EKONOMI & BISNIS

Aksi Nakal Importir Jeroan

 
Meski pemerintah sudah menyetop impor jeroan sejak awal 2015, aktivitas impornya ternyata masih terus berlangsung. Jumlahnya mencapai 1.455 ton per tahun. Siapa yang bermain?

Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), Teguh Boediyana, geram. Dirinya tak habis pikir mengapa impor jeroan masih bisa berjalan. Padahal, pemerintah telah menutup keran impor daging jeroan sejak awal tahun lalu. Bahkan, Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 2 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Permentan Nomor 139 Tahun 2014 tentang Pemasukan Karkas, Daging, dan Jeroan ke dalam negeri sudah diterbitkan sejak Januari 2015. Namun tetap saja ditemukan adanya jeroan impor di lapangan.

Ia mencatat, sepanjang tahun lalu impor jeroan ternyata masih dipraktekkan. Berdasarkan data yang ada, sepanjang 2015 sebanyak 1.445 ton daging jeroan berhasil lolos. Semuanya dari Australia dan Selandia Baru. “Nilai impor dari kedua negara itu mencapai US$ 9,2 juta,” katanya kepada Gatra.

Melihat dari data tersebut, Teguh pun sangat menyayangkan kelengahan pemerintah. Seharusnya badan karantina bisa mengadakan pengecekan lalu mencegah masuknya impor jeroan itu ke Tanah Air. “Buat para importir, kan sudah pekerjaan sehari-hari, apa sih susahnya? Ini tentang berani-tidaknya,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah seharusnya melaksanakan peraturan itu dengan baik. Kalau ada pengusaha mengimpor jeroan, seharusnya ditindak tegas: dicabut izinnya dan dipaksa mengekspor ulang. “Nah, itu kan yang belum pernah dilakukan pemerintah. Akibatnya, peraturan itu kan cuma macan ompong saja,” katanya. “Peraturannya jelas: dilarang impor jeroan,” ia menambahkan.

Ketika ditanya lebih jauh apakah ada permainan antara importir jeroan dan institusi terkait? Teguh tidak bisa menjawabnya. “Saya nggak tahu, tanya saja Badan Karantina, Dirjen Peternakan, dan lainnya,” ungkapnya.

Ia menilai apabila jeroan bisa masuk, hal itu karena permintaan yang tinggi. Apalagi harga jeroan impor itu lebih rendah daripada lokal. Itulah yang merangsang pengusaha nekad untuk mengimpor. Sampai-sampai, Teguh curiga kalau 2016 masih ada impor jeroan yang masuk. “Saya boleh curiga dong, kalau 2015 saja aturannya masih dilanggar, pasti 2016 juga akan ada pelanggaran, karena tidak ada penindakan,” katanya.

Menurut Teguh, pedagang melihat kalau mengimpor bisnis jeroan luar ini sangat seksi, keuntungannya pun sangat besar. Namun, dari hasil impor jeroan tersebut ternyata ada dampak yang cukup luas juga ketika masuk ke Indonesia. Harga yang murah dari jeroan impor, akan menekan pejagal dan pedagang lokal sampai ke bawah. “Itu otomatis menekan harga, akhirnya yang menjadi korban terakhir adalah peternak rakyat yang nggak bisa apa-apa,” katanya.

Kebutuhan impor jeroan itu memang disesuaikan mekanisme pasar. “Selama tidak ada guncangan, sebenarnya di dalam negeri cukup,” kata Teguh. Hanya saja, kini banyak pengusaha makanan, terutama bakso, yang mencampur jeroan dengan daging, sehingga membuat tinggi permintaan.

Kepala Badan Karantina Pertanian Kementan, Banun Harpini, ketika dimintai konfirmasi olehGatra enggan berkomentar lebih jauh. “Silakan komunikasi dengan humas Barantan. Tks,” tulisnya melalui pesan singkat Senin pekan lalu. Sementara itu, pihak humas pun belum bisa memberikan keterangan.

Di lain pihak, Direktur Impor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Indrasari Wisnu Wardhana, menjelaskan bahwa memang daging jenis jeroan atau offal (jantung) yang diatur dalam Permendag Nomor 46/2013 masuk ke dua kode HS. Pertama, Ex. 0206.22.00.00 dengan uraian barang Hati, kategori daging offal. Kemudian, Ex. 0206.29.00.00 dengan uraian barang lain-lain. “Di mana jenis HS ini dapat berupa daging offal (jantung), fancy meattanpa tulang, dan fancy meat dengan tulang,” katanya kepada Gatra.

Lebih jauh, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2015, Indrasari mengaku memang masih terdapat impor potongan daging dengan HS kode Ex. 0206.29.00.00 sebanyak 1.438,6 ton. Namun, semua itu diperlukan penelitian lebih lanjut karena di dalam kode HS tersebut tidak hanya untuk daging jenis jeroan atau offal. Tetapi terdapat juga yang masuk klasifikasi daging jenis fancy meat, yang prinsipnya masih diperbolehkan untuk diimpor sesuai rekomendasi dari Kementan.

Karena itu, ia menilai bahwa dalam melihat segala sesuatu yang terjadi, pihaknya perlu mempelajari terlebih dahulu serta mengkaji lebih dalam sesuai peraturan yang berlaku. “Jika terdapat impor jeroan yang tidak disertai dengan persetujuan impor, Kemendag akan berkoordinasi dengan kementerian teknis terkait beserta unsur-unsur penegak hukum,” kata Indrasari.

Ia menjelaskan, kalau ketentuan impor jeroan atau offal (hati dan jantung) diatur berdasarkan Permendag Nomor 46/M-DAG/PER/8/2013, yang importasinya dilakukan dengan menggunakan mekanisme persetujuan impor (PI) dari Kemendag setelah terlebih dahulu mendapatkan rekomendasi dari Kementan. Namun, Permendag Nomor 46/2013 ini telah diubah menjadi Permendag Nomor 05/M-DAG/PER/1/2016 tentang Ketentuan Impor Hewan dan Produk Hewan, yang berisikan impor jeroan tidak dapat lagi dilakukan sejak 2015.

***

Menurut sumber Gatra, pelaku impor jeroan tersebut melibatkan beberapa importir besar dan adanya keterlibatan oknum instansi terkait. Salah satunya ada nama Basuki Hariman, pemilik CV Sumber Laut Perkasa dan PT Impexindo Pratama. “Basuki ini yang banyak melakukan impor jeroan,” kata sumber tersebut.

Munculnya nama Basuki Hariman memang tidak asing lagi dalam dunia importir daging sapi. Seperti diketahui, dirinya sempat diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi dalam kasus penyuapan pengurusan kuota impor daging di Kementan senilai Rp 1 milyar pada 2013 lalu. Kasus tersebut sangat heboh, karena melibatkan oknum PKS, hingga menyeret sang Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq.

Aksi pemanggilan Basuki oleh KPK lantaran dirinya merupakan bos CV Sumber Laut Perkasa dan PT Impexindo Pratama. Kedua perusahaan tersebut sempat menjadi rekanan bisnis Kementan sebelum akhirnya digantikan oleh PT Indoguna Utama.

Ketika Gatra pun berupaya mengonfirmasi kabar ini kepada Basuki Hariman, pengusaha importir daging sapi ini langsung menyatakan dirinya menjalankan bisnis sesuai prosedur mengimpor jeroan. “Perusahaan saya mengimpor jeroan yang berizin,” katanya ketika dihubungi Gatra, Selasa siang kemarin.

Ia mengatakan ada jeroan yang boleh diimpor, dan ada yang tidak. Artinya, menurut Basuki, kalau tidak mendapat izin, tidak boleh masuk. Basuki sendiri mengaku dirinya sedang berhadapan dengan polisi, yang menanyakan hal serupa dengan Gatra. “Nanyain soal itu juga (impor jeroan),” ucapnya.

“Jangan dengar omongan orang saja. Orang ngomong banyak isu macam-macam. Terlalu banyak orang macam-macam, jadi pusing!” katanya dengan nada tinggi. Dari ujung telepon, ia pun akhirnya menyudahi percakapan, dan meminta lain waktu jika Gatra ingin mewawancarainya lebih jauh. “Orangtua saya sakit, saya mau jalan,” ucapnya singkat.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Importir Daging Sapi (Aspidi), Thomas Sembiring, pun mengakui kalau urusan impor jeroan secara ilegal memang rutin. “Kan ada yang bilang dari Priok dan Sumatra (datangnya jeroan),” ucapnya kepada Gatra. Secara rutin, sambungnya, jeroan terus masuk karena dibutuhkan masyarakat. “Lihat saja industri di Jawa Tengah yang pabrik paru, kekurangan bahan nggak?” katanya.

Belum lagi, sejak tahun 2000, pengusaha bakso sudah gemar mencampur daging dengan jantung untuk baksonya, demi menyiasati harga daging yang mahal. Ternyata, menurut Thomas, konsumen malah menyukainya. “Nah, sejak itulah semakin banyak kita impor kan?” katanya. Ia mengakui bahwa masuknya impor jeroan memiliki banyak pintu masuk yang bisa disasar. “Itu masuk bisalah, bisa langsung dari pelabuhan yang tidak terlacak, ini sama saja bertanya dari mana masuknya narkoba,” ujarnya.

Namun, masuknya impor jeroan ini, menurutnya, bisa lewat dua macam cara. Pertama, pelabuhan tikus yang dimasukkan ke boks kecil-kecil. Yang kedua, mencampur dengan impor daging –meski yang kedua ini kemungkinannya kecil. “Yang masuknya lewat pelabuhan tikusnggak bisa dikatakan marak, sebab dia masuknya secara interval,” katanya.

Ia menduga, jika melalui pelabuhan tikus, masuknya dari pelabuhan kecil di Sumatera, yang hanya menggunakan boks-boks kecil yang berisi 20 kilogram. “Satu boks berisi 20 sampai 25 kilogram, masuk ke sini dengan pendingin,” ujarnya. Dari sana, bisa kemudian langsung dibawa ke Tanjung Priok, yang kemudian bisa dilanjutkan ke pihak pedagang lokal. “Ini seperti barang narkotik, diselundupkan,” ungkapnya.

Namun, meski impor jeroan ilegal marak, ia mengaku anggotanya yang tergabung dalam Aspidi tidak ada yang berani melakukan hal tersebut. “Risikonya kriminal dan dia tidak bisa dagang lagi,” katanya. Nah, kalau pun ada yang mengimpor, umumnya, menggunakan perusahaan lain. “Karena bikin PT di Indonesia kan gampang. Tiap kali masuk ganti PT. Yang jelas di pasaran itu ada (jeroan),” ucapnya.

Gandhi Achmad, Andi Anggana, Averos Lubis, dan Jennar Kiansantang

***

Impor Komoditas (Jeroan) Januari-Desember 2015

No. HS CODE SITC CODE Deskripsi Asal Negara Akumulasi berat (kg) Total Nilai (US$)
1. 0206220000 01252000 Livers of bovine animals, frozen Australia 6.960 9.637
2. 0206290000 01252000 Other edible offal of bovine animals, frozen Australia 809.307 5.055.600
Selandia Baru 629.297 4.136.359
Total : 1.445.564 9.201.596
Sumber : Data PPSKI, diolah

 

Majalah GATRA Edisi 19 / XXII 16 Mar 2016

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s