ASTAKONA

MARTUMBA 
Tarian Kolosal Muda-mudi Batak 


Ribuan penari tumplek menari di bibir pantai menyemarakkan budaya lokal kenduri laut yang nyaris dilupakan. Tarian massal yang melibatkan penari terbanyak di Indonesia.

Semilir angin di bibir pantai membelai wajah cantik Anita Hasibuan, saat ia meliuk-liukkan tubuh semampainya sembari bertepuk tangan, mengikuti alunan lagu yang dilantunkan seorang penyanyi wanita. Sesekali gadis berusia 27 tahun itu memutar badan sembari melambaikan tangan. Gerakan kakinya seakan mengempaskan percikan ombak. Maju-mundur selangkah, sambil mengentak. He, he, ha…! 

Seorang pemuda di belakang Anita menyelaraskan gaya, hingga pada gerakan tertentu, gadis itu pun membalikkan badan. Keduanya pun saling berhadapan, menepuk kedua tangan sambil melemparkan senyuman. Plok, plak, plok, plak! Lantas kembali menari. Gerak nan rancak itu juga diperlihatkan perempuan lain, berderet di kiri dan kanan Anita. Dengan berpegangan tangan, hingga terlihat bentangan empat baris sejajar sepanjang 5 kilometer di Pantai Bosur-Lubuk Tekko, Kecamatan Pandan, Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara. 

Mengenakan kaus seragam, berselendang hitam, dan berkain sarung selutut warna oranye khas Tapanuli, para gadis muda itu tertawa riang. Sayangnya, cuaca kurang bersahabat, gemericik air hujan perlahan berubah deras membuyarkan suasana. Tarian massal yang disebut tarian martumba itu pun hanya berlangsung 15 menit. ”Alangkah senangnya saya dan teman-teman dapat ber-tumba bersama,” ujar Anita kepada GATRA

Tarian massal yang diselenggarakan pada Sabtu, 31 Agustus lalu, itu berbeda dari biasanya. Seiring dengan hari jadi ke-68 Kabupaten Tapteng, sekaligus memeriahkan HUT kemerdekaan RI, penyelenggara menghadirkan ribuan penari dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Tapteng. Antara lain, dari Kecamatan Pandan, Sarudik, Tapian Nauli, Tukka, Sorkam, Barus, dan Lumut. 

Tarian massal itu tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai tarian kolosal dengan jumlah penari terbanyak se-Indonesia. Jumlah penarinya yang tidak kurang dari 15.000 orang itu, menurut Deputi Manager Muri, Damian Awan Raharjo, acara itu layak tercatat dalam Guinness Book of Records. ”Tidak ada negara yang menyelenggarakan pergelaran budaya dengan mengikutsertakan penari sebanyak ini. Patut dicatat sebagai rekor dunia,” katanya. 

Tampaknya pernyataan Damian tak berlebihan. Tarian martumba saat itu memang tak cuma menyedot perhatian masyarakat, juga menarik perhatian sejumlah wisawatan mancanegara. Tidak ada catatan resmi tentang kapan tarian ini mulai diperkenalkan oleh para tetua adat di sana. Yang pasti, penari martumba adalah beberapa gadis, lebih dari tiga orang, yang membentuk lingkaran. Mereka menari dengan gerakan tangan yang gemulai. Sesekali para penari bernyanyi bersama. Bagi masyarakat Tapteng, martumba lebih populer darpada tarian tor-tor, yang sudah mendunia. 

Menurut M.T. Nainggolan, tokoh masyarakat Pahae Jae, tarian martumba berasal dari Huta Siburian Sarulla Pahae Jae. Biasanya tarian ini dibawakan para muda-mudi pada saat bulan Purnama. Malam itu, para gadis di Pahae berkumpul untuk manduda baion atau menumbuk baion (tumbuhan untuk bahan pembuat tikar).

Sembari manduda, mereka bernyanyi dan menari disaksikan ibu-ibu mereka sambil membuat tikar. Pemuda-pemuda kampung dari luar desa pun pada berdatanganmartandang (menemui gadis). Kesempatan itu digunakan sang pemuda untuk ”menembak” gadis desa pujaannya yang sedang manduda. 

Nyanyian para gadis desa itu berupa umpasa (pantun). Sebagai jawaban, para pemuda yang datang itu itu pun berdendang dengan pantun. Tak jarang, di antara para pemuda itu bersaing dengan memamerkan suara merdunya, untuk menarik hati sang gadis. Di antara lantunan nyanyian yang bersahut-sahutan itu terdengar bunyi tumbukan saat para gadis itu manduda.

Nyanyian diiringi bunyi tumbukan itu pun menjadi berirama ”tum, ba…tum, ba…”, hingga akhirnya tarian itu disebut tumba.  Seiring dengan berjalannya waktu, tarian martumba beralih fungsi. Bukan lagi untuk menggaet gadis desa, melainkan sebagai tarian penyambutan orang yang dihormati. Tarian ini terus berkembang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, karena memang tidak ada muatan politis. ”Martumba murni hiburan dan tidak memiliki nilai-nilai kesakralan,” kata Nainggolan. 

Tarian ini juga tidak menampilkan simbol-simbol suatu agama. Karena itulah, tarian ini bisa diterima oleh semua kalangan, dan berkembang ke sejumlah wilayah di Tarutung, Sipoholon, Siborong-borong, bahkan hingga ke luar wilayah Tapteng. Penarinya pun tidak hanya kalangan muda-mudi, melainkan dari segala semua umur, mulai anak-anak hingga kalangan orangtua. Biasanya ditampilkan pada perayaan-perayaan ataupun peresmian untuk menyemarakkan kegiatan di kampung-kampung. 

Soal nama, Monang Naipospos mempunyai pendapat lain. Nama martumba, menurut budayawan Batak dari Toba itu, semula dikenal dengan sebutan tumbas. yang berasal dari gabungan kata tumba dan embas. Kata pertama itu merupakan syair lagu, sedangkan embas adalah gerakannya. Perpaduan antara gerak tari dan lagu itu dinamakan tumbas.

Tariannya lebih mirip dengan joting —dimainkan penari yang duduk berkeliling dan secara bergantian mereka masing-masing berdiri untuk menjadi pelantun lagu. Gerak tarinya, didominasi oleh tarian tor-tor, namun ada kombinasi entakan kaki disertai tepukan lutut dengan kedua tangan, yang kemudian disusul dengan bertepuk tangan. 

Pada perkembangannya, gerakan ini dipengaruhi tarian Melayu seperti yang banyak diperagakan masyarakat di perbatasan Toba dan Sipirok, dengan menyelingi lagu Melayu sambil berjoget. Karena itulah pengaruh embas tor-tor Batak yang melekat pada martumba perlahan hilang. Nyanyiannnya pun tidak lagi berbalas pantun, seperti pada tarian martumba massal yang dihadiri Menteri BUMN, Dahlan Iskan, itu. “Budaya kenduri laut seperti ini, harus tetap dipertahankan,” kata Dahlan. 

Gagasan menggelar tari kreasi secara besar-besaran itu akhirnya terlaksana, setelah lama ditunggu-tunggu. Menurut Bupati Tapteng, Raja Bonaran Situmeang, kegiatan ini diselenggarakan karena ada kekhawatiran bahwa tarian martumba bakal dilupakan masyarakat. ”Momentum ini sangat luar biasa. Ada kebanggaan tersendiri yang tak ternilai harganya,” katanya. 

Anthony Djafar dan Averos Lubis (Tapanuli Tengah) 

Majalah GATRA edisi  45 / XIX 12 Sep 2013

 

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s