OLAHRAGA

Merajut Asa di Asian Games

Indonesia berhasil menyabet medali emas di nomor individual umum Kejuaraan Dunia Ketepatan Mendarat Paralayang. Meski prestasi menurun, momen ini diharapkan bisa mendorong cabang olahraga Paralayang masuk ajang Asian Games 2018.

Berdiri di areal lepas landas, Lis Andriana, 33 tahun, mengangkat wajah ke langit, kemudian membentangkan kedua tangannya. Atlet senior paralayang ini khusyuk, merasakan arah angin yang berembus. Sesaat kemudian, ia langsung berujar menandai arah angin. “Tail wind, tail wind, tail wind (arah angin dari belakang),” katanya, Ahad dua pekan lalu, di sela-sela ajang Kejuaraan Dunia Ketepatan Mendarat Paralayang kedelapan tahun 2015 di Puncak Gunung Mas, Bogor, Jawa Barat, 9-16 Agustus lalu.

Setelah mengendus arah angin, Lis kembali duduk ke belakang dan bercengkrama dengan para atlet antara lain, Tamara Kostic dari Serbia dan Tomas Lednik dari Republik Ceko. Mereka berbisik kecil membahas situasi angin di atas puncak gunung yang belum bersahabat bagi atlet paralayang.

Menurut humas Kejuaraan Dunia Ketepatan Mendarat Paralayang ke-8 2015, Tagor Siagian, ketika itu angin berembus kencang di angka 28 km per jam, padahal kecepatan ideal terbang adalah saat angin berada di angka 10-15 km per jam. ”Faktor cuaca, yaitu arah angin yang susah diprediksi membuat kejuaran berlangsung sampai lima ronde,” ungkapnya kepada Gatra.

Ia menjelaskan bahwa arah angin dari belakang lokasi lepas landas (tail wind) dan arah angin bersilang (crosswind) terus terjadi sampai siang hari. Kedua arah angin ini tidak disarankan untuk paralayang. Akibatnya, rencana melanjutkan sisa ronde keenam, Minggu 16 Agustus lalu batal. Direktur Lomba, Andika Munir, langsung menyatakan lomba ditutup. Padahal, sebelumnya, lomba di hari pertama pun juga batal terjadi karena tail wind sampai sore hari.

Akhirnya, kejuaraan yang diikuti oleh 121 atlet dari 19 negara ini hanya berjalan lima 5 ronde. Padahal menurut rencana awal, akan menggelar 12 ronde dari tiga nomor. Yaitu nomor individual umum, putri, dan beregu. Hasilnya, Thailand mendominasi juara untuk nomor putri yang diikuti sebanyak 24 atlet. Nunnapat Phuchong dari Thailand berhasil meraih medali emas, dengan 11 poin. Untuk medali perak, diraih Hye Joung Cho dari Korea dengan poin 239, dan medali perunggu direbut Jolanta Romanenko dari Lithuania dengan poin 339.

Sedangkan untuk nomor individual umum, pilot asal Indonesia, Dede Supratman berhasil menyabet medali emas dengan torehan delapan poin. Lalu, Matjaz Sluga asal Slovenia meraih medali perak dengan sembilan poin, sedangkan Tomas Lednik dari Republik Ceko yang mencatat 10 poin, meraih medali perunggu. Untuk nomor beregu yang hanya diikuti oleh 10 negara, Thailand keluar sebagai juara dengan raihan 221 poin. Disusul Serbia yang meraih medali perak dengan 297 poin, sedangkan Indonesia harus puas dengan medali perunggu dengan 459 poin.

Diakui Tagor Siagian, sebagai tuan rumah Indonesia tidak optimal dalam kejuaraan kali ini. Menurutnya, ada banyak faktor kenapa tim paralayang Indonesia banyak gagal meraih medali di tiga nomor. Semisal di nomor putri, Lis Andriana dari Indonesia sekaligus Juara Seri Piala Dunia Ketepatan Mendarat Paralayang (PGAWC) 2012-2014 itu cedera saat latihan mendarat. Akibatnya, atlet paralayang asal Kutai, Kalimantan Timur, ini kurang maksimal saat bertanding. ”Kaki kanannya terkilir,” ujarnya.

***

Meski tim paralayang Indonesia tidak tampil prima, para atletnya masih optimistis akan berkembang lebih jauh. Mereka pun berharap cabang olahraga ini bisa masuk Asian Games tahun 2018 yang akan diselenggarakan di Indonesia. Thomas Widyananto, atlet putra paralayang, berharap Pemerintah melalui Menteri Pemuda dan Olahraga, Iman Nahrawi, dapat meloloskan paralayang sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan pada Asian Games mendatang. ”Dari Asia Tenggara lawan terkuatnya masih Thailand. Sedangkan untuk di Asia adalah Cina dan Korea. Namun, kesempatan menjadi juara masih besar,” ucapnya.

Sekretaris Jenderal Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Pusat, Marsma TNI Nil Handri, pun mengamini keinginan para atlet. Terlebih, cabang olahraga ini sudah banyak penggemarnya, 2000-an orang. Dan tersebar di Jawa Barat, Sumatera Barat, dan Bali. ”Ini olahraga yang sudah diketahui orang di Indonesia,” ucapnya kepada Gatra.

Menurut Nil, sebelumnya paralayang dan panjat tebing masuk cabang olahraga yang akan dipertandingkan di Asian Games dari OCA (Olympic Council of Asia). Bahkan surat-surat yang diperlukan agar paralayang dapat masuk ke Asian Games sudah diserahkan ke Komite Olimpiade Indonesia (KOI). ”Presiden FAI Asia sudah menghadap Rita Subowo, Ketua KOI,” katanya.

Nil pun kembali mengingat prestasi manis tim paralayang Indonesia di SEA Games ke-26 di Palembang dan Jakarta pada tanggal 11-22 November 2011 silam. Tim atlet paralayang Indonesia menjadi juara umum dengan perolehan medali: 11 emas, empat perak, dan enam perunggu. ”Karena itu, paralayang layak ikut serta di Asian Games 2018,” tuturnya.

Sayangnya, perkembangan terakhir malah cabang olahraga bridge yang masuk menggantikan paralayang di Asian Games 2018. Menurut Kepala Komunikasi Publik Kemenpora, Gatot S. Dewa Broto, ada dua alasan Indonesia menerima pergantian paralayang menjadi bridge. Pertama, karena bridge diminati oleh banyak negara, dan potensi medali yang didapatkan tim Merah Putih juga cukup besar.

OCA sebelumnya telah menyarankan kepada Indonesia untuk mempertandingkan cabang olahraga yang berpotensi medali bagi tuan rumah. Selain itu, dari 46 negara peserta ada 20 negara yang menyatakan siap menurunkan atletnya di bridge. “OCA memang mendorong tuan rumah untuk mendaftarkan cabang olahraga yang berpotensi medali, bukan hanya populer. Oleh sebab itu, kami melihat potensi medali bridge cukup besar,” ujar Gatot.

Sebagai catatan, ia melanjutkan, olahraga bridge di Indonesia memang cukup menjanjikan dalam dua tahun terakhir. Pada Kejuaraan Dunia 2014 lalu, Indonesia juara di nomor senior team dan juara Asia nomor senior. Terakhir, bridge Indonesia runner-up di Asian Pasific Bridge Federation (APBF) Champions 2015.

Walau kondisinya seperti itu, Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, mengatakan tetap akan berusaha mendorong supaya paralayang menjadi salah satu cabang olahraga yang akan dipertandingkan dalam ajang Asian Games 2018. “Kita sedang berupaya untuk meyakinkan negara-negara lain agar paralayang ini dipertandingkan di Asian Games 2018,” kata Nahrawi, saat membuka Kejuaraan Dunia Ketepatan Mendarat Paralayang kedelapan.

Ia mengatakan, Indonesia sudah sering “berbicara” di gelanggang Internasional untuk paralayang. Baru sekali ini WPAC digelar di Asia, dan Indonesia dipilih sebagai pengakuan atas prestasinya. “Karena Indonesia menjadi negara Asia pertama sebagai tuan rumah kejuaraan dunia. Dan yang paling berkesan di hati saya, Kejuaraan Dunia ini rangkaian 70 tahun Kemerdekaan Indonesia, terima kasih kepada atlet seluruh dunia atas kehadirannya,” kata dia.

Averos Lubis

Majalah GATRA Edisi 44 / XXI 9 Sep 2015

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s