EKONOMI & BISNIS

Gejolak Setelah Rapat di Washington

Suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat tak jadi naik. Pasar keuangan dunia tetap bergejolak. Pemerintah Indonesia berusaha menambah partisipasi investor domestik.

Di tengah kelesuan ekonomi dunia, pasar keuangan dalam negeri Senin lalu bergairah dengan larisnya penjualan obligasi ritel ORI 012. Membludaknya peminat ORI 012 ini terlihat dari nilai pemesanan oleh agen penjualan yang mencapai Rp 34,6 trilyun. Nilai ini melebihi target indikatif emisi yang dipasang pemerintah sebesar Rp 20 trilyun.

Selain karena momentum yang tepat, tingginya minat terhadap ORI 012 juga dipicu oleh menariknya kupon yang ditawarkan, yakni sebesar 9%. Kupon ini lebih tinggi dari LPS Rate 7,75% dan melampaui suku bunga deposito di atas satu tahun rerata bank umum sebesar 8,68 %.

Menurut Direktur Jenderal Pengelolaan, Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Robert Pakpahan, target indikatif penerbitan ORI 012 yang melampaui target itu ada kemungkinan diperbesar. “Bisa di-upsize sampai Rp 25 trilyun,” katanya saat peluncuran ORI 012 di aula Djuanda, Kementerian Keuangan Jakarta, Senin lalu.

Tahun lalu, pemerintah melepas ORI Seri 011 dan bisa meraup utang hingga Rp 21,2 trilyun. Sementara itu, pada 2013 dan 2012, nilai dana yang bisa diperoleh dari obligasi jenis ini baru sekitar Rp 20,2 trilyun dan Rp 12,68 trilyun.

Peluncuran ORI 012 dimaksudkan untuk mengantisipasi defisit APBN-P 2015, serta mengembangkan pasar SUN domestik melalui diversifikasi sumber pembiayaan serta perluasan basis investor. Penerbitan ORI 012 juga menjadi jawaban atas ketidakpastian perekonomian dunia saat ini.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan, diperlukan bantuan investor dalam negeri untuk membiayai pembangunan di tengah keminiman investasi asing. “Ini adalah cara kami memperluas basis domestik,” kata Bambang.

Jika kepemilikan investor dalam negeri meningkat, Indonesia tidak terpengaruh oleh lonjakan dana asing keluar, ke negara yang lebih aman (safe haven). Langkah ini telah dirasakan Jepang ketika investor domestiknya mencapai 93%.

Langkah pemerintah ini juga sebagai antisipasi, setelah pasar kembali menghadapi ketidakpastian dengan hasil keputusan bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve alias The Fed) yang memutuskan untuk menahan suku bunga acuan (Fed fund rate) tetap di level 0% sampai 0,25%.

Keputusan untuk tidak menaikkan suku bunga itu diambil dalam rapat Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee –FOMC) pada Kamis pekan lalu waktu Washington, AS, melalui proses voting. Dalam rapat itu, sembilan dari 10 anggota komite memilih mempertahankan suku bunga acuan.

Yang menjadi pertimbangan The Fed dalam pengambilan memutuskan itu adalah perlambatan ekonomi dan keuangan global, khususnya perekonomian negara-negara berkembang dan perekonomian Amerika Serikat sendiri.

Dalam rapat itu disimpulkan, perkembangan ekonomi dan keuangan global terkini dapat menahan kegiatan ekonomi dan cenderung memberikan tekanan ke inflasi di dalam negeri. Sementara itu, angka pengangguran juga menunjukkan posisi yang masih negatif.

Meski tidak menaikkan suku bunga acuan saat ini, The Fed tetap menyatakan akan mengevaluasi kebijakan ini hingga akhir tahun nanti, yang berarti akan ada kemungkinan kenaikan suku bunga hingga Desember.

Situasi seperti ini, menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, membuat perekonomian negara berkembang seperti Indonesia malah terus-terusan tidak stabil. “The Fed ini menunda persoalan karena spekulasi akan datang lagi nanti menjelang ada agenda rapat FOMC,” ujar Darmin. “Ujungnya akan memengaruhi kurs.”

Seusai keputusan Bank Sentral Amerika, pasar keuangan dunia memang tetap mengalami gejolak. Seperti pada penutupan perdagangan Senin lalu, bursa saham di Sydney turun 2,02%, Seoul turun 1,57%, dan Hong Kong turun 0,75%. Namun di Shanghai ditutup naik 1,89%.

Nilai kurs di negara-negara berkembang juga menurun. Seperti won Korea Selatan turun 1,01% terhadap dolar Amerika Serikat. Ringgit Malaysia turun 1,53%, rupiah melemah 0,55%, dan baht Thailand 0,30%.

Bambang Brodjonegoro menegaskan, dengan adanya keputusan The Fed, maka diperlukan penghitungan lebih lanjut terkait dengan kondisi ekonomi terkini. Walau masih ada harapan ekonomi tidak terlalu menurun. Tahun depan, menurut Bambang, Dana Moneter Internasional (IMF) masih menetapkan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,8%, atau lebih tinggi dibandingkan 3,4% tahun lalu.

Ini artinya, masih ada optimisme secara global. “Jadi kami juga putuskan angka pertumbuhan 5,5% itu masih bisa dipakai sebagai acuan, atau bisa menggunakan angka yang lebih rendah,” ujarnya.

Bambang menjelaskan, optimisme tersebut bisa terlihat dari proyeksi perekonomian global yang diperkirakan lebih baik dari kondisi dua tahun terakhir, namun Indonesia harus mewaspadai potensi penurunan pertumbuhan ekonomi di Cina pada 2016.

Cina diproyeksikan mengalami perlambatan tahun depan, hanya 6,3% dari prediksi sebelumnya 6,8%. “Karena ekonomi kita dekat dengan Cina terutama ekspor dan impor, kita harus waspada dengan tanda kurang bagus tersebut,” kata Bambang.

Karena itu, Kementerian Keuangan bersama Bank Indonesia terus menjaga posisi nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen untuk memperbaiki kurs hingga mencerminkan ketahanan ekonomi Indonesia.

Selama ini, agar rupiah tidak terus melemah, di sektor moneter sudah ada upaya mengendalikan pemakaian valuta asing di dalam negeri dengan berbagai aturan. Nilai tukar rupiah, selama beberapa bulan terakhir terus melemah, selain karena faktor eksternal, juga akibat pemintaan di dalam negeri yang tetap tinggi terkait dengan pembayaran utang luar negeri dan kebutuhan impor.

Utang luar negeri swasta kini menjadi salah satu sandungan terbesar bagi kestabilan ekonomi. BI bahkan sudah menegarai, adanya risiko gagal bayar (default) terhadap utang luar negeri (ULN) Indonesia pada sektor swasta non-bank. Utang tersebut, terutama utang dengan tenor jangka pendek korporasi non-afiliasi yang sampai Juli 2015 mencapai US$ 14,6 milyar.

Di sisi lain, penurunan nilai tukar rupiah juga membuat cadangan devisa dalam negeri menurun signifikan. “Sampai akhir Agustus, cadangan devisa kita US$ 105,3 milyar. Tapi per hari ini, US$ 103 milyar. Itu masih bisa berubah,” kata Gubernur BI, Agus Martowardojo, Senin lalu, di Gedung DPR, Senayan Jakarta.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Tony Prasetyantono menilai, fundamental ekonomi Indonesia saat ini memang mulai melemah, karena rupiah terdepresiasi dalam persentase yang signifikan dan dalam tempo yang cukup panjang. Hal ini menyebabkan kepercayaan masyarakat berkurang sehingga mengurangi konsumsi. Ini sudah tampak pada saat Lebaran lalu. Konsumsi masyarakat saat itu turun dibandingkan tahun lalu. Ini merupakan indikasi melemahnya kepercayaan tadi, dan yang pasti akan berdampak pada melemahnya pertumbuhan ekonomi. “Tahun ini saya duga pertumbuhan ekonomi bakal di bawah 5%, mungkin hanya 4,8%,” kata Tony.

Meski begitu, ia juga masih optimistis, karena beberapa kebijakan pemerintah dalam meningkatkan daya saing di dalam negeri, juga perbaikan struktur perekonomian untuk menggeser dari ketergantungan pada produk primer menuju ke arah produk-produk manufaktur, bisa menggenjot perekonomian. “Untuk menuju ke sana, iklim industri di Tanah Air harus diperbaiki, agar investor, termasuk asing, bergairah menanamkan modalnya di sini,” katanya.

Langkah pemerintah menjual surat berharga juga sudah tepat. Ini juga seiring dengan usaha menggaet investor dari luar. “Presiden Jokowi ke Timur Tengah kemarin kan dalam rangka itu. Kita butuh menerbitkan surat utang (obligasi) agar dana asing (valas) masuk ke Indonesia, untuk memperkuat cadangan devisa, yang akan berdampak positif bagi rupiah,” kata Tony.

Mukhlison S. Widodo, Fahmy Fotaleno, Averos Lubis, dan Arif Koes Hernawan (Yogyakarta)

Majalah GATRA Edisi 47 / XXI 30 Sep 2015

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s