EKONOMI & BISNIS

Menyemai Potensi Rumput Laut

Rumput laut menjadi komoditas baru yang potensial untuk dikembangkan. Beberapa investor tertarik mengolahnya menjadi bahan makanan dan pembangkit tenaga listrik.

Rutinitas pagi Zahiruddin, 50 tahun, selama empat tahun belakangan dilalui dengan hal yang sama: bercocok tanam rumput laut. Warga Desa Cabbiya, Talango, Sumenep, Jawa Timur, ini tekun menyemai bibit rumput laut di antara rakitan bambu yang dimilikinya. Sebagai warga pesisir, selain menggantungkan hidup sebagai pencari ikan, ia juga mencari penghasilan dengan menanam rumput laut.

Pemasukan dari rumput laut memang tak terlalu tinggi. Dari 10 rakit bambu yang dimilikinya –satu unit rakit berukuran 8 meter x 10 meter– Zahiruddin bisa panen sekitar satu ton rumput laut basah setelah disemai selama sebulan. Setelah dijemur, rumput laut itu menjadi sekitar 200 kilogram. Modal untuk menanamnya Rp 500.000. Setiap panen, dia hanya meraup penghasilan bersih sekitar Rp 1,7 juta. ”Ya, lumayan, tapi kalau turun terus harganya, bisa rugi modal,” katanya kepada Gatra.

Pedagang dan petani rumput laut di Sumenep mengaku, dalam dua bulan ini harga jual rumput laut merosot. Namun, meski sulit, mereka yakin setelah Idul Adha harga akan normal kembali. Saat ini, harga jualnya Rp 8.500-Rp 9.000 per kilogram untuk rumput laut kering. Sedangkan rumput laut basah hanya Rp 1.000/kg. ”Sebelumnya harga normalnya yang kering Rp 11.500 sampai Rp 13.000 per kilogram,” kata Haji Muhammad, pedagang rumput laut di Desa Pakandangan Timur, Kecamatan Bluto, Sumenep.

Di desanya, kata Muhammad, terdapat 10 kepala keluarga yang membudidayakan rumput laut. ”Selebihnya hanya sewaktu-waktu saja,” ujarnya. Setiap minggu Muhammad mengirim rumput laut ke Surabaya dan Bandung hingga delapan ton. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, ia memilih memasok ke pabrik di Desa Kapedi di Kecamatan Bluto, sekitar 3 ton. ”Sekarang memang harga turun karena ekspor tidak jalan,” kata Muhammad.

Potensi rumput laut di Kabupaten Sumenep sebenarnya cukup besar. Setiap tahun produksinya lebih dari 97.000 ton. Hasil ini berpotensi ditingkatkan lagi dengan melakukan intensifikasi juga pemutusan rantai distribusi perdagangan yang terlalu panjang: dari petani ke pengepul, lalu ke pabrik, baru diekspor. ”Kami ingin memutus mata rantai yang panjang itu,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sumenep, Muhammad Jakfar.

Beberapa waktu lalu investor asal Belanda datang di Sumenep. Mereka mempresentasikan bahwa rumput laut bisa digunakan sebagai tenaga listrik. Karena itu perlu dibangun pabrik rumput laut di Sumenep. Namun, sejauh ini pembangunan pabrik pengolahan rumput laut untuk tenaga pembangkit listrik oleh investor itu masih dalam tahap penjajakan. ”Mereka baru presentasi. Tapi kami ingin cepat terwujud,” kata Jakfar.

Investor asal Belanda itu adalah Ingenieursbureau De Raaij en Datema B.V. Perusahaan ini menggandeng PT Dutacipta Pakarperkasa serta anak usaha PT PLN, PT Pembangkit Jawa Bali, untuk membangun pembangkit listrik rumput laut di Indonesia. Rencana mereka sudah masuk dalam daftar proyek pembangunan energi baru dan terbarukan yang diresmikan pemerintah pertengahan Agustus lalu.

Menurut Staf Ahli Bidang Ekonomi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Saut Hutagalung, tim dari Ingenieursbureau De Raaij en Datema B.V. sudah mempresentasikan rencana mengolah rumput laut untuk dijadikan bahan pembangkit energi ke KKP. ”Mereka akan mengolah rumput laut jenis Laminaria,” kata Saut, yang saat ditemui Gatra pada Kamis pekan lalu masih menjadi menjabat Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP). Menurut Saut, tujuan investasi perusahaan asal Belanda ini adalah di Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, dan Bangka Belitung. Perusahaan ini akan membuat pabrik pengolahan rumput laut menjadi gas etanol yang kemudian diubah menjadi bio-etanol.

Ingenieursbureau De Raaij en Datema B.V. memutuskan berinvestasi di Indonesia setelah melakukan riset beberapa tahun tentang pemberdayaan rumput laut jenis laminaria. Perusahaan ini adalah investor pertama yang tertarik berinvestasi mengolah rumput laut menjadi energi listrik. Nantinya, pengembangan jenis Laminaria selain menjadi energi listrik, ampasnya dapat dimanfaatkan menjadi pupuk. ”Akan banyak turunan yang dapat didetailkan,” kata Saut.

Saat ini, di Indonesia memiliki dua jenis rumput laut yang dibudidayakan, yaitu Euchema cotonii dan Gracilaria. Jenis Gracilaria diolah menjadi tepung agar-agar. Pabrik terbesar nomor dua di dunia untuk Gracilaria ada di Tangerang, PT Agarindo Bogatama. JenisEuchema cotonii adalah produksi terbesar rumput laut di Indonesia yang digunakan untuk bahan baku pangan olahan seperti daging dan minuman. Daerah yang paling banyak menghasilkan rumput laut terbesar adalah Provinsi Sulawesi Selatan, dengan produksi 2,4 juta ton rumput laut pada 2013. Disusul NTT, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan NTB.

Saut mengungkapkan, jumlah unit pengolahan rumput laut (UPRL) yang dapat membuat rumput laut kering menjadi bahan olahan tersebar di beberapa wilayah di Indonesia seperti Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, NTB, dan NTT. Sementara untuk pengolahan rumput laut menjadi bahan makanan skala menengah dan kecil, jumlahnya lebih banyak lagi. Kalau ditambah dengan perusahaan yang mengolah ruput laut kering, keseluruhnya menjadi kurang lebih 40 pabrik.

Menurut Saut, target KKP dalam empat tahun ke depan, selain meningkatkan kualitas produksemi-refined carragenan sesuai standar dan dapat memproduksi refined carragenan (RC) di dalam negeri. RC adalah tepung karaginan, untuk memproduksinya perlu teknologi formulasi yang lebih canggih. Biasanya dipakai sebagai bahan baku industri farmasi.

Menurut Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Subiakto, rumput laut Indonesia memang masih diekspor dalam bentuk bahan baku meski ada yang olahan seperti semi-karaginan dengan jumlah yang sedikit. ”Mayoritas masih rumput laut raw material,” tuturnya. Namun, investor dari dalam dan luar negeri sudah banyak yang tertarik berinvestasi mengolah rumput laut Indonesia untuk memiliki nilai lebih dan memproduksinya di dalam negeri.

Menurut data Ditjen P2HP, investor yang tertarik membangun pabrik pengolahan rumput laut di Indonesia di antaranya Shanghai Brilliant Gum (Cina) di Pinrang, Sulawesi Selatan, Daesang Group (Korea Selatan). Mereka berencana membangun pabrik di kawasan industri Driorejo, Gresik. Juga ada PT KTI Sumitomo Group (Jepang) yang berencana membangun pabrik di Tanjung Tembaga, Probolinggo. Beberapa investor dalam negeri juga ada yang akan membangun pabrik di Karawang, dan di Maluku Utara. Beberapa di antaranya sudah menyelesaikan pembangunan pabrik pemrosesan, seperti PT Indoseaweed di Pasuruan dan CV Sari Mutiara Abadi di Blitar.

Ke depan, potensi industri rumput laut ini diyakini akan lebih baik. Menurut Data Kementerian Perdagangan, dari total ekspor rumput laut dunia, Indonesia mampu menjadi pemasok utama rumput laut dunia dengan pangsa pasar 26,5% dari total US$ 1,09 milyar permintaan dunia. Selain itu, ekspor rumput laut Indonesia tahun 2014 mencapai US$ 226,23 juta. Nilai ini meningkat 39,25% dari ekspor tahun 2013, sebesar US$ 162,45 juta.

Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), M. Azhar Lubis, menjelaskan bahwa yang dibutuhkan Indonesia ke depan, untuk menggenjot produksi rumput laut, adalah industri pengolahan dan teknik pengolahan. Rumput laut sendiri memiliki banyak jenis yang dapat diolah menjadi berbagai macam. Azhar mencontohkan Jepang, yang dapat mengolah rumput laut menjadi penganan kering dan diekspor ke sejumlah negara. Model pengolahan seperti itu yang mesti dikembangkan Indonesia. “Itu potensi ekspor. Tidak hanya ke Jepang, tapi seluruh dunia,” katanya.

Mukhlison S. Widodo, Fitri Kumalasari, Averos Lubis, dan Abdul Hadi J.M. (Sumenep)

Majalah GATRA Edisi  44 / XXI 9 Sep 2015

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s