LAPORAN UTAMA

Selalu Senang Bersama Halimah

Jenis psikotropika terlarang dilegalkan di beberapa negara lain. Punya efek ringan, meski bisa pula membahayakan bila dikonsumsi berlebihan. Jadi subtitusi ekstasi.

Dewi Elmira, sebut saja begitu, kapok tak mau lagi bersenang-senang berlebihan bersama Happy Five. Sejak tahun 2011, perempuan 32 tahun ini mengerem kebiasaannya mengonsumsi pil warna merah muda itu. Padahal, sebelumnya, sejak akhir 2009, ia akrab dengan Happy Five setelah seorang teman mengenalkannya. Efek senang dan bahagia membuat ia memuja obat yang di kalangan pemakai biasa disebut Halimah itu.

Saat itu, Dewi bisa menelan dua biji pil itu sekaligus dalam sehari. Membuatnya sejenak melupakan masalah dunia. Namun konsumsi yang menggila itu juga berakibat buat dompetnya. Harga eceran sebutir Happy Five adalah Rp 150.000 hingga Rp 200.000. Sedangkan bila membeli paket satu strip berisi 10 butir, harganya Rp 900.000 hingga Rp 1,2 juta. ”Tabungan saya menyusut hingga puluhan juta,” katanya.

Tak mau bobol, Dewi pun mulai menghentikan konsumsi besar-besaran. Untunglah, Happy Five tidak membuat dirinya sakaw atau ketagihan. Ia tetap mencarinya, meski hanya sebulan sekali mengonsumsi. Meski punya efek ringan, menurut Dewi, Happy Five juga bisa membuat orang hilang ingatan dalam jangka pendek atau istilah bagi pemakai ”skip”.

Dewi pernah mengalami skip ini. Ketika itu, dia mengonsumsi lebih dari dua butir Happy Five di sebuah tempat. Namun tiba-tiba dia sadar sudah kembali ke rumahnya. Dewi tak ingat sudah berputar-putar naik Mercedes New Eyes sendirian. Bahkan dia sempat ke sebuah kedai makanan cepat saji dan bertransaksi di sana. ”Dan ketika sampai di rumah, saya tidak ingat sama sekali sudah beli makan segala,” kata Dewi.

Konsumsi berlebih Happy Five pernah pula membuat Alex Wilson, juga bukan nama sebenarnya, seorang warga di kawasan Bilal Ujung, Medan, pingsan. Sebelum tak sadarkan diri, ia mengalami denyut nadi yang kencang, keringat berlebihan, lalu gemetaran hingga berujung distorsi pandangan dan pikiran serta sulit berbicara hingga membuatnya pingsan. Untunglah, istrinya segera membawanya ke rumah sakit.

Alex berkenalan dengan pil yang kadang juga berbentuk seperti permen cokelat itu saat masih kuliah. Di Medan, pil ini memang mudah didapat. Apalagi, kini yang menjual bukan lelaki sangar atau remaja kumal seperti di film Hollywood, melainkan bisa didapat dari perempuan cantik yang menjualnya. ”Tambah tergoda saja untuk membeli,” kata Alex.

Harganya pun beragam. Namun, kalau mau membeli, tak boleh eceran satu biji atau dua biji, tapi harus paketan. ”Minimal beli 10 butir,” tutur Alex. ”Ada juga paket berisi lima butir. Jadi, pandai-pandailah menawar,” katanya. Harga sebutir Happy Five di Medan bervariasi. Tergantung kualitasnya, dari yang biasa sampai luar biasa, rentang harganya Rp 70.000 hingga Rp 200.000.

Alasan pegawai sebuah perusahaan konstruksi itu sampai sekarang masih sering ”nekan” atau mengonsumsi Happy Five adalah sebagai tempat pelarian. ”Kalau stres saat urusan kerjaan, baru saya ber-happy-happy dengan Happy Five,” tuturnya sambil terkekeh.

Banyak konsumen lebih memilih Happy Five karena lebih murah ketimbang ekstasi, yang harganya Rp 200.000 hingga Rp 300.000. Selain itu, efek negatif yang didapat karena mengonsumsi Happy Five relatif lebih ringan.

Alex menceritakan, karena overdosis mengonsumsi ekstasi, ada temannya yang urat sarafnya rusak, menjadi gila, sering marah-marah dan berbicara sendiri. Memakai Happy Five juga lebih praktis, tinggal tenggak. Tak seperti putaw yang harus membeli jarum suntik dan sabu yang masih perlu bong. ”Belum lagi aksi bakar-bakarnya,” kata Alex.

Menurut Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan, Lucky Slamet, Happy Five biasanya dikonsumsi pemakainya buat kegiatan rekreasi atau senang-senang. Bahan utamanya nimetazepam, jenis psikotropika yang dapat membuat pemakainya mengantuk, rileks, dan teler.

Setelah dikonsumsi, Happy Five dengan cepat terdistribusi ke otak. ””Sebenarnya ini untuk pengobatan sedasi bagi orang yang nggak bisa tidur. Tapi ini yang diambil efek fly-nya. Karena itu, produk ini di beberapa negara tidak disetujui peredarannya,” kata Lucky.

Berbeda dari ekstasi yang dilarang di semua negara, ada negara yang melegalkan obat jenis ini. Di Taiwan dan Jepang, Happy Five resmi terdaftar. Peraturan yang berbeda di tiap negara inilah yang membuat Happy Five lebih mudah didapat ketimbang ekstasi.

Pada beberapa kasus, produk ini digunakan sebagai pengganti ekstasi. Jika ekstasi harus diracik terlebih dulu, Happy Five yang berbentuk tablet tinggal dikonsumsi langsung. Produk ini banyak disalahgunakan di Jepang dan Malaysia. Bahkan, menurut laporan International Narcotics Control Board tahun 2012, pada 2010 ditemukan pabrik yang memproduksi Happy Five di Malaysia. ”Ini berarti sudah dekat ke kita,” ujar Lucky.

Lucky menambahkan, Happy Five berbeda dari zat untuk teler dari turunan katinon. Happy Five masuk jenis psikotropika, sedangkan katinon termasuk narkotika. Narkotika memiliki sifat ketergantungan, sedangkan psikotropika memiliki sifat psikoaktif, hanya bekerja pada susunan saraf pusat yang selektif serta mempengaruhi efek mental dan perilaku. Psikotropika tidak memiliki efek ketergantungan. ”Tapi bahanyanya tetap sama,” kata Lucky.

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Mabes Polri, Brigadir Jenderal Arman Depari, menjelaskan bahwa Happy Five merupakan produk pabrikan dari Jepang dan Cina. Di Indonesia belum pernah ada yang memproduksi. Resminya bernama Erimin Five, diambil dari nama pabrik yang memproduksinya di dua negara itu.

Di Indonesia, Happy Five diklasifikasikan sebagai bahan psikotropika dan dilarang oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Jalur masuk Happy Five ke Indonesia utamanya dari Malaysia, karena di sana banyak penggunanya. Ada juga yang dari Singapura.

Di Indonesia, selain disebut Happy Five, juga diistilahkan sebagai “pil janda” lantaran warnanya merah muda. Sejauh ini, merek yang banyak disita polisi adalah AAA (triple A) dan C28. Kadar pada merek pertama lebih tinggi ketimbang merek kedua. Si pemakai biasanya minum satu butir-satu butir. Ada pula yang minum dua butir sekaligus biar lebih dahsyat. Tapi, kalau minum tiga butir, bisa bablas karena overdosis.

Arman menjelaskan, peredaran Happy Five masih melalui jaringan dan sindikat yang pernah terungkap. Sebab jaringan dan sindikat yang pernah diungkap polisi, selain menjual ekstasi dan sabu, juga menjual Happy Five sebagai produk sampingan. “Karena dijual oleh sindikat yang sama. Misalnya, ketika nggak ada barang seperti ekstasi, ya, Happy Five yang ditawarkan,” katanya.

Peredarannya paling banyak di Jakarta dan Bali. Para pemakainya, selain yang doyan dugem, juga yang biasa nongkrong di kedai dan jalanan. “Tentu mereka dari kalangan anak muda yang punya duit,” kata Arman. Tujuan menenggak pil ini adalah agar lebih percaya diri.

Mukhlison S. Widodo, Deni Muliya Baru, Edmiraldo Siregar, Hayati Nupus, dan Averos Lubis (Medan)

———————————————————————————————————————————————————————————————————–

Narkoba dan Psikotropika Populer

Methylenedioxy Methamphetamine (MDMA) atau Ekstasi
Obat ilegal yang bertindak sebagai stimulan dan psikedelik. Dapat menghasilkan efek stimulan, seperti meningkatkan rasa senang dan percaya diri serta meningkatkan energi. Efek psikedelik meliputi perasaan damai, penerimaan, dan empati.

Biasa dikonsumsi dalam bentuk kapsul atau tablet. Memiliki banyak efek fisik yang sama sebagai stimulan lainnya, seperti kokain dan amfetamin. Misalnya peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, terutama untuk orang dengan masalah peredaran darah atau penyakit jantung, gejala lain seperti ketegangan otot, gigi secara tak sadar merapat, mual, penglihatan kabur, pingsan, menggigil, dan atau berkeringat.

Dalam dosis tinggi, MDMA merusak kemampuan pengaturan suhu oleh tubuh. Obat lain yang secara kimiawi mirip dengan MDMA adalah MDA (methylenedioxyamphetamine, obat induk MDMA) dan PMA (paramethoxyamphetamine).

Selain itu, tablet ekstasi dapat mengandung zat lain, seperti efedrin (stimulan), dekstrometorfan (DXM, penekan batuk), ketamin (anestesi yang digunakan terutama oleh dokter hewan), kafein, kokain, dan methamphetamine.

Katinon
Merupakan alkaloid yang diekstrak dari khat (Chata edulis), tanaman herbal yang banyak tumbuh di Afrika. Katinon memiliki struktur kimia mirip obat-obatan yang sudah kita kenal, efedrin dan amfetamin. Perubahan struktur kimia pada katinon menghasilkan berbagai macam turunan zat atau komponen kimia baru, yang biasa disebut katinon sintetis.

Katinon sintesis punya potensi dan efek farmakologi yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan zat aslinya. Hingga saat ini, terdapat lebih dari 10 katinon sintesis. Beberapa yang sering disalahgunakan adalah mephedrone methylenedioxypyrovalerone (MPDV) dan methylenedioxymethcathinone (methylone).

Mephedrone juga dikenal dengan nama lain meow, plant food, bubbles, MCAT, dan bath-salt. Sedangkan methylone dikenal dengan nama lain explosion. Di antara turunan katinon itu, methylone memiliki struktur kimia yang sangat mirip dengan MDMA atau ekstasi, sehingga efek yang ditimbulkan juga mirip ekstasi.

Gejala yang muncul pada penggunaan jangka panjang obat-obatan itu antara lain paranoid, perdarahan hidung, rusaknya gigi, gangguan penglihatan, kaku pada rahang dan pundak, agitasi, tremor, serta demam atau berkeringat dingin. Penggunaan dalam jangka panjang akan meningkatkan risiko kematian karena overdosis. Banyak bukti menunjukkan, katinon sintesis mampu menimbulkan ketergantungan psikis dan fisik, seperti obat psikostimulan lainnya.

Methylone
Methylone adalah pengembangan dari senyawa alkaloid katinon yang ditemukan pada tumbuhan khat (Chata edulis) yang berasal dari Afrika. Memiliki struktur kimia dan efek yang mirip dengan MDMA (ekstasi). Pertama kali dipatenkan Peyton Jacob dan Alexander Shulgin pada 1996 sebagai obat antidepresan. Obat itu seperti LSD dan MDMA, yang awalnya sebagai obat psikiatris eksperimental. Namun penggunaannya berubah cepat dari kepentingan klinis menjadi kepentingan rekreasional (senang-senang).

Efek penggunaan methylone adalah bisa ”terbang” mirip dengan stimulan seperti amfetamin, MDMA, dan kokain. Efek ini termasuk euforia dan peningkatan energi. Pengguna juga merasa tak peduli dan lebih percaya diri jika mengonsumsi methylone. Methylonr memiliki kekuatan +4 atau lebih kuat dari turunan katinon lainnya. Penggunanya bisa merasa mual, muntah, pusing, kejang, dada berdebar, kram jantung, dan dapat berujung kematian.

Mengonsumsi mettylone bisa memaksa tubuh bekerja lebih cepat. Denyut jantung jadi meningkat ke titik yang bisa membuat penggunanya mengalami palpitasi atau denyut jantung tidak teratur, bahkan setelah ia berhenti minum obat.

Happy Five
Happy Five adalah sebutan populer nimetazepam, yang merupakan turunan benzodiazepine –bahan obat penenang. Nimetazepam adalah obat golongan hipnotik. Psikotropika jenis ini menyebabkan penggunanya rileks, mengantuk, teler, dan selalu ingin tidur. Obat ini cepat diabsorbsi dan memberikan efek hipnotik setelah 15-30 menit ditelan.

Berbeda dari ekstasi yang dilarang di semua negara, Taiwan dan Jepang melegalkan produk ini. Peraturan yang berbeda di tiap negara inilah yang membuat Happy Five lebih mudah didapat ketimbang ekstasi.

Produk ini banyak disalahgunakan di Jepang dan Malaysia. Bahkan, menurut laporan International Narcotics Control Board 2012, pada 2010 ditemukan pabrik yang memproduksi Happy Five di Malaysia.

Majalah GATRA Edisi  21 / XIX 3 Apr 2013

 

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s