EDISI KHUSUS PENDIDIKAN

Menapak Jejak Langkah Inspirator

Sekolah yang menambah aktivitas belajar dengan membuka kelas khusus tanpa memungut biaya. Beasiswa disiapkan bagi siswa yang berprestasi dan guru.

Dalam memilih jurusan, Fannie Tesiana menyukai bidang studi kimia. Sedangkan adiknya, Finnie, menggemari fisika. Namun perbedaan itu justru menyatukan kembar identik ini dalam menorehkan prestasi di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN). Finnie mendulang medali emas bidang fisika saat duduk di bangku SMP pada 2011, disusul oleh kakaknya, Fannie, yang meraih medali emas bidang kimia pada 2012. “Fisika itu lebih ribet dibandingkan dengan kimia,” kata Fannie, memberi alasan ketertarikannya terhadap kimia ketimbang fisika, kepada Gatra, Jumat pekan lalu.

Kini Fannie dan Finnie duduk di kelas X SMA Sutomo 1 Medan. Pihak sekolah memberi apresiasi tinggi terhadap kesuksesan Fannie melanjutkan tradisi SMA 1 Sutomo menyabet medali emas dalam ajang olimpiade sains. ”Kami turut bangga memiliki siswa yang berprestasi setiap tahun,” kata Khoe Tjok Tjin, Kepala SMA Sutomo 1 Medan.

Sekolah yang berlokasi di Jalan Martinus Lubis itu menjadi pionir bagi lembaga pendidikan di Sumatera Utara dalam mengantongi medali emas di ajang internasional. Adalah Kelvin Anggara yang menabalkan namanya untuk SMA Sutomo 1 di ajang International Chemistry Olympiad (IchO) di Budapest, Hongaria, tahun 2008.

Kelvin yang kini berusia 23 tahun menjadi inspirator bagi adik-adik kelasnya di SMA Sutomo 1 untuk terus menjuarai olimpiade sains, baik di dalam maupun luar negeri. Sederet medali yang kini dikoleksi sekolah itu tidak lepas dari belajar keras siswa untuk terus berkreasi dengan bimbingan seluruh guru. ”Kita patut memberi apresiasi terhadap siswa dan guru yang mengharumkan nama sekolah,” kata Khoe.

SMA 1 Sutomo berdiri pada pada 25 Februari 1958. Khoe sendiri baru dipercaya menjadi kepala sekolah tiga tahun lalu. Pria 46 tahun ini menghabiskan separuh usianya untuk mengabdi di sekolah ini. Di bawah kepemimpinan Khoe, proses penerimaan siswa baru belangsung lewat seleksi ketat yang melibatkan dewan pengurus sekolah. Dalam menyeleksi siswa berprestasi, SMA Sutomo 1 memilih siswa yang dianggap memiliki minat belajar tinggi, terutama mata pelajaran fisika, kimia, dan astronomi.

Siswa yang memiliki bakat itu diasah dan digembleng dengan disiplin. Peraturan sekolah tidak boleh dilanggar, terutama yang mengganggu proses belajar-mengajar. Selain waktu belajar yang tepat waktu sejak masuk pukul 07.30 hingga selesai pukul 14.30, mulai Senin hingga Jumat, pihak sekolah juga memberikan waktu pelajaran tambahan. ”Selama 80 menit dibuka kelas khusus setiap Sabtu, tanpa membebankan biaya,” kata Khoe.

Pihak sekolah hanya membebankan uang pangkal masuk sekolah Rp 1,5 juta. Ditambah uang SPP senilai Rp 380.000 per bulan untuk kelas reguler dan Rp 410.000 per bulan untuk kelas khusus. ”Perbedaan Rp 30.000 itu karena ada tambahan mata pelajaran bahasa Inggris,” ujar Khoe.

Khoe mengaku tidak menerapkan mata pelajaran istimewa di SMA Sutomo 1, selain mengikuti standar nasional pendidikan melalui kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Hanya saja, ada sejumlah materi pembelajaran tambahan yang mendapat prioritas khusus bagi siswa yang mengikuti olimpiade, berupa kurikulum olimpiade.

Begitu pun fasilitas yang diberikan pihak sekolah, kata Khoe, tidak jauh berbeda dengan kebanyakan sekolah lainnya, seperti laboratorium kimia, fisika, biologi, komputer, dan bahasa. Selebihnya, sekolah dilengkapi ruang perpustakaan, multimedia, dan tempat pelatihan olimpiade. ”Fasilitas disiapkan bagi siswa yang membutuhkan,” tutur Khoe.

Yang mungkin berbeda dibandingkan dengan sekolah lain, lanjut Khoe, terletak pada sistem evaluasi setiap mata pelajaran untuk setiap siswa. Mereka yang nilainya rendah dibimbing belajar lebih giat. Sebaliknya, pihak sekolah tidak menutup mata memberikan ”kado” berupa beasiswa secara priodik dengan jenis yang berbeda-beda bagi siswa yang berprestasi.

Insentif beasiswa juga diberikan kepada siswa dari keluarga kurang mampu, serta memberikan bantuan pendidikan sekolah terhadap guru dan pegawai sekolah yang memiliki anak berprestasi. ”Kesejahteraan pengajar menjadi salah satu prioritas lain dari pihak sekolah,” katanya.

Dalam setahun, siswa yang memiliki keunggulan dan menjadi juara kelas pun mendapat pengurangan biaya sekolah. Terutama siswa yang menyabet medali dalam ajang olimpiade. ”Keringanan membayar selama setahun,” ujar Khoe. Perhatian itu diberikan agar siswa tidak cepat puas setelah meraih juara. ”Dan, menyemangati siswa semakin giat belajar pada tahun berikutnya,” ia menambahkan.

Anthony Djafar, Cavin R. Manuputty, dan Averos Lubis (Medan)

—————————————————————————————————————————————

Pendulang Medali dari Sutomo Satu

Penggemar olahraga voli ini tampak bersahaja jika berbicara soal ilmu falak. Dialah Jason Rotanson, yang kini duduk di kelas XII SMA Sutomo 1 Medan. Prestasinya patut dibanggakan. Ia meraih medali perak kategori astronomi dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2012 di Jakarta.

Meski tidak mengantongi tiket menuju olimpiade internasional yang digelar di Yunani, Juli nanti, setidaknya ia mendapat kesempatan belajar banyak dari dosen-dosen Institut Teknologi Bandung. ”Saya semakin memahami pelajaran astronomi,” katanya kepada Gatra.

Selain Jason, ada juga Leonard. Penyumbang medali emas bidang astronomi OSN tahun 2011 ini telah mengoleksi banyak medali di tingkat Provinsi Sumatera Utara. Malah ia pernah memboyong medali perak di ajang International Olympiads on Astronomy and Astrophysics (IOAA) di Rio de Janeiro, Brasil, Agustus 2012. Leonard kini melanjutkan pendidikan di luar negeri.

Sedangkan sohibnya, Adrian Nugraha Utama, menyumbangkan medali emas bidang fisika dalam OSN 2011. Ia pun menyabet sederet medali, mulai tingkat daerah hingga jenjang internasional, seperti International Physics Olympiad (IPhO) di Estonia, negara di kawasan Baltik, Eropa Utara.

Adapun Finnie Tesiana lebih dulu meraih medali emas ketika masih duduk di bangku SMP Sutomo 1 Medan pada ajang OSN tahun 2011. Setelah masuk SMA, Finnie tidak terdengar kabarnya. Sedangkan kakak kembarnya, Fannie, meraih medali emas bidang kimia tingkat SMA pada OSN tahun 2012.

Anak pasangan Aditya Pranata dan Jenny Tjandra itu juga punya impian lain manakala ikut OSN berikutnya. Fannie menyiapkan diri menjajal lomba kimia internasional di Vietnam pada 2014. Sedangkan Finnie ingin sekali mengenyam pelatihan yang diprakarsai Yohanes Surya.

Averos Lubis (Medan)

——————————————————————————————————————————–
Medali Olimpiade Nasional dan Internasional yang Diraih SMA Sutomo 1 Medan

Tahun # Bidang Studi # Peraih Penghargaan # Jumlah Medali

2012
Kimia # Fannie Tesiana # 1 emas
Komputer # Peter # 1 perak
Astronomi # Jason Ratanson # 1 perak
Astronomi # Bram Azali # 1 perunggu
Komputer # Kenrick # 1 perunggu

2011
Astronomi # Leonar # 1 emas
Fisika # Adrian Nugraha Utama # 1 emas
Kimia # Hartono Wijaya # 1 perunggu
Komputer # Peter # 1 perunggu

2010
Astronomi # Leonard # 1 perak
Astronomi # Hendri # 1 perak
Fisika # Adrian Nugraha Utama # 1 perunggu
Kimia # Stephen Valianto # 1 perunggu
Kimia # Hartono Wijaya # 1 perunggu

2008
Kimia # Kelvin Anggara # 1 emas (di Budapest, Hongaria)

Majalah GATRA Edisi 26/ XIX 8 Mei 2013

 

 

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s