LINGKUNGAN

Memburu Sindikat Pemburu Harimau Sumatera

Perburuan harimau sumatera di kawasan Aceh Tengah kian marak. Diduga melibatkan oknum polisi, tentara, dan pejabat sipil. Penegak hukum lambat menindak, meski beberapa aktivis sudah menginvestigasi dan melaporkan bukti-bukti kegiatan ilegal sindikat tersebut.

Secangkir kopi panas yang tersaji di sebuah kedai di sudut kota Takengon, Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam, cukup bisa mengusir udara dingin kawasan yang berada pada ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut itu. Baru saja beberapa seruput kopi arabica Gayo, yang citra rasanya mendunia, itu masuk kerongkongan, seorang pria berusia 30-an tahun datang menghampiri. Ia memperkenalkan diri, menyebutkan namanya. Namun, demi keselamatan jiwanya, sebut saja pria itu Abdul Gayo.

Abdul Gayo minta nama sebenarnya disembunyikan karena topik yang diperbincangkan sangat peka. Dalam percakapan dengan Gatra di penghujung Januari lalu itu, ia menuturkan seputar nasib harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang makin mengenaskan. Dalam sepekan ini, menurut Abdul Gayo, perburuan harimau sumatera di kawasan hutan di sekitar Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah kian marak.

Abdul Gayo mengaku dirinya seorang aktivis lingkungan setempat yang kerap memperhatikan nasib si kucing besar terakhir di Indonesia yang tersisa itu. Menurut dia, saat ini populasi harimau sumatera makin kritis akibat maraknya perburuan tersebut. Kucing-kucing besar itu diburu untuk dijadikan sebagai cenderamata berupa omsetan. “Omsetan itu hewan asli yang dibuat menjadi seperti patung yang berisi kapas-kapas di dalam tubuhnya dan diperjualbelikan sebagai hadiah atau cenderamata,” kata Abdul Gayo kepada Gatra.

Bahkan ia mengatakan, Takengon kini menjadi salah satu daerah pemasok omsetan harimau sumatera untuk dijual ke berbagai daerah di Indonesia, juga ke luar negeri seperti ke Singapura dan Malaysia. Abdul Gayo mengaku mengamati aktivitas ini sejak awal 2012. Dalam setahun itu, kata dia, tak kurang dari 10 ekor harimau sumatera telah diolah menjadi omsetan. “Bisa jadi, perburuannya berlangsung sejak bertahun-tahun lalu,” katanya.

Untuk memperkuat ceritanya, Abdul Gayo memperlihatkan beberapa foto dan rekaman pembicaraan yang disadap dari para pelaku melalui jaringan informannya di lapangan. “Saya memiliki informan di lokasi kejadian di Aceh Tengah dan Bener Meriah,” ujarnya. Salah satu rekaman yang dia dapat adalah rekaman transaksi penjualan yang terjadi pada 2 Desember 2012 dari seorang informan, sebut saja bernama Udin Gayo.

Rekaman itu memang bukan transaki omsetan harimau sumatera, melainkan macan dahan (Neofelis nebulosa) dengan ukuran tubuh sepanjang 2,10 meter yang ditangkap dari kawasan hutan Linge, Aceh Tengah. Macan dahan, seperti harimau sumatera, termasuk spesies langka dan dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999. Dari para informannya, Abdul Gayo juga mendapat kabar, kawanan pemburu dan pembuatan omsetan hewan langka dan dilindungi itu melibatkan oknum aparat keamanan, baik yang masih aktif maupun yang desersi.

Bahkan, kata Abdul, lokasi transaksi yang diamati Udin Gayo berada di sebuah asrama tentara di Takengon. Dari informasi terjadinya transaksi itu pula, Abdul Gayo mengetahui, macan dahan dan harimau sumatera yang dijadikan omsetan diburu tak hanya dari kawasan hutan Linge, melainkan juga dari daerah Nagan Raya dan Meulaboh. Kawasan tersebut merupakan bagian dari kawasan hutan Taman Nasional Gunung Leuser.

Untuk membuktikan kebenaran informasinya, Abdul Gayo mengajak Gatra menemui salah satu oknum desertir tentara asal Medan yang beberapa tahun cawe-cawe di bisnis ini. Sebut saja namanya Ucok alias Bang Pul. Ia tinggal di sebuah kompleks dekat Rumah Sakit Sunggal, Medan. Ucok mengaku biasa menjual omsetan harimau sumatera seharga Rp 30 juta-Rp 40 juta per ekor, tergantung panjangnya. “Kalau panjangnya sampai dua meter, harganya bisa sampai Rp 40 juta,” katanya dengan logat Batak yang kental.

Seturut ceritanya, bisnis ini memang bisnis haram yang penuh risiko. Pemesan mesti jelas benar diketahui identitasnya, jangan sampai terpergok aparat keamanan yang menyamar. Untuk itu, peminat yang serius biasanya diberi waktu empat hari untuk menyelesaikan transaksi. “Jika tidak ada kepastian, omsetan akan dijual ke pihak lain,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang didapat dari beberapa informan, tempat pembuatan omsetan yang terbesar ada di kawasan Desa Lampahan, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah. Abdul Gayo bercerita, beberapa waktu lalu, anak buahnya berhasil menemukan tiga ekor harimau sumatera yang telah dijadikan sebagai omsetan. Hewan-hewan malang itu diburu dari kawasan Bukit Rata, Lhokseumawe.

Abdul Gayo pun mengajak Gatra mendatangi lokasi dimaksud. Dari pantauan Gatra, rumah yang dicurigai sebagai pusat produksi omsetan yang memasok geng Ucok itu berada di belakang sebuah sekolah menengah pertama Lampahan. Menilik lokasinya, agak aneh juga jika aktivitas ilegal ini dapat berlangsung aman tanpa terpantau aparat. Sebab lokasi tersebut berada tak jauh dari kantor Polsek Lampahan dari arah Bireun, persis di sebelah kanan jalan sebelum turunan simpang jalan ke kiri.

Jika sampai di kawasan itu, melongoklah ke arah rumah kedua dan ketiga. Di sanalah tempat produksi omsetan harimau sumatera dan macan dahan itu berada. Selain omsetan, tim Abdul Gayo juga pernah menemukan dua lembar kulit harimau yang masih segar, yang disimpan di sebuah rumah milik warga yang diketahui bernama Aman Item di Desa Kute Keramil, Kecamatan Linge Isaq. “Kedua kulit harimau sumatera itu diambil dari hasil tangkapan di kawasan Hutan Linge, Aceh Tengah,” kata Abdul Gayo.

Berdasarkan informasi dari si empunya kulit harimau, barang itu akan dijual seharga Rp 20 juta sehelai dengan ukuran panjang 160 sentimeter dan 185 sentimeter. Saat ditemukan, kedua lembar kulit harimau itu sedang diawetkan dengan cara direndam dalam sebuah ember berisi ramuan tradisional. Sayangnya, kata Abdul Gayo, timnya tidak berhasil mendokumentasikan karena tidak diizinkan sang pemilik.

Untuk menindaklanjuti temuan itu, Abdul Gayo bersama timnya melaporkan informasi tersebut beserta beberapa barang bukti kepada Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Amon Zamora. Menurut Abdul Gayo, Amon saat itu menjanjikan segera menindaklanjuti temuan tersebut. “Beliau bilang akan mencari cara yang ideal untuk menindak pelaku, tetapi tetap mengamankan posisi para informan lapangan seperti Udin,” tutur Abdul.

Ketika itu, direncanakan sebuah operasi pada 2 Desember 2012, untuk menggerebek transaksi penjualan omsetan macan dahan di sebuah kompleks tentara. Rencananya, operasi itu dilakukan pukul 13.48, saat transaksi berlangsung. Sayangnya, entah mengapa rencana itu batal, sehingga transaksi tetap terjadi dan tidak ada satu pun pelaku yang ditangkap. “Kabarnya, selain oknum aparat militer dan polisi, kawanan mafia omsetan hewan dilindungi ini juga melibatkan beberapa oknum pejabat sipil Aceh, antara lain dari DPRK Takengon,” ujar Abdul Gayo.

Keterlibatan mereka, kata Abdul, bisa jadi membuat aparat BKSDA jeri juga untuk melakukan penindakan. Bahkan, kata dia, sebelum transaksi omsetan macan dahan, terjadi transaksi penjualan selembar kulit harimau sumatera yang di jual ke Medan dari Takengon. Kulit harimau itu dibawa dengan mobil Toyota Innova warna silver bernomor BK-1839-EO, yang kabarnya milik seorang anggota sindikat.

Kepada Gatra, Amon Zamora mengakui mendapat laporan itu, termasuk dugaan keterlibatan oknum polisi dan anggota TNI. Namun, menurut Amon, laporan itu tidak dilengkapi dengan dua alat bukti sebagai bekal untuk bertindak. Atas alasan itulah, BKSDA Aceh belum bisa bertindak. “Saya pikir, kalau ada bukti yang jelas, kenapa takut,” kata Amon, menepis tuduhan bahwa pihaknya jeri bertindak karena ada oknum polisi dan tentara di balik mafia itu (lihat: Jika Ada Bukti, Kenapa Takut?).

Pada 4 Desember, tim informan Abdul Gayo juga mendapati dua lembar kulit harimau sumatera yang berada di Kecamatan Linge Isaq milik Aman Item telah terjual Rp 30 juta. Transaksi ini terjadi sekitar pukul 12.00. Pembelinya seseorang dari Medan. Pada hari yang sama, tim informan mendapati enam lembar kulit harimau sumatera di sebuah rumah di kawasan asrama tentara di Takengon.

Pada 5 Desember lalu, kata Abdul Gayo, juga terjadi transaksi omsetan harimau sumatera sebanyak dua buah, dengan harga masing-masing Rp 40 juta dan Rp 25 juta. “Panjang badan 2 meter lebih dan berat 190 kilogram,” ujarnya. Barang itu dibeli seorang oknum tentara. Lalu, esok harinya, tim informan kembali beroleh kabar bahwa seorang desertir tentara asal Medan melakukan negosiasi pembelian tiga ekor harimau. Selain itu, menurut tim informan, oknum desertir tentara itu juga mencari cula badak dan gading gajah.

Dua hari kemudian, tim informan Abdul Gayo beroleh kabar terjadinya transaksi satu omsetan harimau, dengan panjang badan 197 sentimeter. Lagi-lagi, pembelinya adalah oknum tentara dari Takengon. Informasi terakhir yang dapat dikumpulkan informan, ada dua ekor harimau sumatera yang dikirim sindikat itu dari Aceh ke Medan. “Pembelinya seorang keturunan Cina asal Medan yang tinggal di Jalan Amaliun,” kata Udin Gayo, yang bertugas menyadap informasi.

Ketua Yayasan Leuser Internasional, Jamal M. Gawi, mengaku pernah mendapat laporan soal adanya sidnikat ini. “Saya prihatin atas situasi ini,” katanya kepada Gatra. Maklum, yayasan yang berdiri sejak awal 1990-an itu merupakan yayasan pertama yang dibentuk untuk mengelola kelestarian kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.

Kata Jamal, populasi harimau sumatera saat ini kurang dari 200 ekor, tepatnya 150-130 ekor. Karena itu, ia khawatir, jika perburuan liar itu tidak dihentikan, dalam waktu dekat spesies harimau terakhir di Indonesia ini akan punah menyusul kawan-kawan mereka di Jawa dan Bali yang punah lebih dulu, puluhan tahun lalu. “Jika setahun yang diburu mencapai 10 ekor saja, itu sudah hampir 10% dari populasi,” ujarnya. Karena itu, ia berharap aparat BKSDA dan aparat keamanan segera bertindak menggulung sindikat tersebut.

Abdul Gayo geram pada sikap lamban aparat BKSDA dan aparat keamanan dalam menindak dan memberantas sindikat itu. “Harimau sumatera adalah hewan langka. Konflik antara harimau dan warga di sekitar kawasan Aceh Tengah kerap terjadi. Saya tambah prihatin, semoga oknum-oknum ini segera ditangkap,” katanya.

M. Agung Riyadi, dan Averos Lubis (Takengon)

Amon Zamora: Jika Ada Bukti, Kenapa Takut?
Kepala BKSDA Aceh, Amon Zamora, memberi tanggapan atas informasi tidak adanya tindakan BKSDA terhadap perburuan harimau sumatera untuk dijadikan hewan omsetan oleh oknum-oknum di beberapa wilayah Aceh hingga Takengon. Kepada Gatra, 20 Februari lalu, melalui telepon seluler, dia memberi jawaban. Berikut petikannya:

Benar ada pengaduan kepada BKSDA soal sindikat perburuan harimau sumatera di Aceh Tengah yang melibatkan oknum polisi, tentara, dan pejabat sipil?
Ya, ada yang menyampaikan dalam laporan ini oknum polisi, lalu ada oknum TNI. Kemudian kembali bertanya, adakah bukti itu polisi atau TNI. Kita jangan hanya melapor tanpa ada alat bukti. Kita harus pegang dua alat bukti. Lalu, kalau mereka mengatakan TNI, kita ikut-ikutan mengatakan. Kalau ada masalah hukum, kita pula yang diproses.

Apakah BKSDA berkomitmen membantu mengungkap sindikat ini?
Itu salah satu tugas yang dipercayakan kepada BKSDA untuk menjaga kelestarian satwa liar. Salah satunya, ya, harimau sumatera. Kami komit. Ada bukti, langsung kami jalan. Tapi harus kumpulkan keterangan.

Pihak pengadu sudah memberikan beberapa bukti, tetapi kenapa belum diambil tindakan?
Hingga kini belum ada bukti-bukti yang diberikan LSM kepada BKSDA di Aceh soal adanya perburuan harimau sumatera itu.

Apakah pihak BKSDA takut karena banyak oknum tentara dan pejabat sipil yang terlibat?
Saya pikir, kalau ada bukti yang jelas, kenapa kita harus takut. BKSDA mau menemani. Apalagi kalau ada masalah dengan undang-undang. Kita bicara kepada orang berpangkat tinggi untuk menyelesaikan masalah. BKSDA akan tetap jalan melakukan tindakan. Kalau pihak LSM tidak percaya kepada BKSDA, silakan lapor ke polda. Kalau tidak percaya juga ke polda, silakan diadukan ke Mabes Polri.

Majalah GATRA  Edisi 17 / XIX 6 Mar 2013

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s