EKONOMI & BISNIS

Rugi Trilyunan karena Asap

Kerugian ekonomi akibat kabut asap diperkirakan mencapai trilyunan rupiah. Bisnis jasa dan transportasi terpukul.

Sudah sebulan lebih Nilawati Suhendri, 41 tahun, cuma duduk-duduk di kantornya. Pemilik biro travel Trans Global Tour itu memang lagi dilanda krisis. Pelanggan seret.

Biasanya, per hari ibu empat anak ini mampu menjual 50 tiket pesawat jurusan Jambi. Dari situ ia bisa meraup omzet Rp 50-an juta. Tapi sejak Agustus lalu, kabut asap membuat bisnis travel yang digelutinya sejak 2002 ini kocar-kacir. Pesawat delay, Bandara Sultan Thana, Jambi, akhirnya ditutup, dan pelanggan kabur.

Omzet Nila pun terpangkas sampai 80%. Kini, ia hanya mampu meraup omzet rata-rata Rp 10 juta per hari. Untuk mengatasi Bandara Jambi yang buka-tutup menyesuaikan asap, Nila pun mengarahkan para penumpang yang menuju Jambi untuk menggunakan angkutan darat, via Palembang. Meski cuma sedikit yang bersedia, karena perjalanan via darat memakan waktu sampai tujuh jam.

Di luar jual-beli tiket, bisnis lainnya, yakni pariwisata juga terpukul. Sudah sebulan lebih praktis tidak ada lagi wisatawan lokal Jambi yang memesan layanan paket Trans Global Tour. “Biasanya dalam sehari paling tidak kami masih punya 2-3 konsumen, sekarang nol besar,” katanya ketika ditemui di kantornya.

Nia bukan satu-satunya pebisnis yang mengeluh rugi lantaran asap. Penurunan omzet itu dirasakan secara merata oleh sekitar 70 pengusaha travel di Jambi. Bahkan juga di provinsi lain yang terkena kabut asap, yakni Riau dan Kalimantan.

Awal September lalu misalnya, Asosiasi Tur dan Travel Indonesia (Association of the Indonesian Tours and Travel/Asita), memperkirakan kerugian sektor pariwisata di tiga provinsi itu mencapai Rp 5 milyar per hari.

Menurut Asnawi Bahar, Ketua Asita, angka Rp 5 milyar itu dihitung berdasarkan jumlah kunjungan wisatawan di tiga provinsi (Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan) yang mencapai 5.000 orang per hari. Dengan asumsi tiap wisatawan menghabiskan Rp 1 juta per hari, maka kerugian akibat lenyapnya wisatawan mencapai Rp 5 milyar per hari. “Kalau kabut asap ini lama, akan luar biasa dampaknya pada ekonomi kerakyatan,” katanya.

Kerugian juga dirasakan pihak maskapai penerbangan. Bahkan lebih besar, mencapai milyaran rupiah. Inilah yang dirasakan maskapai penerbangan Lion Air.

Mardanus, Kepala Cabang Lion Air Jambi, kepada Gatra menjelaskan bahwa dalam sehari maskapainya melayani enam penerbangan bolak-balik, tujuan Jambi-Jakarta dan Jambi-Batam. Total penumpang yang diangkut tiap hari mencapai 3.000 orang.

Tapi, sudah 1,5 bulan ini bandara di Jambi sering tutup karena asap. Pasalnya, menurut Mardanus, Bandara Sultan Thaha tidak memiliki fasilitas Instrument Landing System/ILS hingga jarak pandang yang dibutuhkan lebih panjang. “Karena tidak punya ILS, butuh jarak pandang minimum 2.400 meter. Kalau ada ILS, cukup jarak pandang 1.000 meter,” katanya.

Sabtu pekan lalu, ketika ditemui Gatra di kantornya, tidak banyak kesibukan berarti di kantor Mardanus. Maklum, bandara masih tutup. Hari itu BMKG menyatakan jarak pandang di bandara di Jambi cuma 800 meter. Masih butuh 1.600 meter lagi, baru bandara bisa buka.

Kerugian akibat batalnya rute penerbangan ini tidak cuma dari penumpang, tapi juga dari layanan kargo. Setiap hari, menurut Mardanus, kargo Lion Air mengangkut barang sampai enam ton per hari. Layanan kargo saat ini juga berhenti.

Mardanus memang menolak menyampaikan nominal kerugian yang diderita Lion Air Jambi. “Saya tidak dalam kapasitas untuk menyampaikan kerugian secara detail,” katanya.

Namun, dengan harga tiket Jakarta-Jambi yang rata-rata Rp 500.000, kerugian dari batalnya pengangkutan 3.000 penumpang setara dengan Rp 1,5 milyar per hari. Belum lagi bila menghitung sudah 1,5 bulan bandara Jambi buka-tutup.

Lion Air bukan satu-satunya maskapai yang merugi. Maskapai penerbangan Garuda mengalami kerugian serupa. Arif Wibowo, Direktur Garuda, pekan lalu ketika ditemui di Kementerian BUMN menyatakan, sampai 400 penerbangan ketiga provinsi tersebut batal. “Kerugiannya milyaran,” katanya.

Sektor lain yang juga terkena dampak asap adalah kelapa sawit. Joko Supriyono, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) bahkan mengatakan, industri sawit rugi dua kali. Selain kerugian ekonomi, perusahaan sawit juga mengalami kerugian yang sifatnya tidak kasat mata (intangible loss), yakni dituduh sebagai pelaku pembakaran hutan. “Meski kami menganut prinsip zero burning, kadang kebakaran tak terelakkan, apalagi dengan lahan konsensi yang berbatasan dengan semak belukar. Kami sering kecipratan api dan kebakaran melanda areal kami,” katanya.

Kerugian ekonomi akibat kabut asap memang nyata. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun sudah beberapa kali melakukan penghitungan. Data kerugiaan ini dihitung dari membandingkan angka produk domestik bruto (PDB) sebuah provinsi pada bulan-bulan terkena kabut asap, lalu dibandingkan dengan PDB saat belum ada bencana.

PDB merupakan indikator perputaran uang di suatu daerah. Maka itu, anjloknya wisatawan, penurunan jumlah layanan pesawat, rendahnya hunian hotel, kemerosotan transaksi perdagangan dan sebagainya, akan tercermin dalam PDB.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Data dan Informasi BNPB, kepada Gatra menjelaskan bahwa pada bencana kabut asap 2013 lalu, kerugian ekonomi mencapai Rp 10 trilyun. Lalu pada kebakaran hutan 2014 lalu, jumlah kerugian meningkat menjadi Rp 20 trilyun. Angka Rp 20 trilyun itu pun hanya untuk Provinsi Riau, yang ketika itu paling parah terkena dampak kabut asap.

Untuk kerugian tahun ini, menurut Sutopo, BNPB memang belum menghitung. Tapi ia yakin nominal kerugiannya jauh melebihi Rp 20 trilyun. Pasalnya, bila mengacu pada data tahun lalu, angka Rp 20 trilyun itu hanya untuk Provinsi Riau. Ketika itu kebakaran hutan memang terkonsentrasi di sana.

Tapi tahun ini kebakaran hutan lebih parah sekaligus lebih menyebar. Asap menutup berbagai provinsi, seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, selama hampir dua bulan. Karena itu kerugian ekonomi diperkirakan jauh lebih besar dibandingkan dengan bencana 2014 lalu. “Daerah yang berdampak lebih luas dan lebih lama. Perkiraan awal, pasti lebih dari Rp 20 trilyun,” katanya.

Itu pun, menurut Sutopo, baru sebatas penghitungan kerugian ekonomi dari sisi PDB. Belum menghitung kerugian lain, seperti dampak lingkungan, kesehatan, pendidikan, dan emisi karbon. Karena itu, kebakaran hutan harus diatasi sesegera mungkin. “Kerugian ekonomi kebakaran hutan itu memang terbesar bila dibanding bencana lain,”  katanya.

Basfin Siregar, Averos Lubis dan Jogi Sirait (Jambi)

Majalah GATRA Edisi 48 / XXI 7 Okt 2015

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s