ASTAKONA

Saudara Kembar Pagoda Shwedagon
Tempat ibadah umat Buddha yang menyerupai Pagoda Shwedagon di Myanmar hadir di Sumatera Utara. Replika pagoda terbesar kedua di dunia. Menjadi daya tarik pariwisata.

Bangunan itu begitu mencolok. Berwarna cokelat keemas-emasan. Terletak di tengah hamparan hijau pepohonan kota Dolat Rayat, Brastagi, Sumatera Utara. Ukurannya terbilang jumbo. Tingginya 46,8 meter, panjang dan lebarnya 68 meter. Itulah Pagoda Taman Alam Lumbini (TAL), sebuah replika dari Pagoda Shwedagon yang ada di Myanmar.

Meski hanya replika, pagoda tersebut bisa dibilang istimewa. Pasalnya, pagoda di TAL merupakan replika tertinggi kedua di dunia di antara pagoda di luar Myanmar. Sedangkan untuk tingkat lokal, Pagoda TAL ini adalah yang tertinggi di Indonesia. Karena itulah, pagoda emas tersebut masuk dalam catatan rekor Museum Rekor Indonesia.

Mulai dibangun pada 2007, Pagoda TAL baru rampung di 2010. Arsitekturnya mirip Pagoda Shwedagon di Myanmar. Ya, ibarat saudara, kompleks Pagoda TAL memang meniru tempat ibadah termasyhur di Negeri Tanah Emas tersebut. Di samping pagoda utama berketinggian 46,8 meter serta lebar dan luasnya 25,8 meter, di TAL juga terdapat berbagai bangunan pendukung yang menyerupai kompleks Pagoda Shedwagon.

Beberapa di antaranya adalah delapan unit pagoda kecil dengan tinggi 7,18 meter, panjang 5,38 meter, lebar 5,38 meter, dan sebuah Pilar Asoka berdiameter tiang 0,8 meter yang tingginya 19,8 meter. Selain arsitekturnya, berbagai benda dan ornamen baik di halaman maupun di dalam pagoda utama juga diadaptasi dari komplek Pagoda Shedwagon

Di halaman Pagoda, terdapat sebuah patung gajah putih serta beberapa tempat gulungan kitab suci berwarna emas yang berjejer rapi. Konon, bila gulungan tersebut diputari searah jarum jam, diyakini oleh umat Buddha, akan menebar kebajikan.

Masih di halaman pagoda, terdapat sebuah drum yang digunakan sebagai salah satu alat kebaktian umat Buddha. Menurut penjaga setempat, drum tersebut tidak boleh sembarang dibunyikan. Sebab, umat Buddha meyakini, saat drum dibunyikan, para arwah –yang jahat dan yang baik– akan datang. Karena itulah, drum tersebut hanya dibunyian pada saat kebaktian.

Ornamen lain yang menghiasi pagoda adalah bendera. Di sekitar halaman, terdapat beberapa buah bendera Buddhis dan Bendera Merah-Putih. Bendera Buddhis berwarna biru, kuning, merah, putih, dan oranye yang tersusun secara vertikal. Di ujung pola vertikal tadi terdapat kelir yang sama dengan susunan horizontal. Pola vertikal dan horizontal ini mengandung makna yang berbeda-beda.

Warna-warni horizontal melambangkan perdamaian abadi berbagai ras di dunia serta keharmonisan dalam kehidupan bersama. Adapun warna vertikal melambangkan perdamaian di dunia. Selain pola warna yang memiliki arti khusus, warna itu pun memiliki makna tersendiri. Warna biru diyakini berasal dari rambut Buddha yang melambangkan bakti atau pengabdian. Kuning emas dari warna kulit Buddha melambangkan kebijaksanaan. Merah tua dari warna darah Buddha melambang cinta kasih. Putih dari warna tulang dan gigi Buddha yang melambangkan kesucian.

Terakhir, oranye adalah warna yang diambil dari warna telapak tangan, kaki dan bibir Buddha yang melambangkan semangat. Nah, gabungan kelima warna tersebut dikenal dengan istilah Prabhasvara, yang berarti bersinar sangat terang atau cemerlang. Bendera-bendera Buddhis ini mengitari hampir seluruh area pagoda.

Menginjak bagian dalam pagoda utama, aura religius begitu terasa. Di tempat itu, terdapat empat Rupang Buddha Sakyamuni yang terbuat dari bongkahan batu giok utuh dari Myanmar. Selain empat patung Buddha tadi, terdapat pula ribuan Buddha Rupang dari berbagai negara. Bukan hanya itu, di dalam pagoda juga terdapat deretan lilin-lilin kecil di atas meja yang digunakan umat Budha untuk memanjatkan doa.

Pagoda ini dibuat bukan hanya untuk kepentingan wisata. Tujuan utama pembangunan Pagoda TAL adalah untuk ibadah. Maka, tak mengherankan bila masuk pagoda, setiap pengunjung diharuskan melepas alas kaki dan topi. Mereka juga diharuskan berpakaian yang sopan serta dilarang membawa pena dan rokok. ”Takut nanti ada yang mencorat-coret dan merokok di dalam lokasi pagoda,” kata salah seorang penunggu pagoda kepada Gatra.

Larangan tersebut sangat masuk akal. Pasalnya, Pagoda TAL ini ramai dikunjungi orang, terutama pada akhir pekan atau saat liburan. Mereka tidak hanya berkeliling untuk melihat-lihat bagian dalam dan sekitaran pagoda. Banyak di antara mereka yang menuliskan harapan yang kemudian digantung di Wishing Tree, atau “pohon harapan”.

Pagoda TAL memang istimewa. Selain bangunannya yang besar dan adanya berbagai ornamen di dalamnya, pagoda ini menjadi magnet bagi umat Buddha di seluruh dunia. Hal ini terlihat saat peresmian, Oktober 5 tahun silam. Yang hadir ada 1.250 anggota sangha, atau persaudaraan para bhikkhu. Dari jumlah tersebut, 100 bhikkhu di antaraya berasal dari Indonesia, 650 orang dari Myanmar, dan 400 asal Thailand

”Bikhu dari 20 negara lainnya juga hadir saat peresmian tersebut,” kata penunggu tersebut. ”Kehadiran mereka juga dikarenakan pagoda ini merupakan sumbangan dari kelompok Budhhis dari berbagai negara.”

Dengan kehadiran Pagoda TAL ini, tempat ibadah bagi umat Buddha di Sumatera Utara pun bertambah. Saat ini, di wilayah itu ada berbagai vihara, di antaranya Vihara Setia Budi di Jalan Irian Barat, Medan, Maha Vihara Maitreya, Cemara Asri, Medan, dan Vihara Avalokites Wara di Pulo Brayan, Medan.

Sayangnya, saat memasuki ke areal parkiran Pagoda TAL, semua pengunjung harus ”menikmati” terlebih dahulu jalan yang tidak mulus. Sebab di areal terdapat perkebunan yang dimiliki warga, seperti kebun tomat dan strawberi.

Saat beranjak meninggalkan pagoda, para pengunjung dan penunggu di sana menyarankanGatra untuk menjalankan pradaksina, atau mengelilingi areal mandala sebanyak tiga kali, searah jarum jam. Ritual tersebut dilakukan dengan cara anjali, salah satu cara menghormati orang lain dalam agama Buddha. Cara anjali ini dilakukan dengan menyatukan kedua tangan di depan dada. Konon, dengan ritual ini, doa itu terkabulkan.

Averos Lubis (Berastagi)

Majalah GATRA Edisi  39 / XXI 5 Agu 2015

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s