LAPORAN UTAMA

Naturalisasi Pemain Kelas Tarkam

Membanjirnya pemain asing di kompetisi sepak bola nasional dipertanyakan. Program naturalisasi pemain asing kualitasnya tak lebih baik dari pemain lokal. Daripada mengaburkan devisa untuk menggaji pemain asing, lebih baik dananya dimanfaatkan untuk membina pemain muda. Akan dibawa ke mana PSSI, bila dualisme kepengurusan sepak bola nasional tak terselesaikan.

Ancaman sanksi Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) rupanya tak mengurangi tensi ketegangan antara dua kubu yang selama ini bertikai di persepakbolaan Tanah Air. Alih-alih menunjukkan kata damai, kedua kubu malah kembali memulai perang urat saraf. Kubu Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) yang dipimpin La Nyala Matalitti melarang pemain Liga Super Indonesia (LSI) yang dikelola PT Liga Indonesia bergabung di dalam tim nasional bentukan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pimpinan Djohar Arifin.

”Kalau ada yang ngotot, kami akan beri sanksi,” ujar Djamal Aziz, salah satu anggota Exco KPSI. Seperti diketahui, PSSI kembali memanggil sejumlah pemain untuk bergabung di tim nasional (timnas) untuk menghadapi babak kualifikasi Piala Asia 2015. Para pemain yang dipanggil itu berasal dari Liga Primer Indonesia yang dikelola PSSI maupun peserta LSI.

Sikap keras KPSI ini tentu menimbulkan keprihatinan. Maklum, banyak yang khawatir, nasib timnas bakal mengulangi nasib timnas di ajang Piala AFF 2012 lalu. Timnas akan kembali diisi dengan komposisi pemain yang pas-pasan dan seadanya. Saat itu, dari 10 pemain ISL yang dipanggil bergabung dengan timnas, hanya Bambang Pamungkas yang bersedia membela tim Merah-Putih di ajang Piala AFF 2012.

Di mata Bambang, timnas itu Indonesia, bukan timnas PSSI atau timnas KPSI. Timnas itu Merah-Putih, bukan timnas biru atau timnas kuning. “Dan tim nasional itu bukan milik Djohar Arifin atau milik La Nyalla, melainkan milik seluruh rakyat Indonesia,” ujar Bambang.

Untuk memecah kebuntuan, PSSI terpaksa menaturalisasi pemain asing. Saat membentuk timnas untuk piala AFF 2012, PSSI memboyong pemain asal Belanda Tonnie Cussel, Johny von Beukering, dan Raphael Guillermo Eduard Maitimo. Selain sempat memasukkan nama Diego Michiels -yang sudah dinaturalisasi sejak setahun lalu– dalam daftar pemain. Diego belakangan dicoret dari daftar pemain setelah melakukan tindakan indispliner dengan keluar malam saat menjalani pelatnas dan terlibat kasus pidana penganiayaan (baca: Naturalisasi Lalu Jeruji Besi).

Langkah naturalisasi tentu bukan solusi yang bagus. Apalagi, proses naturalisasi tak melulu berhasil. Di ajang Piala AFF, November 2012 lalu, peran pemain hasil naturalisasi tak begitu signifikan. Sumber Gatra di tubuh PSSI menyebut naturalisasi pemain pasca-Gonzales, dan Irfan Bachdim tidak direkrut berdasarkan standard operating procedure (SOP) yang tepat. ”Waktu itu karena kita kekurangan pemain karena ISL gak mau lepas pemainnya,” kata sumber Gatra yang tak ingin disebutkan namanya. ”Menurut saya, itu agak putus asa,” ia menambahkan.

Merangkul para pemain nasional yang berlaga di kompetisi ISL memang menjadi salah satu pekerjaan rumah PSSI yang dibebankan FIFA. PSSI diberi batas waktu hingga Maret 2013 untuk mengatasi dualisme kepengurusan dan kompetisi sepak bola professional. Dalam pernyataan resminya, FIFA memberikan kesempatan terakhir hingga Maret 2013.

Sebagaimana diketahui, sepak bola nasional terperosok dalam situasi terburuk sepanjang sejarah Indonesia. Sepak bola Indonesia menjadi korban politisasi dan terpecah menjadi dua kubu. Tak hanya timnas yang menjadi korban, para pemain juga mengalami situasi dilematis. Sejumlah klub ikut terpecah belah. Ada yang ikut PSSI dengan IPL-nya, ada pula yang bergabung di KPSI dengan LSI-nya. Ibaratnya dua gajah bertarung, pelanduk mati di tengah-tengahnya.

Dualisme sepak bola sudah mencapai tahap meresahkan. Kedua kubu membangun kompetisi tersendiri. Bahkan, saat menjelang AFF 2012, keduanya sama-sama membentuk timnas. Sebuah drama menggelikan, sekaligus memalukan. Sebab, bagaimana mungkin perpecahan ini mengatasnamakan pembinaan sepak bola dan kepentingan bangsa, jika produk akhirnya justru mengorbankan pembinaan sepak bola dan kebanggaan bangsa.

Pertengkaran kubu Djohar dengan La Nyalla mencuat ketika menentukan format kompetisi pasca-penggulingan Nurdin Halid dari kursi Ketua Umum PSSI. Saat itu, Komite Eksekutif PSSI menetapkan kompetisi 2011-2012 diikuti 24 klub dalam format Indonesia Premiere League (IPL). IPL berbeda dari Liga Primer Indonesia (LPI) yang pernah dibentuk Arifin Panigoro pada musim kompetisi 2010-2011 sebagai tandingan Indonesia Super League milik PSSI era Nurdin Halid.

Ketika itu, sebagai respons atas berbagai kecurangan yang terjadi pada musim 2009-2011, beberapa klub ISL yang merasa dicurangi membentuk Persema, Persebaya, Persibo, dan PSM. Saat itu, LPI menahbiskan diri sebagai liga profesional tanpa dukungan APBD. Hanya saja, karena tidak terafiliasi dengan PSSI, liga yang dihelat konglomerat Arifin Panigoro ini dianggap sebagai liga sempalan atau istilahnya breakaway league.

Kembali ke soal perseteruan antara Djohar Arifin dan La Nyalla, ketika menentukan format liga, pihak La Nyalla ngotot bahwa liga harus diikuti 18 klub, sesuai dengan hasil Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI di Solo, Jawa Tengah, 9 Juli 2011. Sedangkan kubu Djohar menyatakan, KLB Solo tidak menentukan bahwa liga harus diikuti 18 klub.

Ada cerita menarik di balik ke-ngotot-an kedua kubu. Pihak La Nyalla, yang dianggap sebagai orang kepercayaan Nirwan Bakrie, kukuh mempertahankan liga di bawah pengelolaan PT Liga Indonesia (LI). Dalam Kongres PSSI di Bali pada 2011, diam-diam PT LI mengambil alih 99% saham PSSI di PT LI, dan menyisakan 1% saham saja milik PSSI. Inilah yang dijadikan alasan CEO PT LI, Djoko Driyono, untuk menolak permintaan PSSI untuk mengadakan RUPS dan menyerahkan laporan keuangan PT LI ke PSSI.

Di permukaan, guliran alasan Kongres Solo sebagai argumen penolakan format liga baru oleh La Nyalla membuat perpecahan makin terbuka. Akhirnya, PSSI mencabut mandat PT LI dan membentuk PT Liga Prima Indonesia Sportindo untuk mengulirkan IPL yang diikuti 16 klub. Di sisi lain, PT LI yang merasa masih memiliki 99% saham liga jalan sendiri dengan format ISL yang diikuti 18 klub. Dualisme kompetisi pun terjadi, yang kemudian diikuti dualisme kepengurusan sepak bola. La Nyalla dan tiga exco PSSI yang dipecat menggelar KLB Ancol dan membentuk Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) sebagai tandingan PSSI.

Dua kompetisi itu pun menginduk ke masing-masing organisasi tersebut. IPL bergulir di bawah naungan PSSI yang disokong Arifin Panigoro, sedangkan ISL bergulir karena dukungan mantan Wakil Ketua Umum PSSI, Nirwan Bakrie. Bahkan pertandingan ISL saat itu disiarkan langsung oleh Antv, stasiun layar kaca milik keluarga Bakrie. Dalam upaya rekonsiliasi, nama Nirwan selalu disebut-sebut.

Dualisme kompetisi yang berinduk pada dua organisasi yang berseteru ini yang membuat proses pembentukan timnas menjadi alot. Belum lagi, jika menyangkut kualitas kompetisi maupun organisasi klub peserta kompetisi. Salah satu yang terasa makin amburadul, yaitu menyangkut keberadaan pemain asing dan kesejahteraan pemain.

Banyak pihak menilai, proses rekrutmen pemain asing, makin tidak jelas. Pemain asing, yang awalnya diharapkan ikut menyemarakkan sepak bola nasional, dan memicu peningkatan kualitas pemain nasional justru kerap menjadi beban klub. Tak sedikit pemain asing yang didatangkan dengan bujet besar, namun hanya bermain di klub-klub kecil, dan bermain dengan kapasitas yang pas-pasan. Indonesia Police Watch (IPW) memperkirakan ada sekitar 330 pemain asing yang bercokol di setiap musim kompetisi di Indonesia.

Untuk Liga Super (ISL dan IPL) ada 150 pemain asing dan untuk Divisi Utama ada 180 pemain asing. Hingga saat ini, kompetisi sudah berlangsung 14 musim. Setiap musim rata-rata bertambah 20-30 % pemain asing. Sehingga diperkirakan sedikitnya ada 500 pemain asing di Indonesia saat ini.

Pertanyaannya, apakah jika tidak ada kompetisi, para pemain asing itu kembali ke negaranya? Apakah jika mereka tidak dipakai lagi oleh klub-klub di ISL dan IPL, mereka pulang ke negaranya? “Ternyata tidak. Para pemain asing itu tetap berkeliaran di Indonesia. Sebagian, besar main di ‘tarkam’. Sebagian dari mereka menjadi orang terlantar di negeri orang karena gajinya tak kunjung dibayar klub di ISL dan IPL,” ujar Neta S. Pane, Ketua Presidium IPW.

Belum lagi, mereka yang terlibat masalah hukum karena kasus narkoba dan penipuan. Pemilik agen pemain sepak bola PT Ligina Sportindo, Eddy Syahputra, mengakui ada beberapa pemain asing yang kini terlantar akibat belum dibayar gajinya, meski kontrak sudah selesai.

Namun, Eddy memastikan bahwa proses rekrutmen pemain asing dilakukan secara profesional, dan berasal dari klub-klub yang selevel dengan liga di Indonesia. ”Kita suruh dia main sendiri dulu,” katanya. Semisal cocok, negosiasi harga awal pun terjadi antara Eddy dengan si pemain. ”Kita juga pilih-pilih, nggak sembarangan,” katanya lagi.

Sebagai agen, Eddy mengaku mendapat bagian 10%-15% dari total kontrak yang ditandatangani. Kisaran nilai kontrak pemain yang pernah ia dapat adalah antara Rp 300 juta sampai Rp 1,2 milyar. ”Kalau mau pemain bagus, ya harus bersedia mahal,” kata Eddy. Bila pada akhirnya ada klub yang tak lancar membayar, seperti yang terjadi sekarang, Eddy akan menagih atau langsung menulis surat ke FIFA.

”Seringkali FIFA menangin (gugatan) pemain,” ujarnya. Eddy menerangkan bahwa agen tidak bisa begitu saja lepas tangan bila gaji pemainnya tidak lancar. ”Karena di situ ada bagiannya agen,” katanya. Karena itulah, ia melanjutkan, agen wajib mengejar pelunasan.

Kasus tertunggaknya gaji pemain asing maupun pemain lokal, memang memprihatinkan. Hingga kini, banyak pemain, baik asing dan lokal yang belum mendapat gaji akibat ketidakjelasan pembayaran dari manajemen klub. Kasus terakhir menimpa pemain Persewangi Banyuwangi, Moukwelle Ebanga Sylvain, yang saat ini sedang sakit-sakitan dan terpaksa berobat ke puskesmas akibat belum digaji selama sembilan bulan oleh klubnya. Begitu pula yang menimpa pemain Persipro Probolinggo, Camara Abdoulaye, yang tidak mendapat gaji selama enam bulan dari klubnya, dan kabarnya sempat meminta-minta di jalanan bersama dua rekan pemain asing lainnya.

Nasib paling tragis tentu bisa jadi dirasakan Diego Mendieta. Pemain Persis Solo ini meninggal beberapa waktu lalu akibat sakit yang dideritanya tak bisa ditangani dengan baik. Mendieta yang juga terpaksa menunggak pembayaran rumah kontraknya, terlunta-lunta akibat gajinya selama empat bulan belum dibayar klub Persis Solo.

Untuk menghidupi kehidupanya sehari-hari, sebagian pemain asing terpaksa menanggalkan baju profesionalismenya. Mereka ikut bermain pertandingan antar-kampung (tarkam). Untuk pertandingan yang kerap disebut tarkam ini, mereka rela dibayar Rp 300.000 hingga Rp 500.000 untuk sekali bermain.

Nasib memprihatinkan akibat belum digaji tak hanya domain pemain asing. Para pemain nasional juga kena getah perseteruan dua “raksasa” di balik sepak bola nasional. Bintang Persija Jakarta yang pernah memperkuat tim nasional, Ismed Sofyan, adalah salah satunya. Pemain yang sudah merumput di Persija sejak 2003 ini nasibnya kini tak jelas. ”Masa depan (Ismed di Persija) rasanya makin suram,” kata Ismed.

Klub berjuluk Macan Kemayoran tempatnya bernaung belum juga memperpanjang kontraknya yang habis awal 2013 ini. Bahkan, menjelang kompetisi ISL dimulai, 5 Januari mendatang, ia tak yakin, kontraknya bisa ditandatangani. Ismed juga bercerita, soal kontrak juga dialami pemain Persija lainnya, termasuk Bambang Pamungkas. ”Gaji kita selama lima bulan juga belum dibayar,” tutur Ismed, yang tak mau mengungkapkan berapa besar gajinya.

Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) telah membuat daftar klub yang masih menunggak gaji pemainnya. Setidaknya ada 11 klub yang belum membayar gaji pemainnya. Asosiasi yang digawangi para pemain profesional yang berlaga, baik di kompetisi ISL maupun IPL ini berjanji akan melaporkan operator liga dan klub ke FIFA jika sampai Maret 2013, klub belum membayar atletnya. Menurut Valentino Situmorang, CEO APPI, tertunggaknya pembayaran gaji pemain dikarenakan dua hal, yaitu, pertama, tidak mampu, dan kedua karena tidak mau membayar walaupun mampu.

Hal itu juga berlaku di klub-klub yang bernaung di bawah kompetisi IPL. Klub-klub itu selama ini bergantung pada dana dari konsorsium. Bahkan, delapan dari 12 klub, sangat bergantung dana konsorsium. ”Jadi, ketika konsorsium menghentikan bantuan, dengan dalih belum menerima laporan, maka klub-klub itu terpaksa berhenti karena tidak mampu membiayai operasional klub,” ujar Valentino.

PT Liga Indonesia, yang memayungi Liga Super Indonesia, berjanji segera melunasi gaji para pemain klub-klub ISL sebelum lSI bergulir, 5 Januari nanti. Klub yang akan mendapat dana talangan, yaitu PSPS Pekanbaru, PSMS Medan, dan Deltras Sidoarjo. Sementara itu, PSSI belum mengambil sikap tegas.

Menurut ketua umum PSSI, Djohar Arifin, kasus tertunggaknya gaji pemain menjadi keprihatinan pihaknya. ”Jangan ada lagi hal-hal seperti ini. Ini (tertunggaknya gaji pemain) sangat tidak bagus. Jadi kalau memang ada klub yang tidak mampu, jangan paksakan diri untuk ikut kompetisi,” kata Djohar.

Djohar Arifin mengatakan, PSSI sebenarnya telah merancang aturan yang mewajibkan tiap tim untuk deposit senilai Rp 5 milyar sebelum ikut kompetisi. Deposit ini, menurut Djohar, berguna bila tim-tim yang berlaga di liga papan atas Indonesia ini mengalami kesulitan dana operasional klub, seperti tunggakan gaji atau tidak mampu membiayai perjalanan kompetisi. ”Namun ditentang, makanya aturannya nggak jadi (diberlakukan),” kata Djohar.

Menurut Djohar, paling tidak setiap klub harus menyediakan dana sekitar 15 milyar untuk ikut kompetisi satu tahun. PSSI berencana akan mencari sponsor, baik untuk promosi maupun hak siar. Nantinya setiap klub akan mendapat bagian berupa premier sharing. Pada 2011 lalu, PSSI sudah mengatur untuk menjual pertandingan-pertandingan, seperti hak tayang, kepada sponsor.

Namun, sumber Gatra di PSSI menyebut PSSI tidak bisa tegas terhadap klub akibat tidak netral. ”PSSI tak sepenuhnya netral,” kata sumber Gatra. Tanpa menunjuk nama, ia mengatakan ada pengurus teras di PSSI yang masih memegang jabatan di klub sehingga memunculkan konflik kepentingan.

Tapi, Djohar Arifin mengakui, perpecahan di tubuh sepak bola ikut berkontribusi terhadap masalah keuangan klub. Kurangnya jumlah pertandingan mengurangi nilai jual kepada sponsor. ”Maka, dengan adanya perpecahaan ini, di samping sponsor utama, sponsor lainnya belum berani masuk,” kata Djohar.

Jadi, dengan keributan ini tidak ada yang untung. Dua-duanya rugi. Djohar menambahkan, uang yang seharusnya bisa dinikmati klub-klub untuk dana operasional, jadi tidak dapat apa-apa. Inilah yang membuat bangkrutnya hampir semua klub di kompetisi 2012 ini. Padahal, jika kedua kubu dengan dukungan finansial yang boleh dibilang tidak terbatas mau bersatu bergandeng tangan dengan satu tujuan untuk memajukan sepak bola Indonesia, impian menjadikan timnas kita maju ke putaran final Piala Dunia akan segera tercapai, ya nggak Pak?

Hendri Firzani, Sandika Prihatnala, Cavin R. Manuputty, Andya Dhyaksa, dan Averos Lubis (Medan)

Pemain Naturalisasi di Balik Jeruji Besi
Diego Michiels kini hanya bisa merenungi nasibnya di balik jeruji besi. Sejak pertengahan November lalu, pesepak bola asal negeri Belanda yang telah berkewarganegaraan Indonesia ini, menghuni salah satu sel di Rumah Tahanan Salemba, Jakarta Pusat. Diego ditahan terkait dugaan penganiayaan terhadap salah seorang pengunjung kafe Domain, di Senayan City, Kamis, 8 November 2012 lalu.

Saat itu, pemain bernama lengkap Diego Robbie Michiels ini bersama empat temanya: Trikun, Barney Patallala, Martinus Lambertusuas, dan Matheos Pieter Lilipory, menghajar Meff Paripurna, mahasiswa asal Bogor karena hanya masalah sepele, bersenggolan di salah satu tempat dugem beken di Jakarta Selatan itu. Ia pun terpaksa membunuh impiannya memperkuat tim nasional di laga piala AFF, beberapa waktu lalu.

Diego memang sedang menjalani pemusatan latihan nasional di Jakarta saat kejadian tersebut. Atlet yang proses penggabungannya di Tim nasional, melalui program naturalisasi PSSI ini, dikarantina di Hotel Century bersama anggota timnas lainnya. Tapi, entah setan apa yang menggodanya, hingga diam-diam, dia nekat keluar dari karantina dan menuju Kafe Domain di Senayan City, yang tak begitu jauh dari Hotel Atlet Century, tanpa sepengtahuan pelatih ataupun official timnas lainnya. Mungkin karena (merasa) suatu pengetatan, sehingga ingin keluar,” kata Elza Syarief, pengacara Diego.

Meski sempat dibela sejumlah pihak di PSSI, tindakan indisplinernya itu akhirnya mendapat sanksi dari PSSI. Selain dikeluarkan dari timnas, Diego juga diganjar pemotongan uang saku sebesar Rp 500.000 per hari selama seminggu. Masa depan mantan atlet klub Go Ahead Eagles Belanda ini di tim nasional makin tak jelas. Diego terancam tidak bisa lagi bermain sepak bola untuk timnas.

Pengacara Diego, Elza Syarief, menduga ada rekayasa terhadap pesepak bola yang dekat dengan artis remaja Nikita Willy ini. Pengacara papan atas ini membeberkan sejumlah bukti berupa mention dari seseorang bernama Meff Paripurna, ke akun Twitter Diego, sehari sebelum kejadian, ”Liat aja nanti, kamu akan ditahan, masuk penjara, dan jadi tukang sapu penjara.” Demikian, salah satu mention yang ditujukan kepada Diego. ”Kok dia bisa tahu bahwa Diego akan dipenjara,” ujar Elza kepada wartawan Gatra Flora Libra Yanti.

Bukti dugaan rekayasa itulah, yang akan dibeberkan Elza di persidangan Diego, nanti. Kamis ini, rencananya, Diego akan menjalani sidang perdana di pengadilan negeri Jakarta Selatan. ”Pokoknya, ada indikasi kasus ini adalah rekayasa. Tim lawyer sudah siap membuktikan bahwa Diego adalah korban rekayasa,” ujarnya.

Hendri Firzani

Majalah GATRA Edisi 9 / XIX 9 Jan 2013

 

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s