Erupsi Gunung Sinabung, Petani, dan Pakar Vulkanologi

Sang Empunya Kata dan Foto: Averos Lubis

 

Gunung Sinabung dalam beberapa pekan lalu sudah gemar bererupsi. Tinggi erupsi Gunung Sinabung beragam kisarannya. Menurut kabar dilansir dari media massa sudah mencapai 7000-8000 meter lebih ke atas udara. Erupsi itu dimuntahkan  tanpa pandang waktu. Kadang pada malam hari, kadang kala pula dini hari. Bahkan pada pagi hari usai ayam jantan berkokok nyaring bertalu-talu ke telinga. Erupsi terjadi tiba-tiba.  

Gambar

Tak syak, petani ikut “gerah”. Gerah ini bukan karena kepanasan cuaca. Sebab, kawasan Gunung Sinabung, bagian kawasan dari Kabupaten Tanah Karo itu berudara dingin menusuk tulang. “Gerah” lantaran menyebabkan hasil pertanian antara iya dan tidak dalam panen. Kalaupun panen sesuai dengan bulan dari jenis tanaman atau produk pertanian lainnya. Hasil didapat tidak sesuai keinginan. Menurut pantauan dari lokasi, debu vulkanik dari perut Gunung Sinabung. Sedikit sampai banyak mempengaruhi beragam hasil pertanian di beragam desa di sekitar Gunung Sinabung.

GambarKatakan saja, tomat, kopi, cengkeh, dan penghasil madu dengan cara melakukan penangkaran lebah madu. Khususnya untuk penangkaran lebah madu. Seorang petani di Tanah Karo dan sekaligus sebagai petani yang menjalankan usaha penangkaran lebah madu. Muhammad Maju Sitepu, setengah bingung.

Saya bingung, kata Setepu, akan Gunung Sinabung. Saat mengeluarkan erupsi tak ada yang dapat menebak. Kalaupun ikut mengungsi hanya beberapa hari saja. “Dan tetap terus pergi ke kebun,” katanya, Senin pekan lalu.    

Hasil dari penangkaran lebah madu miliknya sebelum terjadi erupsi Gunung Sinabung cukup lumayan. Terlebih terdapat hampir lebih di atas 30 sarang lebah buatan. Walau  yang tersisa hanya sekitar 15 sarang. Sejurus, madu yang dapat dihasilkan tidak dapat  di atas sepuluh kilogram. Nah, semenjak dalam beberapa bulan terjadinya erupsi Gunung Sinabung. Paling-paling berjumlah sebanyak satuan kilogram madu asli berhasil dipanen.  “Tak lebih dari 2-5 kilogram madu dihasilkan,” ujarnya berkeluh kesah.

Menurut Sitepu, kala Gunung Sinabung bererupsi, lebah-lebah merasa tidak nyaman untuk pergi ke sarang mereka. Terlebih, debu vulkanik dari erupsi. Membuat lebah enggan bersarang di dalam sarang buatan yang dibuat oleh Sitepu. “Lebah alergi terhadap kepulan asap dan debu-debu hasil dari erupsi,” kata dia.  

Sarang lebah buatan Muhammad Maju Sitepu itu, terdiri dari kayu-kayu dan bambu tebal berukuran tidak sampai 1 meter. Tampak sekitar 30-60 cm, berbentuk bulat. Lalu dibikin beberapa pasak kaki.  Itu sebagai penyanggah sarang. Di tengah kayu itu dibuat sebuah bolongan kecil tempat lebah hendak masuk ke dalam sarang silih berganti.  

GambarNah, di belakang sarang terdapat sebuah pintu untuk mengambil madu-madu dari sarang lebah. Di dalam sarang itu terdapat juga beberapa kamar-kamar  bersekat dan besi sebagai rangkanya. “Untuk tempat bertengger sarang yang di dalamnya terdapat madu-madu dari lebah,” Sitepu menjelaskan.

Menurut pantauan, rata-rata petani di Tanah Karo sekitar Gunung Sinabung masih banyak yang berani pergi berkebun. Meski keadaan Gunung Sinabung sedang mengeluarkan erupsi. Dan hanya ikut mengungsi hanya sekitar beberapa hari saja. Kalaupun paling lama selama seminggu. Semata-mata, demi mendapat uang dari bercocok tanam di tiap kebun masing-masing. Rela bertaruh nyawa. 

 

GambarKabar punya kabar, tidak adanya informasi sahih dari pemerintah Sumatera Utara hingga Pusat menyatakan sampai kapan Gunung Sinabung akan meletus dan mengeluarkan lahar panas. Berita terbaru menyebutkan lahar dingin sudah turun dari Gunung Sinabung.  Padahal sudah mengeluarkan erupsi berkali-kali.

Terdapat pula kabar beredar: Gunung Sinabung itu tidak sebahaya Gunung Merapi jikalau meledak. Tidak ada awan panas, material batu di dalam kandungan perut gunung yang kecil dan beragam isu lainnya. Tak heran, para petani memberanikan diri saja untuk tetap pergi ke ladang.  Dan terus melakukan kegiatan produksi pertanian. Sampai-sampai harus memetik hasil di ladang. Walau belum waktu panen. Dibanding hasil panen busuk semua. Lebih baik diambil beberapa hasil tani yang sudah mendekati waktu panen.

 

Gambar   Gambar 

Selain demi memenuhi kebutuhan sayur-sayuran dan buah-buahan masyarakat di Sumatera Utara-Aceh. Juga demi mendapat rente memenuhi kebutuhan hidup. Walau berujung selalu gagal panen. Namun tetap melakukan kegiatan produksi pertanian maupun peternakan. Seperti dilakukan Muhammad Maju Sitepu.  Gambar

Walau hasil penangkaran lebah madunya menurun dalam menghasilkan madu asli ini. Namun ia tetap bertani. Dan tidak ada informasi sahih mendukung keselamatannya dalam bertani dari pemerintah pula.   *** 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s