NASIONAL

Peremajaan Terkendala Dana
Pesawat uzur sulit diprediksi kemampuannya, riskan terhadap kerusakan dan tidak bisa dijamin keandalannya. Rencana strategis penggantian pesawat terkendala dana

Insiden percikan api dari tangga menuju ruang kemudi pilot sempat membuat panik para penumpang. Petugas TNI AU yang ada di dalam pesawat langsung meminta penumpang untuk segera keluar. Pesawat Hercules C-130 dengan nomor registrasi A-1321 yang membawa delapan jenazah korban musibah jatuhnya Hercules pada Selasa siang pekan lalu itu akhirnya gagal terbang.

Rencananya, Hercules A-1321 berangkat dari Lanud Soewondo, Medan, Jumat pagi pekan lalu pukul 07.30 WIB. Pesawat akan menuju Lanud Rusmin Nurjadin, Pekanbaru, Ranai Natuna, dan Lanud Abdurrahman Saleh, Malang. Akibat insiden itu, keberangkatan jenazah dan keluarganya tertunda. Akhirnya rombongan baru bisa terbang dengan CN 295 pengganti siang harinya.

Sementara itu, investigasi awal menemukan tiga pemicu Hercules C-130B bernomor lambung A-1310 jatuh. Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna mengatakan, bukti pertama adalah percakapan pilot yang meminta untuk kembali ke pangkalan. “Itu berarti ada masalah,” kata dia. Bukti kedua, berupa posisi pesawat yang miring ke kanan. Ada kemungkinan mesinnya bermasalah. “Baling-baling pesawat ada yang mati,” ujarnya.

Tidak normalnya mesin membuat pesawat yang terbang rendah menghantam antena tower radio Joy FM setinggi 25 meter yang berjarak 300 meter dari jatuhnya pesawat. Letak antena di 15 derajat runway Lanud Soewondo dan berjarak 3.200 meter dari lanud. “Dalam aturan keselamatan penerbangan harus di luar 15 derajat,” katanya.

Menurut Agus jika ada malfungsi, pilot sudah mengerti apa yang harus dilakukan. “Misalnya harus menaikkan ketinggian dan mencari pendaratan,” katanya. Namun, karena menabrak antena itu, lanjut Agus, pesawat tidak bisa naik.

Pengamat penerbangan Adrianus Darmawan menyatakan, secara umum penyebab kecelakaan pesawat ada tiga hal. Orang, teknis, dan mediumnya dalam arti cuaca. Cuaca waktu itu cerah, sehingga tersisa dua lagi. “Orangnya, dari pilot serta awak darat yang mempersiapkan, dan teknis mesin pesawat,” tuturnya.

Indikasi awal disebutkan Hercules turboprop sayap tinggi (high wing) itu mesin sebelah kanannya mati. “Sudah muncul satu penyebab,” ujarnya. Bila mesin mati harus dicermati bagaimana perawatan dari awak darat yang mempersiapkan pesawat itu hingga pengadaan suku cadangnya. “Awak darat wajib bertanggung jawab juga,” ujarnya.

Sementara itu, Kadispen TNI AU, Marsma Dwi Badarmanto, mengatakan bahwa rata-rata pesawat Hercules yang digunakan berusia 20-an tahun. Sudah berkali-kali pula dilakukan retrofit dan peremajaan. TNI AU memang tidak memiliki batasan usia pesawat. Asalkan masih laik, pesawat bisa dipertahankan. “Kalau kita bicara alutsista bukan masalah usia, tapi bagaimana perawatan alutisita itu. Rata-rata usia Hercules puluhan tahun, ada yang sudah 50 tahun,” ucapnya.

Ke depan, TNI AU akan mengambil keputusan berdasarkan evaluasi. Jika Hercules yang dimiliki memang harus diganti, tidak tertutup kemungkinan akan dipensiunkan. “Penggantian pesawat baru kita pikirkan nanti tergantung hasil evaluasi,” ujarnya.

Hercules tua kedati rutin dirawat dan dinyatakan layak terbang, kata Adrian, harus diwasapadai struktur kerangkanya. Sebab, sekuat apa pun mesin dan metal badan, tentu sudah lelah, rutin mengangkut pasukan, amunisi, dan logisitk. “Ada batas waktu,” ucapnya. Selain itu, pesawat tua memerlukan biaya perawatan yang lebih. “Ada saja yang mengulah,” ujarnya.

Indonesia, menurut Adrian, butuh armada pesawat angkut dan tempur yang kuat untuk mendukung keperluan militer dan mengawasi wilayah yang luas. Secara proporsional alutsista TNI untuk angkutan udara kurang dibandingkan dengan luas wilayah yang dilindungi. “Selain itu, sebagian pesawat sudah tua sehingga kurang layak melindungi kedaulatan negara,” katanya.

Batas minimum untuk retrofit atau peremajaan pesawat angkut berat seperti Hercules, kata Adrian, umurnya lebih pendek dibanding pesawat angkut sedang dan ringan. “Hercules dalam desainnya memang teruji kekuatannya, namun beban berat tonasenya harus dilihat,” ucapnya.

Ke depan, menurut Adrian, perlu dicari alternatif kandidat pengganti Hercules. Semisal A400M buatan Airbus Military dan C17 Globemaster III yang diproduksi Boeing Integrated Defense Systems adalah pesawat angkut militer Amerika Serikat. Selain itu, pabrik Lockheed Martin pembuat Hercules memiliki versi terbarunya yaitu tipe C130J.

Dulu pesawat A400M yang sedikit lebih besar dibanding Hercules, ungkap dia, pernah ke Indonesia. Ada niat dari pemerintah untuk membeli, namun terbentur harga. Anggarannya besar. “Pesawat tidak dibeli dengan satuan, melainkan harus satu skuadron,” ucapnya. Problema khasnya adalah bila ada uang, akan berpikir untuk membeli semua senjata atau meningkatkan kesejahteraan anggota. “Itu masalah rebutan alokasinya,” ucapnya

Menurut pengamatannya, pesawat angkut militer memang minim. Untuk pesawat angkut militer hanya dua skuadron, yaitu angkut berat dan angkut sedang. Sedangkan pesawat tempur militer lebih dari 3 skuadron.

Ke depan, sarannya, TNI perlu moda angkutan non-komersial yang menjamin kehadiran anggota TNI dapat menjelajah di seluruh kepulauan. Masyarakat di pulau-pulau ujung memerlukan psikologi kehadiran TNI. Dengan 17.000 pulau dan garis pantai 99.093 kilometer, alhasil AU dan AL, khususnya AU dengan 2 skuadron pesawat angkut militer sangat kurang.

Sedangkan menurut peneliti LIPI bidang militer Muhammad Nurhasim, setiap tahun TNI sudah rutin menguji kelayakan alutsista. Uji kelayakan biasanya ditentukan alat mana yang memungkinkan untuk dapat digunakan. Ini dilakukan bahkan saat ada embargo terhadap alutsista TNI tahun 1995-2005.

Kebijakan TNI, kata Nurhasim, adalah mengunakan potensi alat apa saja asal dapat digunakan. Pada 2002, misal dari 28 pesawat angkut rata-rata 60% dipakai. Itu sekitar 16 pesawat yang layak digunakan. Kini pesawat yang layak enam-sembilan pesawat. Peremajaan terakhir dilakukan untuk pesawat angkut pada 1980-an. Dan tahun 1995 ada dana hibah dari Merpati. “Setelah itu, peremajaan tidak pernah dilakukan,” ujarnya.

Maka, hemat Nurhasim, pemerintah harus kembali mengevaluasi kebijakan untuk alutsista TNI mulai dari AD, AU, dan AL. Sebab keamanan prajurit TNI bertugas menggunakan peralatan tempur sendiri harus terjamin. Selain itu, pemerintah harus memperhatikan ancaman dari luar. Semisal dari laut atau udara apakah ada paradigma gangguan keamanan yang mengancam. Pemerintah semestinya menyediakan dana maximum cost. “Bukanminimum cost,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Komunikasi dan Komunikasi Publik Kemenhan Brigjen Djundan Eko Bintoro menyatakan nasib Hercules selanjutnya akan mengacu pada hasil audit yang tengah dilakukan. Sedangkan soal kebijakan mengganti pesawat-pesawat tua, kata dia, secara garis besar mengacu pada pembangunan kekuatan pertahanan melalui modernisasi alutsista yang telah dimulai sejak 2010, yang dikenal dengan istilah minimum essential force.

Di dalamnya, kata Djundan, juga dibahas pembaharuan atas alutsista uzur. “Termasuk pesawat, dan tahapan ini sampai 2024,” jelasnya. Pada Rencana Strategis (Renstra) Tahap II, salah satunya adalah rencana perkuatan pesawat angkut dengan pengadaan baru sekelas A400 atau C17. “Untuk pesawat tempur juga ada dalam Renstra II, mengganti pesawat tempur di atas 40 tahun, seperti F5,” tambahnya.

Untuk besaran biaya pengadaan alutsista, Djundan menjelaskan, dari alokasi anggaran Kemenhan, 35% untuk belanja pegawai, sedangkan belanja modal kira-kira 32%. Sisanya untuk belanja barang. “Dari alokasi angaran belanja modal itu salah satu di dalamnya untuk pengadaan,” katanya.

Dari sisi politik anggaran, anggota Komisi I DPR RI Tb. Hasanuddin mengatakan, kini Komisi I sedang menunggu hasil investigasi. Presiden Jokowi meminta TNI AU mengevaluasi seluruh pesawat terbang, baik angkut maupun tempur. Dari evaluasi itu akan diketahui berapa yang layak dan tidak. “Dari hasil akurat itu baru kita lihat apakah ada perubahan politik anggaran untuk strategi pengadaan,” katanya.

Dalam bahasan renstra pengadaan pesawat, sebetulnya sejumlah pesawat memang sudah seharusnya diganti. Sayangnya renstra itu terkendala dana. “Jadi, dengan keuangan yang minim, renstra harus menyesuaikan,” ujar dia.

Selama ini, tiap terjadi kecelakaan, laporan selalu diberikan secara transparan, sesuai dengan peruntukannya. “Kalau pesawat militer ya dibuka di lingkungan militer. Kalau pesawat sipil informasinya dibuka di lingkungan sipil,” katanya. Menurut, politikus PDIP itu, pemeliharaan pesawat berpengaruh pada kelayakan terbang. Jika pemeliharaan bagus, memungkinkan pesawat itu fit dan berusia layak lebih panjang.

Lagipula, pesawat tak hanya diurus oleh TNI. Ketika terbang ke negara lain, misalnya Singapura, pesawat itu juga diurus oleh tangan-tangan negara setempat. “Pemeliharaan bisa terbuka di mana-mana,” katanya. Akan tetapi, normalnya usia pesawat 20-30 tahun. Jika sudah melewati masa pakai, dengan perawatan terbaik sekalipun, pesawat tidak bisa beroperasi secara maksimal. “Seperti yang terjadi pada Hercules C130, kalau sudah tua ya susah dipertahankan. Kegagalan bisa terjadi,” katanya.

Setahu Hasanuddin, ada juga pihak yang mengatakan bahwa pesawat bisa digunakan seumur hidup, asalkan pemeliharaan memadai. Ia tidak percaya. “Tentu ada masa berakhirnya. Tidak ada teori yang abadi, buatan manusia ada batasnya. Toh di negara pembuatnya, setelah 25 tahun, pesawat itu tak dipakai lagi,” katanya.

G.A. Guritno, Averos Lubis, Hayati Nupus, Michael Agustinus, dan Fahmy Fotaleno

Majalah GATRA Edisi  36 / XXI 15 Jul 2015

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s