LAPORAN UTAMA

Menakar Ancaman Google

 
Belum lagi dimulai, Project Loon Google sudah menuai kontroversi di Indonesia. Dikhawatirkan mengancam kedaulatan udara.

Tujuannya mulia, tapi caranya bikin waswas. Demikianlah Project Loon, atau yang lebih dikenal di Indonesia dengan sebutan balon Google. Ini adalah proyek terbaru Google yang hendak menginternetkan masyarakat dengan cara menerbangkan balon di ketinggian 20 kilometer di atas permukaan laut.

Balon itu, yang dioperasikan secara otomatis, akan mengirim sinyal internet ke permukaan bumi di bawahnya dalam radius 18 kilometer. Sinyal yang dikirim itu pun bukan lagi kategori 3G, melainkan 4G atau LTE (long term evolution).

Jadi, bagaimana caranya mendapatkan akses internet di pedalaman hutan Papua? Gampang. Bila ada balon Google di atas hutan Papua, berinternet di dalam hutan akan sama cepatnya dengan berinternet di pusat kota Jakarta.

Sejatinya, balon Google adalah base transceiver station (BTS) melayang. Dengan balon sepanjang 15 meter itu, perusahaan telekomunikasi tidak perlu lagi pusing memikirkan membangun infrastruktur untuk bisa memberikan akses internet bahkan ke pulau-pulau terpencil. Cukup si balon yang bekerja. Saat ini balon Google sudah diujicobakan di Selandia Baru, India, dan Sri Lanka.

Meski ada satu ongkos yang harus ditanggung bila negara-negara, termasuk Indonesia, hendak menggunakan teknologi ini. Mereka harus merelakan wilayah udaranya dilintasi secara bebas oleh Google.

***

Awal 2016 lalu, balon Google seharusnya mulai mengudara di Indonesia. Kehadiran balon Google di Indonesia bukan tiba-tiba. Perbincangan soal itu sudah dimulai sejak 2015. Dalam catatan Gatra, ketika Presiden Joko Widodo berkunjung ke Amerika Serikat pada Oktober 2015 lalu, dan bertemu para petinggi Google, ada pembicaraan mengenai akses internet bagi wilayah Indonesia Timur yang akan disuplai oleh balon Google.

Lalu masih pada bulan yang sama, tiga operator seluler asal Indonesia, yakni Telkomsel, Indosat Ooredoo, dan XL Axiata, mendatangani technical trial agreement balon Google. Penandatanganan itu adalah kerja sama resmi untuk uji coba balon Google di Indonesia. Penadatanganan kerja sama itu juga disaksikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara. Rencananya, balon Google akan mulai diuji coba pada 2016.

Tapi hingga kini, balon Google belum mengudara. Bahkan uji coba loon terancam batal karena hingga kini Google belum mendapat izin teknis untuk mengudara di wilayah Indonesia. Izin itu dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan. “Loon Google belum mengudara karena belum mendapat izin dari Kementerian Perhubungan untuk jalur navigasinya,” kata Rudiantara kepada Gatra.

Isu lain yang juga menerpa proyek ini adalah spionase. Balon Google dikhawatirkan berpotensi dijadikan alat mata-mata asing, antara lain untuk pemetaan atau digitalisasi wilayah. Kekhawatiran itu, misalnya, disampaikan oleh mantan Menteri Perhubungan, Jusman Syafii Djamal.

Jusman, 61 tahun, yang juga mantan chief project engineer proyek pesawat N-250 produksi IPTN (kini PTDI), kepada Gatra menjelaskan bahwa “balon Google” yang akan mengudara menggunakan formasi jajaran genjang, terdiri dari empat balon di tiap titiknya. Dalam pemetaan udara, lanjutnya, formasi jajaran genjang itu lazim digunakan untuk memantau pergerakan di permukaan bumi. Itu formasi untuk tipe pemantauan (surveillance) yang lebihadvanced, karena tidak lagi sekadar menghasilkan gambar atau citra satelit. “Tapi sudah pergerakan di bawahnya. Bisa pergerakan pesawat, mobil, atau orang,” katanya.

Karena itu, Jusman meyakini bahwa ada agenda lain yang diam-diam juga diusung oleh Google. Apalagi dengan ketinggian balon Google yang cuma 20 kilometer, akurasi pemetaannya sangat tinggi. “Kalau hasil dari balon itu diaplikasikan dengan GPS atau Google Maps misalnya, yang terjadi adalah digitalisasi permukaan wilayah NKRI. Dalam undang-undang itu dilarang. Yang boleh melakukan itu hanya BIG (Badan Informasi Geospasial),” katanya. Terlebih, menurut Jusman, di Amerika Serikat sendiri balon Google dilarang mengudara dalam formasi jajaran genjang. “Ini masalah keamanan,” katanya.

Isu spionase dalam proyek balon Google ini memang sudah muncul ketika proyek ini resmi diluncurkan Google pada 2013 lalu. Situs majalah berita bulanan, The Atlantic.com, misalnya pernah menulis balon Google dibuat oleh Raven Aerostar, salah satu perusahaan pertahanan asal AS yang membikin produk seperti balon udara (untuk riset sipil maupun militer), sistem navigasi, dan radar.

Sejauh ini isu spionase dalam balon Google, terutama oleh pengamat asing, memang lebih banyak dilihat sebagai bentuk teori konspirasi. Rudiantara juga membantah soal spionase ini. Ia menjelaskan bahwa Google tidak akan menjadi operator balon-balon tersebut. Meski balon itu kepunyaan Google, mereka akan dikendalikan oleh operator lokal di Indonesia. “Pemerintah tidak akan memberikan izin Loon Google sebagai operator tersendiri di Indonesia. Itu sudah clear,” katanya.

Selain itu, menurut Rudiantara, meski ada proyek balon Google, proyek Palapa Ring I tetap akan jalan. Jadi, tidak semata bergantung kepada Google. Palapa Ring adalah proyek pembangunan jaringan serat optik nasional untuk menciptakan konektivitas telekomunikasi yang sudah dimulai sejak 2007. Proyek ini ditargetkan selesai pada 2019, berupa pemasangan jaringan serat optik di laut di darat. Total panjang kabel serat optik di laut diperkirakan mencapai 35.000 kilometer, sedangkan kabel di daratan diprediksi 22.000 kilometer.

Bila ditinjau dari segi kemanfaatan, memang tidak diragukan lagi bahwa balon Google adalah proyek yang sangat bermanfaat. Adrian Prasanto, Division Head Public Relations Indosat Ooredoo, kepada Gatra menjelaskan bahwa membangun jaringan internet di wilayah timur adalah pekerjaan besar.

Ia mencontohkan, saat ini untuk membangun sebuah BTS di wilayah Indonesia Timur dibutuhkan dana sebesar Rp 5 milyar. Selain itu, pembangunan memakan waktu. Dengan balon Google, hambatan itu bisa diatasi. “Daripada menunggu membangun tower, kan lama. Dengan loon, bisa lebih cepat dan luas,” katanya.

Sejauh ini, belum dimulainya uji coba balon Google memang makin menimbulkan spekulasi bahwa proyek itu terganjal, dan bahkan kemungkinan proyek itu akan gagal. Jusman mengklaim bahwa Presiden Jokowi sebenarnya hanya ingin Google berinvestasi di Indonesia, bukannya memasang balon. “Presiden paham dan tidak ingin menyerahkan kedaulatan negara kepada Google,” katanya.

Basfin Siregar, Averos Lubis, Aditya Kirana, dan Hayati Nupus

***

Wawancara Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informasi

Tak Ada Izin Khusus untuk Loon Google
Kehadiran proyek balon Google di Indonesia memang mengundang kontoversi. Muncul isu spionase atau pemetaan wilayah negara oleh perusahan asing. Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara, memang sudah membantah hal itu. Ia menjelaskan bahwa Google tidak akan menjadi operator di proyek itu. Operatornya tetaplah perusahaan lokal yang sudah menjalin kerja sama. Berikut penjelasan Rudiantara kepada wartawan Gatra, Averos Lubis.

Project Loon dinilai sebagai proyek terburu-buru. Pemerintah bersama Telkom kan sedang membuat jaringan kabel fiber untuk konektivitas di seluruh Indonesia?
Loon bila jadi, harus dibangun transmisinya atau infrastrukturnya. Berbeda dari proyek Palapa Ring. Palapa Ring tetap jalan. Pada 1 Januari 2019 semua ibu kota kabupaten dan kota madya harus terhubung dengan broadband. Distribusinya dilaksanakan oleh operator menggunakan BTS di darat. Daerah yang tidak dapat di-cover di darat atau di laut, alternatifnya menggunakan loon Google.

Loon Google bukan operator tersendiri?
Pemerintah tidak akan memberikan izin loon Google sebagai operator tersendiri di Indonesia. Itu sudah clear, dan sudah dibicarakan dengan ketiga operator (Telkomsel, XL, dan Indosat). Karena frekuensi digunakan di 900 Mhz sudah sepenuhnya dialokasikan kepada operator. Jadi, apabila loon Google mau masuk ke Indonesia semuanya di tangan operator.

Tidak khawatir ada monopoli jalur akses internet?
Loon Google tidak memonopoli jalur akses internet. Penyelengara jasa internet dan operator adalah hal yang berbeda. Operator merunut dari tatanan UU yang ada namanya adalah penyelenggara jaringan. Sedangkan penyelenggara jasa internet hanya sebagai penyelenggara jasa. Nah, penyelenggara jasa boleh membangun jaringan dan boleh menggunakan jaringan milik penyelenggara jaringan. Mereka juga bisa menggunakan jasa jaringan yang terintegrasi milik operator dan tersambung dengan loon Google sebagaisubset-nya.

Bagaimana dengan izin navigasi wilayah udara di Indonesia?
Wilayah udara ada yang mengatur, dan akan dibahas lagi. Loon Google belum akan mengudara sebelum mendapat izin dari Kementerian Perhubungan untuk jalur navigasinya. Jadi, loon Google tidak akan jalan tanpa persetujuan Kemenhub.

Mengapa hanya tiga operator yang bekerja sama dengan loon Google?
Pemerintah memang tidak akan memberikan izin khusus kepada loon Google. Mereka merupakan subset dari infrastrukur yang dioperasikan oleh operator Indonesia. Bila ini menjadi suatu isu keamanan udara, tentu Kemenkominfo membahas lebih detail lagi. Kementerian Perhubungan harus memberikan izin untuk lintas udara loon Google. Setahun lalu Kemenkominfo sudah mendukung program model akses internet dengan udara. Sepertirouter dilakukan dengan Helion. Helion pertama sudah diudarakan sekitar bulan lalu. Sedangkan untuk loon Google, itu BTS.

***

Lab X Google
Balon Google (Project Loon) bukan satu-satunya proyek teknologi tinggi sekaligus ambisius yang pernah diluncurkan Google. Sebelumnya, mereka juga sempat meluncurkan proyek seperti: mobil yang bisa berjalan sendiri, kacamata-sekaligus-smartphone (Google Glass), atau WoB (Web of Things) yang berupa integrasi benda sehari-sehari, seperti kulkas, mesin cuci, dengan internet.

Ada benang merah di antara berbagai proyek ambisius itu. Yakni, mereka semua lahir dari satu divisi yang sama, yakni Google X. Ia adalah anak perusahaan Alpahet, nama resmi perusahaan induk Google. Google X bisa dibilang sebagai divisi riset Alphabet.

Sejak didirikan pada 2010 lalu, Google X bisa dibilang telah menjadi semacam ‘ujung tombak’ penelitian teknologi Google. Sebagian bahkan menyebut Google X ibarat pesawat Enterprise dalam serial televisi Star Trex, yang misinya adalah “menjelajah ke tempat-tempat yang belum pernah didatangi sebelumnya”. “Google X secara sadar selalu melihat hal-hal yang tidak akan dipikirkan Google,” kata Richard De Vaul, salah satu karyawan Google, seperti dilansir Bloomberg.

Dalam profilnya mengenai Google X pada 2013, kantor berita Bloomberg menyebut divisi riset itu ibarat Project Manhattan, yakni divisi riset rahasia pemerintah AS yang melahirkan bom atom. Sebab, di Google X berbagai riset tercanggih dilakukan. Bedanya, Google X lebih dari sekadar lab. Ia juga perusahaan. Google X tercatat memiliki 14 anak perusahaan, yang semuanya merupakan perusahaan riset terkemuka, antara lain dua perusahaan robot, satu perusahaan turbin angin, satu perusahaan artifical intelligence, dan masih banyak lagi.

Saat ini Google X dipimpin oleh Dr. Astro Teller, doktor kecerdasan buatan dari Carnergie-Mellon University. Menurut Bloomberg, lazimnya sebuah produk terobosan akan dikembangkan dulu oleh Goggle X, dan bila dianggap lulus, baru dipasarkan oleh Google. Beberapa produk Google X yang sudah dinyatakan lulus, misalnya, Porject Loon dan Google Glass.

Basfin Siregar

Majalah GATRA Edisi 22 / XXII 6 Apr 2016

Tentang averoslubis

cute, santai dan yoman sajalah...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s