ASTAKONA

Ikon Pora-pora dari Danau Toba

Prihatin atas kondisi buruk lingkungan Danau Toba, Parlin Manihuruk mengajak warga menabur ikan pora-pora yang populasinya menyusut. Gerakan ekonomi rakyat pembuatan krispi ikan pora-pora yang melibatkan nelayan dan kaum perempuan.

Parlin Manihuruk merasa bersyukur. Makin banyak orang yang terlibat dalam usaha pembuatan krispi pora-pora. Tidak hanya nelayan yang diuntungkan karena ikan pora-pora tangkapannya dibeli dengan harga tinggi, melainkan juga para ibu rumah tangga. ”Lapangan kerja banyak tercipta,” ujar pria 53 tahun itu.

Pencapaian tersebut tidak tercipta dalam sekejap. Parlin bekerja keras cukup lama. Kisahnya begini. Warga di sekitar Danau Toba punya kebiasaan menyelam, menangkap dan bakar ikan di Danau Toba. Namun, tanpa disadari, kebiasaan itu membuat populasi ikan di Danau Toba kian menyusut, terutama ikan pora-pora.

Parlin tak tahan membiarkan kondisi ikan di Danau Toba yang makin memprihatinkan. Maka, pada 2003, Parlin berdemo soal populasi ikan. Tak berhenti di situ. Ia pun mengajak beberapa warga melakukan aksi tabur ikan. Terkumpul sekitar 11.000 ekor ikan pora-pora yang dilepas ke danau. Kebetulan kegiatan tabur ikan ini dihadiri Presiden RI ketika itu, Megawati Soekarnoputri. Mega sempat menyuarakan: ”Kalau Anda cinta Danau Toba, taburlah ikan satu ekor.”

Dalam jangka waktu lima tahun, Parlin terus mengamati perkembangan populasi ikan pora-pora yang ditabur warga. Pada 2009, ia mengambil kesimpulan, sudah banyak, bahkan puluhan ton, ikan pora-pora diambil warga dan dijadikan sebagai sumber mata pencaharian. ”Banyak nelayan yang hidup dari ikan ini,” kata Parlin kepada Gatra, awal bulan ini. Diduga, semenjak aksi tabur ikan itu, terjadi perkawinan silang antara ikan pora-pora di Danau Toba, ikan perak sungai, dan baby fish di Danau Singkarak, yang lokasinya berdekatan. Maka, membludaklah ikan pora-pora itu.

Parlin juga melihat ikan ini dipasarkan ke sejumlah tempat, seperti ke Parapat, Tongging, dan Silalahi. Lalu ikan pora-pora didistribusikan ke Pasar Sambu, Helvetia, Sukaramai, dan beberapa pasar di Medan. Ikan pora-pora diburu lantaran harganya relatif lebih murah dibandingkan dengan ikan laut. Pengaruhnya pun luas. Sejumlah petani bawang beralih profesi menjadi nelayan untuk mencari ikan pora-pora.

Parlin pernah diajak Purwadi, Kepala Badan Ketahanan Pangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara, untuk melihat budi daya ikan pora-pora di Bogor. Namun, sayang, kata Parlin, di sana ikan-ikan sejenis pora-pora ditambak. Diberi makan pelet. Sedangkan ikan pora-pora di Danau Toba bebas makan, seperti makan gulma dan apa saja yang ada di Danau Toba. ”Liar mereka dan berkembang alami,” ujarnya.

Beberapa bulan kemudian, datanglah tim peneliti dari Bogor melihat perkembangan ikan pora-pora di Danau Toba. Para peneliti itu takjub melihat begitu banyak ikan pora-pora di sana, tanpa perlu diberi makan. ”Tuhan yang memberi makan ikan-ikan di sini,” tutur seorang peneliti kepada Parlin.

Melihat peluang tadi, pada awal 2010 Parlin membentuk usaha gerakan ekonomi rakyat. Ia punya gagasan –bukan membuat peternakan ikan pora-pora– membuat krispi ikan pora-pora, selain ikan bandeng.

Ia sempat bertemu dengan Gubernur Sumatera Utara ketika itu, Syamsul Arifin. Ia mendapat bantuan alat untuk membuat makanan siap saji dari ikan pora-pora. Harga mesin itu, ungkap Parlin, Rp 15 juta-Rp 20 juta. Ada tiga unit mesin yang didapat dari Pemprov Sumatera Utara.

Usaha krispi itu membangkitkan gerakan ekonomi rakyat. Sebab, dalam membuat krispi, dibutuhkan lima tenaga kerja untuk setiap mesin. Di samping itu, satu orang bertugas membeli ikan pora-pora dari nelayan di kawasan Danau Toba, dua orang untuk mengemas siap saji ke dalam kotak, dan satu orang lagi untuk menjual krispi.

Ibu-ibu juga mendapat bagian pekerjaan, yaitu menggunting perut ikan. Lalu jumlah peternak ayam kian tumbuh di kawasan Danau Toba. Sebab salah satu campuran untuk membuat krispi pora-pora adalah telur ayam. ”Lapangan pekerjaan akan banyak tercipta,” katanya.

Nelayan pun kecipratan rezeki. Parlin bersedia membeli ikan dari nelayan Rp 3.000 per kilogram atau Rp 1.000 lebih mahal daripada harga pasar. Andai kata nelayan mau menggunting isi perut ikan sekaligus dengan rapi, Parlin akan membayar ikan dengan harga dua kali lipat.

Gerakan ekonomi rakyat ala Parlin ini juga membantu mengatasi krisis pangan dan mengurangi impor makanan serta menciptakan makanan bergizi. Menurut Parlin, ikan pora-pora kaya akan omega-3. Ikan ini pun akhirnya menjadi ikon Sumatera Utara, selain bika ambon.

Kini produknya merambah ke luar Sumatera Utara, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Bojonegoro. Di Medan, harga krispi ikan pora-pora Rp 15.000 per kilogram, sedangkan di Jakarta dijual Rp 20.000 per kilogram. Produksinya pun kini mencapai 1.800 kotak per hari. ”Kadang mencapai ratusan kotak per hari yang terjual,” ujarnya. Modal awal Rp 60 juta kini sudah balik.

Averos Lubis (Medan)

——————————————————————————————————————–

Khasiat Ikan Pora-pora

Ikan ini berukuran tidak lebih besar dari tangan anak kecil. Berwarna agak kehitaman. Setelah diolah, ikan ini banyak ditemukan di rumah makan di sekitar Danau Toba sebagai menu utama. Harganya tidak terlalu mahal, sekitar Rp 10.000 satu porsi mangkuk kecil. Di Medan, per kotak dijual Rp 15.000, sedangkan di Jakarta Rp 20.000. ”Harganya cukup terjangkau,” kata Parlin, ayah lima anak itu.

Walau tampak kecil, ikan pora-pora menyimpan banyak kandungan protein, kalsium, dan omega-3. Manfaatnya: meningkatkan gizi, mencerdaskan otak, meningkatkan hemoglobin darah, serta baik untuk dikonsumsi ibu hamil dan remaja putri, lalu meningkatkan produksi ASI pada ibu menyusui dan mencegah tulang keropos.

Averos Lubis

Majalah GATRA Edisi 34 / XIX 3 Jul 2013

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s