FILM

Demi Film Komedi yang Lebih Baik

Film peraih tujuh nominasi pada Festival Film Indonesia 2012. Lina Marpaung menyabet penghargaan artis wanita pemeran pendukung terbaik. Lucu, renyah, santai, dan efisien.

DEMI UCOK
Sutradara: Sammaria Simanjuntak
Pemain: Geraldine Sianturi, Mak Gondut, Saira Jihan
Produksi: PT Kepompong Gendut & Royal Cinema Multimedia, 2012
__________________________________________________________________________

Buat Gloria, hidup adalah tentang kesempatan untuk mewujudkan mimpi. Jebolan sekolah film, dosen mata kuliah film, dan pernah membuat sebuah film. Apa lagi mimpi indahnya kalau bukan membuat film kedua yang lebih baik dari yang pertama? “Glo tak mau seperti Emak. Kawin, lupa mimpi, and live boringly ever after,” ujarnya.

Sedangkan buat ibunda Gloria, Mak Gondut, hidup adalah tentang Gloria. Sebab, menurut dia, tujuan hidup perempuan Batak itu ada tiga: menikah dengan orang Batak, punya anak Batak, cari menantu Batak. Tujuan pertama dan kedua telah terpenuhi. Dan untuk memenuhi tujuan ketiga itulah, Mak Gondut mengupayakan berbagai cara. Termasuk mempromosikan anaknya dengan memanfaatkan jejaring tradisional, spiritual, politik, hingga multilevel marketing.

”Kenapa sih harus sama orang Batak,” tanya Glo kepada ibunya. ”Ibarat anjing, kalau rasnya sama, keturunannya akan baik. Seseorang dilihat juga dari keturunanya,” jawab Mak Gondut.

Lucu, renyah, santai, dan efisien. Rangkaian kata sifat itu tidak terlalu berlebihan untuk disematkan pada film Demi Ucok garapan sutradara Sammaria Simanjuntak. Tidak banyak yang perlu dikhawatirkan ketika orang Batak bercerita tentang benturan idealisme ibu dan anak dalam kultur Batak. Apalagi, konon, cerita dalam film ini banyak mengambil inspirasi dari kehidupan sehari-hari Sammaria dan sang ibu, Lina Marpaung (yang berperan sebagai Mak Gondut).

Gloria (Geraldine Sianturi) atau Glo terindikasi sebagai alter ego Sammaria yang mencurahkan hidupnya untuk film. Melalui tokoh ini, penonton diajak menyelami cara berpikir generasi kiwari yang terbuka serta sepak terjang penggiat film independen yang masih kritis dan tangguh mempertahankan idealisme. Tapi, di sisi lain, Sammaria tidak segan mengolok-olok sikap manja orang kota yang tumbuh dan besar dalam kehidupan serba-kecukupan.

Sementara itu, Mak Gondut –boleh jadi mewakili dirinya sendiri– digambarkan seperti alarm tradisional yang pantang lelah mengingatkan anaknya untuk lekas mencari jodoh. Hubungan keduanya dikemas dalam struktur kelucuan yang kelasnya di atas rata-rata film drama komedi yang dibuat rumah-rumah produksi besar di Tanah Air.

Plot disusun dengan efisien dalam durasi 79 menit. Distribusi unsur humor dari awal hingga akhir film terasa merata, sehingga tidak banyak celah buat penonton untuk mengeluh bosan dan memainkan ponselnya. Unsur drama disajikan tanpa ketulusan untuk mendramatisasi. Kalaupun ada dramatisasi, itu semata-mata dilakukan secara sengaja dan penuh kesadaran untuk menertawakannya.

Ada sih eksekusi teknis yang kurang optimal di sana-sini. Misalnya beberapa adegan percakapan Glo dan Mak Gondut yang terasa canggung dan kurang natural, penataan cahaya yang kadang bikin sepet mata, strategi penyuntingan yang terlalu tangkas, dan repetisi pesan yang masih dapat dipangkas. Namun, untuk sebuah karya yang digarap dengan semangat dan proses indie, film ini nongol di bioskop komersial dengan penuh percaya diri dan tidak menuntut untuk dimaklumi.

Bambang Sulistiyo dan Averos Lubis

Sammaria Simanjuntak: Jatuh-Bangun Menggalang Co-Pro
Mulai pra hingga pasca-produksi, promosi, dan distribusi, Demi Ucok menghabiskan dana sekitar Rp 1 milyar. Sutradara merangkap produser dan penulis cerita film ini, Sammaria Simanjuntak, 29 tahun, mengumpulkan dana dari berbagai sumber; duit sendiri, sumbangan donatur, hingga keikutsertaan para co-producer yang diperolehnya melalui mekanisme partisipasi pendanaan publik (crowdfunding).

Kepada wartawan Gatra Flora Libra Yanti, sutradara lulusan teknik arsitektur ITB itu urun cerita soal proses produksi film yang banyak mencuri perhatian di awal tahun 2013 ini. Berikut petikannya:

Dari mana ide awal pembuatan film ini?
Sebenarnya lebih banyak mengambil ide dari mengamati sekitarku. Memang ada juga kisah diri sendiri di sini. Tapi banyak juga yang fiktif. Misalnya tokoh papa Gloria di film sudah meninggal, sedangkan papaku masih ada. Modifikasi ini untuk membuat ceritanya lebih maju. Setelah selesai menggarap Cin(T)a, udah terpikir mau membuat film komedi, karena film pertama itu cukup berat: ceritanya, juga dialognya. Aku harus banyak berdiskusi. Jadi, ingin membuat film yang bisa membuat tertawa.

Berapa lama waktu pembuatannya?
Bikin filmnya cepat, syuting cuma tiga minggu. Tapi yang lama, ya, mencari co-producer (melalui skema crowdfundingRed.) itu. Sebagai film indie, prosesnya juga tidak sulit. Mendistribusikannya itu yang sulit, karena sebenarnya film ini sudah selesai pada Desember 2011.

Berapa total dana yang dikeluarkan?
Satu milyar rupiah. Mulai dari pra, produksi, pasca, promosi, dan sebagainya. Sedangkan yang terkumpul dari co-pro sekitar Rp 251 juta. Sisanya sponsor dan dana pribadi.

Sesulit apa upaya mengumpulkan co-pro untuk film ini?
Lebih sulit dari yang terlihat di film. Kalau di film kan nggak diceritain kami harus bertemu dengan para co-pro itu satu per satu. Terkadang ditolak. Hasilnya, kami lebih banyak mendapat dana dari ketemu orang langsung ketimbang dari internet. Makanya, filmnya jadi lama tayang. Sepanjang 2012 itu, aku nggak bikin film. Nyaris sepanjang tahun aku mengumpulkan dana untuk film ini.

Berapa banyak co-pro yang terlibat?
Hampir 2.000 orang. Kebanyakan dari Indonesia. Ada juga dari luar Indonesia, tapi sedikit. Ada dari Singapura dan Thailand. Ada pula orang Indonesia yang tinggal di Jerman. Kami inginnya para co-pro ini, dengan memberikan dana Rp 100.000, nggak merasa diminta sumbangan. Mereka tetap bisa mendapat fasilitas yang mudah-mudahan sebanding dengan Rp 100.000 yang mereka berikan. Yang paling penting, namanya ditulis di poster dan di credit title film.

Demi Ucok sudah diputar di festival mana saja?
Akan diputar di Vesoul International Film Festival of Asian Cinema, Paris, Februari nanti. Oktober kemarin diputar di Indonesian Film Festival, Melbourne, Australia. Memang bukan untuk dikompetisikan. Diputar aja, udah syukur.

Rencana produksi film berikutnya?
Ada beberapa. Ada judulnya Oma Kepo, tentang empat nenek yang berlagak detektif. Lalu ada juga Amop, tentang cerita rakyat tradisional Indonesia, tapi versi science fiction. Keduanya sedang proses pengembangan cerita.

 

Majalah GATRA Edisi 11 / XIX 23 Jan 2013

 

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s