LAPORAN UTAMA

Asap Membubung, Ekonomi Limbung

Kebakaran hutan yang kian meluas berdampak pada sektor ekonomi. Meski belum ada nilai pasti, kerugiannya lebih dari Rp 20 trilyun.

Suasana tak umum tampak di Kampoeng Radja, Simpang Rimbo, sekitar 15 kilometer dari pusat kota Jambi pada Ahad lalu. Lahan parkir kendaraan yang biasanya penuh, hari itu tampak lengang. Pun demikian dengan beragam wahana bermain di dalamnya, sepertigokart, komedi putar, pinball, hingga flying fox, saat itu tak beroperasi. ”Sejak pagi hingga siang, tak seorang pun pengunjung datang ke tempat kami,” kata Direktur Operasional Kampoeng Radja, Rismawadi, kepada Gatra.

Sepinya pengunjung di salah satu tempat rekreasi favorit di Jambi tersebut tak lepas dari kebakaran hutan yang melanda sebagian wilayah Sumatera, tiga bulan terakhir. Di Jambi, per hari Minggu lalu, jumlah titik api mencapai 111 spot. Angka itu meningkat cukup drastis dibandingkan dengan sepanjang minggu lalu, yang 40-60 titik. Hal ini menyebabkan jarak pandang di Jambi turun. Yang terparah terparah pada Sabtu-Minggu lalu, yang hanya 300-500 meter. Selain itu, indeks standar pencemaran udara rata-rata 300 particles per million, yang terkategori berbahaya.

Itulah yang membuat Kampoeng Radja sepi pengunjung. ”Sejak awal September, kami sepi pengunjung karena asap,” kata Rismawadi. Penurunan jumlah pengunjung di Kampoeng Radja ini sangat signifikan. Menurut Rismawadi, tiap hari libur seperti Sabtu-Minggu dan hari-hari besar nasional, dalam sehari pengunjungnya 1.000 orang lebih. ”Sekarang untuk bisa sampai 200 orang saja sangat sulit,” katanya.

Dengan fakta tersebut, di hari libur sejak September sampai sekarang, artinya pengunjung yang datang berkurang sekitar 800 orang. Satu tiket harganya Rp 50.000. Artinya, potensi kerugian Kampoeng Radja Rp 40 juta per hari. Itu hanya di hari libur dan dari tiket.

Untuk mengatasi hal tersebut, pihak manajemen memberikan diskon. Bagi anak-anak, potongannya Rp 25.000. Untuk dewasa dikorting Rp 10.000. Namun, hal ini tak banyak membantu. ”Tempat kami masih saja sepi,” katanya. Kalau kondisi seperti itu terus berlangsung hingga Desember, menurut Rismawadi, bukan tidak mungkin pihaknya bakal mengurangi jumlah pekerja.

Setali tiga uang, di Palembang, Sumsel, akibat bencana asap, sektor pariwisata mengalami kerugian. Amanzi Waterpark, merasakan betul dampak asap yang tak kunjung mereda ini. Menurut Head of Operational Amanzi Waterpark, Wawan Setiyono, dalam dua bulan terakhir, pengunjung tempat rekreasi air terbesar di Sumsel itu melorot hingga 50%.

Biasanya, di hari libur jumlah pengunjungnya bisa lebih dari 1.000 orang. Namun kini tidak sampai 500 orang. Lebih parah lagi di hari-hari biasa, total pengunjungnya tidak sampai 150 orang. Padahal, biasanya 400-an orang. Harga tiket masuk Amazi Waterpark bervariasi, Senin-Jumat Rp 50.000, Sabtu Rp 75.000, dan Minggu Rp 100.000.

Bila dirata-rata harga tiket Rp 75.000 saja dengan potensi pengunjung berkurang di angka 250 orang, artinya dalam dua bulan terakhir Amazi Waterpark kehilangan pemasukan Rp 18,75 juta per hari. Bila dikalikan 30 hari, setidaknya potensi yang lepas itu lebih dari Rp 562 juta sebulan. ”Pengunjung banyak yang takut dengan kabut asap karena berpengaruh bagi kesehatan,” kata Wawan.

Untuk mengurangi potensi kerugian lebih besar, kini pihak manajemen mengurangi jam operasional Amanzi. Biasanya, wahana ini buka pada pukul 8 pagi dan tutup 18.00. Namun, sejak jumlah pengunjung menurun, pihak manajemen membuka wahana bermain lebih siang, yakni pukul 10 dan tutup lebih awal 16.00. Sedangkan untuk membetot pengunjung, pihak manajemen memberi diskon setengah harga untuk hari Jumat. Tapi toh nyatanya, taktik ini tidak berhasil. ”Itu masih tidak menutupi biaya operasional yang dikeluarkan,” kata Wawan.

Sektor perhotelan di daerah Palembang juga limbung terkena asap. Menurut catatan Penghimpunan Hotel dan Restoran di Indonesia (PHRI) Sumsel, tingkat hunian hotel selama dua bulan terakhir menurun hingga 15%. Penurunan ini tamu dari luar Palembang yang membatalkan pemesanan. ”Jelas pengaruh sekali asap ini. Banyak event-event jadi batal,” kata Ketua Badan Pimpinan Daerah PHRI Sumsel, Herlan Asfiudin.

***

Penurunan jumlah wisatawan ini sangat dipengaruhi oleh jadwal penerbangan. Banyak agen travel yang ketiban buntung akibat kebakaran hutan. Trans Global Tours di Jambi, contohnya. Bila sebelum berkalang kabut, dalam sehari mereka bisa menjual 50 tiket, kini tinggal 10 tiket. Setidaknya, kata Nilawaty Suhendri, pemilik Trans Global Tours, kerugian rata-rata mencapai Rp 50 juta per hari.

Nilawaty bukan satu-satunya agen travel yang mengeluhkan bisnisnya seret karena asap. Penurunan omzet itu juga dirasakan secara merata oleh sekitar 70 pengusaha travel di Jambi. Bukan hanya itu, di dua provinsi lain di Pulau Sumatera, Palembang dan Riau, hal yang sama juga dirasakan.

Menurut catatan Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies (Asita), akibat kebakaran hutan di Sumatera saja, setidaknya terjadi penurunan jumlah wisatawan hingga 80%. Hal ini disebabkan, beberapa destinasi utama terkena dampak kebakaran hutan. Di Sumatera, misalnya, meski hanya beberapa provinsi yang terbakar, dampak asap juga berpengaruh ke daerah lain.

”Saya melihat ini ada pembatalan domestik maupun internasional. Selain itu, kebakaran hutan ini juga mengganggu sirkulasi barang dan jasa yang berkaitan dengan industri pariwisata,” kata Ketua Umum Asita, Asnawi Bahar, kepada Gatra.

Berdasarkan perhitungan dia, lalu lintas penerbangan di Sumsel, Jambi, Riau, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara dalam kondisi normal mencapai 5.000 orang per hari. Akibat bencana ini, Asnawi memperkirakan, pergerakan para pengunjung di lima provinsi tersebut kini tinggal 20%. Penerbangan internasional langsung ke beberapa destinasi juga berkurang. ”Seperti Sumbar yang kaya tempat wisata, meski tidak ada asap, tapi itu (wisatawan) tetap berkurang,” kata dia.

Asnawi mengilustrasikan, dari empat-lima bandara itu jika penurunannnya hingga 80%, tinggal sekitar 1.000 pergerakan per hari. Misal, dalam satu paket perjalanan tiga hari dua malam itu seharga Rp 1,7 juta, maka akan ada kerugian sekitar Rp 6 milyar per hari. ”Ini kerugian kan sudah berbulan-bulan. Belum lagi dampak dari petani, hotel dan lain sebagainya. Ini memengaruhi laju pendapatan,” ujar Asnawi, menyayangkan.

Itu baru di Pulau Sumatera. Belum lagi di Kalimantan dan kini merambat hingga Sulawesi, Maluku dan Papua. Di Kalimantan, menurut Asnawi, banyak wisatawan yang ingin datang ke pulau dengan jumlah hutan terluas di Indonesia tersebut, untuk melihat orang utan. Namun, akibat kebakaran hutan, banyak yang batal berkunjung. Belum lagi di Papua dengan Raja Ampat-nya. ”Jangka panjang ini memengaruhi target-target capaian wisatawan asing dan domestik,” ujar dia.

Target wisatawan mancanegara (wisman)tahun 2015 yang ditetapkan, kata Asnawi, adalah 10 juta orang. ”Bahkan Menteri Pariwisata sempat mengatakan 12 juta,” kata dia. Sebagai catatan, pada 2014, jumlah wisman yang berkunjung ke Indonesia sebanyak 9,4 juta orang. Sedangkan pemasukan negara dari sektor pariwisata mencapai US$ 10 milyar. Namun dengan kondisi ini, Asnawi pesimistis target itu bakal tercapai. ”Kemarin saja baru tercapai 8,6 juta (wisman).”

Secara nasional, daerah-daerah yang terkena kebakaran dan asap itu, dalam kondisi normal, berkontribusi sampai 20% pergerakan wisatawan. Sedangkan untuk Sumatera, destinasi utamanya adalah ke Batam, yang mencapai 2 juta penerbangan per tahun. Sementara empat provinsi lain di Sumatera mencapai satu juta pergerakan.

Soal penerbangan juga dikeluhkan semua maskapai nasional. Menurut Ketua Indonesian National Air Carrier Association (INACA), Arif Wibowo, kebakaran hutan ini menimbulkan kerugian berarti bagi pihak maskapai. ”Besar sekali dampaknya karena kita banyakopportunity lost. Penerbangannya banyak yang cancel, reschedule, postpone, delay dan sebagainya,” kata Arif kepada wartawan Gatra, M. Afwan Fathul Barry.

Arif tidak menyebutkan angka kerugian. Namun Chief Executive Officer Garuda Indonesia ini mengilustrasikan kerugian yang dialami Garuda Indonesia. Pada September 2015, Garuda gagal menerbangkan 120.000 penumpang karena harus cancel flight akibat kebakaran hutan. Bila satu tiket seharga Rp 500.000 saja, kerugian Garuda mencapai Rp 60 milyar.

Kerugian tersebut memang tak terhindarkan. Alasannya, tentu demi keselamatan penumpang. Pasalnya, jarak pandang di berbagai daerah yang terjadi kebakaran hutan hanya 500 meter. Angka tersebut tak bisa mencapai minimum jarak pandang pesawat komersial. ”Jarak pandang minimal pilot bisa mendarat adalah 1.000 meter,” kata Arif.

***

Sektor lain yang terkena dampak kebakaran hutan adalah perdagangan. Menurut Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Riau,kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan di Provinsi Riau lebih dari Rp 20 trilyun. Estimasi tersebut dengan memperhitungkan bencana asap yang melumpuhkan ekonomi Riau sejak Agustus. ”Kalau menggunakan metode penyusutan produk domestik regional bruto Riau, terjadi penyusutan sekitar 8% atau potential loss-nya sekitar Rp 20 trilyun,” kata Viator Butarbutar, Wakil Ketua Umum Kadin Riau.

Secara nasional, hingga kini belum ada estimasinya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) beberapa kali menghitung nilai kerugian. Perhitungan tersebut didapat dari perbandingan angka pendapatan domestik bruto (PDB) sebuah provinsi sebelum dan pada bulan-bulan saat kabut asap menyelimuti daerah itu.

PDB merupakan indikator ekonomi suatu daerah. PDB itu mencangkup nilai keseluruhan semua barang dan jasa yang diproduksi suatu wilayah dalam suatu jangka waktu tertentu, biasanya satu tahun. Maka, anjloknya wisatawan, penurunan jumlah layanan pesawat, rendahnya hunian hotel, kemerosotan transaksi perdagangan dan sebagainya, akan tercermin dalam PDB.

Dengan kebakaran yang belum padam, bahkan cenderung meluas ke beberapa pulau, hingga saat ini BNPB tidak dapat menyebutkan secara pasti jumlah kerugian yang diakibatkannya. Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Data dan Informasi BNPB, memberikan gambaran kebakaran hutan pada tahun sebelumnya. Pada 2013, kerugian ekonomi mencapai Rp 10 trilyun. Lalu pada kebakaran hutan 2014, jumlah kerugiannya meningkat, dua kali lipat. Angka Rp 20 trilyun itu pun hanya di satu propinsi, Riau, yang ketika itu paling parah terkena dampak kabut asap.

Fakta bahwa pada 2015 ini kebakaran hutan semakin meluas di beberapa daerah, maka menurut Sutopo, nilai kerugian akibat si jago merah ini lebih dari Rp 20 trilyun. ”Daerah yang berdampak lebih luas dan lebih lama. Perkiraan awal, pasti lebih dari Rp 20 trilyun,” katanya kepada Gatra, beberapa waktu lalu.

Itu pun, menurut Sutopo, baru sebatas penghitungan kerugian ekonomi dari sisi PDB. Belum lagi kerugian dari sisi lain, seperti dampak lingkungan, kesehatan, pendidikan, dan emisi karbon. Karena itu, kebakaran hutan harus diatasi sesegera mungkin. ”Kerugian ekonomi kebakaran hutan itu memang terbesar bila dibanding bencana lain,” katanya.

Andya Dhyaksa, Taufiqurrohman, Averos Lubis, Noverta Salyadi (Palembang), dan Jogi Marulita Sirait (Jambi)

Majalah GATRA Edisi  51 / XXI 28 Okt 2015

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s