RAGAM

Geopark Merangin: Taman Bumi Nasional Menanti Pengakuan Dunia 


Mengarungi kawasan Geopark Merangin, Jambi, merupakan petualangan yang sangat menantang. Kawasan seluas 20.360 kilometer persegi itu menyimpan berbagai kekayaan alam flora dan fauna. Juga kekayaan bebatuan yang mengandung data-data sejarah geologis terbentuknya kawasan itu dari jutaan tahun silam. Awal Agustus lalu, selama tiga hari, wartawan GATRA Jogi Sirait dan Joni Aswira Putra menjelajahi kawasan yang kini tengah dinominasikan menjadi bagian dari jaringan global geopark yang diinisiasi UNESCO. Berikut kisahnya.

Siang itu, langit menatap ceria bumi Merangin. Awal Agustus lalu, pada hari-hari terakhir Ramadan, saya dan Joni Aswira Putra, ditemani kawan-kawan dari Himpunan Masyarakat Peduli Alam (Hampa), yaitu Syamsul Huda, Munawar, Dailami, Jeremis, Mahfuzani dan Asmi, bersiap-siap menapaki kawasan hutan di kabupaten yang terletak di Provinsi Jambi tersebut. Ikut pula bersama rombongan kami, Komiji, seorang staf Dinas Pariwisata, Kabupaten

Merangin, untuk memandu kami. Sebuah perahu karet oranye bermerek Zibec buatan Korea, disiapkan oleh kawan-kawan Hampa. Kami memang hendak menjelajahi kawasan yang tengah dinominasikan sebagai bagian dari jaringan global geopark global itu dengan cara berarung jeram. Kalau boleh saya jelaskan sedikit, istilah geopark secara harfiah berarti taman bumi. Konsep ini mengacu pada wilayah geografis tempat situs-situs warisan geologis (geological heritages) dikelola secara terintegrasi dengan warisan budaya (cultural heritages) di wilayah itu, untuk tujuan konservasi, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan. 

Konsep geopark ini pertama kali berkembang di Eropa tahun 1999, dan setahun kemudian negara-negara Eropa membentuk European Geopark Network (EGN). Konsep ini kemudian mendapatkan dukungan dari badan PBB UNESCOyang membentuk UNESCO Official Global Network of National Geopark (GNG). Pada 2001 lembaga ini salin nama menjadi Global Geoparks Network (GGN). Sejak saat itu, UNESCO lewat GGN menetapkan berbagai kawasan yang masuk dalam kategori geopark di berbagai belahan dunia. 

Saat ini ada sekitar 97 kawasan di dunia yang ditetapkan sebagai global geopark. Dengan penetapan itu, UNESCO berharap, masyarakat yang berada di suatu kawasan geopark akan menjaga kelestarian kawasan tersebut sebagai warisan dunia. Masyarakat sendiri dapat memetik manfaat lewat pariwisata. Di Indonesia baru satu kawasan yang ditetapkan sebagai global geopark, yaitu kawasan Gunung Batur di Bali. Penetapannya dalam sidang GGN tahun 2012 di Portugal. 

Geopark Merangin, bersama lima kawasan yang lain, yaitu Danau Toba (Sumatera Utara), Gunung Rinjani (Nusa Tenggara Barat), Raja Ampat (Papua), Kawasan Kars Sewu (Jawa Tengah), dan Green Canyon (Jawa Barat) sedang diajukan untuk menjadi nominator jaringan geopark global selanjutnya. Pada bulan ini, diharapkan Geopark Merangin ditetapkan UNESCO ke dalam jaringan tersebut. 

Kembali ke kisah petualangan kami, setelah mempersiapkan perahu karet, kami segera mengenakan pelampung dan helm. Kami beruntung, air sungai dalam posisi sedang. Tak terlalu pasang dan tak pula terlampau surut. Air pasang biasanya berlangsung pada April hingga Mei. Saat itu, semua geopark tak bisa dipotret lantaran terendam air. 

Syamsul, pendiri Hampa yang juga petualang berpengalaman, duduk di bagian buritan perahu karet. Ia mengemban tugas paling penting dalam berarung jeram, yaitu sebagai skipper atau nakhoda yang bertanggung jawab mengendalikan arah perahu agar aman. Lima rekan Syamsul bersama Komiji menjadi pendayung. Sedangkan saya, sebagai petualang dadakan, cukup duduk manis di bagian haluan, sementara Joni duduk di bagian tengah. Kami berdua berpegang erat pada tali yang teruntai dari bagian depan perahu agar tidak terjatuh. 

*** 

Siang itu, tepat pukul 11.30, tanggal 2 Agustus –kami tiba di Merangin sehari sebelumnya untuk survei lokasi– mulailah petualangan menyusuri kawasan Geopark Merangin. Kami menyusuri Sungai Batang Merangin sepanjang 9 kilometer dari hulu sungai di Desa Air Batu, sampai Teluk Wang di Desa Biuku Tanjung, Kecamatan Bangko. 

Butuh waktu satu jam perjalanan dari Kota Bangko, Ibu Kota Kabupaten Merangin, menuju Desa Air Batu, Kecamatan Renah Pembarap. Di desa itu sebagian besar rumah penduduk bertingkat berdinding papan. Listrik sudah menerangi perkampungan ini, namun sinyal telepon seluler masih sulit didapatkan. 

Bagi yang mahir, perjalanan berarung jeram dari Air Batu sampai Teluk Wang, ditempuh dalam waktu dua jam. Teryata kami menempuhnya hingga lima jam! Beberapa puluh menit mendayung, sampailah kami di jeram pertama, yaitu Jeram Hore atau Nenong. Kami bersyukur berhasil melewati jeram itu dengan mulus. Saya dan Joni sangat gembira mampu melewati tantangan tersebut. Tapi, belum lagi surut rasa senang saya, tiba-tiba Syamsul mengingatkan, beberapa kilometer di depan kami, akan mengarungi jeram yang berbahaya. Jeram Amin namanya. 

Amin tak lain adalah mendiang wartawan Sriwijaya Post yang tewas tenggelam di jeram itu, saat ia menjadi salah satu peserta kejuaraan arung jeram nasional yang pertama, tahun 1997 silam. Jenazah Amin baru ditemukan tiga hari kemudian. “Sejak itu, namanya diabadikan sebagai nama jeram,” ujar Syamsul. 

Mendengar cerita Syamsul, saya bergidik juga. Apalagi, Jeram Amin memang terkenal berbahaya. Di sisi kiri terdapat pusaran yang bisa menelan siapa saja. Saat ketinggian air sedang saja, jeram itu dikategorikan empat plus, alias menuntut keahlian tinggi untuk melaluinya. Tinggi ombak bisa mencapai 6 meter. Padahal, panjang perahu karet yang kami tumpangi hanya 4 meter, jika tidak cukup lihai dan kompak mendayung, bisa-bisa perahu terbalik. 

Lantaran kami dan Komiji bukan pengarung jeram profesional, Syamsul meminta kami bertiga untuk turun. “Peraturan di sini, ya, begitu. Di jeram yang berbahaya, pengunjung tak boleh ikut demi keselamatan,” kata Syamsul. Maka kami bertiga pun melewati kawasan jeram itu dengan berjalan kaki melintasi bebatuan di pinggir sungai. 

Setelahnya, Jeram Amin terlampaui, kami bergabung kembali. Total sekitar 18 jeram di sepanjang Sungai Batang Merangin itu. Selain kedua jeram tadi ada Jeram Tigo, Ladeh, Batu Runcing, Hore atau Teluk Sah, dan Susu, Hore atau Pulau Telun. Kemudian Jeram Batu Daun, Tiga Beradik, Harun, Pulau Aro, Tuo, Gelegah Pendek, Sikukeluang, Goodbye, Yatim, serta Tilan. Dari semua jeram tersebut, setelah Jeram Amin, ada lima jeram lagi tergolong yang berbahaya: Jeram Ladeh, Harun, Goodbye, Susu, dan Tilan. 

Jeram Tilan tak kami telusuri, karena tergolong jeram yang paling berbahaya. Menurut Syamsul, saat lomba arung jeram, Tilan menjadi titik start awal. Dari sekian jeram-jeram berbahaya ini, hanya di Jeram Harun kami bertiga berada dalam perahu. Selebihnya kami harus turun dari perahu. Dua kali kami memotret para pendayung terjatuh. Dailami terjatuh di Jeram Ladeh dan Munawar terjebur di Goodbye. Beruntung, mereka bergerak sigap dan langsung naik perahu. 

*** 
Menyusuri sungai sepanjang 9 kilometer itu, kami menemukan makna sebenarnya, mengapa kawasan itu ditetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan geoparknasional. Memasuki kawasan Jeram Nenong sampai Jeram Ladeh, di sisi kiri-kanan sungai, terdapat bebatuan granit. Memasuki Jeram Telun, kami akhirnya menemukan inti dari geopark, yaitu berupa lapisan batu yang menyimpan fosil dari jutaan tahun silam. Fosil itu adalah fosil pohon purba yang disebutAraucarioxylon

Pohon purba yang sudah membantu itu tertimbun endapan vulkanik berketebalan sekitar 7 meter dalam posisi hampir rubuh. Akar-akarnya tampak menjulur sepanjang kira-kira 7 meter juga. Masyarakat setempat biasa menyebutnya Batu Tuo. Para peneliti meyakini fosil ini berusia 300 juta tahun, masa Zaman Prem. 

Di sisi kiri-kanannya tampak bebatuan berlapis, bekas tanah rawa, dan debu-debu vulkanik dan lava yang membeku. Masyarakat menyebutnya batu lipatan kain. Lahan di bukit-bukit hampir seluruhnya berupa kebun karet masyarakat. Komiji menjelaskan, zaman dulu diperkirakan ada gunung berapi yang meletus sebanyak lima kali dalam rentang waktu setiap 20 juta tahun sekali. Akibat letusan itu, debu-debu vulkanik dan lavanya membeku di sekitar Araucarioxlyon.

Akibat letusan berulang itulah bebatuan di tempat itu menjadi berlapis-lapis. Jumlah lapisannya sesuai banyaknya letusan gunung berapi tersebut. Fosil ini bisa bertahan lama karena daerahnya dingin. 

Tak jauh dari posisi fosil pohon purba itu, sekitar 200 meter terdapat Teluk Gedang. Di sini kami menemukan fosil-fosil hewan laut semacam kerang yang membatu, dari keluarga moluska atau hewan bercangkang. Komiji mengatakan, teluk itu dulunya diperkirakan sebuah kawasan laut dangkal. “Masyarakat memperkirakan kedalamannya di bawah 50 meter,” kata Komiji. 

Di sekitar kawasan teluk itu, kami juga menemukan fosil Stereochia semireticulatus, jenis kerang-kerangan (brachiopoda), kerang mutiara purba (nautiloidea), dan Bellerophon, sejenis keluarga moluska seperti siput. Kami juga mendapati fosil rayap di sekitar fosil pohon setelah disayat. Jenis rayap ini belum teridentifikasi. “Butuh penelitian lebih mendalam untuk menjawabnya,” ujar Komiji.

*** 
Keesokan hari, kami berlima: saya, Joni Aswira, Komiji, Syamsul, dan Umar kembali menjelajahi sisi lain kawasan Geopark Merangin. Kali ini kami menelusuri Sungai Mengkarang. Kami tertarik menyusuri kawasan itu setelah mendengar “promosi” Komiji yang menyatakan fosil-fosil di Mengkarang jauh lebih indah dari yang lain. “Kalian adalah jurnalis pertama yang menapaki Sungai Mengkarang,” katanya. 

Sejak pukul 07.00 pagi kami menyusuri kawasan sungai tersebut. Benar-benar perjalanan yang melelahkan. Setelah melalui perkebunan masyarakat dan tiba di Air Terjun Jernih, hingga beberapa kilometer kemudian, barulah kami bertemu dengan aliran Sungai Mengkarang dan kami harus berjalan menyusuri sungai dengan melawan arus. Dan di sepanjang jalan, kami tak menemukan fosil-fosil yang dijanjikan Komiji. Kami sempat menemukan jejak-jejak hewan yang dalam pengamatan kami adalah jejak harimau. Namun, entah kenapa, Syamsul dan kawan-kawan selalu berkilah itu bukan jejak harimau. “Itu jejak kijang, bukan harimau,” kata Syamsul. 

Entah apa alasannya ia menyatakan begitu, padahal jelas-jelas –tak lama setelah itu– kami mendengar suara lirih mirip kucing mengeong, yang sepertinya itu suara auman harimau atau mungkin macan dahan. Kami semua langsung bergegas dan berjalan cepat. Bergidik bulu kuduk ini. Tak berapa jauh dari tempat itu, kami dihadang sebuah lubuk berkedalaman 12 meter. Saya yang tak biasa berenang, terpaksa melewati lubuk tersebut. Menurut cerita Syamsul dan Komiji, di dasar air ada sarang anakonda berukuran 5 meter. 

Setengah tahun lalu, cerita Syamsul, ada seorang warga yang ditemukan meregang nyawa. Tak jelas apakah karena tergigit ular atau tenggelam. Yang jelas, sejak kejadian itu, tak ada lagi masyarakat yang menangkap ikan. Padahal di sekitar lokasi itu banyak ikan semah. Namun belakangan, cerita keberadaan anakonda ini dibantah oleh Profesor Fauzie Hasibuan, seorang geolog dari Universitas Padjadjaran, Bandung. Menurutnya, anakonda tidak ada di Sungai Merangin, ular tersebut hanya ada di Amazon, Brasil. 

Menempuh perjalanan yang panjang dan berat itu, Umar, seorang anggota Hampa, sangat setia memandu saya. Saking lelahnya perjalanan ini, saya selalu berada di posisi paling belakang. Saat Umar jauh di depan, saya selalu memanggilnya. “Hei Umar, macam tak bersaudara saja kita. Kuturunkan nanti pangkatmu dari mayor menjadi sersan mayor.” Umar langsung tertawa dan mendekat, bahkan terkadang menuntun saya. 

Umar memang mengenakan rompi mirip motif militer. Di sisi dalamnya diisi air. Mie instan dimasukkan ke dalam kantong dalam itu direndam dengan air dingin. Setelah satu jam, mie instan siap kami lahap bertiga: Saya, Joni dan Umar. Biarpun perjalanan itu melelahkan, Komiji dan Syamsul tetap berpuasa. 

*** 
Keberadaan Geopark Merangin, sebenarnya sudah mulai terungkap sejak tahun 1983 silam. Abdul Azis, 53 tahun, warga Desa Air Batu ingat, pada tahun itu, ia pernah memandu seorang geolog Prancis, dan geolog dari Bandung. “Saya lupa nama kedua orang itu,” kata Azis. Tetapi menurut dia, kedua orang itu melakukan semacam penelitian di kawasan itu. 
Ayah empat orang anak inilah yang mengantar kedua geolog itu menyusuri lokasi-lokasi situs geologi di Sungai Denong, Baitik, Rumbia, Sadeh, Manda Kecik, dan Manda Besar sampai ke Teluk Gedang. “Semua sungai itu ditempuh dengan berjalan kaki,” ujarnya. Meski begitu, hingga tahun 2012, masyarakat setempat tak pernah menyadari keberadaan situs warisan sejarah bumi itu. 

Beruntung, masyarakat di sekitar kawasan Merangin, punya kesadaran tinggi untuk menjaga lingkungan di sekitar, sehingga kawasan itu masih terjaga dengan baik. “Suatu ketika, pernah masyarakat mencuri kayu di Desa Biuku Tanjung. Namun kejadian ini akhirnya diselesaikan dengan musyawarah,” ujarnya. Pernah pula salah satu perusahaan batu bara hendak masuk. Namun ditolak mentah-mentah oleh masyarakat. 

Kini setelah tahu kalau kawasan Merangin terdapat situs geopark, masyarakat pun semakin meningkatkan penjagaan atas kelestarian kawasan itu. Sekarang peraturan tentang geopark tengah digodok perangkat desa dalam bentuk peraturan desa (perdes). Perdes itu, misalnya mengatur larangan masyarakat menambang emas dengan mesin, dan hanya boleh secara manual. Menurut Azis, masyarakat berinisiatif menjaga kawasan itu karena sadar akan manfaatnya bagi mereka. Selain manfaat ekologi yang menjaga lingkungan dari kerusakan yang mengundang bencana, mereka juga menangguk manfaat secara ekonomi seperti membuka lapangan pekerjaan. Syamsul, sang Ketua Hampa, merupakan salah satu inisiator pertama yang membentuk kelompok relawan untuk berpatroli menjaga kawasan. 

Bersama empat kawannya: Arfan, Frianzi, Badri, dan Andri pada 11 November 2011, mendirikan Hampa yang bergerak untuk menjaga kelestarian dan menyebarkan kesadaran kepada masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian kawasan geopark. Yang perlu dijaga dan dilestarikan tak cuma fosil, melainkan juga satwa-satwa yang ada seperti burung, monyet, dan berbagai jenis flora.

Mulanya, Syamsul tergerak mendirikan organisasi tersebut, lantaran sedih melihat pemuda pengangguran di kampungnya yang kerap mabuk-mabukan. Ayah dua anak itu berusaha mengalihkan kepada kegiatan positif lewat Hampa. Para pemuda dan masyarakat umumnya dididik untuk lebih memahami dan peduli geopark. Selain itu, Syamsul dan kawan-kawan melakukan kegiatan harian patroli fosil kawasan, dari Air Batu hingga Muara Karing. Ini dilakukan dua kali seminggu. “Biasanya sekitar 17 orang,” ujarnya. 

Selain itu mereka memperbaiki trek-trek menuju fosil, pembersihan desa, menggerakkan ekonomi kreatif, dan mengolah minyak kepayang. “Ini merupakan kegiatan untuk menghidupi organisasi,” kata Syamsul. Masyarakat juga bisa mendapatkan penghasilan dari memandu wisatawan minimal seminggu sekali. Tamu-tamu yang datang umumnya dari dari pelajar dan mahasiswa. “Mereka ingin mengenal dekat geopark,” ujarnya. Bahkan terkadang ada juga datang dari orang-orang perusahaan. 

Kedatangan para wisatawan ini juga membawa manfaat ekonomi lainnya, yaitu mendongkrak beberapa komoditas lokal yang tadinya nyaris tak berharga menjadi lumayan ekonomis. Kelapa muda, misalnya, dulu dianggap tak bernilai. Kini bisa dijual seharga Rp 4.000-Rp 5.000 per butir. Komiji, staf Dinas Pariwisata Kabupaten Merangin Bidang Kebudayaan, mengatakan, konsep geopark adalah, kawasan itu milik masyarakat, bukan pemerintah. Dengan begitu, masyarakatlah yang menjdi pelaku utama pengelolaan kawasan itu. Karena itu harus ada kelembagaan di desa, daerah, hingga provinsi. 

*** 
Geopark Merangin Jambi memiliki luas 20.360 kilometer persegi yang terbagi atas empat bagian: Paleobotani Park Merangin, Highland Park Kerinci, Geo-Cultural Park Sarolangun, dan Godwana Park Pegunungan Bukit Tiga Puluh (Tanjungjabung Barat). Paleobotani Park Merangin terbagi dalam tiga zona pula. Yaitu, zona tangkapan (gerbang utama) di kawasan Kota Bangko, zona inti geoconservationbioconservationcultural conservation, dan ketiga zona penyangga, yaitu daerah sepanjang daerah aliran sungai (DAS). 

Luas Paleobotani Park Merangin 1.551 kilometer persegi yang terbagi dalam dua zona. Zona pertama disebut dengan geoconservation. Ada dua blok, yaitu kawasan Jambi Flora yang meliputi Desa Air Batu hingga Desa Biuku Tanjung serta kawasan Kars Sengayau di Sungai Manau serta Kars Jangkat. Kars Sengayau meliputi 13 gua yang pernah ditempuh oleh masyarakat setempat selama 12 hari. 

Zona kedua disebut bioconservation, yaitu kawasan hutan lindung dan hutan adat yang ada di Kabupaten Merangin. Salah satunya hutan adat Guguk di Desa Guguk, Kecamatan Renah Pembarap. Hutan Guguk luasnya sekitar 690 hektare. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah menetapan kawasan geopark Merangin Jambi ini sebagai geopark nasional pada 1 Maret 2012 lalu. 

Bupati Merangin, Alharis, 41 tahun mengatakan, geopark Merangin, kini tengah diupayakan menjadi warisan dunia. Pemerintah kabupaten terus bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jambi beserta pemerintah pusat untuk mensosialisasikan geopark. “Dalam waktu dekat dia akan mengusulkan ke DPRD Merangin agar dibentuk UPTD (unit pelaksana teknis daerah -red) Geopark sehingga bisa bekerja secara maksimal,” katanya. 

Selain itu, pihak pemerintah kabupaten akan menyiapkan website geopark, film dokumenter untuk memperluas cakupan sosialisasi. “Kami sangat berharap geoparkini diakui UNESCO menjadi warisan dunia. Sehingga geopark ini dapat memberikan manfaat positif secara sosial maupun ekonomi bagi masyarakat, juga menambah pendapatan daerah,” kata Alharis. 

Danau Toba Menanti Giliran 

Mangaliat Simarmata, adalah salah seorang aktivis lingkungan di Sumatera Utara yang bergabung dengan kelompok Jendela Toba. Lewat lembaga itu, Mangaliat dan kawan-kawan kini tengah memperjuangkan kawasan Danau Toba yang meliputi tujuh Kabupaten, yaitu, Toba Samosir, Samosir, Simalungun, Karo, Dairi, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan, agar dimasukkan ke dalam jaringan global geopark

Bagi Mangaliat, kawasan Danau Toba layak ditetapkan sebagai kawasan geopark warisan dunia, karena sejarahnya yang panjang. Danau Toba tercipta dari meletusnya Gungung Toba puluhan ribu tahun silam. Dari letusan itu, terciptalah kaldera-kaldera Toba di beberapa kabupaten sekitar Danau Toba disebutkan di atas. Kaldera adalah fitur vulkanik yang terbentuk dari jatuhnya tanah setelah letusan vulkanik. Kaldera sering tertukar dengan kawah vulkanik. Kata “kaldera” berasal dari bahasa Spanyol, yang berarti wajan. 

Untuk dapat menjadikan kawasan Danau Toba sebagai bagian jaringan geopark global, pengelola di kawasan itu harus mampu bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat. Tujuannya agar pengelolaan kawasan itu, selain untuk kawasan wisata yang bisa menjamin kesejahteraa rakyat, juga harus menjamin kelestariannya sebagai kawasan konservasi. “Itulah syarat yang ditetapkan UNESCO,” kata Mangaliat kepada GATRA

Nah, syarat bekerja sama inilah yang kini membuat pusing para aktivis di Jendela Toba. Sebab, yang pertama mengajukan ini adalah Kabupaten Samosir. Sementara di sekitar kawasan Danau Toba terdapat enam kabupaten lainnya. “Ada semacam ketidakpahaman terhadap kabupaten lainnya di Danau Toba. Maklum ini adalah wacana baru di Indonesia,” ujar Mangaliat. Padahal syarat agar Danau Toba mulus diakui UNESCO, kerja sama di antara ketujuh kabupaten itu sangat penting. 

Karena itu, kata Mangaliat, para aktivis di Jendela Toba kini tengah giat mengawal agar pelaksanaan kordinasi antar-tujuh kabupaten itu berjalan baik. “Supaya tidak ada orientasi proyek,” ujarnya. Sebab salah satu tujuan utama menetapkan kawasan Danau Toba sebagai kawasan geopark global adalah untuk tujuan kelestarian lingkungan. 

Saat ini, kata Mangaliat, di situs-situs purba, situs-situs sejarah Batak, kekayaan hayati berupa flora dan fauna di kawasan itu terancam oleh perusahaan kayu dan penebangan liar, juga tambak ikan di bibir danau. Jika sudah ditetapkan sebagai kawasan geopark global diharapkan usaha penebangan kayu bisa disetop, tambak ikan mulai direlokasi, dan pelestarian situs-situs purba dan situs sejarah Batak mulai lebih diperhatikan. 

Mangaliat mengaku agak “iri” dengan ditetapkannya kawasan Gunung Batur di Bali sebagai bagian jaringan geopark global. “Padahal kawasan Gunung Batur luasnya hanya setara satu kecamatan. Berhasil pula masuk ke dalam GNN. Sementara Danau Toba yang meliputi sebanyak tujuh kabupaten kenapa tidak berhasil masuk?” ujarnya. 

Karena itu, Mangaliat rajin mengikuti tiap pertemuan dan ahli geologi Bandung dan Jakarta, dan UNESCO. Namun, ia menyayangkan, pemerintah masih minim dalam melakukan sosialisasi rencana masuknya Toba dalam Geopark Global Network (GGN) UNESCO. Ia berpikir seharusnya pemerintah daerah maupun pusat aktif melakukan sosialisasi kepada pemangku adat dan masyarakat sekitar sebagai ujung tombak berhasil atau tidaknya Kaldera Toba masuk ke dalam GGN. 

Sementara ditilik dari sisi kekayaan geologi, sejarah, budaya, dan keanekaragaman hayati, kawasan Danau Toba sangat layak dikategorikan sebagai kawasangeopark. Selain situs-situs sejarah seperti yang disebutkan tadi, kawasan itu juga menyimpan kekayaan aspek seni dan budaya masing-masing etnis batak yang mendiami kawasan itu. 

Selain itu, di salah satu kawasan Danau Toba tumbuh pohon haminjon atau kemenyan yang merupakan tanaman purba di tanah leluhur Batak. PBB menyatakan haminjon sebagai salah satu jenis pohon yang harus dilindungi. Selain itu haminjon merupakan tanaman endemik Toba alias hanya tumbuh di kawasan sekitar Danau Toba. 

Salah satu kawasan yang dapat ditumbuhi kemenyan adalah kawasan Humbang Hasundutan (Humbahas). Sejarah membuktikan bahwa daerah Humbahas adalah penghasil kemenyan sejak berabad-abad lalu. Dulunya, kemenyan adalah salah satu komoditas unggulan. Dengan areal tanaman seluas 5.000 hektare lebih dengan produksi 1.278 ton per tahun. 

Namun, saat ini kemenyan sudah mengalami kemerosotan produksi yang sangat drastis. Hal ini diperkirakan oleh berbagai pihak karena kerusakan hutan. “Sebab kemenyan dan populasinya tidak dapat dipisahkan dari hutan,” Mangaliat menjelaskan. 

Ir. Gagarin Sembiring, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Sumatera Utara berpendapat, konsep geopark itu adalah gabungan dari komponen geodiversity(keanekaragaman geologi), biodiversity (keanekaragaman hayati), dan culturediversity (keanekaragaman budaya). Di dalamnya tidak ada pelemahan. Tapi, peningkatan bahwa ini daerah konservasi. “Artinya, menjadikan suatu kawasan lebih baik,” ujarnya. 

Dalam konservasi tidak ada pelemahan budaya. Malah merevalitasi dan mempertahankan. Hal itulah keistimewaan dari manajemen geopark. “Dan ini merupakan salah satu warisan dunia,” ujar Gagarin lagi. Karena itu ia bersama pemangku kepentingan di tujuh kabupaten yang melingkupi kawasan Danau Toba bersama instansi terkait, di antaranya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Badan Lingkungan Hidup, dan Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Sumatera Utara, pada 30 Juli 2013 lalu menyepakati dibentuknya Tim Percepatan dan Pengajuan Geopark Kaldera Toba menjadi anggota GGN UNESCO. 

Gagarin berharap, pada September 2014 mendatang kawasan ini sudah diumumkan menjadi bagian dari GGN UNESCO. Kini tim tersebut masih terus menyiapkan dokumen usulan, dan memberikan laporan keadaan Kaldera Danau Toba. Ada beberapa tahap progres pengajuan Kaldera Toba ke GGN UNESCO. Pertama melakukan promosi dan berkoordinasi dengan GGN UNESCO. 
Kedua, kegiatan inventarisasi geodiversitybiodiversity, dan culturediversity (keanekaragaman budaya). Ketiga, menyusun garis batas dan dossier kawasan Geopark Kaldera Toba dan pembentukan pengelola Geopark Kaldera Toba (Juli-September 2013). Tahap selanjutnya adalah penyampaian dossier geopark oleh Pemerintah Indonesia (1 Oktober-1 Desember). 

Berlanjut verifikasi dokumen dan pengecekan dossier pada Januari-April 2014. Rapat internal GGN UNESCO Mei-Agustus 2014. Tahap selajutnya, diharapkan adalah penentuan hasil rapat GGN UNESCO, untuk pengumuman hasil pada September 2014. Jika sudah ditetapkan sebagai kawasan jaringan geopark global, diharapkan kawasan Danau Toba diurus oleh semacam otoritas yang peduli kepada pariwisata, budaya, dan otonomi memajukan kawasan itu. 
Mangaliat tidak berharap pengelolaannya akan jatuh pada pemerintah kabupaten. “Sebab, semua sama-sama tahu, bahwa bupati sekarang tidak semua mau mematuhi perintah gubernurnya. Sudah menjadi raja-raja kecil,” katanya. 

Averos Lubis (Medan) 

Majalah GATRA edisi  46 / XIX 19 Sep 2013

 

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s