LAPORAN KHUSUS

Waspada Kejahatan Musim Mudik

Hiruk-pikuk ritual mudik Lebaran selalu rawan berbagai aksi kejahatan. Mulai dari pencurian, pencopetan, perampokan, penjambretan, sampai pembiusan. Aparat dan masyarakat dituntut untuk lebih siaga.

Musim mudik Lebaran sudah di depan mata. Beberapa tetangga Mansyur di kawasan Depok, Jawa Barat, bahkan sudah ada yang pulang duluan ke kampung halaman. Sejujurnya, Mansyur selalu saja agak gentar untuk mudik. Maklum, sebagai pengguna angkutan mudik umum, lajang 31 tahun itu tahu persis ritual tahunan setiap menjelang Lebaran tersebut mengandung risiko tidak kecil.

Sudah ha rga tiket melambung tak keruan, tak nyaman pula karena harus berimpit-impitan dengan penumpang lain, kayak cendol. Belum lagi ancaman tindak kriminal selama perjalanan. Entah kecopetan, isi koper raib, dijambret, atau dihipnotis penjahat. Ancaman aksi pembiusan pun tak bisa dianggap remeh. ”Apalagi kalau kondisi kurang sehat, pasti rawan jadi korban kejahatan,” ujar Mansyur kepada Gatra.

Dua tahun silam, Mansyur sempat merasakan pahitnya kecopetan di dalam bus saat mudik Lebaran ke Palembang. Waktu itu, lantaran kondisinya kurang fit, dia mabuk perjalanan sampai muntah-muntah di dalam bus. Nyaris separuh perjalanan Jakarta-Palembang itu ditempuhnya dengan penuh derita. Keringat dingin mengucur, tubuh gemetar, dunia seakan berputar.

Nah, di saat sempoyongan itu, tas tangan bawaannya raib digondol maling. Masih untung, telepon selular serta dompetnya berisi duit dan surat-surat penting luput dari jarahan karena diselipkan di saku depan celana jinsnya. Mansyur yang hijrah ke Depok tahun 2006 itu sempat trauma, tak ingin mudik lagi di saat Lebaran. Tapi, nyatanya, Lebaran tahun lalu ia tetap saja mudik bersusah-payah.

Menjelang Lebaran tahun ini, lagi-lagi penjaja asuransi itu tak kuasa menahan hasratnya untuk mudik, agar bisa berlebaran bersama orangtua dan saudara-saudaranya di kampung halaman. Lantaran ekonominya masih seret, ia pun kembali memutuskan akan mudik menggunakan bus umum yang murah, akhir pekan ini. Betapa pun, perasaannya tetap saja diliputi sedikit waswas. ”Saya cuma bisa berdoa, semoga dijauhkan dari bala,” Mansyur berharap.

Bukan cuma Mansyur yang dicekam waswas setiap kali musim mudik Lebaran. Jutaan calon pemudik lainnya—pemudik tahun ini diperkirakan mencapai 17.4 juta orang, naik 4,5% dibanding tahun lalu yang 16,6 juta—terutama yang menggunakan angkutan umum murah, mungkin dilanda kekhawatiran serupa, meski mereka akhirnya tetap ngotot mudik. Maklum, di negeri ini sudah jadi tradisi bahwa Lebaran harus dirayakan di kampung halaman bersama orangtua dan handai tolan, apa pun risikonya.

Kekhawatiran para pemudik cukup beralasan. Fakta menunjukkan, di samping suasana tak nyaman tadi, aksi kejahatan selalu saja melonjak setiap menjelang Lebaran. Di Jakarta dan sejumlah kota lainnya, gejala lonjakan itu bahkan sudah terasa pada menjelang atau pun pekan pertama Ramadan, meski sasarannya praktis bukanlah pemudik. Memang belum diperoleh angka rinci. Tapi setidaknya hal itu bisa disimak dari gencarnya media massa memberitakan aksi kriminal.

Umumnya, para pelaku beraksi menggunakan senjata api. Di Jakarta, misalnya, selama menjelang dan pekan pertama Ramadan setidaknya terjadi delapan kali aksi perampokan berpistol. Salah satunya beraksi di rumah Rida Fahrudin di kawasan Depok, 6 Juli silam. Para pelaku diperkirakan lebih dari tiga orang dan bersenjata api itu berhasil menggasak dua unit mobil milik korban, Toyota Innova dan Toyota Rush. Korban dan warga tak berkutik karena pelaku mengumbar tembakan, untungnya ke udara.

Pelaku perampokan lainnya tak segan menembak korbannya, seperti terjadi di kawasan Kampung Makassar, Jakarta Timur, 17 Juli lalu. Korbannya seorang anggota TNI dan seorang guru, yang menderita luka tembak setelah menggagalkan aksi penggarongan sepeda motor di rumah kos-kosan di sana. Sehari sebelumnya, seorang anggota TNI menderita luka tembak di punggung dan di bahu saat menggagalkan aksi pencurian sepeda motor di Cilodong, Bogor, Jawa Barat. Satu dari empat pelaku tertangkap dan tewas dihakimi massa.

Beberapa aksi kejahatan itu sampai menelan korban jiwa. Sebutlah aksi perampokan di Bandarsribawono, Lampung Timur, Provinsi Lampung, 25 Juli lalu. Enam pelaku memasuki rumah korban dan langsung melepaskan tembakan hingga mengenai kepala korban, sang nyonya rumah. Pelaku menggasak sejumlah dus rokok berikut uang tunai Rp 10 juta di toko korban.

***

Kriminolog Universitas Indonesia, Prof. Ronny Nitibaskara, mewanti-wanti masyarakat agar makin waspada, terutama pada saat makin mendekati Lebaran. Pasalnya, seperti yang sudah-sudah, kejahatan kian melonjak setiap menjelang Idul Fitri. Adanya gap menjelang Lebaran, di mana kaum berpunya berkeliaran pamer kekayaan telah menimbulkan deprivasi sosial secara kolektif. Jadi, ”Kecenderungan kejahatan semakin meningkat menjelang Lebaran bisa dipahami,” katanya kepada Adistya Prabawati dari Gatra.

Sasarannya pun praktis melebar ke arah para pemudik langsung, atau objek yang terkait dengan pemudik seperti rumah kosong ditinggal mudik. Sasaran potensialnya terutama orang-orang yang tak terkawal atau lengah di perjalanan. Korban dicopet, atau dibius. Pada setiap musim mudik Lebaran, dipastikan sejumlah pemudik jadi korban pencopetan dan pembiusan.

Khusus aksi pembiusan, seperti yang acap terjadi, pelaku umumnya mengincar pemudik yang lugu dan sendirian. Dengan modus sok kenal sok akrab, pelaku mengajak korbannyangobrol. Setelah itu, sang pembius beraksi menawarkan minuman ringan atau kopi dalam kemasan yang sudah dicampur obat penenang. Korban biasanya sungkan menampik. Setelah korban tak sadarkan diri—biasanya sampai seharian—pelaku leluasa menyikat barang-barang milik korban.

Sebagian besar pemudik sudah mengantisipasi aksi pembiusan ini. Contohnya, Mansyur, yang berjaga-jaga dengan membawa bekal makanan dan minuman. Dengan begitu, ”Kalau ada yang menawari minuman, menolaknya jadi lebih leluasa dan beralasan,” kata Mansyur, yang selalu mudik sendirian. Bentuk antisipasi lainnya ditunjukkan tetangga Mansyur yang rutin mudik. Mereka selalu memilih mudik berkelompok sehingga bisa saling menjaga.

Menurut Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S. Pane, meningkatnya aksi kejahatan menjelang Lebaran merupakan siklus tahunan yang semestinya sudah diantisipasi aparat kepolisian. Namun, diakuinya, masalah itu jadi sulit teratasi karena konsentrasi polisi terpecah. ”Menjelang Lebaran polisi juga sibuk menangani lalu lintas, tidak hanya masalah keamanan,” kata Neta. Betapapun ia sangat mendukung upaya kepolisian mengamankan Lebaran.

Untuk meredam berbagai aksi kejahatan menjelang dan selama perayaan Lebaran itu, segenap Kepolisian Daerah (Polda) di Nusantara sudah bersiap dengan strategi jitu. Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), misalnya, menempatkan sejumlah sniper alias penembak jitu di titik-titik rawan kriminal. ”Kalau mendesak, bisa saja mengambil tindakan tembak di tempat,” kata Kapolda DIY Brigadir Jenderal Haka Astana.

Polda Sumatera Utara menyiapkan 110 pos pengamanan dan 3.500 personel yang disebar di berbagai daerah yang dianggap rawan kecelakaan lalu lintas dan kriminalitas. ”Pengamanan ini semoga membuat masyarakat Sumatera Utara dapat merayakan Lebaran dengan aman dan nyaman,” kata Kepala Biro Operasional Polda Sumatera Utara, Komisaris Besar Iwan Hari Sugiarto.

Sementara itu, Kepolisian Resor Kota (Polresta) Medan menggiatkan Operasi Pekat Toba 2013 guna menekan angka kejahatan saat menjelang dan sesudah Idul Fitri. Dalam pemaparan hasil operasi, Kamis pekan lalu, polisi mengamankan 181 tersangka penjahat dengan beragam kasus. ”Ada 109 kasus, yakni premanisme, judi, pornografi, minuman keras, dan prostitusi,” ujar Kapolresta Komisaris Besar Nico Afinta.

Upaya menekan angka kejahatan menjelang Lebaran juga digalakkan Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya. Selain menggelar razia, juga giat melakukan sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya selalu waspada, terutama pada jam-jam usai sahur di mana banyak warga terlelap kembali. ”Itu waktu favorit bagi para pelaku kejahatan,” ujar Kapolrestabes Komisaris Besar Setija Junianta kepada wartawan Gatra M. Nur Cholis Zaein.

Secara nasional, dalam rangka pengamanan Lebaran di Tanah Air, Mabes Polri menggelar Operasi Ketupat 2013 dengan melibatkan aparat gabungan berjumlah besar. Dalam operasi yang berlangsung 2-16 Agustus, aparat gabungan—terdiri dari Polri, TNI, Satuan Polisi Pamong Praja, serta petugas Jasa Marga–yang dikerahkan sekitar 146.000 orang. Unsur polri berjumlah 88.320 personil, tak terpaut jauh dengan jumlah unsur polri pada operasi serupa tahun lalu yang 88.230 personel.

”Tradisi mudik akan menyebabkan mobilisasi masyarakat besar-besaran. Untuk itu sudah menjadi tugas kita untuk melakukan upaya pencegahan (terhadap hal-hal yang tidak diinginkan),” kata Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Nanan Sukarna saat memimpin apel gelar pasukan Operasi Ketupat 2013 di Silang Monas, Jakarta, Selasa lalu. Ia menambahkan, sebanyak 6.000 personel dikerahkan untuk mengamankan jalur mudik Pantai Utara (Pantura) Jawa.

Khusus di perkotaan, personel Operasi Ketupat 2013 akan melakukan pengamanan di titik-titik keramaian, seperti pusat perbelanjaan, terminal bus, stasiun kereta api, dan pelabuhan. Selain itu, personel keamanan tersebut juga mengawasi rumah-rumah yang ditinggal mudik penghuninya. Mereka berkoordinasi dengan pengurus RT serta bintara pembina keamanan dan ketertiban masyarakat setempat. ”Patroli dilakukan jalan kaki, juga bersepeda,” kata Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Ronny F. Sompie.

Memang, semua itu belum bisa diharapkan menjamin keamanan secara total. Tapi setidaknya dapat sedikit memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi masyarakat dan para pemudik dalam merayakan hari kemenangan setahun sekali itu.

Taufik Alwie, Gandhi Achmad, Jennar Kiansantang, Averos Lubis, dan Arif Koes Hernawan

———————————————————————————————————————————————————————–

Lima Jenis Kejahatan Menonjol Jelang Lebaran

– Perampokan gaji dan THR pegawai
– Pencurian rumah kosong
– Hipnotis dan pembiusan
– Penipuan
– Penjambretan

———————————————————————————————————————————————————————–

Berbagai Langkah Mudik Aman dengan Angkutan Umum

– Jaga stamina Anda sebelum berangkat dan selama perjalanan. Kondisi yang loyo, apalagi sakit-sakitan, akan menjadikan Anda mangsa empuk bagi penjahat.

– Pilihlah perusahaan angkutan umum yang cukup ternama, meski dengan konsekuensi harga tiket lebih mahal. Biasanya kondisi kendaraannya cukup terawat sehingga kecil kemungkinan mogok di jalan, pecah ban, atau nyelonong di turunan lantaran rem blong.

– Usahakan mudik berombongan sehingga bisa saling menjaga. Bila terpaksa mudik sendirian, tingkatkan kewaspadaan Anda. Carilah teman seperjalanan yang kelihatan jujur dan memang betul-betul pemudik, bukan penjahat yang menyamar sebagai pemudik.

– Bawalah barang secukupnya sehingga tidak merepotkan Anda. Jangan memakai perhiasan, sebaiknya simpan saja di tempat tersembunyi dalam tas bawaan dan selalu dalam pengawasan Anda.

– Simpan dompet dan telepon seluler di saku celana bagian depan dan selalu periksa keberadaannya. Sisihkan uang receh di saku lain sehingga sewaktu-waktu gampang dijangkau tanpa perlu mengeluarkan dompet yang bisa menarik perhatian penjahat.

– Hati-hatilah, jangan mudah percaya pada omongan teman seperjalanan yang kelihatan sok akrab dan amat ramah.

– Jangan sekali-kali menerima minuman yang ditawarkan teman seperjalanan, terutama yang terlihat mencurigakan. Sebab boleh jadi minuman itu sudah dibubuhi obat bius.

– Jangan sembarangan meletakkan botol minuman, usahakan selalu dalam tas atau dalam pengawasan Anda. Sebab bisa saja penjahat menyuntikkan obat bius ke botol minuman Anda.

– Jika botol minuman Anda sempat luput dari pengawasan Anda, sebaiknya jangan dikonsumsi lagi guna menghindari hal yang tak diinginkan. Beli saja lagi di warung yang jelas ketika kendaraan sedang beristirahat.

———————————————————————————————————————————————————————–

Rumah Tetap Aman Ketika Ditinggal Mudik

– Sebelum mudik, pastikan rumah dan pagar sudah terkunci dengan kokoh dan aman. Usahakan pasang alarm.

– Jika ada hewan peliharaan, usahakan titipkan pada tetangga atau tempat penitipan hewan.

– Cabut selang gas, putuskan aliran listrik pada alat-alat rumah tangga yang bakal lama tak dipakai, seperti televisi, oven, dan pompa air.

– Untuk lampu luar, gunakan saklar sensor cahaya, sehingga secara otomatis lampu akan padam pagi hari dan menyala petangnya. Ingat, lampu luar yang menyala siang hari menjadi tanda mencolok bahwa rumah tersebut kosong.

– Laporkan kepergian Anda dan kondisi rumah Anda yang kosong kepada pengurus RT dan petugas keamanan setempat. Berikan nomor telepon Anda yang mudah dihubungi.

– Berikan tip yang cukup kepada petugas keamanan di lingkungan Anda agar rumah Anda mendapat pengawasan lebih.

 

Majalah GATRA edisi  39 / XIX 7 Agu 2013

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s