauh dari aslinya.

Saat diminta membuat manuver sederhana, seperti berjalan zig-zag dan membuat formasi angka 8, ia gagal. Akibatnya, ia harus mengulang pada kesempatan berikutnya untuk perpanjangan SIM B2 umum miliknya.

Hal yang sama dialami Jacky, 32 tahun. Sopir taksi ini merasa tidak familiar dengan alat itu. “Saya sudah mengulang-ulang sejak Jumat lalu,” katanya kepada Gatra saat melakukan ujian SIM A umum. Ia menyalahkan mesin simulator yang tidak seindah kendaraan aslinya. “Semua pada mengeluh soal ini,” katanya.

Di Mapolresta Medan, simulator kendaraan roda empat atau lebih telah diterapkan bagi pemohon SIM A hingga B2 umum. Dari empat alat simulasi berbagai tipe yang sudah diterima dari Mabes Polri, yang sudah dioperasikan hanya satu unit simulator kendaraan besar tersebut. Tiga lainnya masih parkir di gudang Mako Satlantas Polresta Medan. Dua simulator sepeda motor yang sudah dikirim sejak 2010 sampai saat ini juga masih belum dimanfaatkan. Menurut Kasatlantas Polresta Medan, Komisaris Polisi M. Risya Mustario, simulator roda dua belum bisa dioperasikan karena belum ada instruksi dari Mabes Polri.

Saat Gatra memantau keberadaan alat ini di berbagai kota, ternyata kondisinya sama. Di Surabaya, simulator kendaraan seharga Rp 78 juta (untuk sepeda motor) dan Rp 256 juta (untuk kendaraan besar) itu masih meringkuk di gudang Satuan Penyelenggara Administrasi (Satpas) SIM, Satlantas Polrestabes Surabaya di Jalan Colombo.

Ketika Gatra mengintip, di dalam gudang Satlantas Polrestabes Surabaya terdapat delapan set simulator, terdiri dari lima simulator kendaraan roda dua dan tiga simulator mobil. Kepala Satpas SIM Satlantas Polrestabes Surabaya, AKP Siswanto, mengatakan bahwa delapan unit simulator itu sudah datang dari Markas Besar Polri sekitar lima bulan lalu. Tapi hingga saat ini belum difungsikan, karena peraturan penggunaannya belum ada. “Kita masih menunggu instruksi dari pusat,” ia menegaskan.

Sedangkan di Markas Kepolisian Kota Besar Yogyakarta, sebanyak enam simulator juga masih belum dipakai. Alat yang sudah dikirim dari Markas Besar Polri sejak Juni tahun lalu itu sama sekali belum disentuh untuk pengujian SIM. “Kami masih menunggu surat perintah dari Korlantas (Korps Lalu Lintas) Polri,” kata Kepala Unit Register dan Identifikasi Poltabes Kota Yogyakarta, AKP Rini A.

***

Sebelum lahir pun, simulator kendaraan ini memang sudah dilingkupi masalah. Di Medan, seperti dituturkan para peserta yang melakukan ujian SIM, alat ini tidak nyaman dipakai. Proses pembuatan yang tergesa-gesa tanpa studi yang matang kemungkinan menjadi penyebab alat ini tidak menampilkan performa yang maksimal sebagaimana kendaraan asli.

Gatra yang mewawancarai pembuatnya, Sukotjo Sastronegoro Bambang, menemukan fakta bahwa alat ini dibuat dengan tergesa-gesa.

Sukotjo adalah perancang dan pembuat alat ini di pabriknya, PT Inovasi Teknologi Indonesia (ITI), yang berada di Jalan Gemporsari Nomor 89, Kota Bandung, Jawa Barat. Ia merupakan pemegang subtender dari PT Megacipta Nusantara, milik Andrie Tedjapranata. Menurut Sukotjo, awal keterlibatannya dalam proyek simulator ini adalah ketika diminta oleh pemilik PT Andrie Tedjapranata pada Maret 2009 membuat set simulator.

Oleh Andrie, Soekotjo diminta membuatkan prototipe driving simulator dan alat kendalinya untuk PT Megacipta yang akan dikirim ke Polri sebagai pemilik tender. Uniknya, ia hanya diberi tempo dua minggu. Namun waktu yang cukup sempit itu bisa dimanfaatkan Soekotjo dengan baik.

Model pertama yang masih berbentuk simulator statis ini kemudian bisa disinkronisasi dengan software yang dibuat PT Maxima Inovative Engineering, perusahaan milik pengusaha Budi Susanto yang memenangkan tender untuk software-nya.

Model ini kemudian dilanjutkan dengan membuat prototipe driving simulator dengan teknologi hidrolik yang tidak lagi statis. Tipe ini dibuat untuk simulasi kendaraan besar dengan bentuk Isuzu Elf dengan layar LCD 32 inci. Menurut Sukotjo, saat membuat barang ini, ia hanya diberi waktu selama tiga hari tiga malam. “Saya bekerja 24 jam tanpa istirahat, dan mereka tidak mau tahu,” katanya. Meski waktunya mepet, order itu bisa diselesaikan pada 7 Desember 2009.

Gaya kejar tayang ala Polri ini dilakukan karena proyek ini telah banyak menghabiskan waktu dengan pemenang tender aslinya, yaitu PT Maxima Inovative Engineering. Dari awal proyek dimulai sampai mendekati hari penyerahaannya Maxima tidak pernah merampungkan tugasnya karena eksperimennya selalu gagal.

Setelah era prototipe selesai, produksinya pun dilakukan dengan cara nguber setoran pula. Untuk proyek driving simulator tahun 2009, kata Sukotjo, ia dibebani membuat semua komponen yang tidak bisa diselesaikan PT Megacipta Nusantara. Padahal pada awalnya perusahaan milik Soekotjo hanya memegang tender membuat kendali eletronik dan software-nya saja.

Dari 80 unit simulator kendaraan roda empat tipe Isuzu Elf setengah kabin dengan nilai Rp 22,4 milyar (harga Rp 260 juta per unit) dan tujuh simulator bus truk bentuk Hino dengan nilai Rp 5,4 milyar (harga Rp 780 juta per unit), akhirnya tidak semuanya yang selesai. Sebagian terbengkalai karena berbagai hal yang bermuara pada tidak tersedianya waktu yang cukup. “Tiga bulan itu mustahil bisa selesai,” katanya.

Pada akhirnya driving simulator buatan Soekotjo untuk PT. Megacipta Nusantara yang dikirim kepada Polri minim kualitas. Banyak barang yang saat sampai tujuan masih dalam kondisi asesoris tidak lengkap, bodi rusak, bentuk tidak sesuai dengan spec, bahkan ada paket korsong

Pada April 2010, Sukotjo diminta melakukan perbaikan driving simulator dan melakukan penginstalan atas unit-unit yang telah dikirim ke Polda Metro Jaya, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Semua unit yang dikirim dalam kondisi berantakan itu akhirnya bisa diperbaiki pada Desember 2010.

Tahun berikutnya, langkah kejar tayang tetap dilakukan. Pada Agustus 2010, Budi Susanto sebagai pemenang tender atas nama PT Maxima Inovative Engineering meminta Soekotjo memproduksi 1.000 driving simulator roda dua dan 1.000 driving simulator roda empat dalam tempo hanya tiga bulan. “Saat itu, saya bilang tidak sanggup karena jumlah proyek terlalu banyak. Tetapi Budi terus mendesak,” katanya.

Proyek itu kemudian dijalani Soekotjo dengan menambah jumlah karyawan dan memperluas kapasitas pabriknya. Soekotjo menambah karyawan dari 60 orang menjadi 230 orang, dan membeli lokasi pabrik baru. Tender itu akhirnya bisa diselesaikan pada waktunya.

Tetapi hingga proyek selesai, Soekotjo merasa dijadikan sebagai sapi perahan oleh Andrie Tedjapranata, pemilik PT Megacipta Nusantara, dan Budi Santoso, pemilik PT Maxima Inovative Engineering. Sebagai pemegang subkontrak, ia merasa sudah bekerja terlalu berat namun tidak ikut menikmati hasilnya.

Soekotjo mengaku bersedia banyak berkorban karena dijanjikan proyek-proyek pada tahun-tahun berikutnya. Tetapi hingga proyek simulator rampung, uang Soekotjo masih belum dibayar Rp 10,7 milyar dari total proyek senilai Rp 27,8 milyar.

Mujib Rahman, Averos Lubis (Medan), dan M. Nur Chlolish Zaein (Surabaya)

Majalah GATRA http://arsip.gatra.com/2012-08-06/majalah/

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s