EDISI KHUSUS

Hak Hidup Pengikut Aliran Sempalan

Tumbuh suburnya aliran sempalan di Aceh kerap menuai konflik. Kadang berujung kerusuhan. Otoritas keagamaan dan pemerintah menonjolkan dialog dalam penyelesaian masalah. Warga yang kurang pemahaman, gampang terpicu emosi.

Suasana di warung kopi Desa Lampageu, Ujong Pancu, Kabupaten Aceh Besar, itu tiba-tiba saja senyap ketika Gatra bertanya kepada beberapa pengunjung letak rumah pengajian Tengku Alimin. Beberapa wajah terlihat mengeras, menjadi serius. ”Kenapa cari dia? Dia sudah diusir. Hilang entah ke mana!” seru Malikul Shaleh, salah satu pengunjung warung kopi bertanya kepada Gatra, Jumat dua pekan lalu. ”Sesat dia,” katanya lagi.

Kidir Syam Kahar, warga yang lain, menegaskan bahwa memang pengajian Tengku Alimin sempat dicurigai sesat, tapi Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Besar sudah mengatakan tidak sesat. Namun warga masih tetap tak percaya. ”Tengku Alimin sudah tak kelihatan lagi, masjid sudah kosong tak ada orang. Ada perjanjian agar tidak dilakukan lagi pengajian di Ujong Pancu. Warga minta mereka tidak lagi di sini,” tutur Kidir Syam Kahar.

Benar juga, kompleks tempat pengajian Tengku Alimin, sekitar 15 kilometer dari Banda Aceh, itu kini lengang. Enam bangunan di area tersebut terlihat tak terawat. Sebuah masjid yang bisa menampung puluhan jamaah juga kotor, tak pernah lagi digunakan untuk ibadah.

Di dekat masjid, ada sebuah rumah. Beratap merah dan berpagar hitam lusuh. Sebuah simbol dilukis di salah satu tembok. Gambar bintang berwarna krem berada di dalam lingkaran merah. Tempat itu, menurut beberapa warga, menjadi rumah Tengku Alimin. ”Ini dulu rumah Tengku Alimin mengajar murid-muridnya ajaran Islam versinya,” kata Yusuf, warga Ujong Pancu.

April lalu, ujar Yusuf dengan logat Aceh, ratusan anak muda ramai mengusir orang-orang yang mengaji di tempat itu. ”Banyak bisikan bilang, mereka sesat,” ujarnya. Setahu Yusuf, jamaah Teungku Alimin hanya berjumlah puluhan. Namun dia tak tahu apa yang diajarkan di sana. ”Ajarannya menyendiri, tak mau bersosialisasi dengan masyarakat,” ujarnya.

Kidir Syam Kahar membenarkan itu. Tengku Alimin, meski mengajarkan agama Islam, tidak pernah mau beribadah bersama warga desa. ”Tak pernah kita lihat dia salat jamaah di masjid desa kami, Jumatan juga begitu,” kata Kidir.

Konflik internal agama di Ujong Pancu hanyalah salah satu dari puluhan pertikaian warga muslim dengan beberapa aliran agama yang dianggap beda di Provinsi Aceh. Catatan paling kelam dari konflik internal agama di Aceh terjadi pada November 2012. Memakan korban dua orang tewas, Tengku Aiyub bin Syakubat dan muridnya, Muntashir.

Tengku Aiyub, yang dianggap menyebarkan ajaran sesat di Gampong Jambo Dalam, Kecamatan Peulimbang, Kabupaten Bireuen. Pengikut Tengku Aiyub jumlahnya tidak begitu banyak, sekitar 20-an. Tetapi kegiatan Aiyub ini dianggap menyimpang dari ketentuan akidah sehingga menimbulkan keresahan di masyarakat. Singkat cerita, warga mengajak Aiyub bermusyawarah, dipimpin tetua setempat. Proses perundingan ini juga dilakukan hingga tingkat kabupaten.

Tengku Aiyub pun bersedia menandatangani pernyataan dan ikrar untuk menghentikan pengajiannya, dan kembali kepada ketentuan syariat Islam serta memenuhi semua tuntutan yang dibuat MPU, aparat pemerintah dan Gampong.

Namun, beberapa bulan setelah ditandatangani pernyataan dan ikrar, Tengku Aiyub tidak mau menghentikan kegiatan pengajiannya. Ini membuat masyarakat marah, sehingga memicu amuk masa yang membuat Tengku Ayub dan muridnya tewas. Ada juga warga desa penyerbu yang terluka akibat bacokan senjata tajam.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Jajat Burhanuddin, dosen IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, di Bireun saja aliran menyimpang seperti ajaran Teungku Aiyub ini ternyata cukup banyak. Dan ada beberapa karakteristik yang menonjol dari aliran sesat yang berkembang di Aceh secara umum.

Seperti, meyakini turunnya wahyu setelah Al-Quran, mengingkari kemurnian dan atau kebenaran Al-Quran, melakukan penafsiran Al-Quran tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir, menghina dan melecehkan para Nabi dan Rasulullah, serta mengutip hadis tidak berdasarkan kaidah-kaidah ilmu mushthalah hadis, ilmu tentang dasar dan kaidah hadis.

Karena marak dan cenderung menodai Islam, Majelis Pertimbangan Ulama (MPU) pun memandang perlu memvonis aliran-aliran kepercayaan yang dianggap menyimpang dari kemurnian ajaran. MPU yang diisi oleh dua elemen, ulama dan cendekiawan muslim, memang memiliki peran sentral dalam implementasi syariat Islam di Aceh.

Menurut Wakil Ketua MPU Aceh, Tengku H. Faisal Ali, MPU Aceh adalah yang berwenang memberikan fatwa sebuah aliran itu sesat atau tidak. Sedangkan MPU daerah hanya bisa memberikan laporan ke MPU pusat berdasarkan laporan masyarakat. Namun, kata Faisal, untuk memberikan fatwa ini juga tidak mudah. ”Ada sebuah diskusi disertai bukti-bukti dari pelapor baik dari MPU kabupaten ataupun masyarakat yang menyatakan sebuah kelompok sesat,” katanya.

Bukti dan laporan dari masyarakat juga tak cukup bagi MPU Aceh sebagai dasar memvonis. MPU Aceh selalu meminta agar dapat berjumpa dengan kelompok-kelompok yang dikatakan sesat. Pihak pimpinan ajaran atau pengajian akan berdiskusi dengan pimpinan MPU Aceh. Menurut Faisal Ali, ini agar dapat diketahui hal-hal apa saja yang menyebabkan masyarakat resah. Pengambilan keputusan juga disaring bertahap. Pembahasannya dilakukan oleh tiap divisi di MPU Aceh. Mulai akidah, amaliyah, dan akhlakul kharimah. Dan itu ditutup berdasarkan musyawarah MPU.

Per Januari 2013, MPU Aceh mencatat sejak tahun 1970-an ada 27 aliran kepercayaan di bumi Serambi Mekkah yang oleh masyarakat diduga menyimpang, lalu diproses MPU juga Majelis Ulama Indonesia (lembaga asal MPU sebelum masa reformasi). Beberapa aliran ini kemudian diberi beberapa label. Dari yang sangat menyesatkan, merusak kerukanan umat bergama, di luar ahlus sunnah wal jamaah, menyimpang ajaran Islam, dapat terus diamalkan, diduga sesat atau sempalan, dan masih diteliti atau dikaji. Sesuai dengan labelnya, mereka bisa ditutup, tapi juga bisa diteruskan kegiatannya.

Misalnya, kepada tarekat Naqsyabandiyah Mujahiddiyah Khalidiyah di Dusun Kebun Ubim Desa Pauh, Rantau, Aceh Tamiang, MPU memberikan restu agar pengajian ini meneruskan kegiatannya. Sementara itu, ajaran tarekat Mufarridiyah di Banda Aceh, yang dipimpin H. Makmun Bin Yahya, pada tahun 1975 oleh MUI statusnya dikatakan sesat-menyesatkan. Lalu pada 1992, kelompok Darul Arqam di Banda Aceh, pimpinan Syekh Suhaimi, disebut menyimpang dari ajaran Islam.

Sementara itu, yang dilarang ajaran adalah Waled Darkasyi di Gampong Geulumpang, Kecamatan Peurah Mulia, Aceh Utara, pimpinan Waled Darkasyi dan Tengku H. Yusuf Ibrahim. Kelompok ini diduga sesat atau sempalan berdasarkan Fatwa MPU Aceh Nomor 08 Tahun 2012 tentang Pemahaman, Pemikiran, dan Pengamalan yang Menyimpang dari Ajaran Islam.

Terkait dengan penanganan bagi anggota ajaran sempalan, Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Dr. Syahrizal Abbas, MA, menejelaskan bahwa selama ini otoritas Aceh tak akan langsung memvonis sesuatu ajaran itu sesat dan harus dibinasakan.

Metode dialog akan dikemukakan terlebih dahulu. Karena itulah, Pemerintah Provinsi Aceh bersama MPU akan mengajak diskusi sebelum dikeluarkan fatwa. Beberapa aliran sempalan, seperti di Aceh Selatan, Aceh Barat, dan Bireun, juga sempat diajak dialog dahulu agar mau mengubah pemikirannya. ”Sebagian ada yang kembali ke ajaran yang benar, meski ada juga yang memerlukan diskusi lebih lanjut,” kata Syahrizal.

Syahrizal menambahkan, sebetulnya kalau tidak menyangkut masalah ushuludin, dasar-dasar keagamaan, perbedaan pendapat dalam menjalankan ajaran agama tidak ada masalah. Misalnya, dalam masalah fiqih dan furu’iyah, hal-hal yang tidak mendasar, masyarakat Aceh masih toleran.

Namun terkadang, aliran sempalan berbeda dalam hal akidah, sehingga memicu banyak perhatian di Aceh. Misalnya, tidak mengakui Muhammad sebagai Nabi dan utusan Tuhan. Hal ini kerap memicu emosi warga hingga terjadi perbuatan destruktif. Pemahaman masyarakat bahwa ada keragaman dalam sebuah pemikiran agama, dan perlunya dialog tanpa emosi dalam penyelesaiannya, semestinya dibangkitkan.

Dan tugas itu menjadi tanggung jawab otoritas di daerah masing-masing, karena banyak aliran sempalan tumbuh subur disana. Agar masa tak cepat terpicu kemarahannya, kalau mendapati perbedaan. Sementara itu, yang dianggap melanggar juga akan dibina. ”Kita harapkan kepada pemeritah daerah setempat agar mereka tidak diusir, karena mereka warga negara punya hak hidup, dan hak perlindungan,” kata Syahrizal.

Dinas Syariat Islam Aceh juga mengimbau agar pemerintah kota dan kabupaten memberikan perlindungan bagi pengikut aliran sempalan ini. ”Selama pembinaan, juga tak perlu melakukan karantina, tidak perlu direlokasi, pemerintah kota dan kabupaten juga harus menjamin tidak ada penyerangan terhadap mereka,” ujar Syahrizal.

Gubernur Aceh, Zaini Abdullah menyatakan, selama ini toleransi sudah turun-temurun dianut di Aceh. Seperti di awal masa Kerajaan Aceh dulu dan itu akan terus dipertahankan. ”Semasa Kesultanan Aceh, toleransi dalam beragama cukup tinggi. Sampai tidak ada perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan. Kerajaan Aceh tidak hanya bersahabat dengan kerajaan Islam, melainkan juga dengan Inggris, Belanda, Spanyol, dan Portugis yang non-muslim. Begitu juga sekarang,” ia memaparkan.

Mukhlison S. Widodo dan Averos Lubis (Aceh)

————————————————————————————————————————————————————————————-

Fanatisme Karena Kurang Ilmu

Kemunculan aliran sesat disebabkan oleh beberapa faktor. Dari penelitian Dinas Syariat Islam Bireuen, Aceh, ada beberapa penyebab, seperti banyaknya orang yang mengakuteungku atau ahli agama yang mengajar agama, padahal mereka sendiri tidak memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni.

Teungku yang kualitasnya diragukan ini juga mengajar agama, tanpa diketahui silsilah keilmuannya. Bahkan ada juga yang mengajarkan tasawuf dan tarekat, namun ilmunya diperoleh melalui mimpi, bukan belajar pada tuan gurunya. Kadang juga mereka mempelajari agama pada orang Barat atau buku-buku yang beredar luas.

Dinas Syariat Islam Bireun juga menemukan, banyak bermunculan tempat-tempat pengajian yang difungsikan secara salah, semisal sebagai ajang bisnis sabu-sabu ataupun tempat mencari jimat atau pesugihan. Selain itu, ditengarai adanya pihak luar yang membantu pendanaan sebuah kelompok pengajian yang oleh masyarakat Aceh diduga sesat.

Hermansyah, dalam bukunya Aliran Sesat di Aceh: Dulu dan Sekarang (2011), menjelaskan bahwa ada banyak faktor yang menjadi penyebab lahirnya bebagai aliran dan ajaran yang dikategorikan sesat dan menyesatkan, di antaranya faktor psikologis. Yakni, bahwa salah satu penyebab kemunculan aliran sesat adalah kondisi psikologis yang kurang stabil akibat berbagai hal, atau pencarian ketenangan batin, kepuasan jiwa seseorang tanpa diawali dengan ilmu dan bimbingan dari guru, teungku, kiai, abu, atau syekh.

Mereka akan menjangkau sesuatu yang hanya dapat dicerna akal semata, misalnya bahwa dalam kehidupan setelah kematian di dunia, setiap nyawa akan berinkarnasi kembali dengan jasad makhluk agar dapat hidup kembali, karena ruh tidak mati, juga keyakinan pada kekuatan ghaib serta berbagai hal mistis. Pemikiran seperti itu muncul akibat karena tidak adanya pegangan hidup yang kuat dalam melihat sesuatu kebenaran apakah datangnya dari Allah atau dari jin.

Juga ada pengaruh materi hingga intervensi asing. Pada abad ke-19 dan ke-20, intervensi hadir melalui kekuatan militer. Memasuki abad ke-21, intervensi masuk melalui media, baik cetak maupun elektronik.

Penyebab lainnya, pubertas keagamaan. Yaitu, semangat keberagamaan yang berlebihan tanpa dasar, dengan mengutamakan akal dan menganggap semua agama satu. Sementara faktor ketertarikan pada paham baru yang sering muncul di kalangan sarjana-sarjana Islam, perguruan tinggi, dan lembaga pendidikan agama atau umum, karena pijakan ilmu yang kurang mendalam juga bisa membuat seseorang setia pada sebuah ajaran sempalan.

Fanatisme, atau taklid buta; mengikuti segala sesuatu yang mutasyabihat(samar-samar) tanpa memiliki pengetahuan (ilmu) dan hujjah, pengkultusan pimpinan (mursyid) yang berlebihan, misalnya, atau mengikuti jejak perbuatan mursyidtanpa didasari ilmu dan pengetahuan, juga menjadi penyebab maraknya ajaran sempalan diminati banyak orang.

Menurut Kepala Dinas Syariat Islam Aceh Dr. Syahrizal Abbas, MA, masyarakat di Indonesia memang kebanyakan kesadaran keilmuan akidahnya tidak kuat. Sementara fanatismenya sangat tebal. Ini membuat mereka gampang dipengaruhi. Setelah terpengaruh, timbul kecintaan yang sangat dalam, hingga berani membela hingga mati. ”Jadi kalau teologi keilmuan umat Islam di Indonesia ini kuat, tidak begini kita, banyak konflik agama,” kata Syahrizal.

Mukhlison S. Widodo

————————————————————————————————————————————————————————————-

Kuratif Ajaran Sempalan 

Pencegahan timbulnya aliran sempalan akan lebih efektif daripada memberantasnya. Anak-anak di Aceh perlu dipertebal ilmu agamanya.

Publik Aceh pernah dikejutkan dengan tumbuh suburnya ajaran yang menamakan dirinya Milata Abraham. Kelompok ini sempat membuat geger karena sudah memiliki pendukung lebih dari 500 pengikut dan kebanyakan anak muda. Awalnya Milata Abraham berkembang di Bireun. Setelah aparat Bireun melarang aliran ini aktivitas Milata Ibrahim berpindah ke Kota Banda Aceh.

Otoritas di Aceh menyebutkan, aktivis Milata Abraham di Kota Banda Aceh merekrut anak-anak cerdas yang kurang mendalam pemahaman agamanya, termasuk dari keluarga yang kurang mapan ekonominya, untuk bergabung dengan mereka.

Milata Abraham dari pengakuan para pengikutnya, ajaran mereka intinya tidak mau mencari perbedaan di antara ketiga komunitas agama besar dunia hari ini: Yahudi, Nasrani, dan Islam. Tetapi mereka hendak mempersatukan di bawah Tuhan Allah Abraham, raja dan penguasa semesta alam.

Milata Abraham diajarkan Zainuddin. Ia mengaku mendapatkan pengajaran dan kemudian mengikuti aliran ini dari seseorang saat dia berkunjung ke Jakarta pada 2007 lalu. “Saya dibaiat dan diberi sejumlah buku yang membahas ayat Al-Quran, Injil, Taurat, serta Zabur,” katanya. Kemudian Zainuddin mengembangkan aliran ini kepada para pengikutnya yang dimulai dari keluarga dan kemudian saudara-saudara terdekat.

Aksi pengikut aliran yang dinilai sesat ini tercium ketika sejumlah keluarga di Banda Aceh mulai meresahkan tingkah laku anak-anak mereka yang menjalankan ajaran agama Islam yang berbeda dari ajaran yang selama ini dianut mereka. Tentu saja kabar ini segera menyebar dan memicu protes warga.

Atas desakan masyarakat, akhirnya Pemerintah Aceh mengeluarkan peraturan gubernur yang menyebutkan Milata Abraham sebagai aliran sesat dan dilarang di Aceh. Dengan keluarnya Pergub tersebut sebanyak 139 pengikut Millata Abraham bertaubat dan berjanji tidak akan terpengaruh dengan aliran tersebut. Mereka pun kemudian disyahadatkan kembali oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh.

Memang, ibaratnya, penyakit akan lebih baik dicegah dari pada diobati. Suburnya aliran sempalan yang marak di Aceh, perlu disikapi lebih bijak. Dengan melakukan pencegahan. Dan ini sudah mulai dilakukan pemerintah Aceh.

Aksi pencegahan itu bisa dengan jalan menebalkan akidah tauhid ahlus sunnah wal jamaah pada anak sejak usia dini, menghindari pengajian tersembunyi, di samping mengenal guru atau ustad yang mengajarkannya. Kemudian lagi, menanyakan setiap ajaran yang diragukan kebenarannya. Mengajak berdiskusi dalil-dali syar’i dan argumentasi logika.

Juga perlu ada kegiatan positif bagi masyarakat, khususnya anak -anak. Gerakan Magrib Mengaji, yang sedang getol disebarkan di Aceh, adalah salah satu contoh hal yang bisa menghindarkan anak-anak tercemar pemikiran-pemikiran menyimpang. Magrib Mengaji adalah kegiatan membaca Al-Quran selepas magrib hingga waktu isya tiba.

Kegiatan ini sudah menjadi tradisi anak-anak muslim zaman dahulu, namun mulai terkikis di zaman digital, karena banyak hiburan seperti televisi dan internet yang lebih menarik meski memberikan informasi budaya yang kurang mendidik.

Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, setuju bila gerakan Magrib Mengaji ini dapat membentengi masyarakat dari pengaruh aliran sesat di Provinsi Aceh. ”Selain itu, banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari kegiatan mengaji, antara lain untuk peningkatan ilmu, dan mencegah penyebaran ajaran sesat,” katanya di sela pembukaan Gema Magrib Mengaji se-Provinsi Aceh 1 Juli lalu.

Zaini Abdullah menambahkan, mencegah penyebaran ajaran sesat ini perlu menjadi perhatian bersama, sebab dalam banyak kasus, isu ajaran sesat diawali minimnya sosialisasi tentang perilaku mencegah munculnya aliran sesat.

Terkait dengan sosialisasi, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh juga kerap melakukan sosialisasi terkait pendangkalan akidah ini. Sebuah seminar digelar untuk memberikan pengetahuan kepada warga terkait pencegahan aliran sesat berkembang luas di masyarakat.

Sementara itu, Dinas Syariat Islam Aceh juga aktif memberikan program pelatihan penguatan akidah kepada ulama-ulama dan tokoh masyarakat di daerah-daerah, khususnya yang berpotensi tumbuh aliran sempalan. ”Mereka dibekali materi tentang cara pencegahan ajaran sesat agar bisa mencegah timbulan aliran sempalan,” kata Dr. Syahrizal Abbas, MA, Kepala Dinas Syariat Islam Aceh.

Selain itu, ada program Da’i Perbatasan. Pemerintah Aceh membiayai para pendakwah untuk tinggal di perbatasan atau daerah terpencil agar bisa memberikan penguatan akidah umat. Sehingga tidak gampang terpengaruh aliran sempalan. Hingga saat ini, sudah ada sekitar 150 petugas dakwah yang disebar di seluruh Aceh. ”Program ini nantinya juga tak hanya sekedar berdakwah lisan, namun juga memberikan pencerahan secara sosial, menggerakkan ekonomi rakyat. Karena tak mungkin memberikan argumentasi ke umat yang masih kesulitan hidupnya,” kata Syahrizal.

Mukhlison S. Widodo

 

Majalah GATRA Edisi   40 / XIX 14 Agu 2013

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s