LAPORAN KHUSUS

Padam Semangat, Setelah Minta Maaf

Delapan perusahaan Malaysia dan dua perusahaan Singapura dituding sebagai biang kebakaran hutan dan lahan Riau hingga mengakibatkan kabut asap. Beberapa menteri sempat mengecam tingkah Singapura dan Malaysia yang membesar-besarkan kasus asap. Belakangan, Presiden Yudhoyono meminta maaf. Mengapa?

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Riau yang menyelimuti Singapura dan sebagian kota di Malaysia mendorong Presiden Susilo Bambang Yudhoyono angkat bicara. Bahkan, presiden mengingatkan agar para pejabat negara tidak melontarkan tuduhan kepada perusahaan perkebunan negara tetangga sebagai biang pembakar hutan. Akhirnya, Presiden Yudhoyono pun meminta maaf kepada negara tertangga yang kini terasapi.

Mungkin saja, permintaan maaf presiden itu meruapakan respons terhadap sikap Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Najib Razak yang menyatakan akan mengirimkan surat resmi kepada Presiden Yudhoyono untuk menawarkan bantuan mengatasi kabut asap. Kerja sama itu termasuk tindakan terhadap perusahaan yang terlibat pembakaran yang diduga disengaja.

Bahkan, Najib sudah memerintahkan Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Alam, Datuk Seri G. Palanivel, untuk bertemu dengan pejabat Indonesia. “Pertanyaan mengenai siapa pemilik lahan perkebunan itu bukanlah masalah saat ini. Tidak perlu ada pertanyaan apakah lahan itu dimiliki oleh Indonesia, Malaysia, atau Singapura, tetapi kedepankan tindakan terhadap mereka yang bertanggung jawab,” kata PM Najib.

Sikap serupa juga ditunjukkan oleh PM Singapura Lee Hsien Long. Ia menyebut Indonesia telah bersikap ramah karena Presiden SBY meminta maaf kepada Singapura dan Malaysia. Lee juga menawarkan bantuan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Riau. “Singapura siap bekerja sama dengan Indonesia, Malaysia, dan negara lain untuk mengakhiri bencana yang telah melandah wilayah kita ini. Kita perlu menempatkan solusi permanen untuk mencegah masalah ini terulang setiap tahun,” kata Lee seperti dilansir Channel News Asia, Selasa kemarin.

Sayangnya, ucapan Presiden SBY juga ikut “memadamkan” semangat para menterinya. Beberapa menteri sebelumnya cukup menyala-nyala menyatakan agar Indonesia tak begitu saja menerima klaim bersalah dan meminta maaf. Terutama Menteri Lingkungan Hidup, Balthasar Kambuaya, yang beberapa hari sebelumnya menyebut, kebakaran hutan dan lahan di Riau, justru paling banyak terjadi di lahan milik delapan perusahaan perkebunan yang sahamnya dimiliki Malaysia dan Singapura.

Kedelapan perusahaan yang sahamnya dimiliki warga Malaysia itu adalah: PT Multi Gambut Industri, PT Udaya Loh Dinawi, PT Adei Plantation, PT Jatim Jaya Perkasa, PT Mustika Agro Lestari, PT Rakksa Sejati, PT Tunggal Mitra Plantation dan PT Langgam Inti Hiberida. Sedangkan perusahaan yang sahamnya dimiliki Singapura adalah PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) dan Asia Pacific Resources International Ltd (APRIL). Markas kedua raksasa sawit dan kertas itu juga berada di Singapura.

Pernyataan Balthasar bukan tanpa dasar. Pihak Kementerian Lingkungan Hidup sebelumnya sudah melakukan investigasi di sejumlah lokasi kebakaran di Riau. “Berdasarkan temuan itu ada delapan perusahaan yang lokasinya kita termukan kebakaran. Ini yang terus kita tindak lanjuti. Jika sudah cukup bukti, akan kami ajukan ke pengadilan,” ujarnya dalam jumpa pers di Pekanbaru, Riau Sabtu pekan lalu.

***

Pernyataan menteri kelahiran Ayamaru, Maybrat, Papua Barat, 9 September 1956, ini juga didukung data dari satelit pemantau cuaca dan pendeteksi panas bumi (NOAA). Berdasarkan data yang dirilis Dinas Kehutanan Provinsi Riau, satelit NOAA pada Selasa pekan lalu berhasil mendeteksi 148 titik panas di Riau. Titik-titik api itu berada di lahan-lahan milik kedelapan perusahaan tadi. NOAA mendeteksi beberapa titik api di Desa Sering, Kecamatan Pelalawan, yang berada di kawasan hutan tanaman industri (HTI), dan perkebunan milik PT Langgam Inti Hibrida.

NOAA juga berhasil mendeteksi beberapa titik kebakaran lahan di kawasan perkebunan milik PT Bumi Reksa Nusa Sejati, di sekitar kawasan Desa Simpang Kateman, Kecamatan Palgiran dan Desa Bente di Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir. Titik-titik panas lain juga dideteksi berada di kawasan lahan milik perusahaan asal Malaysia tersebut, yaitu PT Tunggal Mitra Plantation, PT Udaya Loh Dinawi, PT Abdi Plantation, PT Jati Jaya Perkasa, PT Multi Gambut Industry, PT Bumi Reksa Nusa Sejati, dan PT Mustika Agro Lestari.

Selain itu, NOAA mendeteksi kebakaran juga terjadi di kawasan hutan tanam industri milik PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) dan APRIL. Data dari lembaga lingkungan World Resources Institute (WRI), juga menyebutkan Sinar Mas dan Raja Garuda Mas sebagai pemilik RAPP dan APRIL, sebagai penyebab terbesar kebakaran pada lahan konsesi. WRI merilis pernyataan itu berdasarkan peta pantauan kebakaran dari Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).

Pernyataan WRI sejalan dengan pernyataan Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), Kuntoro Mangkusubroto. Ia menyebut, menegaskan sejumlah besar kebakaran hutan berada di lahan yang dioperasikan raksasa kertas RAPP dan APRIL. “Jangan salahkan petani kecil atas kebakaran hutan ini,” kata Kuntoro kepada para wartawan beberapa hari lalu.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penganggulangan Bencana (BNPB), Dr. Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, berdasarkan pantauan NOAA, hampir 80% hotspot atau titik terjadinya kebakaran memang terjadi di luar kawasan hutan. Hanya 20% hotspot yang berada di kawasan hutan. Ia menyayangkan sikap Malaysia dan Singapura yang cuma bisa ribut. “Tanpa ada ribut-ribut soal asap di Singapura dan Malaysia pun BNPB jauh hari sudah mengalokasikan Rp 25 milyar untuk hujan buatan dan pemboman air,” katanya kepada Gatra.

Saat ini, BNPT masih fokus berupaya memadamkan api. Ia menyebut ada dua cara yang digunakan dalam mengatasi kebakaran hutan, yakni melalui darat dan melalui udara. Di darat dilakukan dengan mengerahkan manggala agni (pasukan pemadam api) dari TNI dan Brimob. Sementara di udara dilakukan dua metode, yakni Operasi Hujan Buatan/modifikasi cuaca dan Operasi pemboman air (water bombing). “Semua pesawat terbang dan helikopter tersebut dapat ditambah setiap saat sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Teknologi modifikasi cuaca ditangani para ahli dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Teknologinya adalah menyemai awan-awan potensial atau awan cumulus yang ada di atmosfer dengan bahan-bahan semai (garam dapur-NaCl) yang dijadikan seukuran tepung atau beberapa micron. “Garam tersebut memiliki sifat higroskopis. Artinya, menyerap butir-butir uap air yang ada. Lalu terjadilah proses tumbukan dan penggabungan di dalam awan sehingga terjadi hujan,” kata Sutopo.

Upaya ini diakuinya cukup sulit dilakukan karena saat terjadi banyak asap, awan-awan sulit tumbuh sehingga perlu perlakukan khusus dahulu. “Berdasarkan pengalaman pada minggu pertama adalah masa pengondisian. Atmosfer dibuat sedemikian rupa sehingga terjadi dinamika atmosfer yang mendukung terbentuknya awan-awan potensial,” kata Sutopo yang pernah mengabdi di UPT Hujan Buatan BPPT, selama tujuh tahun.

Sementara itu, untuk pemboman air, dilakukan dengan helicopter Bolco yang dilengkapi alat angkut yang dapat membawa 500 liter air sekali terbang untuk dijatuhkan di titik-titik api. Airnya diambil dari sungai atau badan air terdekat. Dalam sehari 1 helikopter mampu melakukan pemboman air sebanyak 8-10 kali. “Tergantung lokasinya,” ujarnya.

***

Dengan berbagai fakta yang menguatkan dugaan bahwa perusahaan Singapura dan Malaysia yang menyebabkan kebakaran, dan betapa repotnya Indonesia menghadapi kebakaran itu, wajar jika beberapa menteri bersikap keras. Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa sebelumnya menyatakan Indonesia tak akan meminta maaf kepada kedua jiran itu. “Tidak ada permintaan maaf. Saya kira pihak Singapura juga mengetahui bahwa ini selama bertahun-tahun kondisi sudah jauh lebih baik. Upaya-upaya pencegahan dari Indonesia telah membuahkan hasil,” kata Marty.

Dalam pembukaan sebuah event “ASEAN Senior Official Meeting On Energy (SOME)” di Nusa Dua, Jero Wacik menyindir protes Singapura dan Malaysia terkait dengan asap di Riau. “Kalau ada masalah dengan kita, ya bicara. Jangan teriak kemana-mana, kayaknya Indonesia ini jelek betul” kata Jero Wacik kepada Gatra. Sesuai prinsip ASEAN, kata Jero Wacik, kedua jiran itu seharusnya menghargai Indonesia.

Alih-alih menghargai, sikap kedua jiran itu malah seperti mau untung sendiri. “Kalau dikasih gas dari Indonesia senang, giliran dapat asap malah ribut ke dunia,” sindirnya. Apalagi, setelah dicek, pelakunya ternyata perusahaan Malaysia dan Singapura sendiri. “Ya malu dong,” ujar Jero Wacik. Ia meminta kedua negara untuk duduk bersama menyelesaikan masalah tanpa membesar-besarkannya ke telinga dunia.

Menangapi temuan pihak KLH, Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, juga sempat menyatakan akan mencabut izin perusahaan-perusahaan tersebut. Sayang sikap keras para menteri ini seolah padam usai permintaan maaf yang disampaikan Presiden SBY. Bahkan SBY mengingatkan para menterinya agar tak sembarangan menyatakan sikap. “Jajaran Pemerintah Indonesia, saya instruksikan untuk tidak memberikan statement yang tidak semestinya. Kalau ada perusahaan lalai, apakah itu perusahaan Indonesia, menyebutkan perusahaan asing yang dimiliki tetangga kita, itu juga tidak diperlukan,” kata SBY.

Usai pernyataan itu, ketika Gatra mencoba menanyakan tindak lanjut temuan KLH terhadap perusahaan milik Malaysia dan Singapura, Balthasar mendadak bungkam. Ia tak mau berkomentar sepatah kata pun soal itu. Padahal tadinya dia paling bersemangat mengungkap masalah ini. “Penjarakan saja orang yang bakar hutan itu. Jangan ambil gampangnya saja, membakar untuk menanam,” ujar Balthasar sebelumnya.

Sementara itu Zulkifli Hasan hanya mengeluarkan pernyataan normatif, ketika ditanya kapan pencabutan izin terhadap perusahaan tersebut dilakukan. “Sekarang ini fokus kita memadamkan api agar asap itu tidak pekat lagi. Kalau nanti ada persoalan-persoalan (pidana –red) nanti biarlah itu tugasnya Kapolri untuk melakukan penyidikan, hasil rapat tadi begitu,” katanya kepada Gatra.

Alih-alih bersikap tegas kepada perusahaan Malaysia dan Singapura, Zulkifli malah menyalahkan penduduk yang membuka lahan pertanian dan perkebunan sebagai penyebab kebakaran. “Di musim hujan nggak apa-apa, tapi kalau di musim kemarau itu menjadi buruk akibatnya. Sehingga kebakaran yang terjadi di lahan perkebunan, pertanian merambah ke kawasan (hutan industri —red.),” ujarnya.

***

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, menyesalkan permintaan maaf Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepada Malaysia dan Singapura. Ia mengatakan SBY menunjukkan jika diplomasinya lemah. “Sikap ini patut disayangkan. Pemerintah terkesan defensif dan menunjukkan lemahnya diplomasi lingkungan. Seharusnya dicari akar masalah dan ada penanganan bersama,” kata Fadli Zon, Selasa lalu.

Ia mengatakan, sudah banyak analisis yang mengaitkan peristiwa asap ini dengan keberadaan beking politik di perkebunan kelapa sawit. Perusahaan yang terlibat bukan saja perusahaan asal Indonesia, melainkan juga Singapura dan Malaysia. Tapi bukannya bersikap tegas menegakkan hukum kepada perusahaan-perusahaan itu, presiden malah minta maaf. “Permintaan maaf tanpa diiringi solusi seperti menampar muka sendiri,” kata Fadli Zon.

Dalam kasus ini, pihak perusahaan memang mengelak bertanggung jawab terhadap terjadinya kebakaran hutan di Riau. RAPP, meski pada Sabtu lalu mengakui adanya kebakaran hutan yang terjadi di lahan konsesi yang diolah oleh pihak pemasok, seluas 200 hektare, menyalahkan penduduk sebagai penyebab. Dalam rilisnya, pihak Sinar Mas, sebagai induk perusahaan RAPP, mengatakan bahwa sebagian besar kebakaran diakibatkan upaya pembersihan lahan oleh penduduk setempat.

Sinar Mas juga menyatakan tak ada kebakaran yang terjadi di unit konsesi yang terdaftar atas dua anak perusahaan lain —Golden Agri Resources yang terdaftar di bursa saham Singapura, dan PT Smart yang terdaftar di bursa efek Indonesia. Pihak APRIL juga menyatakan demikian. Sabtu pihak APRIL mengakui ada “sejumlah kecil” kebakaran hutan di lahan konsesi perusahaan tersebut. Namun mereka menyatakan, semua kebakaran itu berawal dari kebakaran di titik lain dan telah berhasil dipadamkan oleh tim pemadam kebakaran internal perusahaan tersebut.

M. Agung Riyadi, Sandika Prihatnala, Umaya Khusniah, dan Ade Faizal Alami

—————————————————————————————————————–

Kabut Asap yang Membingungkan

Berjalan di sepanjang lorong-lorong perumahan di kawasan dekat Harbour Front, Singapura, Selasa malam kemarin, serasa berada di negeri sendiri. Saban kali lewat dekat sebuah rumah, terdengar ucapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menyampaikan permintaan maafnya di televisi.

“Atas apa yang terjadi ini, saya selaku Presiden RI, meminta maaf dan meminta pengertian saudara-saudara kami di Singapura dan di Malaysia. Tentu tidak ada niat Indonesia atas apa yang terjadi ini. Dan kami bertanggung jawab untuk terus mengatasi apa yang sedang kami laksanakan sekarang ini,” kata Presiden SBY.

Pernyataan itu terus diputar di Channel News Asia, sejak pertama kali diucapkan, hingga siaran berita yang ditayangkan pada pukul 23.06 waktu setempat. Kabar permintaan maaf Presiden SBY itu seolah menjadi kemenangan besar buat negeri liliput itu atas protes mereka terhadap asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan di Riau yang menjangkau negeri mereka.

Singapura memang mendesak Indonesia minta maaf atas kasus ini. Tak mengherankan jika pernyataan maaf SBY “dirayakan” dengan cara menyiarkannya saban 30 menit. Berita serupa juga menjadi headline di Malaysia yang juga kena imbas asap dari Riau.

Toh, permintaan maaf itu seperti tak cukup bagi warga negeri berlambang kepala singa berbadan ikan duyung itu. “Singapore looks like a city smoke (Singapura tampak seperti kota asap),” kata Nge Cho Tiam, 34 tahun, warga setempat berkeluh kesah. Lelaki yang perawakannya mirip legenda bulutangkis Indonesia, Liem Swie King ini, mengaku harus memakai masker selama berhari-hari demi menghindari penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). “Two days I make a masker. Get out of smoke,” katanya lagi.

Nge bilang, Indonesia harusnya melakukan introspeksi diri soal ini. “Cuba nak Indonesia yang diberi asap kiriman. Bagaimane rasenya,” ujar Nge Cho Tiam dengan bahasa Melayu yang terbata-bata. Nge Cho Tiam tentu tak tahu, Indonesia justru menjadi pihak yang paling menderita akibat kebakaran ini.

Asap impor asal Indonesia memang bikin heboh Singapura. Ahmad Sun, 22 tahun, mengatakan hampir seluruh tempat di negerinya terdampak kabut asap kiriman dari Indonesia. “Sepanjang orang yang ramai berkunjung, baik itu turis atau warga Singapura menuju Merlion Park dan Orchad Road. Mereka memakai masker karena asap akut,” tuturnya.

Tetapi tak semua warga Singapura hanya mengeluh saja. Noordin Ali, 40 tahun, seorang warga Malaysia yang sudah menetap di Singapura selama puluhan tahun, mengaku menghargai sikap SBY. “Itu perbuatan elok dari Pak Presiden SBY,” katanya. Meski begitu, Noordin juga mengaku bingung. Sebab saat mampir ke Batam beberapa waktu lalu, ia membaca koran Indonesia, yang memberitakan, pelaku pembakaran hutan di Riau adalah perusahaan milik Malaysia yang sudah lama beroperasi di sana. “It’s so confused, ya? Sungguh membingungkan,” katanya.

Averos Lubis (Singapura)

Majalah GATRA Edisi 34 / XIX 3 Jul 2013

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s