LAPORAN UTAMA

Teperdaya Rayuan Raihan

Investasi emas menggiurkan yang membuai mimpi para investor. Tersadar setelah bonus tersendat. Prakteknya mengarah ke pidana.

Sebut saja dia Asmar Rakandani. Lelaki 40 tahun yang sedang stres berat. ”Saya tidak bisa tidur, setiap malam harus minum obat penenang,” katanya. Asmar memang sedang terpukul. Duitnya Rp 1,6 milyar terancam menguap. Apalagi, itu bukan miliknya semua, sebagian hasil ngutang. Ulahnya yang bernafsu menginvestasikan uang di perusahaan bernama Raihan Jewellery (RJ) menjadi pangkal persoalan.

Perusahaan yang berpusat di Medan ini menawarkan produk investasi emas kepada bapak tiga anak itu, dengan bunga 2,5% per bulan. Bila dibandingkan dengan bunga bank yang tak sampai 10% per tahun, tentu menarik hati. Apalagi, investasinya emas, terbayang keuntungan bertumpuk di pelupuk mata. ”Presentasinya waktu itu juga bagus,” Asmar mengenang.

RJ menawarkan produk emas batangan dengan harga 20%-25% lebih tinggi dari harga logam mulia Aneka Tambang (Antam). Konsekuensinya, investor diberi dua pilihan jenis investasi agar mendapat untung. Pertama, kontrak emas fisik. RJ memberikan bonus atau fixed income setiap bulan selama periode tertentu kepada setiap investor yang telah membeli emas tadi. Besarnya 1,5%-2,5% per bulan dari harga beli selama periode kontrak enam bulan.

Skema lainnya adalah investasi emas non-fisik. Emas yang telah dibeli investor dititipkan kembali kepada RJ. Lalu nasabah diberi bukti pembayaran dan surat perjanjian investasi, dengan kontrak investasi berdurasi enam bulan atau 12 bulan serta bonus tetap bulanan 4,5% dan 5,4% dari nilai investasi nasabah. Jika masa kontrak berakhir, nasabah bisa menjualnya kembali kepada RJ seharga pembelian awal.

Asmar pilih investasi pertama. Rentang September 2012 hingga November 2012, ia enam kali membeli emas dari RJ, hingga dibenamkannya duit Rp 1,6 milyar itu. Total emas yang ia beli mencapai 2,3 kilogram. ”Semua saya lakukan karena marketing yang selalu merayu,” ujar warga Ngagel, Surabaya, itu.

Apalagi ada jaminan dari Theresia Rosiana, pimpinan cabang RJ Surabaya, bahwa investasi itu aman karena yang punya perusahaan, Muhammad Azhari, adalah konglomerat. Duit investasi Asmar bisa saja ditanam di beberapa perusahaan Azhari.

Memang, selain bergerak di investasi emas, Azhari memiliki beberapa bisnis lain. Misalnya Swalayan Raihan dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah Ar-Raihan di Langsa, Aceh. Lalu studio foto Lensa 10 di Medan. Ada juga toko emas, Rumah Sakit Umum Siti Khadijah, serta PT Raihan Bumi Mandiri Energi yang bergerak di bidang transportasi batu bara.

Tentu saja hal itu membuat Asmar mantap berinvestasi di RJ. Mimpi mendapat penghasilan dari bunga 2% per bulan atas investasi Rp 1,6 milyar membuatnya selalu tersenyum. Namun senyumnya pudar setelah tiga bulan. Dari enam kali investasi, cashback yang ia dapatkan tidak rata. Ada yang baru mendapat sekali, dua kali, dan paling banyak baru sampai tiga kali, selebihnya macet. ”Tidak ada lagi yang saya dapatkan. Yang sudah saya terima baru Rp 100 juta,” paparnya.

Asmar pun meminta pertanggungjawaban bagian marketing RJ, tapi lepas tangan. Beberapa investor lain mengalami hal yang sama. Misalnya Laniwati, yang kemudian bersama Asmar melaporkan masalah ini ke polisi. Namun tindakan itu, menurut Asmar, malah membuat Laniwati yang sempat terekspose media ditekan bos RJ, Azhari. ”Dia diancam dituntut balik jika terus menuduh, karena itu pencemaran nama baik,” tutur Asmar.

Untuk menghindari hal yang sama, kepada Gatra, Asmar pun meminta agar jati dirinya disamarkan. Laniwati yang dihubungi Gatra juga menolak memberikan keterangan. ”Semua sudah saya serahkan ke polda. Saya tidak mau diekspose lagi,” katanya.

Jalan keluar dari masalah ini sebenarnya telah dibahas para investor yang merasa dirugikan dengan Azhari, Desember lalu di Surabaya. Azhari berjanji akan membayar, tapi ada perubahan persentase, yang tadinya cashback 2% turun menjadi 1%. ”Namun tetap saja sampai saat ini dia tidak mampu bayar,” kata Asmar.

Menurut Theresia Rosiana, default di Surabaya terjadi sehabis liburan Tahun Baru. Saat itu, semua transaksi macet. Dia sempat bertanya kepada temannya di Medan. Katanya, perusahaan sedang terganggu, karena perusahaan transpor batu bara Azhari sedang bermasalah.

Persoalan ini juga terpicu oleh aksi investor di Medan, yang mencairkan dananya pada bulan September. Akibatnya, perusahaan jadi tidak liquid, sehingga terjadi kemacetan pembayaran. Puncaknya terjadi pada 22 Desember 2012. Ketika dijanjikan pembayaran cashback pada 2 Januari 2013, ternyata tak terlaksana.

Theresia mengaku bahwa dirinya juga korban. Ia ikut berinvestasi dan merugi. Karena itu, ia tak mau disalahkan. ”Semua yang saya lakukan sudah sesuai dengan prosedur. Baik marketing maupun nasabah yang bergabung ke Raihan sudah mengetahui risiko itu. Dan mereka membeli emas di sini tanpa ada paksaan, tanpa rayuan dan tipu-tipu,” katanya.

Di Surabaya sendiri ada sekitar 380 investor, dan 100 di antaranya tenaga marketing RJ. Emas yang terjual mencapai sekitar 500 kilogram. Dalam prosesnya, dana yang masuk ke kas di Surabaya juga langsung ditarik ke Medan, hingga tak ada sisa di laci. ”Saya juga yang biasanya nalangin sewa kantor,” kata Theresia.

Pemilik RJ, Muhammad Azhari, menepis anggapan bahwa investasi ini membuat rugi pemodal. Yang sebenarnya terjadi, sejak Januari 2012 harga emas tak kunjung naik. Sementara itu, hingga Oktober 2012, RJ yang berdiri sejak April 2011 masih membeli emas dari nasabah sebanyak 1 ton, dengan harga 680.000 per gram. Sedangkan Antam mematok harga 550.000 per gram.

Hal itu membuat perusahaan rugi besar, yang berdampak tersendatnya pembayaran bonus kepada investor. Lalu, sejak 3 Januari 2013, perusahaan memutuskan tidak menjual emas batangan kepada investor, sembari menunggu membaiknya harga. Sejak beroperai, RJ telah menjual total 1,9 ton emas.

Azhari menghitung, kerugian RJ sekitar Rp 500 milyar. Saat ini, kewajiban cashback dan komisi per hari sekitar Rp 2 milyar. Terkait dengan potensi kerugian yang bisa diderita investor, Azhari berkomitmen menyelesaikannya. ”Saya pribadi berniat mengembalikan hak dana-dana nasabah,” katanya.

Memang tidak akan menutup kerugian itu sekaligus. Bonus akan dibayar, meski tersendat. ”Jadi, tidak berarti tak ada pembayaran bonus. Raihan Group tidak ada niat mengumpulkan dana nasabah sebanyak-banyaknya, lalu lari,” tutur Azhari. Hal ini sebenarnya sudah ia informasikan kepada semua investor di Medan, Surabaya, dan Jakarta.

Pantauan Gatra di Medan, aktivitas kantor RJ di Perumahan Taman Setia Budi Indah biasa saja, tak ada demo atau investor yang datang meminta ganti rugi. Azhari terlihat berbincang santai dengan beberapa kliennya. Di Jakarta, kantor RJ di kawasan Mangga Dua Square terkunci. Tidak terlihat karyawan keluar-masuk ruangan, meski seorang office boy mengaku kantor itu buka. Suasana sepi juga terlihat di kantor RJ di kawasan Ruko Landmark, Jalan Indragiri, Surabaya.

Kini, sembari mencari akal, Azhari mengganti kerugian investor, juga menunggu dipanggil polisi Surabaya. Sudah ada 10 investor yang melapor. ”Namun kami belum menyimpulkan apakah kasus ini mengarah pada tindak pidana penipuan dan penggelapan atau mengarah ke utang-piutang atau perdata,” ujar AKBP Suhartoyo, Kepala Sub-Bidang Penerangan Masyarakat Polda Jawa Timu,r kepada Nur Cholish Zaein dari Gatra.

Azhari mengaku bahwa perusahaannya bukan lembaga tipu-tipu karena memiliki izin perdagangan legal dan akta pendirian. Namun Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditas menilai praktek yang dilakukan RJ sama sekali berbeda dari sistem transaksi di perdagangan berjangka komoditas. Malah menjurus ke praktek money game yang bisa dianggap pidana.

Mukhlison S. Widodo, Jennar Kiansantang, Gandhi Achmad (Surabaya), dan Averos Lubis (Medan)

Majalah GATRA Edisi 18 / XIX 13 Mar 2013

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s