EDISI KHUSUS Geopark

Oh, Toba Na Sae

 

 

Pusuk Buhit menjadi tengara penting Geopark Kaldera Toba. Bukti kekayaan keanekaragaman geologi dengan budaya yang kental. Sejarah dampak humongous letusan Gunung Api Toba puluhan ribu tahun lalu menjadi modal utama Toba menuju daftar Unesco Geopark Network. Terus berbenah menuju ”Monaco of Asia” di 2019.

 

Penulis : Averos Lubis

Tengoklah Sianjurmulamula. Letaknya di antara lembah kembar Sagala dan Limbong, berlekuk di Gunung Pusuk Buhit. Lebih tinggi dari lembah-lembah sepanjang garis pantai Danau Toba. Ia adalah desa pertama, permukiman pertama masyarakat Toba. Tempat Si Raja Batak pertama menurunkan suku Batak.

Paparan itu telah di ketengahkan penyair dan pemikir kebudayaan Batak, Sitor Situmorang, dalam buku Toba Na Sae: Sejarah Lembaga Sosial Politik Abad XIII – XX (2004) yang diterbitkan Komunitas Bambu. Sastrawan yang mangkat dalam usia 91 tahun pada Desember 2014 lalu itu, memberi catatan-catatan menarik tentang peran penting Sianjurmulamula dan Pusuk Buhit dalam aroma kenangan yang kental.

Secara administratif, Desa Sianjurmulamula berada di Kecamatan Sianjurmulamula, salah satu dari sembilan kecamatan Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Di kecamatan ini terdapat 11 desa yang didominasi pemilik marga Nainggolan, Sihotang, Gultom dan Situmorang. Tidak mengherankan jika dalam Toba Na Sae, Sitor secara meyakinkan mengetengahkan sejumlah kesimpulan yang intim tentang interaksi masyarakatt Batak, yang mula-mula menghuni desa itu, dengan alam.

Dari sudut pandang mitologi, desa ini disebut sebagai tempat asal mula manusia diturunkan oleh penghuni dunia atas. Ada yang menempatkannya sebagai Bona Pasogit (kampung halaman) yang secara historis diakui orang Batak masa kini -dari berbagai puak– di mana pun mereka berada.

Di Sianjurmulamula ini pula Gunung Pusuk Buhit berada. Ia merupakan pusat dalam peta spiritual Toba. Dalam Toba Na Sae, Sitor mengungkapkan, sebelum pengaruh modern masuk, Pusuk Buhit merupakan kiblat tradisi dalam menggelar upacara dan ritual adat desa-desa di Toba. Ia adalah tempat doa-doa dipanjatkan dan bukit keramatnya menjadi persemayaman roh-roh leluhur pendahulu Si Raja Batak.

Warga desa sekitar Pusuk Buhit, termasuk Sianjurmulamula, masih memercayai tradisi keramat di puncak Pusuk Buhit. Bahwa di puncak gunung, cucu paling tua Si Raja Batak, yakni Raja Uti, dikembalikan oleh orangtuanya, Guru Tatea Bulan, kepada Mula Jadi Nabolon: dewa tertinggi mitologi Batak.

Raja Uti, menurut cerita orang desa, kembali muncul beratus tahun kemudian di puncak gunung dengan kesaktian mumpuni. Peziarah banyak memanjatkan doa kepada Mula Jadi Nabolon melalui Raja Uti. Syarat dasar berdoa di puncak Pusuk Buhit, peziarah harus membawa jeruk purut, daun sirih, dan telur ayam, masing-masing tujuh.

Gunung Pusuk Buhit berada di Pulau Samosir yang memiliki luas 1.419,5 kilometer persegi. Pulau Samosir terletak di tengah Danau Toba di pulau Sumatera. Sebab itu, Samosir dikenal dengan istilah ”pulau di dalam pulau”.

Sekitar 74.000 tahun silam, letusan mahadahsyat supervolcano Gunung Api Toba melahirkan danau dan Kaldera Toba yang membentang di tujuh kabupaten — Simalungun, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Dairi, Karo dan Samosir– di kawasan Danau Toba.

Karena ”keagungan” sejarah vulkanik dan fenomena pembentukan kawasannya yang sangat menarik, pada Oktober 2013, Kaldera Toba dikukuhkan sebagai Geopark Nasional dan diresmikan pada Maret 2014 oleh Presiden RI ketika itu, Susilo Bambang Yudhoyono. Kawasan Geopark Kaldera Toba memiliki 42 geosite dengan Pulau Samosir sebagai pusat etalasenya.

***

”Toot… toot… tooot….” Lamat-lamat bunyi kapal berbadan besar terdengar di ujung danau. Kapal ferry berukuran 300 GT dari Pelabuhan Tomok, Samosir, tiba di Pelabuhan Ajibata, Parapat. Suara cempreng pengeras suara dari kotak penjualan karcis memanggil satu per satu nomor pelat kendaran penumpang untuk masuk ke dalam kapal. Penumpang bersiap diri untuk kembali ke Samosir. Perjalanan menyeberang itu memakan waktu satu jam.

Bocah-bocah perenang koin Ajibata kadang ikut menebeng ke Tomok. Di kapal, mereka mencari peruntungan dengan mengamen, menyanyikan lagu-lagu pop ataupun lagu Batak. Kadang juga, setiap menerima uang koin recehan, mereka menggoda penumpang, ”Uang kertaslah, Kak,” ujar mereka dengan nada bercanda.

Sesampai di Tomok, mobil berseliweran dari dan ke Desa Marlumba, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, melewati papan informasi berwarna cokelat: “Warisan Bumi Kawasan Geopark Kaldera Toba” yang disertai beberapa foto bukti Kaldera Toba. Lokasinya di antara jembatan berwarna kuning dan kantor Kepala Desa Marlumba.

Papan informasi itu adalah panel pertama di Geopark Toba yang berisi hal-hal mengenai pembentukan Pulau Samosir. Namun, meski wisata geopark telah dibuka, saat itu, menurut keterangan masyarakat setempat, banyak wisatawan yang tidak menyadari bahwa mereka berada di bagian cerita geologi legendaris pembentukan Kaldera Toba.

Agak jauh dari Pangururan, sekitar 45 km, tepatnya di Desa Sigulatti, berdiri ”Museum Pusat Informasi Geopark Toba”. Museum yang dibangun dengan biaya Rp 3 milyar itu hingga kini belum juga selesai penyiapan materinya dan belum di buka untuk umum. Banyak ruangan yang masih kosong melompong.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Samosir, Ombang Siboro, sudah ada sejumlah contoh batuan dan contoh dari site non-geologi yang disiapkan. Penyelesaiannya akan jadi prioritas karena keberadaan museum diharapkan akan meningkatkan nilai kompetitif Geopark Toba menuju daftar Unesco Geopark Network (UGN).

Di Samosir saja, menurut Ombang, tersedia tidak kurang dari 21 geosite yang memuat ”atraksi-atraksi geologi” dan budaya yang sangat bervariasi. Selain itu, ”Samosir dijadikan sebagai percontohan pengembangan ekonomi inklusi berbasis pariwisata di Sumatera Utara,” ujarnya.

Fasilitas akomodasi banyak tersedia di pulau ini, juga pusat suvenir. Situs-situs geoturismenya antara lain Batu Persidangan Sialagan. Ada juga sejumlah situs non-geologi seperti kawasan perajin Ulos dan Museum Hotabolon. Tidak ketinggalan, atraksi wayang Si Gale-gale, yang saban jam 11.30 waktu setempat siap menyambut turis di Samosir.

Pada 2015, Geopark Kaldera Toba telah diusung untuk masuk UGN. Namun gagal. Penyebabnya antara lain karena dinilai belum memiliki struktur kelembagaan geopark yang bersifat top-down. ”Intinya, perlu keterlibatan masyarakat secara lebih aktif,” kata Ombang.

Selain itu, dari sudut konservasi, kawasan Geopark Toba diliputi isu penurunan kualitas air danau sebagai penopang hidup masyarakat. Kualitas air itu menurun akibat adanya aktivitas industri di tepian danau dan karamba ikan di permukaan danau.

Prof. Dr. Ing. Ternala Alexander Barus dari Departemen Biologi FMIPA Universitas Sumatera Utara, dua tahun lalu, memaparkan hasil analisis laboratorium terhadap sampel air danau yang diambil pada waktu terjadi kematian massal ikan mas di perairan Haranggaol Danau Toba pada November 2004. Ia menyebutkan, nilai kelarutan oksigen (DO) telah turun pada nilai yang sangat rendah, yaitu 2,95 mg/l.

Tingkat pencemaran air yang tinggi itu telah direspons Pemerintah Pusat. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI, Rizal Ramli, baru-baru ini mengusulkan untuk menyedot semua limbah yang berasal dari industri dan karamba, yang menumpuk di dasar danau. Adanya proyek itu bakal menurunkan tingkat pencemaran dan mengembalikan kelestarian kehidupan hayati Danau Toba di masa-masa mendatang.

Selain itu, menurut Ketua Dewan Pakar Geopark Kaldera Toba, Rustam Effendi (RE) Nainggolan, Pemerintah Pusat tengah mengkaji keberadaan keramba ikan mujair milik masyarakat. Izin operasi karamba akan dibatasi dan diatur. Sebab pembudidayaan ikan dalam karamba itu telah lama menjadi mata pencaharian masyarakat. Untuk menguranginya perlu program subtitusi. ”Antara lain lewat sektor pariwisata,” ujarnya.

***

Geopark Toba berusaha terus berbenah. Dua tahun berselang setelah ditetapkan sebagai Geopark Nasional, keluar Surat Keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor 188.44/5/KPTS/2016 yang diteken Plt Gubernur Sumatera Utara, Tengku Erry Nuradi, pada 7 Januari 2016. Isinya tentang pembentukan Badan Pelaksana Geopark Kaldera Danau Toba. Surat itu juga mendukung konsep pengembangan Danau Toba sebagai “Monaco of Asia” melalui Badan Otorita Danau Toba.

Pada awal Maret lalu, tujuh bupati kawasan Geopark Toba mengadakan rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo. Rapat menyepakati bahwa Badan Otorita Danau Toba akan membangun jalan tol Medan-Parapat sepanjang 116 Km yang rampung pada 2019. Dengan begitu, wisatawan mancanegara atau domestik yang menuju Kaldera Toba hanya menempuh jarak 90 menit dari Medan.

Dukungan infrastruktur yang lain, pemerintah memperluas Bandara Silangit yang ada di Kecamatan Siborong-Borong, Tapanuli Utara. Perluasan landasan pacu bandara akan membuka kedatangan pesawat berbadan besar dengan akses alternatif menuju kawasan Geopark Toba.

Sebagai catatan, pada 2013, atau tahun Geopark Toba ditetapkan sebagai Geopark Nasional, kunjungan wisatawan mancanegara ke kawasan ini sekitar 243.000 orang. Pada 2014, jumlah itu meningkat sekitar 4,4% atau 270.000 wisman. Pada 2015 jumlahnya masih di sekitar angka itu.

Program percepatan pembangunan infrastruktur di dalam dan menuju Danau Toba direncanakan rampung pada 2019. Saat itu, pemerintah menargetkan angka kunjungan wisman melonjak empat kali lipat ke angka 1 juta orang. Target tersebut dinilai obyektif dengan mempertimbangkan potensi Toba sebagai daerah tujuan wisata yang komplet.

Semoga semua elemen siap dan dapat bekerja sama memuliakan Danau Toba serta memberdayakan masyarakatnya. Karena pada satu sisi, dengan airnya yang tenang, Danau Toba tidak saja memanggil-manggil orang Batak untuk pulang menengok kampung halaman, namun juga mengundang para pelancong untuk datang. Oh, Toba Na Sae.

***

 

Sejarah Letusan Toba

 
Menurut geolog, Gagarin Sembiring, Gunung Toba meletus sebanyak tiga kali. Pertama pada sekitar 800.000 tahun lalu yang menghasilkan kaldera di pantai selatan Danau Toba. Letusan kedua terjadi pada 500.000 tahun lalu. Letusan ini membentuk kaldera di pantai utara Danau Toba. Dibandingkan dengan kedua letusan, letusan ketiga yang paling menggelegar.

Letusan dahsyat supervulcano Toba yang terjadi sekitar 74.000 tahun lalu menghasilkan kaldera Danau Toba dan Pulau Samosir di pantai barat daya Danau Toba. Selain itu juga terbentuk Gunung Pusuk Buhit. Gunung ini dibangun oleh lava bersusunan dasitan, dan merupakan pertanda berakhirnya letusan dahsyat ketiga.

Pusuk Buhit mengalami perubahan oleh air panas yang bersumber dari kedalaman. Lava dari Pusuk Buhit menerobos batuan dasar, yaitu batusabak yang berumur 300 juta tahun lalu. Itu merupakan bukti metasedimen, batuan yang menjadi dasar dari komplek Kaldera Toba.

Endapan danau berupa pulau-pulau kecil dan teras atau undak dengan struktur lengseran. Hal itu menunjukkan bahwa endapan danau yang belum terkonsolidasi dan melengser pada saat pengangkatan terjadi. Endapan danau yang tersingkap ke permukaan akibat pengangkatan Pulau Samosir, berbutir halus atau lempungan laminiasi tipis.

Endapan abu-abu gelap hingga putih kekuningan mengandung oksidasi besi atau limonitan sebagai material endapan paling atas membuktikan bahwa Pulau Samosir sebelumnya berada di bawah permukaan air danau.

Kaldera Toba yang lain adalah air terjun Sipiso-piso, di Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Itu merupakan jejak patahan yang membentuk dinding kaldera bagian dari sisa runtuhan dinding Kaldera Haranggaol yang terbentuk pada letusan periode 500.000 tahun lalu.

Gunung Toba ketika meletus mengirimkan abunya ke seantero bumi. Jutaan ton asam sulfat beterbangan menghadirkan kegelapan hampir selama enam tahun dan suhu beku sedikitnya ribuan tahun. Vulkanolog mengadopsi istilah humongous untuk letusannya, menggambarkan bencana global yang membuat kehidupan manusia tak lagi mudah.

 

Kisah Peniup Terompet Kera

 
Hutan Sibaganding dan Taman Eden 100 memperkaya khasanah keanekaragaman hayati Geopark Toba. Paduan upaya pelestarian alam dan dialog spiritual dengan leluhur. 

 
Dahulu tempat itu bernama Stasiun 23. Letaknya di Hutan Sibaganding, dekat Kelurahan Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Simalungun. Pada awal hingga pertengahan 1980-an taman yang menjadi bagian kawasan wisata Danau Toba itu terkenal dengan keberadaan kera-keranya. Tapi, yang banyak dibicarakan masyarakat Parapat masa itu adalah sosok berambut gondrong yang gemar memanggil kera-kera dan siamang dengan terompet yang terbuat dari tanduk kerbau. Ia dikenal sebagai ”Tarzan”.

 
Tarzan tak lain adalah Umar Manik. Pada Masa itu, atraksinya meniup terompet untuk memanggil aneka primata dari dalam hutan Sibaganding sangat kesohor di antero Toba. Turis lokal dan bule antre menyaksikan tingkahnya yang menghibur.

 
Sejak 1984, pria yang kini berusia 64 tahun itu tinggal di taman tersebut. Namun popularitasnya sebagai pemanggil kera tidak cukup membantu, ketika pada 1996 pemerintah Kabupaten Simalungun mengambil alih dan mengelola objek wisata tersebut. Karena dianggap ilegal menduduki tanah negara, Umar diminta keluar dari kawasan tersebut. Bersama keluarganya, ia pun pindah ke Siantar.

 
Setelah Umar pindah, taman kera kehilangan ikonnya. Pengunjungnya berkurang. Jumlah wisatawan kian menyusut lagi seusai peristiwa ledakan Bom Bali, Oktober 2002. Turis lokal saja sudah jarang datang, apalagi wisatawan mancanegara. Kondisi taman pun bak pepatah, ”hidup segan mati pun jauh”.

 
Kehidupan Umar pada periode itu tidak kalah ”segan”. Itu tidak semata karena kehilangan penghasilan (yang kurang sedikit dari cukup) dari aktivitas memanggil kera. Lebih dari itu, Umar merasa sudah terikat secara spiritual dengan Hutan Sibadanding.

 

Hubungannya dengan ”opung” leluhur penunggu hutan memberinya kemampuan perdukunan. Umar mengaku, berdasarkan petunjuk ”opung” itu ia berhasil menyebuhkan beberapa tamunya dari penyakit non-klinis .

 
Opung pulalah, yang menurut Umar, menitahkan ia dan keluarganya untuk kembali ke hutan Sibaganding dan mengurusi satwa dan pohon-pohonnya. Sebab itu, pada 2008, Umar kembali ke Sibaganding.

 

Kini, taman itu bernama Taman Wisata Kera Toba Dream. Sejak dua tahun lalu, taman dikelola Yayasan Toba Dream pimpinan Monang Sianipar. Yayasan ini bergiat dalam isu pelestarian lingkungan dan budaya Batak.

 

Meski tidak seramai ”Stasiun 23” dulu, geliat pengunjung mulai tampak. Terutama di hari libur dan libur panjang, puluhan pengunjung -termasuk wisman– datang ke Taman Wisata Kera untuk melihat aksi Umar.

 

Sebelum langit mendung, Umar menyiapkan terompetnya. ”Tottrowtrowuet !” bunyi terompet tandung itu nyaring terdengar. Lalu ia berteriak merapalkan mantra panggilan ”Marikkati tuson Hatop mijur tuson Asa mangan hita ( Ayo, berduyun-duyun kemari, cepat turunlah ke sini, kita mau makan).”

 

Puluhan monyet datang berduyun-duyun. Umar mengeja nama beberapa di antara mereka: Patra, Bruno, Bohel, dan Rambo. Seekor siamang menyusul bergelantungan dari pohon. ”Nelly sini kau cepat datang ada pisang ini,”Umar memanggilnya.

 

***

 

Situs keanekaragaman hayati kawasan Geopark Toba tidak hanya Taman Wisata Kera Toba Dream. Yang juga populer adalah Taman Eden 100. Taman ini terletak di Desa Lumban Rang Sionggang Utara, Kecamatan Lumbar Julu, Kabupaten Toba Samosir.

 

Situs ekowisata seluas 40 hektare ini dibangun pada 1999 dan dikelola Marandus Sirait, 49 tahun. Isinya bermacam-macam. Antara lain, lahan kebun produktif untuk tanaman seperti stroberi, jeruk, dan markisa. Di dalam taman ini terdapat Taman Konservasi Anggrek Toba yang dibangun pada Februari 2009, dan tidak ketinggalan ada pula pohon-pohon khas Toba yang langka.

 

Menurut Marandus, tiap menanam pohon khas Toba, selalu disertai umpasa atau perumpamaan berisi pesan positif. Semisal umpasa saat menanam pohon Bintatar. ”Bintatar perdindingan, simartolu parkopkopna,” ucapnya. Artinya adalah kayu dari pohon Bintatar itu untuk kayu dinding rumah, kayunya cocok sebagai pengikatnya atau penjempitnya.

 

Lain hal dengan pohon Jior. Pohon ini kayunya dimanfaatkan untuk membuat serunai, alat musik petik khas Toba, semacam kecapi. ”Memet bulung ni jior, oh memetan bulu ni bane-bane. Leket si batigor ulekettan si maendame,” ucap Marandus. Artinya, kecil daunnya pohon jior, lebih kecil daunnya pohon bane-bane. Bagus menegakkan kebenaran, tapi lebih bagus pembawa damai.

 

Ada pula pohon sampinur tali dan sampinur bunga, pohon bernilai tinggi. Corak kayunya ibarat pohon jati, bagus untuk bahan membuat perabotan rumah. Itu pohon terbaik pertama dan kedua di Toba ”Biasanya, orang Batak yang kaya yang memilikinya. Karena mengambil kayunya harus ke hutan Bukit Barisan di antara perbatasan Tobasa dan Simalungun,” ujarnya.

 

Banyak lagi umpasa untuk pohon-pohon khas Toba yang ditanam di Taman Eden 100. Marandus berharap, langkah pelestarian pohon-pohon itu berguna, tidak saja untuk menopang kelestarian lingkungan, namun juga untuk pengetahuan dari generasi ke generasi. Juga bermanfaat bagi satwa-satwa penghuni hutan-hutan di Toba.

 

Seperti kera-kera ”milik” Umar di Hutan Sibaganding. Mereka menyukai buah dari pohon andaliman. Buah itu biasanya digunakan sebagai bahan rempah atau bumbu dalam pengolahan makanan masyarakat setempat.

 

 

Jejak Guru Tatea Bulan

 

Kawasan Samosir terus berbenah. Aspek wisata legenda, sejarah dan kebudayaan Batak dijadikan prioritas. Harian Boho ramai karena wasiat Sitor. 

 

Alkisah, seusai berseteru di Banua Ginjang (dunia atas kediaman para dewa). Siboru Deak Parujar kembali bertemu dengan Siraja Odap-Odap di bumi. Keduanya menjadi suami-istri dan melahirkan pasangan manusia pertama di bumi. Raja Ihat dan Itam Manisia.

 

Generasi pertama dari pasangan mula di bumi itu adalah Raja Miok-Miok, Patundal Na Begu dan Si Aji Lapas Lapas. Dari ketiganya, hanya Raja Miok-miok yang memiliki keturunan, yaitu Engbanua. Dari keturunan Engbanua beberapa generasi itulah lahir Si Raja Batak; leluhur orang Batak yang berdiam Sianjurmulamula. Marga-marga Batak sekarang ini berasal dari keturunan Si Raja Batak.

 

Salah satu versi cerita masyarakat, Si Raja Batak mempunyai dua putra, yaitu Guru Tatea Bulan dan Raja Isombaon. Menurut Tarombo, Guru Tatea Bulan disebut juga Guru Tatean Bulan atau Guru Hatia Bulan, artinya tertayang bulan. Masyarakat di Desa Sianjurmulamula meyakini, Guru Tatea Bulan adalah leluhur yang suci.

 

Keturunan dari Guru Tatea Bulan disebut sebagai Golongan Bulan. Guru Tatea Bulan mendapat warisan Pustaha Laklak atau Pustaha Nagok. ”Berisi tentang perdukunan, pencak silat dan bela diri dari Si Raja Batak,” ujarnya, Minggu 14 Februari.

 

Jejak keturunan Guru Tatea Bulan itu terpapar di sebuah bangunan yang disebut Sopo Guru Tatea Bulan. Sopo atau rumah itu terletak di Bukit Sulatti, Desa Sianjurmulamula, Kabupaten Samosir. Atap merah rumah Guru Tatea Bulan menjulang melindungi sejumlah patung kendaraan Si Raja Batak: naga, gajah, singa, harimau dan kuda. Masuk agak ke dalam rumah, wisatawan akan melihat puluhan patung keturunan Si Raja Batak.

 

Sopo tersebut adalah bagian dari situs keanekaragaman budaya Geopark Toba yang dibangun pada 1995. Di rumah itu pelancong dan peziarah memanjatkan doa. ”Sopo ini ibarat tempat pertemuan antara nenek moyang dan cucunya,” ujar Pasaribu, salah seorang juru kunci Sopo Guru Teta Bulan.

 

Mitologi, adat-istiadat dan ritual masyarakat menjadi atraksi utama dalam presentasi kebudayaan di lingkup Geopark Toba. Selain Sopo Guru Tetea Bulan, yang tidak kalah terkenalnya adalah situs Batu Hobon. Letaknya di kaki Gunung Pusuk Buhit, tepatnya di Desa Limbong Sagala.

 

Batu Hobon berdiameter sekitar satu meter dengan bagian bawah berongga. Masyarakat setempat percaya bahwa rongga itu buatan tangan Raja Uti, cucu Si Raja Batak. Fungsinya untuk menyimpan benda-benda pusaka orang Batak dan kitab yang berisi ajaran dari leluhur.

 

Warga desa meyakini, Batu Hobon tidak dapat dibuka secara sembarangan. Bahkan jika coba di buka dengan bahan peledak pun, batu itu bergeming. Batu Hobon baru terbuka dengan sendirinya ketika keturunan Si Raja Batak beramai-ramai datang dan berdoa di batu petilasan Raja Uti tersebut.

 

Pada 2009, pemerintah Kabupaten Samosir bersama Lembaga Konservasi Situs dan Budaya Samosir menggelar Mangase Taon atau pesta mengawali tahun baru dalam kalender Batak Toba di Batu Hobon. Upacara simbolis itu menandai komitmen Pemkab Samosir untuk melakukan pendekatan budaya dan lingkungan hidup dalam membangun wilayah Samosir.

 

Komitmen itu diucapkan sebagai janji di Batu Hobon. Yang mengucapnya adalah Bupati Samosir saat itu, Mangindar Simbolon. Disaksikan ribuan warga dan semua Raja Bius (gabungan/konfederasi antarkampung) dari sembilan kecamatan yang ada di Samosir. Disertai pula ritual Mangalahat Horbo Bius atau memberi persembahan kerbau untuk Mula Jadi Nabolon (Sang Kuasa). Batu Hobon dipilih karena nilai kesakralan dalam budaya Batak.

 

Menunggu Museum Seni Sitor

 

Sitor Situmorang dimakamkan di desa kelahirannya, Harian Boho. Terlihat kayu berwarna kuning berukuran 4×4 meter sebagai pembatas kuburan. Salib dari kayu terpancak di pusara makam dengan nama Raja Usu Sitor Situmorang dan Tio Minar Situmorang Boru Gultom, istri pertamanya.

 

Menurut kemenakan Sitor, Anita Situmorang, sebelum mengembuskan napas terakhir pada 21 Desember 2014 di Belanda, pamannya berwasiat untuk dimakamkan di Harian Boho. Biasanya hanya para seniman dan budayawan dari Indonesia dan Eropa saja yang berziarah memberi penghormatan pada Sitor. Belakangan, kata Anita, turis-turis dari Belanda, Jerman dan Australia datang menjenguk Sitor di peristirahatan terakhirnya.

 

Lambat tapi pasti, lanjut Anita, Harian Boho menunjukkan potensinya sebagai situs wisata seni dan kebudayaan. Karena itu, beberapa budayawan berencana membangun Museum Seni Sitor untuk menghormati sang maestro sajak. ”JJ Rizal budayawan Betawi dan Thompson HS budayawan Opera Batak sedang merancang pembangunannya,”ujarnya.

 

Saat jasad Sitor diturunkan ke liang kubur pada 1 Januari 2015, Logo Situmorang, anak Sitor, membaca sajak ”Tatahan Pesan Bunda” dengan khidmat. Bila nanti ajalku tiba/ Kubur abuku di tanah Toba/ Di tanah danau perkasa/ Terbujur di samping Bunda/ Bila ajalku nanti tiba/ Bongkah batu alam letakkan/ Pengganti nisan di pusara/ Tanpa ukiran tanpa hiasan/ Kecuali pesan mahasuci/ Restu Ibunda ditatah di batu/ Si Anak Hilang telah kembali!/ Kujemput di pangkuanku!

 


Majalah GATRA Edisi  22 / XXII 6 Apr 2016

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s